Meneguhkan Pancasila dan Jalan Pertengahan sebagai Solusi Kebangsaan

Disampaikan dalam Ceramah Bakda Tarawih Keluarga Mahasiswa NU UGM di Mushalla Fakultas Filsafat UGM, 1 Juni 2017

Teman-teman yang dirahmati Allaah SWT.

Umat Islam adalah umat pertengahan, sebagaimana firman Allaah dalam al-Baqarah 143,

Kata wasath pada mulanya berarti segala yang baik sesuai objeknya, sebagaimana ungkapan arab,

Maka, yang terbaik adalah di pertengahan, yakni berada di antara dua posisi ekstrem. Bahwa berani adalah pertengahan antara nekat dan takut. Sementara dermawan adalah pertengahan antara boros dan kikir.

Lebih jauh, jika ada dua pihak yang berseteru, maka akan ada penengah yang harus adil, yakni disebut wasit.

Sementara, kata syahiid dan syuhadaa` berasal dari kata yang sama yang membawa makna luas, yakni yang disaksikan atau yang menyaksikan. Maksudnya, umat Islam adalah umat pertengahan yang disaksikan oleh semua umat manusia, sementara umat Islam menyaksikan Rasuul SAW sebagai sumber sifat-sifat pertengahannya. Umat Islam adalah syuhadaa`, yakni yang disaksikan (oleh manusia), sekaligus yang menyaksikan Rasuul SAW, sang syahiid, yang disaksikan, sebagai sumber wasathiyah, sumber pertengahan.

Pengertian pertengahan ini luas, yang setidaknya mencakup beberapa hal berikut,

  1. Umat Islam menganut ajaran Islam, yakni ajaran yang tidak ekstrem mengandalkan akal/logika saja, tetapi tidak pula terjatuh dalam spiritualitas absolut. Tidak pula terlalu materialistis (kebendaan, jasmaniah ekstrem), tetapi tidak pula spiritualistis murni (ruhaniah ekstrem). Islam tidak pula mengingkari wujud Tuhan, tetapi juga tidak kemudian terjebak dalam politeisme (banyak sesembahan), karena bagi Islam sesembahan adalah satu, Tuhan Allaah SWT. Mustahil Penguasa Alam ini lebih dari satu, karena pasti satu dengan lainnya memeiliki kehendak yang berbeda.

Islam tidak pula mengekang kebutuhan fisik seseorang (makan, minum, seksual), tetapi juga tidak membebaskannya secara ekstrim dalam memuaskannya. Islam menghendaki pemenuhan kebutuhan fisik tersebut dikendalikan dan dibingkai secara spiritual. Jasmani dan ruhani, seimbang. Di Ramadlan, siangnya kita wajib berpuasa bagi yang mampu, yakni menunda makan, minum, seksual, dan hal lain yang membatalkannya. Di Ramadlan pula, malamnya, kita diperbolehkan makan, minum, dan bahkan berhubungan seksual. Hanya saja, yang hubungan seksual itu hanya boleh yang sah dalam ikatan pernikahan.

Islam tidak melarang kepemilikan dan keinginan duniawiyah, tapi tidak pula memusatkan tujuan kehidupan hanya pada kehidupan sesudah kematian. Dunia adalah bekal bagi kehidupan akhirat. Berusahalah mencapai kondisi baik pada urusan duniamu sekaligus akhiratmu. Seimbang.

  1. Posisi pertengahan, ummatan wasathan membawa makna bahwa seorang muslim berada di posisi tengah, posisi pusat, dan menjadi perhatian dari berbagai penjuru. Maka, seorang muslim harus menjadi teladan sekaligus harus mampu memahami peristiwa-peristiwa yang terjadi di sekelilingnya. Memahami dalam arti mampu menarik hikmah dari segala hal yang terjadi dalam pandangannya.
  2. Tengah, wasathan, juga membawa makna menegakkan keadilan kapan pun, di mana pun. Allaah Ta’aala berfirman di surat an-Maa`idah ayat 8,

Hadirin rahimakumullaah.

