Peradaban Islam ala Indonesia: Menghimpun Keberagaman

Ketika muncul fatwa rokok sebagai sesuatu yang haram, NU sering diejek. NU dianggap tak berani dalam mengharamkan rokok dikarenakan para ulama NU banyak yang merokok. Ya memang benar adanya sih, bahwa banyak ulama NU yang merokok. Bahkan bagi seorang nahdliyin, kapabilitas untuk merokok adalah bagian dari keabsahan sebagai seorang nahdliyin. Terlepas dia kader maupun bukan.

Namun benarkah pertimbangan hukum NU tentang rokok hanya sebatas karena umat dan ulamanya juga perokok? Mari kita telusuri sejarahnya bersama.

Ketika Risalah Menghampiri

Revolusi peradaban oleh Islam dimulai ketika seorang Quraisy menerima wahyu dari Tuhan. Dialah yang kemudian selalu dipanggil oleh umatnya berurutan sesudah menyebut nama Tuhan setidaknya lima kali dalam sehari. Sayyidinaa Muhammad SAW.

Ketika pertama bertemu dengan Pembawa Pesan Agung, Malaikat Jibril ‘AS, Sayyidinaa Muhammad SAW terpaku. Tak dinyana, risalah pertama dari langit adalah kalimat perintah, Iqra`!, yang bermakna perintah untuk membaca, Bacalah! Sayyidinaa Muhammad SAW pun bertanya balik dengan balasan kalimat tanya, maa aqra`?, yang berarti: Apa yang harus saya baca?

Lantunan kalimat suci pun berlanjut: Iqra` bismirabbikalladzii khalaq, khalaqal insaana min ‘alaq; bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu yang mencipta, mencipta manusia dengan sesuatu yang bergantung di dinding rahim; dan seterusnya hingga ayat kelima.

Para penafsir menjelaskan kisah ini dengan sangat indah, sebagai cerminan amanah peradaban seorang muslim. Prof. Quraish Shihab, seorang penafsir nusantara menjelaskan bahwa pertanyaan dari Sayyidinaa Muhammad SAW merupakan kewajaran, sebab: (1) perintah membaca dari Malaikat Jibril ‘AS yang tidak lazim menurut tata bahasa Arab karena perintah tanpa objek, dan (2) Sayyidinaa Muhammad SAW yang buta huruf tak bisa membaca dan menulis aksara apapun.

Adanya perintah tanpa objek spesifik justru membawa pesan agung sebagai dasar risalah yang dibawa Islam: bacalah segala sesuatu yang terhampar di hadapanmu, tulisan maupun peristiwa, bacaan suci keagamaan maupun selainnya, selama konteksnya adalah sembari mengingat Tuhan yang menciptamu, bismirabbikalladzi khalaq.

Tafsir ayat berikutnya menjadi semakin indah, ketika Tuhan berfirman, khalaqal insaana min ‘alaq, mencipta manusia dengan sesuatu yang bergantung di dinding rahim, bahwa manusia berasal dari sesuatu yang bergantung pada sesuatu dan ia sampai kapanpun tak dapat berdiri sendiri tanpa manusia lain. Sungguh, mayat tak dapat menguburkan dirinya sendiri! Maka, kebutuhan spiritualitas berketuhanan adalah keniscayaan, namun ketergantungan kepada sesama manusia adalah realitas kehidupan.

Selanjutnya, perintah yang mula-mula turun ini perlu dikaitkan pula dengan menjelaskan sebuah firman Tuhan yang lain tentang awal penciptaan manusia. Malaikat yang bertanya mengapa Tuhan berencana mencipta makhluk yang menumpahkan darah, justru Tuhan menjadi pembela manusia dengan berfirman, wa ‘allama aadamal-asmaa-a kullaha, dan (Dia) mengajarkan kepada Adam nama benda semuanya. Tafsirnya, manusia berpotensi menumpahkan darah, namun manusia pula mampu mengembangkan alam di sekelilingnya untuk memenuhi kebutuhannya.

Maka inilah fitrah bagi seorang muslim yang sesungguhnya: berwawasan luas dan mendalam, baik spiritualitas berketuhanan maupun ilmu pengetahun dan teknologi modern, demi memenuhi kemaslahatan sesama manusia. Bahasa Tuhan menyebut, wa maa arsanalka illaa rahmatan lil-‘aalamin, dan Kami tidak mengutusmu (Sayyidinaa Muhammad SAW) kecuali menjadi rahmat, kasih, dan sayang, bagi semesta alam.

Islam di Negeri Seribu Pulau

Islam terus berkembang hingga kemudian mencapai Indonesia tercinta, yang pada masa lalu dikenal sebagai Nusantara. Peranan Dewan Wali Sembilan tak bisa dipungkiri menjadi faktor penting bagi cepatnya Islam berkembang di Nusantara. Salah satu prinsip yurisprudensi Islam yang digunakan oleh Dewan Wali Sembilan adalah muhafazhatu ‘ala qadiimish-shaalih, wal-akhdzu ‘ala jadiidil-ash-lah; memelihara tradisi lama yang baik dan mengambil tradisi baru yang lebih baik. Tradisi lama sebelum masuknya Islam dimodifikasi, dibersihkan dari hal-hal yang melanggar ketentuan dasar Islam, dikonversi menjadi tradisi baru yang lebih baik sebagai alat memperkenalkan Islam.

Peran Ulama sebagai penerus Dewan Wali Sembilan mulai mengglobal ketika suku-suku di jazirah Arab takluk di bawah penguasa tunggal Dinasti as-Saud dan memegang akses menuju dua kota suci, Makkah al-Mukarramah (Makkah yang Penuh Kemuliaan) dan Madinah al-Munawwarah (Madinah yang Penuh Cahaya), di mana Saudi berencana menyeragamkan praktek ibadah di kedua kota tersebut, terbentuklah Komite Hijaz untuk berunding dengan otoritas Saudi agar urung mewujudkan penyeregaman tersebut. Inilah embrio terbentuknya organisasi Islam terbesar di Indonesia, bahkan di dunia, yakni Nahdlatul-‘Ulama` (NU) atau Kebangkitan Ulama.

Penghargaan NU kepada Dewan Wali Sembilan tercermin dalam lambang NU yang antaranya memiliki sembilan bintang, representasi keberadaan Dewan Wali Sembilan. Lima bintang di atas adalah simbol Sayyidinaa Muhammad SAW dan empat sahabat utama beliau, yakni Sayyidinaa Abu Bakar, Sayyidinaa ‘Umar, Sayyidinaa ‘Utsman, dan Sayyidinaa ‘Ali, sementara empat bintang di bawah adalah gambaran empat ulama besar dalam yurisprudensi Islam, yakni Imam Malik, Imam Hanafi, Imam Syafi’i, dan Imam Hambali.

NU, Kebangsaan, dan Kenegaraan

Salah satu peran nyata NU bersama umat Islam kepada Indonesia adalah penerimaan Pancasila sebagai Dasar Negara. Ketika perwakilan tokoh dari Indonesia bagian timur menolak tujuh kata dalam Piagam Jakarta, Islam yang salah satunya diwakili oleh NU, kemudian memilih mengalah. Tujuannya adalah demi terbentuknya negara. Imam Ghazali menulis dalam Ihya ‘Ulumiddin (Menghidupkan Keberagamaan):

al-mulku wad-diin taw-amaani, kekuasaan dan agama merupakan dua saudara kembar;

fad-diiny ashluw-was-sulthaanu haarisun, agama sebagai landasan dan kekuasaan sebagai pengawalnya;

wa maa laa ashlalahu famahduumun, sesuatu tanpa landasan pasti tumbang;

wa maa laa haarisalahu fadlaa-i-‘un, sedangkan sesuatu yang tak punya pengawal akan tersia-siakan.

Para tokoh Islam dan NU pada 1945 sadar, bahwa negara dan agama adalah saudara kembar yang saling membutuhkan. Maka pilihan terbaik adalah memenuhi permintaan tokoh Indonesia bagian Timur, demi terbentuknya sebuah negara kebangsaan, Indonesia berdasarkan Pancasila.

Sesudah dinamika yang sangat pelik hubungan NU dengan berbagai kelompok politik pada periode 1945 sampai dengan munculnya Orde Baru, hubungan Pancasila dengan Islam diteguhkan kemudian oleh NU melalui Munas Alim Ulama NU tahun 1983 di Situbondo. Meskipun secara politik didorong oleh pemerintah agar menerima Pancasila sebagai azas tunggal, momen ini menjadi kesempatan bagi NU untuk menguatkan Pancasila sebagai jalan tengah demi bersatunya kebangsaan Indonesia. Keputusan Munas tersebut berbunyi:

  1. Pancasila sebagai dasar dan falsafah Negara Republik Indonesia bukanlah agama, tidak dapat menggantikan agama dan tidak dapat dipergunakan untuk menggantikan kedudukan agama.

  2. Sila Ketuhanan Yang Maha Esa sebagai dasar Negara Republik Indonesia menurut pasal 29 ayat (1) Undang-Undang Dasar 1945, yang menjiwai sila-sila yang lain, mencerminkan tauhid menurut pengertian keimanan dalam Islam.

  3. Bagi Nahdlatul Ulama, Islam adalah aqidah dan syari’ah, meliputi aspek hubungan manusia dengan Allah dan hubungan antar manusia. Penerimaan dan pengamalan Pancasila merupakan perwujudan dari upaya ummat Islam Indonesia untuk menjalankan syari’at agamanya.

  4. Sebagai konsekuensi dari sikap di atas, Nahdlatul Ulama berkewajiban mengamankan pengertian yang benar tentang Pancasila dan pengamalannya yang murni dan konsekuen oleh semua pihak.

Sederhananya, NU menjalankan Islam sebagai ajaran agamanya dalam berbagai lini kehidupan. Khusus untuk lini kehidupan bernegara, berbangsa, dan bermasyarakat, bagi NU, ajaran Islam tercermin dalam Pancasila.

Pada periode 1980-1990 tersebut pula tercetuslah empat prinsip utama bagi warga NU dalam menyikapi berbagai persoalan yang dihadapi: (1) tawasuth atau pertengahan, (2) tawazun atau keseimbangan, (3) tasamuh atau toleransi, dan (4) i’tidal atau keadilan. Empat sikap ini bukan karangan NU, tetapi diambil dari berbagai sumber hukum Islam.

Sikap pertengahan atau tawasuth, misalnya, diambil dari firman Tuhan, wa kadzaalika ja’alnaakum ummataw-wasathaa, dan demikian Kami menjadikan kamu umat pertengahan. Kata wasit dalam bahasa Indonesia, diserap dari kata yang sama, tawasuth. Sebagai ilustrasi tentang makna sikap pertengahan, misalnya: (1) pemberani adalah pertengahan antara penakut dan nekat, (2) dermawan adalah pertengahan antara kikir dan boros.

Menjelaskan Beberapa Sikap NU: Refleksi atas Konsistensi

Beberapa peristiwa mutakhir menunjukkan konsistensi NU sebagai representasi Islam yang fleksibel namun tak meninggalkan nilai dasar spiritualitas keagamaan, di antaranya adalah sebagai berikut:

  1. Hukum Haram Rokok

NU memilih diam terhadap hukum rokok, atau maksimal menghukuminya sebagai makruh (tidak disukai), karena kehati-hatian. Konsekuensi hukum haram adalah serangkaian yang menuju kepadanya dan bersumber darinya juga harus dimaknai haram. Hukum haram rokok bermakna seluruh rantai suplai rokok, sejak dari petani tembakau, karyawan produksi rokok hingga penjualnya, cukai dan pajak rokok, serta semua uang yang berkaitan dengannya berhukum haram. Betapa mengerikannya negeri ini dipenuhi dengan keharaman yang bertubi. Bahkan saat ini, jika rokok dihukumi sebagai haram, maka sebagian pembiayaan jaminan kesehatan nasional dalam waktu dekat akan menjadi haram karena bersumber dari cukai dan pajak rokok.

Maka bagi NU, keharaman rokok belum mutlak, selama belum ditemukan solusi komprehensif dalam mengalihkan industri rokok yang berukuran massif kepada lapangan pekerjaan lain yang sepadan. Inilah sikap tawasuth, (pertengahan yang tidak ekstrim), memperhatikan semua aspek (tawazun atau keseimbangan informasi), dan penuh keadilan bagi semua pihak.

  1. Keterlibatan NU pada Pembelaan terhadap Penghayat Kepercayaan, Keturunan PKI, Ahmadiyah, dan Syiah

Salah satu lembaga di NU, Lembaga Kajian dan Pengembangan SDM NU (LAKPESDAM-PBNU) terlibat aktif di dalam pembelaan hukum maupun rekonsiliasi sosial terhadap masyarakat di berbagai daerah.

Kasus kolom agama bagi penghayat kepercayaan didasari pada hak dasar para penghayat yang dipaksa masuk ke salah satu dari enam agama agar dapat menikah atau lulus ujian sekolah.

