Shalawat Agung

Setelah beberapa bulan disambi dan dicicil, akhirnya selesai juga penulisan ulang shalawat dari buku “70 Shalawat Pilihan” karya al-Ustadz Mahmud Samiy. Buku tersebut sudah saya punyai sejak 21 Juni 2003 (terbitan Pustaka Hidayah, Cetakan VII/April 2001).

Buku ini merupakan terjemahan dari kitab berbahasa arab dengan judul Mukhatashar fi Ma’ani Asma’ Allaah al-Husna pada bab ash-Shalah ‘ala an-Nabi (tanpa tempat dan tahun penulisan).

Isinya merupakan 70 buah shalawat beserta pelafalan, makna, sumber, dan fadlilah-fadlilahnya (keutamaan). Termasuk di dalam 70 shalawat tersebut adalah shalawat Ibrahimiyah, Nariyah, Munjiyat, Nurul Anwar, dan al-Fatih.

Folder yang saya bagi ini berisi file word dan pdf bacaan 70 shalawat tersebut dalam huruf arab berharakat dengan memakai font jenis Amiri Qur’an dan ukuran kertas A5 (pas untuk smartphone atau tablet).

Sementara keterangan lain dari 70 Shalawat tersebut (makna, keutamaan, dan periwayatan shalawat) belum sempat saya tulis ulang. Semoga Allaah berkenan memberikan waktu serta kesehatan kepada saya sehingga dpt menuliskannya, termasuk menambahkan beberapa shalawat masyhur lain yg belum tertulis dlm buku tersebut (misal: thibbil qulub, haji, atau badawiyyah). Aamiin.

Silakan dimanfaatkan sebagai amalan-amalan rutin. Tidak harus semua, memilih beberapa pun juga baik, yang penting terus menerus meskipun sedikit. Kritik dan saran sangat ditunggu, terutama jika terdapat kekeliruan penulisan.

Tautan menuju folder: Buku Shalawat

Bulan Maulud, Bulan yang Fitri (juga)

Ditulis untuk memenuhi amanah menjadi khatib Jumat dan narasumber majelis ta’lim.

Bulan Maulud adalah bulan di mana Rasuulullaah Muhammad SAW dilahirkan. Kehadirannya bukan hanya menjadi sumber keberkahan bagi orang-orang memegang teguh ajaran Beliau SAW, tetapi bahkan menjadi sebab bagi tercurahkannya rahmat Allaah Ta’aala bagi penentang Beliau SAW.

Prof. Quraish Shihab dalam bukunya “Membaca Sirah Nabi Muhammad SAW Dalam Sorotan al-Qur`an dan Hadits-hadits Shahih” mencantumkan hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari, bahwa satu tahun setelah kematian paman Rasuulullaah SAW, Abu Lahab, paman Rasuulullaah SAW yang lain, al-‘Abbas, bermimpi melihat Abu Lahab memakai pakaian putih. Kemudian al-‘Abbas pun menanyai keadaan Abu Lahab.

Apa jawaban Abu Lahab? Abu Lahab mengatakan bahwa ia berada di neraka, hanya saja setiap malam Senin Allaah Ta’aala meringankan siksa atasnya, karena ia memerdekakan budaknya Tsuwaibah, yang menyampaikan kepadanya berita kelahiran kemenakannya, yakni Rasuulullaah SAW.

Ya, pada saat Rasuulullaah SAW lahir, Tsuwaibah-lah yang mendatangi Abu Lahab, majikannya, untuk mengabarkan kelahiran Muhammad. Karena sangat gembira mendengar kabar tersebut, Abu Lahab kemudian membebaskan Tsuwaibah, memerdekakannya. Dan diganjarlah Abu Lahab oleh Allaah Ta’aala: keringanan siksa di setiap malam Senin.

Hadirin rahimakumullaah.

Sebagai umat Rasuulullaah SAW, mari kita sempurnakan kebahagiaan kita menyambut kelahiran dan kehadiran Beliau SAW dengan meneladani akhlak Beliau SAW. Untuk menggambarkan akhlaq Rasuulullaah Muhammad SAW, Allaah Ta’aala berfirman di al-Qur`an surat al-Qalam ayat 4,

Sesungguhnya engkau (Muhammad) berada di atas budi pekerti yang agung

Prof. Quraish Shihab mengatakan bahwa kata khuluq dalam ayat tersebut merupakan bentuk tunggal dari akhlaq, di mana kata akhklaq biasanya mengandung pengertian tabiat, perangai, atau kebiasaan.

Sedangkan dalam hadits, salah satu yang populer adalah Sabda Rasuulullaah SAW:

Aku hanya diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia

Dan dikarenakan pengertian akhlak mencakup makna sebagai sebuah kelakuan, bolehlah kita katakan bahwa akhlak atau kelakuan manusia sangat beragam. Hal ini sejalan dengan firman Allaah Ta’aala dalam surat al-Lail ayat 4

Sesungguhnya usaha kamu (wahai manusia) pasti amat beragam.