Sikap pertengahan-lah yang menjadi salah satu sebab dipilihnya Pancasila sebagai dasar negara Republik Indonesia. Di tengah situasi genting pada tahun 1945, para tokoh bangsa berhasil mencari jalan tengah di antara ide-ide tentang bentuk negara Indonesia saat itu. Pancasila merupakan dasar negara yang unik, karena para pendiri bangsa berhasil bersikap di tengah-tengah, di antara bentuk negara agama atau sekuler (meninggalkan agama dalam kehidupan bernegara).

Indonesia kita dengan Pancasilanya, bukanlah negara berdasarkan satu agama tertentu dan bukan pula negara sekuler yang meninggalkan agama sama sekali. Indonesia menjadikan agama sebagai menjadi spirit di kepala masing-masing warga dan penduduknya. Agama menjadi tuntunan moral utama bagi seluruh bangsa untuk menggerakkan negeri ke arah yang lebih baik, mencapai kesejahteraan dan kemakmuran bangsa, karena seluruh agama memiliki tujuan serta kebenaran universal tentang moral, kemanusiaan, kebaikan, dan keadilan.

Agama adalah kebutuhan mendasar setiap orang, karena manusia difitrahkan untuk mencari panduan hidup. Dan semua agama, dengan bentuknya masing-masing, memiliki satu bahasan yang sama di antara satu dengan yang lainnya, yaitu konsep KETUHANAN, betapapun berbedanya antara satu agama dengan agama lainnya.

Maka, yang dipilih Indonesia bukanlah agama apa yang akan menjadi dasar negara, dan lebih lagi, demi menghargai kemajemukan, Islam yang mayoritas melalui tokoh-tokoh kebangsaan di era kemerdekaan pun berkenan menerima konsensus agung: Ketuhanan sebagai Dasar Negara. Konsep Ketuhanan tepat dipilih, karena ia jauh lebih tinggi daripada agama manapun, dan sesungguhnya, merupakan tujuan dari masing-masing ajaran agama, yakni meraih ridla dari Tuhan.

Sayangnya, karena kondisi politik dan keamanan pada masa sesudah Gerakan 30 September, Pancasila ini dimanfaatkan menjadi jargon politik belaka. Pancasila didetailkan menjadi butir-butir pengamalan yang dipaksakan menjadi teori-teori di kelas, tanpa pelaksanaan yang terukur. Apalagi di tingkat kebijakan umum nasional, Pancasila belum di-breakdown dengan baik terutama untuk bidang ekonomi dan bidang lainnya. Bahasa mudahnya: konsep baik, tapi implementasi masih kurang.

Hadirin rahimakumullaah.

Hubungan Pancasila dengan Islam diteguhkan kemudian oleh NU melalui Munas Alim Ulama NU tahun 1983 di Situbondo. Meskipun pada awalnya hanya karena didorong oleh pemerintah agar menerima Pancasila sebagai azas tunggal untuk semua organisasi, momen ini menjadi kesempatan bagi NU untuk menguatkan penjelasan Pancasila sebagai jalan tengah umat Islam demi bersatunya kebangsaan Indonesia. Keputusan Munas tersebut berbunyi,

MEMUTUSKAN

Menetapkan

DEKLARASI TENTANG HUBUNGAN PANCASILA DENGAN ISLAM

Bismillahirramanirrahim

  1. Pancasila sebagai dasar dan falsafah Negara Republik Indonesia bukanlah agama, tidak dapat rnenggantikan agama dan tidak dapat dipergunakan untuk menggantikan kedudukan agama.

  2. Sila Kehutanan Yang Maha Esa sebagai dasar Negara Republik Indonesia menurut pasal 29 ayat (1) Undang-Undang Dasar 1945, yang menjiwai sila-sila yang lain, mencerminkan tauhid menurut pengertian keimanan dalam Islam.

  3. Bagi Nahdlatul Ulama, Islam adalah aqidah dan syari’ah, meliputi aspek hubungan manusia dengan Allah dan hubungan antar manusia. Penerimaan dan pengamalan Pancasila merupakan perwujudan dari upaya ummat Islam Indonesia untuk menjalankan syari’at agamanya.

  4. Sebagai konsekwensi dari sikap di atas, Nahdlatul Ulama berkewajiban mengamankan pengertian yang benar tentang Pancasila dan pengamalannya yang murni dan konsekwen oleh semua fihak.