Kasus bekas tahanan politik PKI dan keluarganya terjadi di Gunungkidul, ketika mereka termarginalkan secara sosial, tak dianggap sebagai manusia sepadan, sehingga terbelenggu oleh kemiskinan, bahkan oleh aparatur pemerintah setingkat dusun sekalipun, karena tidak mendapatkan jatah beras miskin.

Kasus kekerasan dan pengusiran pemeluk Ahmadiyah dan Syiah jelas menghilangkan hak bertempat tinggal dan hak hidup mereka, padahal di tempat itulah mereka berada sejak lahir dan tumbuh dewasa.

NU bukan hadir untuk membenarkan ajaran penghayat kepercayaan, bukan pula membangkitkan kembali PKI, apalagi menumbuhakn ajaran Ahmadiyah ataupun Syiah. Bagi NU perbedaan keyakinan setiap insan adalah keniscayaan yang dijamin oleh negara dan NU turut memperjuangkan mereka yang termarginalkan untuk memperoleh hak-hak dasarnya sebagai warga negara Indonesia. Inilah prinsip i’tidal atau keadilan untuk semua yang dijunjung oleh NU.

  1. Kasus Penistaan Agama oleh Basuki Tjahaja Purnama

Ketika sidang berlangsung, ada dua tokoh NU yang berseberangan. KH Ma’ruf Amin sebagai saksi ahli yang diajukan oleh jaksa dan Kiai Ahmad Ishomuddin sebagai saksi ahli dari pihak terdakwa. Kedua ulama tersebut mumpuni di bidang yurisprudensi Islam, sama-sama berada di Lembaga Tinggi (Syuriyah) Pengurus Besar NU, hanya berbeda senioritas. Uniknya, keduanya tidak saling mengusir dari PBNU, tidak pula kemudian bermusuhan, meskipun berlawanan pihak di persidangan. Peristiwa ini menggambarkan empat bintang dalam lambang NU yang mewakili empat Imam besar dalam yurisprudensi Islam yang diterima keberagaman pendapatnya dalam NU: beragam pendapat itu biasa dan sangat lazim, namun kerukunan adalah kunci.

 Islam ala Indonesia untuk Dunia

Terdapat kata kunci yang menyelimuti sekelumit sejarah NU sebagai organisasi Islam asli Indonesia: musyawarah dan konsensus. Dua password ini sesungguhnya merupakan sifat universal yang telah dipraktekkan sejak lama di berbagai peradaban, termasuk peradaban Nusantara pra-Islam dan maupun oleh Islam sendiri, walaupun prakteknya di dalam umat Islam masa kini belum ideal sama sekali. Timur Tengah misalnya, meskipun memiliki keragaman yang sangat sedikit dalam hal budaya, suku, bahasa, dan agama, wilayah tersebut tak pernah lepas dari konflik yang menumpahkan darah. Negeri tempat lahir dan tumbuhnya Islam hingga mencapai puncak kejayaannya, masyarakatnya tak pernah mencapai konsensus dan beralih ke senjata sebagai solusi. Sampai detik ini.

Oleh karenanya, sejak 2015 NU mengusung Islam Nusantara sebagai tagline-nya. Bukan mengusung ibadah baru, bukan pula syariat anyar, tapi memperkenalkan praktek Islam yang bermartabat, menjunjung tinggi musyawarah dan konsensus, tanpa meninggalkan pondasi dasar Islam, demi meraih kemaslahatan seluruh manusia, yang selama ini sedang dan terus diperjuangkan di Kepulauan Nusantara, Indonesia kita tercinta. Islam yang mampu menghimpun keberagaman.

Sebuah kaidah yurisprudensi Islam menyatakan, maa laa yudraku kulluhu, laa yutraku kulluhu; sesuatu yang tidak bisa dikerjakan seluruhnya, tidak ditinggalkan seluruhnya. Jika dimaknai dalam konteks salat, kaidah ini mendorong kita untuk tetap salat meskipun dalam keadaan sakit, karena sembari duduk, berbaring, bahkan hanya isyarat pun, salat bisa dikerjakan.

Sebagai generasi milenial yang sedang berproses menerima estafet kepemimpinan bangsa, kaidah tersebut memberikan peluang bagi kita untuk terus berjuang sesuai dengan kemampuan kita. Indonesia sebagai negeri berpenduduk muslim terbesar di dunia memiliki potensi untuk memperkenalkan Islam Nusantara ke penjuru dunia. Negara dan PBNU bertugas menyampaikannya kepada khalayak internasional.

Sementara kita, setiap individu bersama-sama dengan kelompok masyarakat, berperan dalam membumikannya menjadi praktek-praktek di dunia nyata, sesuai dengan jangkauan ruang dan waktu yang kita miliki, sesuai dengan bidang keahlian kita masing-masing. Semoga Tuhan memudahkan ikhtiar kita bersama menuju Indonesia yang bermaslahat. Aamiin.

Islam Nusantara dalam Konteks Konsensus Kebangsaan

~ Jika pemahaman Islam Nusantara diambil dari perspektif konsensus kebangsaan yang diperkaya dengan sejarah dan hikmah atas keadaan politik Timur Tengah dan bangsa Arab dewasa ini, insya-Allaah mau tak mau kita akan menyetujuinya. ~

Salah satu kekecewaan kepada bangsa Arab dan kawasan Timur Tengah adalah kegagalannya dalam menyelesaikan permasalahan kenegaraan dan kebangsaan di kawasan, padahal karakteristiknya relatif homogen, yakni (1) keragaman etniknya kecil, (2) agama mayoritas Islam, (3) berada di satu wilayah daratan yang luas, (4) berbahasa tunggal (Arab), dan (5) memiliki kekhasan budaya yang sangat mirip satu sama lain.

Di zaman Perang Teluk, ketika Irak menyerang Kuwait yang berbatasan dengan Saudi, ulama dari kedua negara (Irak dan Saudi), yang sama-sama Islam Ahlus-Sunnah berfatwa untuk saling menghalalkan darahnya.

Inikah cerminan Islam Rahmatan lil—’aalamiin?

Di zaman sekarang, Irak masih semrawut. Mayoritas Islam. Ada Syiah, ada Sunni, dan ada pula etnis Kurdi. Etnik Kurdi sendiri, merupakan etniknya Salahuddin al-Ayyubi yang sangat tenar itu, tersebar di mana-mana dan terkesan di anak-tirikan di berbagai negara berpenduduk muslim, seperti Irak, Suriah, dan Turki. Kesemrawutannya bukan main-main: perbedaan kepentingan dalam kekuasaan (politik) disikapi dengan pembunuhan massal lewat bom dan senjata.

Inikah cerminan Islam Rahmatan lil—’aalamiin?

Suriah yang sedang dilanda perang saudara sesama muslim. Banyak faksi politik, punya kepentingan masing-masing, semua ngaku Islam. Dan kepentingan pun ditegakkan dengan bom serta senjata.

Ulama besar Suriah, al-Maghfurlah Syaikh Ramadlan al-Buthi, sebelum konflik membesar dan hanya berupa demonstrasi, terus menerus menyuarakan rekonsiliasi nasional, tapi tak pernah didengar oleh para elit muslim yang punya kepentingan. Sampai detik ini, sekitar 6 juta penduduk terkatung-katung di dalam negeri Suriah dan 5 juta jiwa lainnya tersebar di luar Suriah. Semua yang berkepentingan mengatasnamakan penegakan agama Islam.

Inikah cerminan Islam Rahmatan lil—’aalamiin?

Saudi, Bahrain, Uni Emirat Arab, Senegal, Maroko, dan Sudan sedang berkonflik dengan Yaman sekaligus bersitegang dengan Qathar yang sebelumnya berada di koalisi Saudi namun belakangan pecah kongsi. Yaman sendiri sedang perang saudara. Alasannya perebutan kekuasaan politik. Ada Sunni, ada Syiah, ada pula al-Qaeda. Semua pihak, Saudi, Yaman dengan berbagai faksinya, dan Qathar, mayoritas muslim dan sedang berperang.

Inikah cerminan Islam Rahmatan lil—’aalamiin?

Fakta di atas adalah salah satu penyebab mengapa muncul gagasan Islam Nusantara. Bandingkan dengan kondisi kita sebagai bangsa yang masih utuh dan bersatu, meskipun beberapa spesifikasinya berbeda dg Timur Tengah: mayoritas Islam, terpisah lautan, penduduk besar dan beragam suku, bahasa, hingga budaya.

Maka Islam Nusantara diperkenalkan oleh NU, menurut saya, yang diunggulkan adalah Islam sebagai sebuah solusi kebangsaan, konsesus membentuk negara yang berorientasi kepada umat. Islam yang benar-benar rahmatan lil-‘aalamiin karena memprioritaskan musyawarah dalam menyelesaikan masalah, terutama bagaimana kepentingan politik kekuasaan dikelola oleh Indonesia yg mayoritas muslim.

Itulah kenapa NU mendeklarasikan hubungan Pancasila dengan Islam pada 1983 sebagai pedoman umat dalam berbangsa dan bernegara. PBNU juga mengantarkan 12 ulama Afghanistan ke UGM pada 2013 untuk belajar Pancasila. Kemudian Pekalongan menjadi tuan rumah Konferensi Ulama Thariqah Se-dunia dengan tema Bela Negara pada 2016. Dan pada 2018 ini ada Konferensi Ulama Indonesia, Afghanistan, dan Pakistan di Bogor, serta kehadiran ulama Indonesia ke Irak beberapa minggu yg lalu. NU, Islam Indonesia, Islam Nusantara serius berperan dalam perdamaian kebangsaan.

Hanya saja dimensi ini dikaburkan oleh mereka yang benci dengan NU. Mengapa? Karena kalau umat sadar dengan ini, terutama kalangan NU sendiri yang berbasis di pedesaan serta intelektual mudanya di perkotaan, maka habislah kepentingan politik mereka. Ora payu alias tidak laku.

NU yang berpegang pada empat prinsip (tawasuth atau pertengahan, tawazun atau keseimbangan, tasamuh atau tepa selira, dan i’tidal atau keadilan) akan memandang persoalan dengan objektif serta fokus pada fakta dan data. NU mendorong ikhtiar untuk menelaah persoalan dari beragam perspektif, sebelum memutuskan arah politiknya.

Bagaimana agar objektivitas ini kabur dan hilang? Serang dengan subjektivitas: kebencian membabi buta, kebencian pada perbedaan pendapat, kebencian pada tokoh NU, kebencian pada tokoh bangsa. Ketika berbeda, habisi dengan hujatan dan kata-kata kasar, tidak perlu melihat konteksnya atau objektivitasnya.

Agar massif, serang lewat sosial media. Tujuan lain lewat sosial-media  adalah agar masyarakat yang belum lama melek internet, termasuk kalangan NU di pedesaan yg belum kenal hoax dan objektivitas informasi, agar beralih ke subjektivitas dan keluar dari empat prinsip NU. Maka dalam hal ini, pesantren menjadi sebuah jangkar yang sangat penting bagi NU untuk terus memproduksi calon-calon pemimpin umat yang teguh pada nilai Islam dan kebangsaan.

Kalau kita tidak memahami Islam Nusantara dalam konteks konsensus kebangsaan, bahkan mengaburkan maknanya ke arah fitnah keji dan kebencian massif (misal: mengganti syariat, menjunjung tinggi budaya lokal dibandingkan Qur`an dan Sunnah, membenci Arab secara mutlak), maka bukan tidak mungkin krisis Timur Tengah akan berpindah ke Indonesia. Kita memohon perlindungan Allaah dari yang demikian.

Mari kita dinginkan suasana perebutan kepentingan di 2019 nanti dengan menghindari caci maki, mengurangi kebencian, dan diskusi cerdas berdasarkan objektivitas.

Sebagai penutup, Kanjeng Nabi SAW pernah bersabda,

Al-amnu wal-‘aafiyah ni’mataani magh-buunun fii-himaa katsiirun-minan-naas. Keamanan dan kesehatan adalah dua nikmat yg membuat banyak orang terlena.

Semoga Allaah memudahkan niat baik NU untuk terus memperdengarkan Islam Nusantara.

Blunyah Gede,
8 Juli 2018,
Ahmad Rahma Wardhana.

Lampiran Foto: dua buku yang relevan dengan maksud tulisan ini sehingga layak untuk dibaca

IMG20180708135016

IMG20180708151129

IMG20180708151146

Pemberantasan Korupsi dalam Perspektif Islam

Sepanjang tanggal 4 Juni 2018, ada beberapa peristiwa penting yang mendorong saya untuk menulis ceramah ini. Temanya tentang pemberantasan korupsi.

Peristiwa pertama adalah tentang penyerahan hadiah yang diterima pejabat pemerintahan atau negara kepada KPK. Pemberian kepada pejabat pemerintahan atau negara disebut sebagai gratifikasi yang sangat berpotensi bertujuan untuk mempengaruhi kebijakan pejabat tersebut. KPK saat ini memiliki buku petunjuk bagi para pejabat untuk memilih dan memilah mana yang gratifikasi murni (tanpa pamrih) mana yang gratifikasi sebagai suap. Namun, sebagian pejabat yang ingin menjunjung tinggi kejujuran, biasanya langsung dilaporkan kepada KPK untuk diselidiki.