Lebih jauh, keragaman kelakuan manusia sebenarnya tercakup dalam dua kelompok besar: kelakuan baik dan kelakuan buruk. Hal semacam ini, yakni baik atau buruknya kelakuan manusia, pada nyatanya dapat kita lihat bersama dalam keseharian. Ini berarti bahwa memang, manusia memiliki kedua potensi tersebut: akhlak baik dan akhlak buruk.

Allaah Ta’aala berfirman dalam surat al-Balad ayat 10:

Maka Kami telah memberi petunjuk (kepada)-nya (manusia) dua jalan mendaki (yakni, baik dan buruk)

atau di dalam surat asy-Syams ayat 7 dan 8:

dan (demi) jiwa serta penyempurnaan ciptaannya, maka Allaah mengilhami (jiwa manusia) kedurhakaan dan ketakwaan.

Hadirin rahimakumullaah.

Meskipun demikian, bahwa ada potensi akhlak baik dan akhlak buruk dalam setiap diri manusia, ditemukan pula isyarat-isyarat dalam al-Qur`an, bahwa kebajikan-lah yang terlebih dahulu menghiasi diri manusia daripada kejahatan. Bahwa manusia pada dasarnya cenderung kepada kebajikan.

Al-Qur`an surat Thaa-Haa ayat 121 mengungkapkan bahwa Iblis menggoda Adam sehingga

Durhakalah Adam kepada Tuhannya dan sesatlah dia.

Redaksi ini, durhakalah Adam kepada Tuhannya dan sesatlah dia, menunjukkan bahwa ada kondisi sebelum Adam digoda oleh Iblis, yakni kondisi tidak durhaka, kondisi taat kepada Allaah Ta’aala, kondisi berakhlak baik. Maka, ayat ini adalah isyarat bagi kita: adalah benar kita punya potensi durhaka, tetapi sesungguhnya, fitrah kita, kecenderungan kita adalah potensi taat, potensi untuk senantiasa berkelakuan baik, berakhlak mulia.

Hadirin rahimakumullaah.

Allaah Ta’aala berfirman di dalam surat al-Baqarah ayat 286:

… untuk manusia ganjaran bagi perbuatan baik yang dilakukannya, dan sanksi bagi perbuatan (buruk) yang dilakukannya …

Makna ayat tersebut menggunakan kata “yang dilakukan” sebanyak dua kali, yang pertama adalah pemaknaan dari kata kasabat dan yang kedua pemaknaan dari kata iktasabat.

Syaikh Muhammad Abduh dalam tafsir al-Manar mengungkapkan bahwa kata iktasabat dan semua kata yang berpatron demikian memberi arti adanya semacam upaya sungguh-sungguh dari pelakunya. Hal ini berbeda dengan kasabat yang berarti dilakukan dengan mudah tanpa pemaksaan.

Dalam ayat ini perbuatan manusia yang buruk dinyatakan dengan iktasabat. Sedangkan terminologi perbuatan baik dinyatakan dengan kasabat. Ini menandakan bahwa fitrah manusia pada dasarnya cenderung kepada kebaikan, sehingga dapat melakukannya dengan mudah, kasabat. Berkebalikan dengan keburukan yang harus dilakukannya dengan susah payah dan keterpaksaan, iktasabat.

Hadirin rahimakumullaah.

Allaah Ta’aala berfirman dalam surat al-Israa` ayat 15:

Dan seorang yang berdosa tidak dapat memikul dosa orang lain.

Masing-masing dari kita akan mempertanggungjawabkan diri kita masing-masing, terhadap segala hal yang kita lakukan. Masing-masing akan memikul ganjaran bagi perbuatan baik kita sekaligus menebus dosa bagi perbuatan buruk kita dengan siksa. Seseorang tidak dapat memikul dosa orang lain.

Dengan memahami fitrah manusia sebagai makhluk yang penuh dengan kebajikan, sebagai hamba Allaah yang berkecenderungan kepada kebaikan, sebagai diri yang penuh dengan potensi ketaatan, yang kelak akan dihadapkan dengan kenyataan bahwa akan memikul ganjaran bagi setiap apa yang kita perbuat, maka momen Maulud Rasuulullaah Muhammad SAW menjadi tepat jika kita isi dengan menyelami kembali sosok beliau sebagai teladan dalam berperilaku, sebagai contoh dalam bertindak, sebagai panutan dalam berkata-kata.

Allaah Ta’aala berfirman dalam surat al-Ahzab ayat 21

Demi (Allaah), sungguh telah ada bagi kamu pada (diri) Rasuulullaah suri teladan yang baik bagi orang yang (senantiasa) mengharap (rahmat) Allaah dan (kebahagiaan) Hari Kiamat, serta (teladan bagi mereka) yang banyak berzikir kepada Allaah.

Allaah Ta’aala menegaskan, bahwa Rasuulullaah SAW adalah sebaik-baik contoh dalam perbuatan kebajikan. Maka bolehlah bagi kita jika menyebut bulan Maulud sebagai bulan yang fitri juga, karena bulan di mana Rasuulullaah SAW lahir ini sudah seharusnya membawa semangat dan momentum bagi umat manusia untuk kembali kepada fitrahnya: kecenderungan untuk selalu berbuat kebajikan. Semoga Allaah Ta’aala memudahkannya bagi kita. Amin, yaa Rabbal-‘aalamiin.