Seiring dengan berjalannya sejarah bangsa Indonesia sejak merdeka hingga saat ini, kita dengan Pancasilanya, berhasil menunjukkan performa yang sangat indah, terlepas dari berbagai kekurangan yang masih ada.

Secara geografis, kita memiliki bentuk negeri berupa kepulauan, terhubung dengan lautan, membentang panjang, dengan berbagai bentuk perbedaannya, baik suku, bahasa, agama, budaya, dan adat kebiasaan lain. Lebih dari itu, jarak geografis yang berjauhan dan kekeliruan model pembangunan, membuat pemerataan kesejahteraan belum berlangsung dengan baik.

Namun, deskripsi tersebut tadi, tidak pernah memecah belah bangsa Indonesia. Benar muncul gerakan separatis di beberapa tempat, namun mayoritas masyarakat masih mencintai Merah-Putih, mencintai Indonesia sebagai negara dan kebangsaannya. Tanyalah pada teman-teman kita yang KKN hingga ke ujung-ujung Nusantara, bagaimana mereka dan masyarakat yang tak pernah kedatangan pejabat, tetap bersemangat dalam setiap perayaan kemerdekaan 17 Agustus.

Fenomena inilah yang mendorong kekuatan luar Indonesia untuk konsisten memecah belah bangsa. Bagaimana mungkin, negeri yang lebih rumit daripada Amerika Serikat kemajemukannya, bisa tetap bersatu dan bertahan, bahkan dengan ketidak-adilan ekonomi yang masih terus diperjuangkan?

Fenomena ini pula, yang ditambah dengan fenomena agama Islam sebagai mayoritas, membuat banyak orang bertanya-tanya, kenapa bisa tetap bersatu tanpa menjadi negara Islam? Kenapa bisa tidak terpecah-belah seperti halnya negara-negara berpenduduk Islam lainnya? Kenapa radikalisme tidak muncul dengan massif, padahal mayoritas muslim?

Inilah berkah Pancasila, yakni berkah atas konsistensi kita untuk berada di jalan tengah.

Hadirin rahimakumullaah.

Di tengah pergolakan keterbukaan politik di negeri-negeri berpenduduk Muslim di Timur Tengah dan Afrika, pada 2016 kemarin diadakan di Pekalongan sebuah Konferensi Internasional Ulama Thariqah yang menghadirkan ulama kunci dan berpengaruh dari 40 negara. Uniknya, konferensi mengambil judul Bela Negara: Konsep dan Urgensinya Menurut Islam. Dan beberapa tahun sebelumnya, ulama-ulama kunci dari Afghanistan rawuh ke UGM untuk belajar Pancasila.

Anda bayangkan, di saat beberapa golongan tertentu memaksakan formalisasi Islam sebagai Dasar Negara, kita justru didatangi oleh ulama dari 40 negara lebih, karena melihat berhasilnya konsep kenegaraan Indonesia yang kita bangun, melalui Pancasila, melalui konsep pertengahan.

Apa hasil dari Konferensi Ulama Thariqah? Ada sembilan poin, yakni

Pertama, negara adalah tempat tinggal di mana agama diimplementasikan dalam kehidupan.

Kedua, bernegara merupakan kebutuhan primer dan tanpanya kemaslahatan tidak terwujud.

Ketiga, bela negara adalah di mana setiap warga merasa memiliki dan cinta terhadap negara sehingga berusaha untuk  mempertahankan dan memajukanya.

Keempat, bela negara merupakan suatu kewajiban seluruh elemen bangsa sebagaimana dijelaskan Al-Quran dan Hadis.

Kelima, bela negara dimulai dari membentuk kesadaran diri yang bersifat ruhani dengam bimbingan para ulama.

Keenam, bela negara tidak terbatas melindungi negara dari musuh atau sekedar tugas kemiliteran, melainkan usaha ketahanan dan kemajuan dalam semua aspek kehidupan seperti ekonomi, pendidikan, politik, pertanian, sosial budaya dan teknologi informasi.

Ketujuh, bela negara menolak adanya terorisme, radikalisme dan ekstremisme yang mengataasnamakan agama.

Kedelapan, untuk mewujudkan bela negara dibutuhkan empat pilar, yaitu ilmuwan, pemerintahan yang kuat, ekonomi dan media.