Jika gratifikasi merupakan hadiah yang tidak berkaitan dengan kedudukan pejabat tersebut, maka akan dikembalikan kepada pejabat. Sebaliknya, jika cenderung bertujuan untuk mempengaruhi pejabat, maka hadiah tersebut akan menjadi milik negara. KPK sudah memiliki metode yang teruji untuk menyelidiki hal ini.

KPK menggelar jumpa pers tentang beberapa pejabat yang melaporkan gratifikasi, di antaranya berupa keris, jam tangan, dan berbagai perhiasan dengan batu mulia. Ketika ditaksir, di antara barang-barang tersebut ada yang harganya dalam rupiah mencapai 7,5 miliar, 10 miliar, 11,2 miliar, 20 miliar, dan 28 miliar rupiah. Mengapa hal ini dilaporkan oleh pejabat? Jelas karena nilainya yang ngungkuli akal jika dianggap sebagai hadiah.

Peristiwa kedua adalah ditangkapnya Bupati bersama Kepala Unit Layanan Pengadaan, ajudan Bupati, dan pihak swasta. Diduga kuat, Bupati tersebut menerima suap agar pihak swasta dapat menggarap sebuah proyek tertentu. Kejahatan model ini yang sayangnya, sering terjadi di negara kita.

Praktek korupsi lain yang sering terkuak, misalnya adalah adanya nyang-nyangan alias tawar menawar komisi antara DPRD hingga DPR kepada dinas terkait hingga menteri, dan kemudian keterlibatan swasta sebagai calon penggarap proyek. Contoh praktek berdosa tersebut:

  1. DPRD menyandera Dinas atau Kepala Daerah (atau DPR menyandera menteri tertentu), bahwa kalau tidak dapat komisi tidak akan diloloskan anggarannya. Atau tidak diloloskan jika tidak ada komitmen bahwa saat pelaksanaan proyek, pihak swasta tertentu yang akan menggarapnya. Tentu saja pihak swasta ini pasti punya hubungan mesra dengan DPRD atau DPR.
  2. Kepala Daerah menekan swasta, bahwa kalau tidak diberi komisi, pihak swasta yang paling berpotensi menggarap proyek tidak akan menang dalam seleksi. Atau sebaliknya swasta sengaja menyuap kepada pejabatnya, meskipun tidak meminta, seperti kasus guru besar salah satu perguruan tinggi terkemuka yang menjadi pejabat. Menyatakan tidak pernah meminta, tapi karena pihak swasta terus menerus menekan, akhirnya menerima juga.

Praktek-praktek korupsi oleh pejabat pemerintahan atau negara seperti ini sungguh berpotensi menimbulkan kerusakan secara besar-besaran di muka bumi, terutama bagi masyarakat yang dipimpin oleh para pejabat tersebut. Jika proyek tersebut idealnya adalah dibangun dengan dana 100% oleh pengusaha swasta, sementara dalam prosesnya pengusaha swasta harus mengeluarkan dana untuk pejabat-pejabat terkait (padahal mengesahkan proyek tersebut adalah amanah yang wajib dilakukan oleh pejabat, termasuk dari kewajiban yang harus dilakukan atas gaji yang ia peroleh), maka tinggal berapa persen dana yang digunakan untuk membangun?

Jika proyek tersebut adalah proyek fisik seperti gedung, jembatan, jalan, bendungan, di mana 100% adalah nilai ideal, dengan usia bangunan sekian tahun atau mampu menampung sekian orang, kemudian dipotong sekian puluh persen, sudah sewajarnya jika bangunan tidak 100% sempurna, rentan rusak sebelum waktunya, merugikan masyarakat, bahkan sangat berbahaya jika berkaitan dengan kehidupan kelompok masyarakat. Kerusakan yang tidak bisa diremehkan begitu saja.

Hadirin rahimakumullaah, sementara peristiwa ketiga adalah adanya surat dari KPK kepada Presiden dan DPR tentang Rancangan Undang-Undang Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (RUU-KUHP) yang rencananya disahkan di bulan Agustus nanti. Isi surat tersebut kemudian digaungkan oleh masyarakat melalui lembaga-lembaga independen seperti ICW (Indonesian Corruption Watch) agar kita mendesak melalui berbagai cara agar RUU-KUHP ditinjau ulang.

Mengapa KPK dan lembaga-lembaga pegiat anti-korupsi perlu bersuara? Karena ada dugaan kuat, RUU-KUHP ini dapat melemahkan pemberantasan korupsi oleh KPK. Beberapa hal yang dikhawatirkan setidaknya ada tiga:

  1. ancaman pidana penjara dan denda bagi koruptor dalam RUU-KUHP lebih rendah dari ketentuan yang diatur dalam UU Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi,
  2. koruptor yang diproses secara hukum dan dihukum bersalah tidak diwajibkan mengembalikan hasil korupsinya kepada negara karena RUU-KUHP tidak mengatur hal ini,
  3. pelaku korupsi memiliki pilihan untuk mengembalikan kerugian keuangan negara agar tidak diproses oleh penegak hukum.

Hadirin rahimakumullaah, tiga peristiwa tersebut mendorong saya untuk membuka buku berjudul Jihad Nahdlatul ‘Ulama Melawan Korupsi dan menceritakan kembali di forum ini tentang bagaimana Islam memandang tindak pidana korupsi.

Salah satu hal pokok dalam penyelenggaraan pemerintahan atau negara adalah adanya potensi terjadi konflik kepentingan dan penyalahgunaan kewenangan. Beberapa gambaran simpelnya telah saya sampaikan di atas tadi, bagaimana wewenang disalahgunakan untuk meminta suap, atau konflik kepentingan dengan memaksa perusahaan tertentu sebagai penggarap proyek pemerintah.

Seorang ilmuwan besar Islam di bidang sejarah, ilmu kemasyarakatan (sosiologi), ekonomi, dan kependudukan, Ibnu Khaldun, mengatakan,

 photo antikorupsi-1_zpskfbc1hsw.png

Di Indonesia, hal ini belum dapat dilakukan sepenuhnya, baik pemisahan antara jabatan pemerintahan dengan pengusaha maupun jabatan pemerintahan dengan jabatan partai politik. Padahal, karena jabatan itulah yang menyebabkan seseorang dapat tergoda untuk mementingkan usahanya, kawannya, atau kelompoknya, daripada kepentingan yang lebih luas.

Ada seorang menteri yang melepaskan semua sahamnya di sebuah perusahaan besar, meskipun dulu dirinya sendirilah yang banting tulang memulai dan mengembangkannya. Ini pilihan dari sang menteri untuk mencegah munculnya konflik kepentingan. Sementara di sisi lain, kita memiliki pejabat lain yang memilih merangkap jabatannya di luar pemerintahan. Di Amerika Serikat, Presiden Donald Trump dengan perusahaannya yang sangat kaya diperintahkan oleh Undang-Undang untuk menyerahkan seluruh pengelolaan perusahaannya kepada blind trust, pihak independen, di mana Presiden Trump sudah tidak bisa cawe-cawe sedikitpun terhadap uang dan aset perusahaannya.

Hadirin rahimakumullaah, ketika Sayyidinaa Mu’adz bin Jabal bersama Sayyidinaa Abu Musa al-Asy’ari RA dilepas oleh Rasuulullaah SAW menuju Yaman untuk menjadi penanggung jawab wilayah sekaligus guru (sekitar tahun 10 Hijrah), beberapa saat kemudian Kanjeng Nabi SAW ternyata menyuruh seseorang menyusul Sayyidinaa Mu’adz agar kembali untuk menghadap Nabi SAW. Terjadilah dialog sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi:

 photo antikorupsi-2_zpsu3bbwadv.png

Atas hadits ini kita dapat menyaksikan, Nabi SAW sejak dini sudah sangat antisipatif dalam menanggulangi masalah konflik kepentingan antara petugas dan pendakwah agama. Sebagai seorang petugas tidak dibenarkan menerima pemberian apapun selain yang telah ditetapkan dalam al-Qur`an. Dalam hal ini adalah seorang pengambil zakat, ia mendapat bagian dari harta zakat, setelah fakir dan miskin diberi terlebih dahulu. Dan yang paling mencengangkan adalah waktu penyampaian dari Rasuulullaah SAW, yang karena begitu pentingnya perintah ini, Nabi SAW tidak menyampaikannya melalui orang lain atau surat, tidak pula menundanya, tetapi Sayyidinaa Mu’adz dipanggil kembali, meskipun belum lama berangkat.

Sedangkan kalimat tanpa seizinku dari Nabi SAW menggambarkan bahwa pada saat itu pemegang otoritas tertinggi di bidang hukum dan peraturan adalah Nabi SAW. Pada masa kini, hal ini dapat disamakan sebagai larangan mengambil hak keuangan di luar ketentuan perundang-undangan.

Jika PNS sebuah Pemda misalnya, mendapatkan hak keuangan dari gaji dan tunjangan, maka ia melakukan ghulul ketika meminta pungli atau jatah persenan dari proyek atau gratifikasi atau hal lain yang berkaitan dengan jabatannya di luar peraturan.

Tentu saja PNS tersebut masih boleh melakukan jual beli atau wiraswasta lain yang tidak menyalahgunakan wewenang, kewajiban, dan haknya sbg seorang PNS.

Hadirin rahimakumullaah, di dalam khazanah hukum Islam (fikih), ada 9 jenis tindak pidana (jarimah) yang mirip dengan korupsi, yaitu: (1) ghuluul (penggelapan), (2) risywah (gratifikasi atau penyuapan), (3) ghashab (mengambil paksa hak atau harta orang lain), (4) khiyaanat, (5) maksu (pungutan liar), (6) ikhtilaas (pencopetan), (7) intihaab (perampasan), (8) sariqah (pencurian), dan (9) hiraabah (perampokan).

Tiga di antara tindak pidana tersebut, yakni ghuluul (penggelapan), sariqah (pencurian), dan hiraabah (perampokan), disebutkan secara tegas dalam al-Qur`an. Sisanya, dijelaskan oleh Rasuulullaah SAW dalam berbagai hadits.

Hadirin rahimakumullaah, ada empat peristiwa yang berkaitan dengan kejahatan korupsi di sepanjang kehidupan Rasuulullaah SAW. Pertama, tuduhan ghuluul (penggelapan) kepada Nabi SAW; kedua, kasus budak bernama Mid’am atau Kirkirah; ketiga kasus seseorang yang menggelapkan perhiasan seharga 2 dirham; dan keempat, kasus hadiah (gratifikasi) bagi petugas pemungut zakat di kampung Bani Sulaim bernama Ibnu al-Lutbiyyah.

Kisah tuduhan penggelapan kepada Nabi SAW terjadi pada saat Perang Uhud, sekitar tahun ke-2 Hijriyah. Ketika itu pasukan kaum muslim menderita kekalahan sangat tragis akibat pasukan panah yang berbondong-bondong turun dari bukit Uhud untuk ikut berebut harta rampasan perang. Padahal Rasuulullaah SAW sejak semula sudah berpesan jangan sekali-kali meninggalkan bukit Uhud agar bisa melindungi atau membentengi bala tentara yang di bawah bukit, termasuk Nabi Muhammad SAW sendiri.

Mereka yang turun dari bukit Uhud mencurigai Nabi SAW akan menggelapkan harta rampasan perang yang tampak sangat banyak oleh mereka. Menyaksikan pasukan pemanah turun, Nabi SAW bersabda,

 photo antikorupsi-3_zps9md0zyma.png

Pada saat itulah turun ayat 161 surat ‘Ali Imran,

 photo antikorupsi-4_zpsyqeyzchg.png

Kasus korupsi kedua di masa Nabi SAW menimpa seorang budak bernama Mid’am atau Kirkirah. Saat itu ia sedang diutus oleh Nabi SAW untuk membawakan sejumlah harta rampasan perang. Namun di tengah perjalanan justru menemui kematian karena sebuah anak panah tak sengaja menyambar lehernya, sehingga para sahabat Rasuulullaah SAW kaget dan serentak mendoakan Mid’am atau Kirkirah agar mencapai surga. Di luar dugaan, Nabi SAW tiba-tiba bersabda bahwa dia tidak akan masuk surga, sebagaimana diriwayatkan oleh Abu Dawud,

 photo antikorupsi-5_zpswfolxk68.png

 photo antikorupsi-6_zps5vjoohxk.png

Kasus korupsi di zaman Nabi SAW ini mengandung pelajaran betapa beratnya dosa yang harus ditanggung oleh pelaku kasus korupsi, meskipun hanya senilai seutas tali sepatu. Bagaimana jika yang dikorupsi jauh lebih besar dari nilai itu?