Kesembilan, menjadikan Indonesia sebagai inisiator bela negara yang merupakan perwujudan dari Islam rahmatan lil alamin.

Hadirin rahimakumullaah.

Sekali lagi, inilah penegasan bersama, pentingnya Pancasila dan jalan tengah, kemoderatan umat Islam dalam kehidupan berbangsa. Saat ini, bukan Pancasilanya yang dihapus, tetapi kita perbaiki implementasinya dalam kebijakan-kebijakan strategis pemerintahan.

Mari kita bersama-sama, berperan dalam pembangunan bangsa, sesuai dengan jangkauan ruang dan waktu yang kita miliki, sesuai dengan bidang yang kita kuasai masing-masing. Dengan tetap konsisten berjalan di ajaran Islam yang moderat, insya-Allaah, menjadi siapapun kita, ahli di bidang apapun kita, konsep tawasuth, konsep pertengahan adalah yang terbaik untuk menyelesaikan berbagai urusan, termasuk kemajuan bangsa Indonesia.

Tetaplah setia kepada Indonesia dan Pancasilanya, terus mengabdi melalui ajaran agama Islam ala ahl as-Sunnah wal-Jamaah ah-Nahdliyah, demi meraih ridla Allaah SWT.

Melihat Tahlilan dan Maulidan lewat Kacamata Saya

Melihat Tahlilan dan Maulidan lewat Kacamata Saya

Bismillaah ar-Rahmaan ar-Rahiim.

Allaahumma shalli ‘alaa Sayyidinaa Muhammadin Shalla-Llaahu ‘alayhi wa aalihii wa sallam.

Sesungguhnya, membahas hal ini di kalangan umum (seperti ditulis di blog, misalnya) adalah kurang tepat menurut saya, karena menimbulkan potensi perdebatan yang tiada habisnya. Seorang ulama yang saya kenal baik, menolak membahas hal ini setiap ada tantangan yang diajukan kepada beliau (meskipun beliau punya kapasitas untuk membahasnya), alasannya sederhana: menghindari perdebatan yang mampu mengeraskan hati.

Mengapa perlu dihindari perdebatan? Menurut saya ada beberapa sebab,

  1. pembahasan hal ini merupakan urusan khilafiyah (hal sudah disepakati sebagai perbedaan di kalangan Islam), bukan sesuatu yang pokok dalam agama, sehingga pembahasannya hanya akan menghabiskan energi, yang alangkah baiknya dialihkan untuk hal lain yang lebih urgent dan penting,
  2. masing-masing pihak sesungguhnya sudah mantab dengan pilihannya (yang menganggap sunnah maupun yang bukan), maka tidak perlu diperdebatkan lagi keabsahannya, karena mereka telah bersandar pada pendapat ulama masing-masing, yang menganggap sunnah silakan diamalkan, yang menganggap bukan sunnah ya tidak perlu mengamalkan (plus jangan menuduh sesat atau bahkan mengafirkan kepada yang mengamalkan).

Nah, selanjutnya, akan saya sampaikan bagaimana jalan pikiran saya mengenai permasalahan ini, bersumber dari apa yang saya dapat selama ini, membaca buku yang ditulis oleh ulama yang berkapasitas dan bertanya/diskusi kepada ulama yang berkapasitas.

***

Tahlilan

Saya termasuk orang yang dengan mantab meyakini kegiatan Tahlilan sebagai bagian Sunnah Rasuul SAW, bukan bagian dari bid’ah sesat. Sunnah itu segala sesuatu yang bersandarkan pada Rasuul SAW (perkataan, perbuatan, atau persetujuan Rasuul SAW terhadap suatu hal), sementara bid’ah sesat  adalah segala sesuatu yang tidak bersandarkan pada Rasuul SAW.

Mengapa dengan mantab? Karena saya tidak menemukan adanya kesesatan dalam kegiatan-kegiatan tersebut.

Kegiatan Tahlilan, pokok kegiatannya adalah mendoakan orang yang meninggal dengan berwasilahkan amal shalih, yakni membaca surat Yaa-Siin dan kalimat-kalimat thayyibah yang diajarkan Rasuul SAW.