Hadirin rahimakumullaah, kasus korupsi ketiga terjadi sebagaimana disampaikan dalam hadits riwayat Abu Dawud,

 photo antikorupsi-7_zpsr7icueri.png

 photo antikorupsi-8_zpsc1crwkbt.png

Perintah Nabi SAW dalam hadits tersebut yang berbunyi shalluu ‘alaa shaahibikum yang bermakna shalatkanlah saudara kalian ini, mempunyai arti bahwa Rasuulullaah SAW tidak mau menyalati jenazah pelaku korupsi. Perintah Beliau SAW kepada para sahabat dilakukan untuk memenuhi kewajiban kolektif (fardlu kifayah) dalam penyelenggaraan jenazah melalui shalat, namun Beliau SAW secara pribadi enggan melakukannya. Imam an-Nawawi menjelaskan maksud kengganan salat Nabi SAW dengan berkata,

 photo antikorupsi-9_zpsqiria1gb.png

Hadirin rahimakumullaah, kasus korupsi berikutnya adalah kasus yang menimpa Abdullaah bin al-Lutbiyyah (atau Ibnu al-Lutbiyyah). Diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim, dikisahkan menurut redaksi Imam Muslim sebagai berikut,

 photo antikorupsi-10_zpsx5w3tapt.png

 photo antikorupsi-11_zpseqzpflea.png

 photo antikorupsi-12_zpsyyababuu.png

 photo antikorupsi-13_zpssjfjr5ko.png

 photo antikorupsi-14_zps0ti715fe.png

 photo antikorupsi-15_zpszr6zf5cp.png

Hadirin rahimakumullah, tindakan Nabi SAW yang berkhatbah menjelaskan kasus korupsi salah seorang yang ditunjuk oleh Beliau SAW sendiri harus kita sepadankan sebagai anjuran di masa kini untuk membentuk opini anti-korupsi melalui media massa. Hal ini dilakukan agar menjadi pembelajaran publik sehingga terus menerus turut mendukung pemberantasan korupsi, sekaligus mempermalukan koruptor sebagai bagian dari menumbuhkan sifat jera di dalam diri koruptor tersebut.

Tindak pidana korupsi di Indonesia sendiri, bahaya dan dampak negatifnya dapat dinilai lebih besar daripada pencurian atau perampokan. Sehingga sebagai hukumannya, dapat dikenai pemecatan, penjara hingga seumur hidup, bahkan bisa berupa pidana mati. Hal ini dikarenakan kejahatan korupsi yang cukup besar efeknya bagi kehidupan kebangsaan dan rakyat banyak, sehingga dapat dikategorikan sebagai tindak pidana hirabah, memerangi Allaah dan Rasul-Nya serta membuat kerusakan di muka bumi, sebagaimana Allaah SWT firmankan di dalam surat al-Maaidah ayat 33,

 photo antikorupsi-16_zpsytzur1sf.png

Sampai saat ini hukuman tertinggi pelaku korupsi ada di tangan Akil Mochtar, mantan Ketua Mahkamah Konstitusi; Adrian Waworontu, pengusaha; dan Brigjen Teddy Hernayadi, mantan Direktur Keuangan TNI AD. Akil Mochtar misalnya, divonis seumur hidup karena melakukan korupsi saat menjabat Ketua Lembaga Tinggi Negara, yakni Mahkamah Konstitusi. Jabatan tersebut menuntut penjagaan harkat dan martabat negara, namun ia cederai dengan tindak pidana korupsi.

Hadirin rahimakumullaah, menjelang akhir Ramadlan, selain meningkatkan ibadah kita kepada Allaah secara langsung dalam ibadah-ibadah yang diajarkan Nabi SAW, mari tidak lupa juga menguatkan ibadah kita dalam bentuk kemashlahatan sesama manusia, dalam konteks pembahasan kita saat ini: mendukung pemberantasan korupsi.

Banyak hal yang dapat kita lakukan, seperti misalnya, meneguhkan kejujuran pada diri sendiri sehingga mampu menjadi teladan sekaligus pantas memberi nasihat kejujuran bagi anak, cucu, saudara, kerabat, dan handai tolan; mendukung secara online pemberantasan melalui berbagai media sosial dengan berbagi berita positif atau menulis komentar-komentar dengan kata-kata sopan atau menanda-tangani petisi-petisi pemberantasan korupsi; membaca dan mempelajari bahan-bahan pemberantasan korupsi, bisa buku, video, ceramah, biografi; serta cara-cara lain yang positif untuk terus mendukung pemberantasan korupsi.

Semoga Allaah memudahkan ikhtiar kita untuk selalu menjadi pribadi yang lebih baik. Aamiin.

Sumber utama penulisan ceramah ini adalah buku Jihad Nahdlatul Ulama Melawan Korupsi, yang diterbitkan oleh kerjasama antara LAKPESDAM-PBNU (Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pengurus Besar Nahdlatul ‘Ulama), Jaringan Gusdurian, Kemitraan, dan Komisi Pemberantasan Korupsi Republik Indonesia.

Sejarah Terorisme atas Nama Islam

Aksi terorisme, sebuah aksi menggunakan kekerasan yang mengatas-namakan Islam, yang terjadi di Surabaya, sebenarnya merupakan bentuk ekstrimisme dalam beragama. Sikap ekstrim atau berlebihan dalam memahami dan menjalani ajaran agama sesungguhnya bukan konsep yang dianjurkan oleh Islam maupun agama manapun.

Menurut Islam, anjuran bersikap moderat atau wasathiyah alias pertengahan, disampaikan oleh Allaah SWT di dalam al-Qur`an surat al-Baqarah ayat 143,

 photo sejarah teror-1_zpszhywk5c4.png

Allaah SWT dalam ayat ini menggunakan kata Kami menjadikan, yang bermakna adanya peran selain Allaah dalam mewujudkan ummatan wasath. Peran selain Allaah bukan berarti sekutu Allaah, karena Allaah tak membutuhkan sekutu. Peran selain Allaah yang dimaksud dalam ayat ini adalah dibutuhkannya ikhtiar untuk menjadikan umat yang wasath.

Sikap wasathiyah adalah jalan tengah atau keseimbangan antara dua hal yang berbeda atau bertentangan. Dalam prakteknya, jalan tengah di antara dua hal yang berbeda, antara A dan B misalnya, mengandung dua pengertian, yaitu:

  1. pengertian bukan A dan bukan B, sebagaimana sifat dermawan merupakan sikap pertengahan, bukan boros (menghamburkan harta di luar kebutuhan) dan bukan pula kikir (terlalu hemat dalam mengeluarkan harta atau bahkan tidak mau menggunakan harta sama sekali meskipun untuk hal-hal penting). Atau sifat pemberani yang merupakan sikap pertengahan, bukan penakut dan bukan pula sembrono atau
  2. pengertian A sekaligus B, sebagaimana Islam yang memperhatikan urusan dunia sekaligus akhirat atau jasmani sekaligus rohani.

Prinsip-prinsip pertengahan tersebut menjadi ruh utama dalam Islam, sejak awal kelahiran Islam hingga kelak datangnya hari kiamat, termasuk dalam memperjuangkan agama Islam. Perjuangan menegakkan agama Islam harus didasari pada kasih sayang, karena kemunculan agama dan ketaatan kepada Allaah, pada akhirnya bertujuan pada kemashlahatan para pemeluknya.

Terorisme dan kekerasan atas nama perjuangan Islam tidak dimulai baru-baru ini saja. Dalam sejarah, ada beberapa peristiwa penting yang menjadi penanda kehadiran kelompok sempalan dalam Islam. Sesuatu yang sempal, tentu merupakan pecahan yang tidak berguna dan bukan bagian utama dari sebuah komponen besar, yang dalam hal ini adalah Islam.

Hadirin rahimakumullaah, kemunculan Islam sempalan ini dimulai sejak zaman Sayyidinaa ‘Ali KW. Ketika Sayyidinaa ‘Ali KW dan Sayyidinaa Muawiyah RA berbeda pandangan dalam urusan kemasyarakatan Islam saat itu hingga terjadi peperangan sesama muslim. Ketika perdamaian diinisiasi, ada kelompok yang tidak suka dengan hadirnya perdamaian. Belakangan kelompok ini menuduh semua yang berseberangan dengannya adalah kafir yang berhak dibunuh. Alasannya, menurut mereka, perdamaian itu upaya manusia, bukan berdasarkan Kitabullaah. Bagi mereka, jika berdasarkan Kitabullaah adalah mereka harus menang, bukan damai, bukan kalah.

Salah satu pentholan kelompok ini bernama Abdurrahman bin Muljam, seorang penghafal Qur`an, ahli qiyamul-lail, hobi berpuasa. Abdurrahman bin Muljam pula, pernah dikirim oleh Sayyidinaa ‘Umar bin Khaththab RA untuk ke Mesir, menjadi pengajar al-Qur`an. Namun Abdurrahman bin Muljam pula yang kemudian membunuh Sayyidinaa ‘Ali bin Abi Thalib RA. Kelompok ini, kemudian dikenal dengan nama Khawarij, semakna dengan khuruj, yang artinya keluar. Kelompok yang keluar dari kelaziman Islam.

Hadirin rahimakumullaah, kelompok ini terus ada dan berkembang di dalam kepala segelintir kaum muslimin, namun sepanjang periode kerajaan Umayyah, Abbasiyah, maupun Utsmani, tidak begitu populer karena kalah dengan kelompok-kelompok lain dalam Islam.

Hingga pada tahun 1979, kelompok ini muncul kembali dengan baju baru. Berkembang dari kelompok-kelompok masyarakat yang awalnya dimanfaatkan kekejamannya dalam mendirikan Kerajaan Saudi dengan mempersatukan suku-suku di jazirah Arab, belakangan kelompok ini melihat Kerajaan Saudi tidak konsisten dalam menjalankan ajaran Islam. Radio dan televisi bagi Khawarij modern ini adalah kesesatan yang nyata.

Puncaknya terjadi pada tanggal 20 November 1979, tepat pagi hari bakda subuh, 1 Muharram 1400 H. Sekelompok bersenjata yang dipimpin oleh Juhaiman al-Uthaibi, merebut mikrofon imam Masjidil Haram, kemudian mengabarkan kehadiran Imam Mahdi. Puluhan ribu jamaah, termasuk di antaranya dari Indonesia, yang belum semua pulang dari masa ibadah haji, berhamburan, berusaha keluar dari Masjidil Haram. Ketika polisi Kerajaan Saudi berusaha merebut kembali Masjidil Haram, dari menara-menara masjid mereka ditembaki dengan senapan serbu. Darah tertumpah di Masjidil Haram, tak ada salat berjamaah dan tawaf selama beberapa hari, siaran harian ibadah Masjidil Haram televisi untuk sementara dialihkan ke Masjid Nabawi di Madinah.

Sementara karena keterbatasan tersebarnya informasi pada masa itu, berita-berita berkembang liar di luar Kerajaan Saudi dan karena baru saja terjadi Revolusi Iran di awal 1979, masyarakat Islam internasional saat itu melihat bahwa pengepungan Masjidil Haram adalah rekayasa Amerika Serikat dan Israel. Kedutaan Besar Amerika Serikat di beberapa negara didemo bahkan sampai jatuh korban nyawa.

Pengepungan Masjidil Haram berakhir pada 4 Desember 1979 dengan korban tewas sekitar 127 orang, setelah Kerajaan Saudi meminta asistensi secara rahasia saat itu, kepada beberapa personel pasukan khusus Prancis. Perlu dicatat, bahwa ulama Saudi membutuhkan 3 hari dalam mengeluarkan fatwa bolehnya pasukan Saudi memasuki Masjidil Haram dengan membawa senjata dan menembak musuh.

Beberapa hari kemudian setelah peristiwa Pengepungan Mekkah, dimulailah perang Soviet melawan Afghanistan. Perang yang berlangsung selama 9 tahun tersebut dimulai pada 24 Desember 1979 dan berakhir pada 15 Februari 1989 serta meninggalkan bekas yang sangat berpengaruh pada keadaan Islam saat ini.

Perang Soviet vs Afghanistan merupakan bagian dari perang dingin antara Amerika Serikat melawan Uni Soviet, antara dua aliran besar politik saat itu, demokrasi melawan komunisme. Amerika Serikat yang enggan mengirim pasukan langsung, namun memilih membiayai kelompok-kelompok mujahidin dari Pakistan dan Kerajaan Saudi untuk membantu Afghanistan melawan Soviet. Ya senjata, ya pelatihan militer. Uniknya, termasuk dalam kelompok pendukung Afghanistan adalah mujahidin Syiah dari Iran dan mujahidin yang didukung oleh Tiongkok, berhalauan Maoisme.

Pada akhirnya Soviet kalah, Afghanistan menang, namun sayangnya Afghanistan tak pernah damai karena kelompok-kelompok mujahidin saling bersitegang berebut pengaruh satu sama lain hingga saat ini. Salah satu mujahidin alumni perang Afghanistan adalah yang kita kenal dengan nama Usamah bin Ladin.

Hadirin rahimakumullaah, seusai perang Afghanistan melawan Soviet, pada 1990 terjadi peristiwa lain yang berkaitan dengan sejarah terorisme atas nama Islam, yakni Invasi Irak ke Kuwait. Arab Saudi yang berbatasan dengan Kuwait sekaligus Irak turut khawatir invasi itu akan menguasai wilayah Kerajaan Saudi. Pada masa itu, ulama Irak mengeluarkan fatwa halal membunuh pasukan Saudi dan hal yang sama dilakukan oleh ulama Saudi, mengeluarkan fatwa halal membunuh pasukan Irak, selama dalam konteks peperangan dan mempertahankan diri.

Usamah bin Ladin yang berkebangsaan Saudi berinisiatif mengumpulkan mujahidin alumni Afghanistan dalam berbagai penjuru, hingga mendapatkan sekitar 4.000 relawan. Pasukan tak berbayar ini Usamah tawarkan kepada pemerintah Saudi untuk menangkal serangan Irak. Sayangnya, Saudi lebih percaya dengan Amerika Serikat dan Inggris, tentu saja, menolak tawaran gratis dari Usamah bin Ladin. Lebih dari itu, pada perang teluk ini, Amerika Serikat mendirikan pangkalan militer di Arab Saudi.

Sejak saat itu, Usamah bin Ladin memusuhi pemerintah Saudi, Amerika Serikat, dan sekutu-sekutunya, serta menyerang aset-aset Pemerintah Amerika Serikat, mendirikan al-Qaeda, hingga puncaknya, serangan ke World Trade Center, 11 September 2001.

Sebagai balasan atas serangan 11 September, Amerika Serikat menyerang Afghanistan. Mengapa? Karena rezim Taliban, penguasa Afghanistan pada tahun tersebut merupakan pelindung Usamah bin Ladin, sahabat yang terikat karena Perang Afghanistan melawan Soviet pada 1979-1989.

Hadirin rahimakumullaah, kelompok sempalan Islam, dengan berbagai variasi bentuk dan alasannya, namun konsisten pada halalnya kekerasan dan kekejian terus berlanjut hingga pada pendirian ISIS, Negara Islam di Irak dan Suriah. Irak belum stabil sejak menjadi sasaran serangan Amerika Serikat pada 2003 dan ketidak-puasan oposisi pada pemerintahan Suriah, menjadi medan tempur bagi ISIS. Saya tidak perlu menceritakan ruwetnya ISIS yang melawan pemerintahan Irak maupun Suriah sekaligus melawan kelompok mujahidin yang berbeda pandangan politik sembari melawan kelompok etnik Kurdi sambil melawan pasukan atau peralatan perang dari berbagai negara seperti Turki, Amerika Serikat, Prancis, dan Rusia. Keruwetan ini berkaitan dengan kekuasaan politik (kenegaraan) namun tidak berdasar pada kebangsaan (karena mayoritas berbangsa Arab). Kurang ajarnya, masing-masing kelompok mengatasnamakan Islam, mengatasnamakan sebuah agama yang secara bahasa bermakna perdamaian atau keselamatan. Benarkah Islam mengajarkan yang demikian?

Pelajaran penting bagi kita sebagai umat Islam yang berada di Indonesia di antaranya adalah:

  1. Pentingnya rasa kebangsaan dan kenegaraan.

Pelaksanaan ajaran agama membutuhkan keamanan dan stabilitas sebuah negara. Kita wajib bersyukur dengan negara bangsa Indonesia, di mana dasar negara, pondasi bangsa telah diletakkan sejak 1945. Saat ini kewajiban kita untuk menjaganya serta membangun sebuah rumah bersama bernama Indonesia. Ibadah-ibadah utama kita kepada Allaah (rukun Islam) telah dilindungi oleh negara-bangsa, tinggal bagaimana mengembangkannya kepada ibadah muamalah kepada sesama manusia, mewujudkan kesejahteraan dan kemakmuran.

  1. Umat Islam tidak bisa menghindar dari tanggung jawab pemberantasan terorisme.

Terorisme, kekejian, dan kekerasan, adalah bukan dari ajaran Islam yang sesungguhnya. Tetapi sejarah menunjukkan bahwa kelompok yang menafsirkan sebaliknya adalah nyata adanya, hidup dan berkembang, bahkan di Indonesia!

Tanggung jawab kita adalah mengkampanyekan Islam yang lemah lembut tapi tetap tegas ketika dibutuhkan, baik melalui ceramah, diskusi, tulisan, buku, video, konten media sosial lain, dan yang paling utama adalah perilaku kita sehari-hari. Termasuk memastikan kehidupan masyarakat kita di kampung-kampung masih berjalan sebagaimana mestinya, penuh dengan ketenteraman, tepa selira, peduli satu sama lain, tanpa memandang agama, suku, bahasa, maupun faktor perbedaan lain. Cukuplah alasan sebagai sesama menungsa sebagai pendorong kita untuk berbuat baik di manapun dan kapanpun.

Benar bahwa ada faktor luar yang turut menumbuh-kembangkan kelompok sempalan ini, terutama kepentingan-kepentingan berkaitan dengan urusan duniawi seperti persenjataan, minyak bumi, maupun duit, namun sungguh, sebaik-baik koreksi dan perubahan adalah ketika dimulai dari diri sendiri, umat Islam sendiri.

Kita sebagai umat Islam wajib menjaga diri sendiri, lingkungan, dan masyarakat terdekat, dari ajaran sesat ekstrim dalam beragama. Ukurannya sederhana, jika ada orang atau kelompok mengaku Islam, tetapi ajakannya untuk membenci kelompok lain, sesama Islam maupun kelompok lain di luar Islam dengan membabi buta, bahkan hingga menghalalkan darahnya, maka kelompok semacam ini wajib kita lawan, baik dengan melaporkannya kepada yang berwajib, atau jika mampu, mengajak mereka kembali ke jalan yang benar, berpindah dari tepi (ekstrim) ke tengah (moderat).

Kita tidak boleh menghakimi seseorang atau kelompok orang hanya berdasarkan cara berpakaian atau penampilan luar. Kita tidak bisa dan tidak boleh menarik kesimpulan bahwa setiap yang bercadar, berjenggot lebat, atau bercelana di atas mata kaki, selalu berkaitan dengan ekstrimisme Islam, apalagi menuduh sebagai bagian dari terorisme. Sungguh, terorisme atas nama Islam merupakan cobaan terberat dari saudara-saudara kita yang memilih demikian (celana di atas mata kaki, berjenggot lebat, dan bercadar), karena sebuah kenyataan bahwa kelompok ekstrim ini memilih cara yang sama dengan mereka dalam berpakaian dan penampilan. Hanya cara berpakaian dan penampilan luarnya saja.

Hadirin rahimakumullaah, sebagai sebuah negara bangsa yang berdaulat dan stabilitas keamanan, kita bukan hanya mampu menghidupkan ajaran agama, tapi juga mengupayakan perdamaian kepada sesama negara muslim, seperti di Tanah Suci Yerussalem atau Afghanistan.

Indonesia kita adalah negara berpenduduk muslim terbesar di dunia, namun kekuatan ekonomi, pertahanan, dan keamanannya belum bisa mengimbangi kekuatan negara besar lain, meskipun kita sudah masuk pula dalam Kelompok G-20 (20 negara terbesar dalam anggaran pemerintahannya). Faktor-faktor tersebut membuat suara negara kita memang diperhatikan, tetapi belum cukup berpengaruh. Menariknya, realitas ini tidak membuat negara kita kemudian minder. Kaidah fikih mengatakan

 photo sejarah teror-2_zpsclaobstc.png

Ketika pengaruh Indonesia yang belum sebesar negara maju, Indonesia sangat serius berikhtiar untuk mewujudkan perdamaian di mana Indonesia memiliki pengaruh lebih kuat, seperti perdamaian Rohingnya atau Afghanistan.

Pada tahun 2013 yang lalu, ada sekitar 12 ulama dari 12 suku terbesar di Afghanistan yang datang ke Yogyakarta, belajar Pancasila di UGM. Inisiasi ini terus menerus dilanjutkan dan dikembangkan hingga pada awal tahun 2018 ini Presiden Indonesia mengunjungi Afghanistan. Walaupun dua hari sebelum kehadiran Presiden terjadi pemboman di ibukota Kabul yang menewaskan 103 orang, Presiden tetap bersikeras hadir sebagai bentuk komitmen kenegaraan dengan Afghanistan sekaligus sebagai isyarat tak gentar dengan terorisme. Alhamdulillaah Presiden selamat dalam kunjungan 6 jam tersebut, sehingga beberapa pejabat pengiring Presiden bersujud syukur ketika kembali ke pesawat.

Upaya perdamaian di Afghanistan tersebut ditindaklanjuti dengan mengadakan Konferensi Ulama Tiga Negara di Bogor, 11 Mei 2018. Hadir dalam konferensi sehari ini 19 ulama dari Afghanistan, 17 ulama dari Pakistan, dan 17 ulama dari Indonesia, untuk menyusun langkah awal perdamaian di Afghanistan. Ini merupakan tahapan permulaan yang harus dipupuk dan ditumbuh-kembangkan menjadi agenda ulama di Afghanistan dan Pakistan: mengurangi kekerasan dan menegakkan musyawarah sebagai ikhtiar mencari jalan keluar.

Sekitar 10 hari sebelumnya, pada tanggal 1-3 Mei 2018, Indonesia juga menyelenggarakan Konferensi Tingkat Tinggi Islam Washatiyah, atau Islam Pertengahan, di Bogor. Konferensi ini menghadirkan seratusan ulama dari berbagai negara berpenduduk muslim, untuk membahas pentingnya sikap pertengahan sebagai upaya melawan penyelewengan Islam oleh kelompok sempalan yang menghalalkan kekerasan dan kekejian.

Hadirin rahimakumullaah, demikianlah seharusnya yang kita lakukan, kembali kepada ulama, dimulai dari ulama, para pemegang otoritas keagamaan Islam, agar bersama-sama terus menyuarakan Islam Pertengahan, Islam Washatiyah, Islam Moderat, sekaligus sebuah bentuk tanggung jawab kita sebagai umat Islam kebanyakan yang lurus dan tidak menghendaki caci maki, kekerasan, kekejian, baik dalam kata-kata maupun perbuatan.

Di Indonesia, Muhammadiyah menggunakan slogan Islam Berkemajuan, Islam yang mampu beradaptasi dengan kemajuan zaman. Sementara Nahdlatul ‘Ulama memakai semboyan Islam Nusantara, Islam yang mampu beradaptasi dengan budaya masyarakat setempat, selama tak menyimpang dari nilai ketauhidan. Keduanya, di bawah naungan negara bangsa bernama Indonesia, bersama-sama dengan umat Islam lain dan komponen bangsa lain, berhasil membentuk kesejahteraan dan kemakmuran Indonesia, meskipun belum sepenuhnya berhasil dan masih terus diperjuangkan. Namun keindahan hubungan negara, bangsa, dan agama untuk berikhtiar bersama mencapai kemashlahatan umat, patut didengungkan ke negara berpenduduk muslim lain, terutama yang masih mengalami konflik sosial-politik.

Demikianlah uraian tentang sejarah terorisme yang mengatasnamakan Islam dan bagaimana kita sebagai negara bangsa turut berupaya untuk melawannya, dengan cara yang lebih baik. Perlu menjadi catatan penting, bahwa kekerasan atas nama Islam menjadi sorotan saat ini, karena Islam adalah agama yang berkembang paling cepat sekaligus ajarannya yang meyakini sebagai penutup kenabian, memperbaiki agama-agama besar sebelumnya, terutama Yahudi dan Nasrani. Tetapi sejarah kekerasan bukanlah milik Islam sendiri. Seorang pengamat dari Kanada dalam bukunya A World Without Islam atau dalam bahasa Indonesia diterjemahkan menjadi Apa Jadinya Dunia Tanpa Islam menyatakan dalam kesimpulan di antaranya bahwa aksi bom bunuh diri akan tetap terjadi karena bukan Islam yang pertama kali melakukannya.

Semoga Allaah memudahkan kita dalam ikhtiar bersama menebarkan Islam yang ramah, penuh kasih, dan menjadi rahmat bagi semesta alam. Aamiin.

Rektor UGM: Ketakwaan dan Pendidikan untuk Kesejahteraan NKRI

“Korea yang kemerdekaannya hanya selisih beberapa hari dengan Indonesia, yang kemiskinannya saat itu hampir sama dengan Indonesia, yang kekayaan alamnya lebih sedikit dari Indonesia, saat ini lebih maju daripada Indonesia. Begitu pula dengan Singapura atau Finlandia atau Jepang. Mengapa demikian? Karena Korea, selain memiliki semangat luar biasa, juga mempunyai sistem pendidikan yang bagus dan etos kerja yang tinggi.”

Demikian sambutan Rektor Universitas Gadjah Mada (UGM), Prof. Ir. Panut Mulyono, M. Eng., D. Eng. dalam acara Buka Bersama Forum Komunikasi Dosen dan Mahasiswa Nahdlatul Ulama (NU) UGM yang diselenggarakan hari ini, 26 Mei 2018, di Masjid al-Ihsan Fakultas Kehutanan UGM.