(salah satu) yang berkaitan denganTahlilan adalah hadits shahih tentang tiga orang yang terjebak di dalam gua (pintu gua tertutup oleh batu yang besar di mana ketiga orang tersebut tidak kuat untuk mendorongnya). Solusinya, sebagaimana dikisahkan dalam hadits tersebut, tiga orang ini kemudian berdoa kepada Allaah Ta’aala agar bergeser batu tersebut. Doanya diucapkan dengan terlebih dahulu menyebutkan amal shalih yang pernah dilakukan dengan ikhlas karena Allaah Ta’aala. Dikisahkan, mereka bertiga berhasil keluar karena batunya memang bergeser, sehingga cukup bagi ketiganya untuk melewatinya.

Hadits shahih tersebut menunjukkan kebolehan bagi kita untuk berdoa dengan menggunakan amal shalih sebagai washilah atau perantara. Bahasa mudahnya (semoga Allaah Ta’aala mengampuni saya jika analogi tidak sesuai dengan kehendak-Nya), kita beramal dengan ikhlas, sedangkan amal-amal tersebut sewaktu-waktu bisa dipakai sebagai perantara agar permohonan kita terkabul.

Tahlilan diawali dengan membaca surat Yaa-Siin, membaca beberapa kali surat Faatihaah, membaca beberapa ayat al-Qur`an lain, membaca kalimat-kalimat thayyibah yang memuji Allaah Ta’aala dan Rasuul SAW (yang diajarkan Rasuul SAW dalam berbagai hadits), yang kemudian ditutup dengan doa. Doa penutup tahlil secara gamblang dan eksplisit menyebutkan proses per-washilahan tadi: mendoakan kebaikan dan ampunan bagi yang meninggal dengan perantara amal shalih membaca ayat-ayat Qur`an, shalawat, serta kalimat thayyibah yang sudah dilakukan sebelumnya.

Ada yang membantah bahwa tahlilan itu sia-sia bagi mayyit dengan berlandaskan hadits bahwa amal manusia terputus saat kematiannya, kecuali ilmu, amal shalih, dan doa dari anaknya yang shalih. Hadits ini benar, karena memang orang yang sudah mati tidak bisa melakukan apapun. Tetapi, dalam tahlilan itu yang beramal shalih adalah yang masih hidup, kemudian amal shalih tersebut digunakan untuk berdoa, doanya ya untuk kebaikan mayyit.

Merujuk pada hadits tiga orang terjebak di gua, maka cara ini (tahlilan, yakni mendoakan mayyit berperantakan amal shalih) insya-Allaah menjadi doa yang ijabah.

Maka penting dalam sebuah acara tahlilan, imam tahlilan sudah seharusnya membuka Tahlilan dengan meminta keikhlasan makmum Tahlilan dalam membacakan Yaa-Siin, Qur`an, shalawat, serta kalimat thayyibah. Atau membukanya dengan mengingatkan kebaikan-kebaikan si mayyit semasa masih hidup, agar muncul dorongan balas budi: keikhlasan dalam mendoakannya di dalam Tahlilan.

Di mana kesesatan Tahlilan? Kalau bid’ah, ya. Rasuul SAW memang tidak melakukannya sebagai sebuah kegiatan pasca kematian seseorang yang disebut Tahlilan, sebagaimana sekarang ada urutannya. Tetapi kalau mengatakan Tahlilan itu bid’ah sesat, (menurut saya) sangat keliru! Esensi Tahlilan itu tidak ada yang menentang ajaran Rasuul SAW, bahkan bersandar pada ajaran Rasuul SAW sebagaimana saya sampaikan tadi.

Buku Tahlilan yang beredar itu semacam pedoman bagi umat, bahwa Tahlilan nilai pahalanya menjadi baik kalau dilakukan berdasar buku tersebut. Adapun kalau tidak mengikuti buku tersebut ya tidak masalah, selama prinsip melakukan amal shalih dengan ikhlas dan kemudian berdoa untuk mayyit dengan amal shalih, terpenuhi.

Sebagai ilustrasi, di buku Tahlilan ada anjuran membaca Laa ilaaha illaa-Llaah 100 kali. Tetapi saya pribadi ketika ngimami Tahlilan di kampung ya tidak serta merta 100 kali. Biasanya saya reduksi menjadi 25 atau 50 kali saja. Mengapa? Biasanya Tahlilan di kampung-kampung dilakukan setelah Isya, padahal Bapak-Bapak yang hadir sudah capek seharian kerja. Sehingga, agar prinsip keikhlasan terpenuhi, ya jumlahnya disedikitkan.