IMG_9346

IMG20180526165612

Acara ini dihadiri pula oleh Wakil Ketua Umum Pengurus Besar NU yang juga Guru Besar Fakultas Teknologi Pertanian UGM, Prof. Dr. Ir. Mochammad Maksum Machfoedz, M. Sc., dosen, dan mahasiswa UGM, termasuk dari organisasi mahasiswa NU UGM tingkat D3 dan S1 (Keluarga Mahasiswa NU UGM atau KMNU UGM) serta tingkat S2 dan S3 (Forum Silaturahmi Mahasiswa Pasca NU UGM).

Selanjutnya Prof. Panut juga mengajak agar mahasiswa NU UGM terus menempuh pendidikan setinggi-tingginya sesuai dengan kemampuan masing-masing sekaligus memiliki determinasi, seperti konsep “PBNU” (Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, NKRI, dan UUD 1945). “PBNU” sendiri, menurut Prof. Panut, merupakan modal terbesar bagi bangsa Indonesia, sehingga masyarakat dan warga negara tinggal menjalankannya.

“Kekayaan alam bukan segalanya, tetapi pendidikanlah yang memajukan sebuah bangsa. Pendidikan sungguh bisa mengubah dunia. Ajak adik, saudara, dan teman dari pesantren untuk mendaftar ke UGM. Kita sepakat bahwa “PBNU” sudah final, walaupun masih belum sempurna pelaksanaannya. Maka menjadi tugas kalian semua di masa mendatang untuk menjalankan negara Indonesia dengan benar, agar lebih maju dan sejahtera”, kata Prof. Panut.

IMG_0020

IMG_0002

Sementara berkaitan dengan hikmah puasa, Rektor UGM mengingatkan kembali bahwa ketakwaan yang dituju dapat menyempurnakan ilmu dan pendidikan, karena ketakwaan dapat mencegah dari berbagai perbuatan tidak baik.

“Sayangnya, kita semua, kadang menilai takwa hanya sekedar dengan timbangan. Merasa berbuat baik cukup banyak, kemudian berani berbuat kurang baik dengan alasan masih berat perbuatan baiknya. Ini evaluasi kita bersama tentang kualitas ketakwaan kita.”

Sebagai penutup sambutannya, Rektor UGM yang merupakan Guru Besar Fakultas Teknik UGM juga menekankan optimismenya terhadap masa depan Indonesia.

Prof. Panut berpesan, “Saya yakin seyakin-yakinnya, masa depan Indonesia itu sangat cerah. Saya menyaksikan kebaikan, cita-cita, dan rasa persatuan yang tinggi di mata para mahasiswa. Tinggal bagaimana sikap ini menjadi dominan”.

Acara kemudian ditutup dengan doa bersama, buka puasa, dan salat Maghrib berjamaah.

IMG20180526180759

IMG_9426

Meneguhkan Pancasila dan Jalan Pertengahan sebagai Solusi Kebangsaan

Disampaikan dalam Ceramah Bakda Tarawih Keluarga Mahasiswa NU UGM di Mushalla Fakultas Filsafat UGM, 1 Juni 2017

Teman-teman yang dirahmati Allaah SWT.

Umat Islam adalah umat pertengahan, sebagaimana firman Allaah dalam al-Baqarah 143,

Kata wasath pada mulanya berarti segala yang baik sesuai objeknya, sebagaimana ungkapan arab,

Maka, yang terbaik adalah di pertengahan, yakni berada di antara dua posisi ekstrem. Bahwa berani adalah pertengahan antara nekat dan takut. Sementara dermawan adalah pertengahan antara boros dan kikir.

Lebih jauh, jika ada dua pihak yang berseteru, maka akan ada penengah yang harus adil, yakni disebut wasit.

Sementara, kata syahiid dan syuhadaa` berasal dari kata yang sama yang membawa makna luas, yakni yang disaksikan atau yang menyaksikan. Maksudnya, umat Islam adalah umat pertengahan yang disaksikan oleh semua umat manusia, sementara umat Islam menyaksikan Rasuul SAW sebagai sumber sifat-sifat pertengahannya. Umat Islam adalah syuhadaa`, yakni yang disaksikan (oleh manusia), sekaligus yang menyaksikan Rasuul SAW, sang syahiid, yang disaksikan, sebagai sumber wasathiyah, sumber pertengahan.

Pengertian pertengahan ini luas, yang setidaknya mencakup beberapa hal berikut,

  1. Umat Islam menganut ajaran Islam, yakni ajaran yang tidak ekstrem mengandalkan akal/logika saja, tetapi tidak pula terjatuh dalam spiritualitas absolut. Tidak pula terlalu materialistis (kebendaan, jasmaniah ekstrem), tetapi tidak pula spiritualistis murni (ruhaniah ekstrem). Islam tidak pula mengingkari wujud Tuhan, tetapi juga tidak kemudian terjebak dalam politeisme (banyak sesembahan), karena bagi Islam sesembahan adalah satu, Tuhan Allaah SWT. Mustahil Penguasa Alam ini lebih dari satu, karena pasti satu dengan lainnya memeiliki kehendak yang berbeda.

Islam tidak pula mengekang kebutuhan fisik seseorang (makan, minum, seksual), tetapi juga tidak membebaskannya secara ekstrim dalam memuaskannya. Islam menghendaki pemenuhan kebutuhan fisik tersebut dikendalikan dan dibingkai secara spiritual. Jasmani dan ruhani, seimbang. Di Ramadlan, siangnya kita wajib berpuasa bagi yang mampu, yakni menunda makan, minum, seksual, dan hal lain yang membatalkannya. Di Ramadlan pula, malamnya, kita diperbolehkan makan, minum, dan bahkan berhubungan seksual. Hanya saja, yang hubungan seksual itu hanya boleh yang sah dalam ikatan pernikahan.

Islam tidak melarang kepemilikan dan keinginan duniawiyah, tapi tidak pula memusatkan tujuan kehidupan hanya pada kehidupan sesudah kematian. Dunia adalah bekal bagi kehidupan akhirat. Berusahalah mencapai kondisi baik pada urusan duniamu sekaligus akhiratmu. Seimbang.

  1. Posisi pertengahan, ummatan wasathan membawa makna bahwa seorang muslim berada di posisi tengah, posisi pusat, dan menjadi perhatian dari berbagai penjuru. Maka, seorang muslim harus menjadi teladan sekaligus harus mampu memahami peristiwa-peristiwa yang terjadi di sekelilingnya. Memahami dalam arti mampu menarik hikmah dari segala hal yang terjadi dalam pandangannya.
  2. Tengah, wasathan, juga membawa makna menegakkan keadilan kapan pun, di mana pun. Allaah Ta’aala berfirman di surat an-Maa`idah ayat 8,

Hadirin rahimakumullaah.

Sikap pertengahan-lah yang menjadi salah satu sebab dipilihnya Pancasila sebagai dasar negara Republik Indonesia. Di tengah situasi genting pada tahun 1945, para tokoh bangsa berhasil mencari jalan tengah di antara ide-ide tentang bentuk negara Indonesia saat itu. Pancasila merupakan dasar negara yang unik, karena para pendiri bangsa berhasil bersikap di tengah-tengah, di antara bentuk negara agama atau sekuler (meninggalkan agama dalam kehidupan bernegara).

Indonesia kita dengan Pancasilanya, bukanlah negara berdasarkan satu agama tertentu dan bukan pula negara sekuler yang meninggalkan agama sama sekali. Indonesia menjadikan agama sebagai menjadi spirit di kepala masing-masing warga dan penduduknya. Agama menjadi tuntunan moral utama bagi seluruh bangsa untuk menggerakkan negeri ke arah yang lebih baik, mencapai kesejahteraan dan kemakmuran bangsa, karena seluruh agama memiliki tujuan serta kebenaran universal tentang moral, kemanusiaan, kebaikan, dan keadilan.

Agama adalah kebutuhan mendasar setiap orang, karena manusia difitrahkan untuk mencari panduan hidup. Dan semua agama, dengan bentuknya masing-masing, memiliki satu bahasan yang sama di antara satu dengan yang lainnya, yaitu konsep KETUHANAN, betapapun berbedanya antara satu agama dengan agama lainnya.

Maka, yang dipilih Indonesia bukanlah agama apa yang akan menjadi dasar negara, dan lebih lagi, demi menghargai kemajemukan, Islam yang mayoritas melalui tokoh-tokoh kebangsaan di era kemerdekaan pun berkenan menerima konsensus agung: Ketuhanan sebagai Dasar Negara. Konsep Ketuhanan tepat dipilih, karena ia jauh lebih tinggi daripada agama manapun, dan sesungguhnya, merupakan tujuan dari masing-masing ajaran agama, yakni meraih ridla dari Tuhan.

Sayangnya, karena kondisi politik dan keamanan pada masa sesudah Gerakan 30 September, Pancasila ini dimanfaatkan menjadi jargon politik belaka. Pancasila didetailkan menjadi butir-butir pengamalan yang dipaksakan menjadi teori-teori di kelas, tanpa pelaksanaan yang terukur. Apalagi di tingkat kebijakan umum nasional, Pancasila belum di-breakdown dengan baik terutama untuk bidang ekonomi dan bidang lainnya. Bahasa mudahnya: konsep baik, tapi implementasi masih kurang.

Hadirin rahimakumullaah.

Hubungan Pancasila dengan Islam diteguhkan kemudian oleh NU melalui Munas Alim Ulama NU tahun 1983 di Situbondo. Meskipun pada awalnya hanya karena didorong oleh pemerintah agar menerima Pancasila sebagai azas tunggal untuk semua organisasi, momen ini menjadi kesempatan bagi NU untuk menguatkan penjelasan Pancasila sebagai jalan tengah umat Islam demi bersatunya kebangsaan Indonesia. Keputusan Munas tersebut berbunyi,

MEMUTUSKAN

Menetapkan

DEKLARASI TENTANG HUBUNGAN PANCASILA DENGAN ISLAM

Bismillahirramanirrahim

  1. Pancasila sebagai dasar dan falsafah Negara Republik Indonesia bukanlah agama, tidak dapat rnenggantikan agama dan tidak dapat dipergunakan untuk menggantikan kedudukan agama.

  2. Sila Kehutanan Yang Maha Esa sebagai dasar Negara Republik Indonesia menurut pasal 29 ayat (1) Undang-Undang Dasar 1945, yang menjiwai sila-sila yang lain, mencerminkan tauhid menurut pengertian keimanan dalam Islam.

  3. Bagi Nahdlatul Ulama, Islam adalah aqidah dan syari’ah, meliputi aspek hubungan manusia dengan Allah dan hubungan antar manusia. Penerimaan dan pengamalan Pancasila merupakan perwujudan dari upaya ummat Islam Indonesia untuk menjalankan syari’at agamanya.

  4. Sebagai konsekwensi dari sikap di atas, Nahdlatul Ulama berkewajiban mengamankan pengertian yang benar tentang Pancasila dan pengamalannya yang murni dan konsekwen oleh semua fihak.

Seiring dengan berjalannya sejarah bangsa Indonesia sejak merdeka hingga saat ini, kita dengan Pancasilanya, berhasil menunjukkan performa yang sangat indah, terlepas dari berbagai kekurangan yang masih ada.

Secara geografis, kita memiliki bentuk negeri berupa kepulauan, terhubung dengan lautan, membentang panjang, dengan berbagai bentuk perbedaannya, baik suku, bahasa, agama, budaya, dan adat kebiasaan lain. Lebih dari itu, jarak geografis yang berjauhan dan kekeliruan model pembangunan, membuat pemerataan kesejahteraan belum berlangsung dengan baik.

Namun, deskripsi tersebut tadi, tidak pernah memecah belah bangsa Indonesia. Benar muncul gerakan separatis di beberapa tempat, namun mayoritas masyarakat masih mencintai Merah-Putih, mencintai Indonesia sebagai negara dan kebangsaannya. Tanyalah pada teman-teman kita yang KKN hingga ke ujung-ujung Nusantara, bagaimana mereka dan masyarakat yang tak pernah kedatangan pejabat, tetap bersemangat dalam setiap perayaan kemerdekaan 17 Agustus.

Fenomena inilah yang mendorong kekuatan luar Indonesia untuk konsisten memecah belah bangsa. Bagaimana mungkin, negeri yang lebih rumit daripada Amerika Serikat kemajemukannya, bisa tetap bersatu dan bertahan, bahkan dengan ketidak-adilan ekonomi yang masih terus diperjuangkan?

Fenomena ini pula, yang ditambah dengan fenomena agama Islam sebagai mayoritas, membuat banyak orang bertanya-tanya, kenapa bisa tetap bersatu tanpa menjadi negara Islam? Kenapa bisa tidak terpecah-belah seperti halnya negara-negara berpenduduk Islam lainnya? Kenapa radikalisme tidak muncul dengan massif, padahal mayoritas muslim?

Inilah berkah Pancasila, yakni berkah atas konsistensi kita untuk berada di jalan tengah.

Hadirin rahimakumullaah.

Di tengah pergolakan keterbukaan politik di negeri-negeri berpenduduk Muslim di Timur Tengah dan Afrika, pada 2016 kemarin diadakan di Pekalongan sebuah Konferensi Internasional Ulama Thariqah yang menghadirkan ulama kunci dan berpengaruh dari 40 negara. Uniknya, konferensi mengambil judul Bela Negara: Konsep dan Urgensinya Menurut Islam. Dan beberapa tahun sebelumnya, ulama-ulama kunci dari Afghanistan rawuh ke UGM untuk belajar Pancasila.

Anda bayangkan, di saat beberapa golongan tertentu memaksakan formalisasi Islam sebagai Dasar Negara, kita justru didatangi oleh ulama dari 40 negara lebih, karena melihat berhasilnya konsep kenegaraan Indonesia yang kita bangun, melalui Pancasila, melalui konsep pertengahan.

Apa hasil dari Konferensi Ulama Thariqah? Ada sembilan poin, yakni

Pertama, negara adalah tempat tinggal di mana agama diimplementasikan dalam kehidupan.

Kedua, bernegara merupakan kebutuhan primer dan tanpanya kemaslahatan tidak terwujud.

Ketiga, bela negara adalah di mana setiap warga merasa memiliki dan cinta terhadap negara sehingga berusaha untuk  mempertahankan dan memajukanya.

Keempat, bela negara merupakan suatu kewajiban seluruh elemen bangsa sebagaimana dijelaskan Al-Quran dan Hadis.

Kelima, bela negara dimulai dari membentuk kesadaran diri yang bersifat ruhani dengam bimbingan para ulama.

Keenam, bela negara tidak terbatas melindungi negara dari musuh atau sekedar tugas kemiliteran, melainkan usaha ketahanan dan kemajuan dalam semua aspek kehidupan seperti ekonomi, pendidikan, politik, pertanian, sosial budaya dan teknologi informasi.

Ketujuh, bela negara menolak adanya terorisme, radikalisme dan ekstremisme yang mengataasnamakan agama.

Kedelapan, untuk mewujudkan bela negara dibutuhkan empat pilar, yaitu ilmuwan, pemerintahan yang kuat, ekonomi dan media.

Kesembilan, menjadikan Indonesia sebagai inisiator bela negara yang merupakan perwujudan dari Islam rahmatan lil alamin.

Hadirin rahimakumullaah.

Sekali lagi, inilah penegasan bersama, pentingnya Pancasila dan jalan tengah, kemoderatan umat Islam dalam kehidupan berbangsa. Saat ini, bukan Pancasilanya yang dihapus, tetapi kita perbaiki implementasinya dalam kebijakan-kebijakan strategis pemerintahan.

Mari kita bersama-sama, berperan dalam pembangunan bangsa, sesuai dengan jangkauan ruang dan waktu yang kita miliki, sesuai dengan bidang yang kita kuasai masing-masing. Dengan tetap konsisten berjalan di ajaran Islam yang moderat, insya-Allaah, menjadi siapapun kita, ahli di bidang apapun kita, konsep tawasuth, konsep pertengahan adalah yang terbaik untuk menyelesaikan berbagai urusan, termasuk kemajuan bangsa Indonesia.

Tetaplah setia kepada Indonesia dan Pancasilanya, terus mengabdi melalui ajaran agama Islam ala ahl as-Sunnah wal-Jamaah ah-Nahdliyah, demi meraih ridla Allaah SWT.

Melihat Tahlilan dan Maulidan lewat Kacamata Saya

Melihat Tahlilan dan Maulidan lewat Kacamata Saya

Bismillaah ar-Rahmaan ar-Rahiim.

Allaahumma shalli ‘alaa Sayyidinaa Muhammadin Shalla-Llaahu ‘alayhi wa aalihii wa sallam.

Sesungguhnya, membahas hal ini di kalangan umum (seperti ditulis di blog, misalnya) adalah kurang tepat menurut saya, karena menimbulkan potensi perdebatan yang tiada habisnya. Seorang ulama yang saya kenal baik, menolak membahas hal ini setiap ada tantangan yang diajukan kepada beliau (meskipun beliau punya kapasitas untuk membahasnya), alasannya sederhana: menghindari perdebatan yang mampu mengeraskan hati.

Mengapa perlu dihindari perdebatan? Menurut saya ada beberapa sebab,

  1. pembahasan hal ini merupakan urusan khilafiyah (hal sudah disepakati sebagai perbedaan di kalangan Islam), bukan sesuatu yang pokok dalam agama, sehingga pembahasannya hanya akan menghabiskan energi, yang alangkah baiknya dialihkan untuk hal lain yang lebih urgent dan penting,
  2. masing-masing pihak sesungguhnya sudah mantab dengan pilihannya (yang menganggap sunnah maupun yang bukan), maka tidak perlu diperdebatkan lagi keabsahannya, karena mereka telah bersandar pada pendapat ulama masing-masing, yang menganggap sunnah silakan diamalkan, yang menganggap bukan sunnah ya tidak perlu mengamalkan (plus jangan menuduh sesat atau bahkan mengafirkan kepada yang mengamalkan).

Nah, selanjutnya, akan saya sampaikan bagaimana jalan pikiran saya mengenai permasalahan ini, bersumber dari apa yang saya dapat selama ini, membaca buku yang ditulis oleh ulama yang berkapasitas dan bertanya/diskusi kepada ulama yang berkapasitas.

***

Tahlilan

Saya termasuk orang yang dengan mantab meyakini kegiatan Tahlilan sebagai bagian Sunnah Rasuul SAW, bukan bagian dari bid’ah sesat. Sunnah itu segala sesuatu yang bersandarkan pada Rasuul SAW (perkataan, perbuatan, atau persetujuan Rasuul SAW terhadap suatu hal), sementara bid’ah sesat  adalah segala sesuatu yang tidak bersandarkan pada Rasuul SAW.

Mengapa dengan mantab? Karena saya tidak menemukan adanya kesesatan dalam kegiatan-kegiatan tersebut.

Kegiatan Tahlilan, pokok kegiatannya adalah mendoakan orang yang meninggal dengan berwasilahkan amal shalih, yakni membaca surat Yaa-Siin dan kalimat-kalimat thayyibah yang diajarkan Rasuul SAW.

(salah satu) yang berkaitan denganTahlilan adalah hadits shahih tentang tiga orang yang terjebak di dalam gua (pintu gua tertutup oleh batu yang besar di mana ketiga orang tersebut tidak kuat untuk mendorongnya). Solusinya, sebagaimana dikisahkan dalam hadits tersebut, tiga orang ini kemudian berdoa kepada Allaah Ta’aala agar bergeser batu tersebut. Doanya diucapkan dengan terlebih dahulu menyebutkan amal shalih yang pernah dilakukan dengan ikhlas karena Allaah Ta’aala. Dikisahkan, mereka bertiga berhasil keluar karena batunya memang bergeser, sehingga cukup bagi ketiganya untuk melewatinya.

Hadits shahih tersebut menunjukkan kebolehan bagi kita untuk berdoa dengan menggunakan amal shalih sebagai washilah atau perantara. Bahasa mudahnya (semoga Allaah Ta’aala mengampuni saya jika analogi tidak sesuai dengan kehendak-Nya), kita beramal dengan ikhlas, sedangkan amal-amal tersebut sewaktu-waktu bisa dipakai sebagai perantara agar permohonan kita terkabul.

Tahlilan diawali dengan membaca surat Yaa-Siin, membaca beberapa kali surat Faatihaah, membaca beberapa ayat al-Qur`an lain, membaca kalimat-kalimat thayyibah yang memuji Allaah Ta’aala dan Rasuul SAW (yang diajarkan Rasuul SAW dalam berbagai hadits), yang kemudian ditutup dengan doa. Doa penutup tahlil secara gamblang dan eksplisit menyebutkan proses per-washilahan tadi: mendoakan kebaikan dan ampunan bagi yang meninggal dengan perantara amal shalih membaca ayat-ayat Qur`an, shalawat, serta kalimat thayyibah yang sudah dilakukan sebelumnya.

Ada yang membantah bahwa tahlilan itu sia-sia bagi mayyit dengan berlandaskan hadits bahwa amal manusia terputus saat kematiannya, kecuali ilmu, amal shalih, dan doa dari anaknya yang shalih. Hadits ini benar, karena memang orang yang sudah mati tidak bisa melakukan apapun. Tetapi, dalam tahlilan itu yang beramal shalih adalah yang masih hidup, kemudian amal shalih tersebut digunakan untuk berdoa, doanya ya untuk kebaikan mayyit.

Merujuk pada hadits tiga orang terjebak di gua, maka cara ini (tahlilan, yakni mendoakan mayyit berperantakan amal shalih) insya-Allaah menjadi doa yang ijabah.

Maka penting dalam sebuah acara tahlilan, imam tahlilan sudah seharusnya membuka Tahlilan dengan meminta keikhlasan makmum Tahlilan dalam membacakan Yaa-Siin, Qur`an, shalawat, serta kalimat thayyibah. Atau membukanya dengan mengingatkan kebaikan-kebaikan si mayyit semasa masih hidup, agar muncul dorongan balas budi: keikhlasan dalam mendoakannya di dalam Tahlilan.

Di mana kesesatan Tahlilan? Kalau bid’ah, ya. Rasuul SAW memang tidak melakukannya sebagai sebuah kegiatan pasca kematian seseorang yang disebut Tahlilan, sebagaimana sekarang ada urutannya. Tetapi kalau mengatakan Tahlilan itu bid’ah sesat, (menurut saya) sangat keliru! Esensi Tahlilan itu tidak ada yang menentang ajaran Rasuul SAW, bahkan bersandar pada ajaran Rasuul SAW sebagaimana saya sampaikan tadi.

Buku Tahlilan yang beredar itu semacam pedoman bagi umat, bahwa Tahlilan nilai pahalanya menjadi baik kalau dilakukan berdasar buku tersebut. Adapun kalau tidak mengikuti buku tersebut ya tidak masalah, selama prinsip melakukan amal shalih dengan ikhlas dan kemudian berdoa untuk mayyit dengan amal shalih, terpenuhi.

Sebagai ilustrasi, di buku Tahlilan ada anjuran membaca Laa ilaaha illaa-Llaah 100 kali. Tetapi saya pribadi ketika ngimami Tahlilan di kampung ya tidak serta merta 100 kali. Biasanya saya reduksi menjadi 25 atau 50 kali saja. Mengapa? Biasanya Tahlilan di kampung-kampung dilakukan setelah Isya, padahal Bapak-Bapak yang hadir sudah capek seharian kerja. Sehingga, agar prinsip keikhlasan terpenuhi, ya jumlahnya disedikitkan.

Selain itu, sesungguhnyaTahlilan tidak terbatas pada mendoakan mayyit, tetapi bisa digunakan untuk mendoakan hajat tertentu. Prinsipnya jelas: lakukan amal shalih (membaca ayat-ayat Qur`an, shalawat, dan kalimat thayyibah) dan gunakanlah sebagai perantara bagi doa.

Maka sesungguhnya, dalam Tahlilan itu tak dikenal istilah wajib dilakukan, kalau tidak melakukannya akan berdosa. Berdosalah kalau ada orang yang mengatakan ini. Tahlil itu bid’ah kemasannya, sunnah isinya. Bermanfaat bagi yang Tahlilan (melakukan amal shalih), bermanfaat pula bagi yang di-tahlil-kan (didoakan keselamatannya, di mana keijabahannya dijanjikan oleh hadits shahih).

Ada banyak hal lain yang bisa dibahas lebih mendalam tentang dalil-dalil Tahlilan, tapi ruangnya bukan di tulisan ini. Insya-Allaah nanti pada akhir tulisan ini akan saya rujukkan buku dan ulama yang tepat untuk membahas permasalahan ini.

***

Maulidan

Saya juga tergolong orang yang setuju dengan Maulidan sebagai bagian dari sunnah Rasuul SAW (isinya) dan Maulidan bukan pula bagian dari bid’ah sesat, tetapi merupakan bid’ah yang baik.

Salah satu dalil utama Maulidan adalah sebuah hadits shahih riwayat Imam Bukhari, yang mengisahkan bahwa setahun setelah kematian Abu Lahab (paman sekaligus musuh bebuyutan Rasuul SAW), al-‘Abbas (paman Rasuul SAW yang lain) bertemu dengan Abu Lahab di dalam mimpi. Al-‘Abbas melihat Abu Lahab memakai pakaian putih, kemudian al-‘Abbas bertanya tentang keadaannya. Abu Lahab (dalam mimpi tersebut) menjawab bahwa dia di neraka, tetapi setiap malam Senin Allaah meringankan siksanya karena dia memerdekakan hamba sahayanya (Tsuwaibah), yang pada saat kelahiran Rasuul SAW menyampaikan kabar tersebut kepadanya.

Abu Lahab, yang sedemikian hebat permusuhannya kepada Rasuul SAW (hingga diabadikan sebagai ayat Qur`an) saja mendapat keringanan siksa, karena memerdekakan hamba sahayanya berkat kegembiraanya saat mendengar berita Rasuul SAW lahir; apalagi umat Islam yang bukan hanya gembira, tapi bahkan mencintainya dan menjalankan ajarannya.

Hadits tersebutlah yang menjadi dorongan bagi umat Islam mengadakan bid’ah baik yang disebut Maulidan, membaca riwayat hidup Rasuul SAW. Tujuannya jelas, ekspresi kegembiraan atas hadirnya Rasuul SAW, me-refresh pengetahuan kehidupan Rasuul SAW agar bisa meneladani, memperbarui semangat keberagamaan dengan mendengar kembali bagaimana perjuangan Rasuul SAW.

Lebih jauh, acara Maulidan juga dirangkai dengan majelis dzikir dan doa, yang prinsipnya sama dengan Tahlilan: beramal shalih dengan membaca Qur`an, mengingat kehidupan Rasuul SAW, membaca shalawat, membaca kalimat-kalimat dzikir (kalimat thayyibah), dan kemudian ditutup dengan doa yang berperantarakan amal-amal shalih tadi.

Kitab Maulid yang dibaca biasanya dimulai dengan menceritakan silsilah keluarga Rasuul SAW yang mulia sejak Nabi Ismail ‘AS, yang memberi hikmah kepada kita: bentuklah keluargamu sebagai semulia-mulia keluarga! Dilanjutkan dengan peristiwa-peristiwa jelang kelahiran Rasuul SAW, saat Beliau SAW lahir, hingga kemudian mengisahkan kemuliaan akhlak Beliau SAW yang sangat menginspirasi beserta mukjizat-mukjizatnya.

Namun sesungguhnya, isi dari kitab-kitab Maulid itu berintikan pada salah satu keluarbiasaan beliau: akhlak. Kitab-kitab tersebut ditulis dalam bahasa sastra arab yang tinggi nilainya, mendeksripsikan cahaya-cahaya perilaku dan perkataan Rasuul SAW, agar para peserta Maulid tidak luntur cintanya kepada Rasuul SAW.

Boleh jadi, fakta sejarah memang mengatakan bahwa bid’ah baik (perayaan Maulid) ini diawali oleh Dinasti Syiah untuk mendakwahkan kesesatannya. Akan tetapi apakah kita yang tidak sesat kemudian tidak boleh mengamalkannya, selama kesesatannya dihilangkan dan bahkan kita manfaatkan sebagai alat mempersatukan umat?

Buktinya, para ulama yang jelas bukan Syiah (bahkan menentang Syiah) justru menganjurkan pembacaan Maulid. Bahkan kalau kita membaca terjemahnya (cobalah membaca!) kitab-kitab Maulid yang masyhur di kalangan Ahlus-Sunnah, seperti Barzanji, Syaraful-Anam, Burdah, dan Simthud-Durar, tak ada sedikitpun kesesatan di dalamnya!

Seandainya fakta sejarah ditemukan bahwa microphone dan pengeras suara pada awalnya digunakan kaum nasrani di gereja dalam khatbah-khatbahnya, apakah kemudian menjadi haram bagi Islam? Tentu tidak, karena microphone dan pengeras suara juga bisa kita gunakan untuk memperdengarkan syiar Islam atau bahkan ayat-ayat Qur`an.

Sesungguhnya, Maulid adalah bid’ah bentuknya (karena Rasuul SAW tidak merayakan kelahiran Beliau SAW kecuali dengan puasa di hari Senin), bahkan (mungkin) bid’ah sesat pada awalnya (kaitannya sejarah Dinasti Syiah jika dibenarkan), tetapi sunnah isinya, karena menuntun kita untuk lebih mengenal akhlak keseharian Rasuul SAW, sehingga muncul dorongan untuk semakin meneladani Beliau SAW. Apalagi, jika Maulidan merupakan bentuk nyata kegembiraan kita akan hadirnya Rasuul SAW di dunia, bukankah keringanan siksaan insya-Allaah akan kita dapatkan kelak, sebagaimana Abu Lahab dapatkan?

***

Autokritik atas Tahlilan dan Maulidan

Saya tidak akan memungkiri adanya kritik pada ritual Tahlilan dan Maulidan.

Contoh kritik misalnya, seolah ada kewajiban bagi yang mengadakan Tahlilan atas keluarga yang baru meninggal agar mengadakan jamuan makan bagi jamaah dan tetangga yang hadir untuk ikut Tahlilan. Tentu saja kewajiban semu ini akan memberatkan bagi keluarga mayyit jika tergolong miskin.

Sesungguhnya, tidak ada kewajiban untuk menjamu, karena menjamu tamu itu sunnah, apalagi tamu tersebut hadir untuk ikut mendoakan. Solusinya sederhana, bahwa jamaah Tahlilan sudah seharusnya memakluminya (jika keluarga mayyit memang tidak mampu), baik dengan diam jika tak mendapatkan jamuan apapun (walaupun ini tidak mungkin, maksudnya tidak mungkin tanpa jamuan) atau bahkan dengan menyedekahkan sebagian hartanya kepada ahli waris untuk membantu meringankan beban jamuannya.

Sedangkan autokritik tentang Maulidan, misalnya adalah munculnya kadar berlebihan dalam pembelanjaan harta dalam perayaan Maulid, baik lewat hiasan-hiasan atau hidangan-hidangan yang terlalu mewah dan dihabiskan dalam beberapa jam saja. Bagi orang yang mampu, hal tersebut mungkin saja terjadi karena semangatnya yang tinggi untuk mengekspresikan kegembiraannya terhadap kelahiran Rasuul SAW melalui Maulid.

Solusinya adalah pembelanjaan harta tersebut bisa ditekan dan dialihkan ke hal lain, semisal memberi makan anak yatim, atau dialihkan ke bidang pendidikan dan kesehatan, serta lain sebagainya.

Autokritik lain atas Tahlilan adalah semangat kyai-kyai kampung yang khawatir dengan gerakan anti-Tahlilan dan anti-Maulidan sehingga mendakwahkan Tahlilan dan Maulidan di masyarakat awam sebagai sesuatu yang harus dilakukan dan berdosa meninggalkannya. Ini harus diakui karena memang terjadi di beberapa daerah tertentu.

Solusinya, adalah bagaimana para ulama, kyai, dan dai mendakwahkan pemahaman terhadap Tahlilan dan Maulidan ini kepada masyarakat dengan benar dan mendidik, bukan dengan memasang label dosa kepada yang meninggalkannya, sehingga masyarakat semakin tidak tahu (bahwa sesungguhnya ada dalilnya) atau menimbulkan fanatisme buta (karena ketidaktahuannya).

***

Silsilah Keguruan yang Jelas

Insya-Allaah diri saya pribadi sudah final dan paripurna tentang Tahlilan dan Maulidan, bahwa keduanya adalah bagian dari Sunnah Rasuul SAW. Argumen terhadap kesimpulan saya ini dijelaskan dengan gamblang oleh para ‘Ulama di berbagai tulisan, penjelasan, dan majelis-majelis ilmu.

Mereka, para ‘Ulama yang memegang teguh Tahlil dan Maulid sebagai bagian dari Sunnah Rasuul SAW, bukan orang yang sembarangan menyandarkan sesuatu kepada Rasuul SAW, apalagi berbohong mengenainya. Mereka berani menyandarkannya kepada Rasuul SAW, karena demikianlah yang mereka dapat dari guru mereka. Di mana silsilah keguruan mereka terus menerus bersambung ke atas, hingga sampai ke para ‘Ulama yang masih ngonangi sugeng (mengalami masa hidup) para tabbi’t-tabbi’in dan para tabbi’in.

Sungguh memprihatinkan, bahwa di abad ke-20 ini, pedoman yang sudah bertahan selama berabad sebagai bagian dari Sunnah Rasuul SAW, harus terganggu oleh segelintir orang yang mengaku (atau diakui oleh pengikutnya sebagai) ‘Ulama, tapi tak bisa dipertanggungjawabkan keguruannya.

Orang tersebut dengan metode yang tak bisa dipertanggungjawabkan, tanpa hafalan hadits yang memadahi, tanpa berguru dengan bertatap muka kepada para ‘Ulama yang jelas silsilah keguruannya, kemudian dengan mudahnya menilai hadits sekelas Shahih Muslim dan Shahih Bukhari. Maka menjadi wajar kalau kemudian ia memberikan penilaian terhadap sebuah hadits dengan penilaian yang bertolak belakang, tanpa menjelaskan mana yang sebagai ralat atau mana yang sebagai pendapat akhir bagi dirinya.

Sementara jelas adanya, bahwa Imam Bukhari dan Imam Muslim sebelum menulis satu hadits saja harus dengan pertimbangan yang sangat matang. Imam Bukhari, Imam Muslim dan Imam Hadits lain juga mempunyai hafalan ribuan hadits, baik sanad (jalur dari mana hadits tersebut didapatkan, dari siapa yang mendengar dari siapa, dan seterusnya hingga ke Rasuul SAW) maupun matan (redaksi atau isi)nya. Imam Bukhari, Imam Muslim, dan para Imam Hadits lain mendapatkan hafalan tersebut dengan mengelilingi negeri-negeri muslim, berkelana dan berguru.

Fakta tersebut (orang yang mengomentari para Imam Hadits dihadapkan pada kenyataaan kemuliaan Imam Bukhari, Muslim, dan Imam Hadits lain) adalah keprihatinan saya, yang sungguh, justru semakin memantabkan saya terhadap kedudukan Tahlilan dan Maulidan sebagai bid’ah baik dalam bentuknya sekaligus Sunnah Rasuul SAW dalam isinya.

***

Bid’ah-Bid’ah yang Baik

Berikut ini adalah di antara banyak bid’ah-bid’ah yang baik, sebagai gambaran untuk memahami uraian saya di atas.

  1. membukukan al-Qur`an,
  2. membukukan hadits,
  3. tahlilan dan maulid,
  4. tarawih 20 rakaat dan witir 3 rakaat,
  5. ceramah keagamaan di antara isya dan tarawih,
  6. ceramah keagamaan sesudah subuh,
  7. ceramah keagamaan rutin 35 hari sekali,
  8. ditinggikan dan dilebarkannya tugu yang dilontari jumrah agar bisa dibuat bertingkat, demi memenuhi kapasitas jamaah yang jutaan,
  9. khatbah Jumat bahasa Indonesia,
  10. khatbah ‘Idul Fitri dan ‘Idul Adha bahasa Indonesia,
  11. penggunaan alat-alat modern sebagai sarana dakwah.

***

Sikap yang Baik Memahami Perbedaan

Di kampung saya, mayoritas Muhammadiyah, sebagian berkultur NU. Saya sendiri sudah dikenal berafiliasi dengan kultur NU. Tidak ada halangan bagi saya untuk menjadi khatib Jumat atau menjadi imam atau penceramah di saat Ramadlan di tengah masyarakat tersebut.

Sementara, dua diantara sahabat-sahabat saya adalah yang satu berafiliasi Muhammadiyah, yang satu berafiliasi kepada Salafi, tetapi tak ada halangan bagi kami untuk bergantian menjadi imam shalat fardlu saat kami shalat berjamaah.

Maka, kembali sebagaimana saya sampaikan di awal

masing-masing pihak sesungguhnya sudah mantab dengan pilihannya (yang menganggap sunnah maupun yang bukan), maka tidak perlu diperdebatkan lagi keabsahannya, karena mereka telah bersandar pada pendapat ulama masing-masing, yang menganggap sunnah silakan diamalkan, yang menganggap bukan sunnah ya tidak perlu mengamalkan, tanpa perlu menuduh sesat atau bahkan mengafirkan yang lain.

dan

hal ini merupakan urusan khilafiyah (hal sudah disepakati sebagai perbedaan di kalangan Islam / bersepakat untuk berbeda), bukan sesuatu yang pokok dalam agama, sehingga pembahasannya hanya akan menghabiskan energi, yang alangkah baiknya dialihkan untuk hal lain yang lebih urgent dan penting.

***

Penutup

Demikian sedikit uraian mengenai Amalan Sunnah yang Dituduh Bid’ah: Tahlilan dan Maulid. Nantinya, jika muncul komentar negatif-kontraproduktif mengenai tulisan ini, akan langsung saya hapus, karena perdebatan bukan tujuan dari menulis ini. Selain itu, saya tidak mempunyai kapasitas kemampuan, keilmuan, dan keguruan untuk mendebatnya. Tugas saya, lewat tulisan ini adalah menyampaikan apa-apa yang mudah dicerna oleh awam seperti yang saya pahami (sebagai awam pula).

Jika yang muncul adalah komentar yang membangun atau memperbaiki argumentasi yang saya paparkan, tidak segan bagi saya untuk segera memperbaikinya.

Semoga bermanfaat.

Wallaahu a’lam.

Blunyah Gede, 15 Juli 2013,

Ahmad Rahma Wardhana bin Suwarno

Beberapa buku rujukan,

Tradisi-Islami CAM00321