Selain itu, sesungguhnyaTahlilan tidak terbatas pada mendoakan mayyit, tetapi bisa digunakan untuk mendoakan hajat tertentu. Prinsipnya jelas: lakukan amal shalih (membaca ayat-ayat Qur`an, shalawat, dan kalimat thayyibah) dan gunakanlah sebagai perantara bagi doa.

Maka sesungguhnya, dalam Tahlilan itu tak dikenal istilah wajib dilakukan, kalau tidak melakukannya akan berdosa. Berdosalah kalau ada orang yang mengatakan ini. Tahlil itu bid’ah kemasannya, sunnah isinya. Bermanfaat bagi yang Tahlilan (melakukan amal shalih), bermanfaat pula bagi yang di-tahlil-kan (didoakan keselamatannya, di mana keijabahannya dijanjikan oleh hadits shahih).

Ada banyak hal lain yang bisa dibahas lebih mendalam tentang dalil-dalil Tahlilan, tapi ruangnya bukan di tulisan ini. Insya-Allaah nanti pada akhir tulisan ini akan saya rujukkan buku dan ulama yang tepat untuk membahas permasalahan ini.

***

Maulidan

Saya juga tergolong orang yang setuju dengan Maulidan sebagai bagian dari sunnah Rasuul SAW (isinya) dan Maulidan bukan pula bagian dari bid’ah sesat, tetapi merupakan bid’ah yang baik.

Salah satu dalil utama Maulidan adalah sebuah hadits shahih riwayat Imam Bukhari, yang mengisahkan bahwa setahun setelah kematian Abu Lahab (paman sekaligus musuh bebuyutan Rasuul SAW), al-‘Abbas (paman Rasuul SAW yang lain) bertemu dengan Abu Lahab di dalam mimpi. Al-‘Abbas melihat Abu Lahab memakai pakaian putih, kemudian al-‘Abbas bertanya tentang keadaannya. Abu Lahab (dalam mimpi tersebut) menjawab bahwa dia di neraka, tetapi setiap malam Senin Allaah meringankan siksanya karena dia memerdekakan hamba sahayanya (Tsuwaibah), yang pada saat kelahiran Rasuul SAW menyampaikan kabar tersebut kepadanya.

Abu Lahab, yang sedemikian hebat permusuhannya kepada Rasuul SAW (hingga diabadikan sebagai ayat Qur`an) saja mendapat keringanan siksa, karena memerdekakan hamba sahayanya berkat kegembiraanya saat mendengar berita Rasuul SAW lahir; apalagi umat Islam yang bukan hanya gembira, tapi bahkan mencintainya dan menjalankan ajarannya.

Hadits tersebutlah yang menjadi dorongan bagi umat Islam mengadakan bid’ah baik yang disebut Maulidan, membaca riwayat hidup Rasuul SAW. Tujuannya jelas, ekspresi kegembiraan atas hadirnya Rasuul SAW, me-refresh pengetahuan kehidupan Rasuul SAW agar bisa meneladani, memperbarui semangat keberagamaan dengan mendengar kembali bagaimana perjuangan Rasuul SAW.

Lebih jauh, acara Maulidan juga dirangkai dengan majelis dzikir dan doa, yang prinsipnya sama dengan Tahlilan: beramal shalih dengan membaca Qur`an, mengingat kehidupan Rasuul SAW, membaca shalawat, membaca kalimat-kalimat dzikir (kalimat thayyibah), dan kemudian ditutup dengan doa yang berperantarakan amal-amal shalih tadi.

Kitab Maulid yang dibaca biasanya dimulai dengan menceritakan silsilah keluarga Rasuul SAW yang mulia sejak Nabi Ismail ‘AS, yang memberi hikmah kepada kita: bentuklah keluargamu sebagai semulia-mulia keluarga! Dilanjutkan dengan peristiwa-peristiwa jelang kelahiran Rasuul SAW, saat Beliau SAW lahir, hingga kemudian mengisahkan kemuliaan akhlak Beliau SAW yang sangat menginspirasi beserta mukjizat-mukjizatnya.

Namun sesungguhnya, isi dari kitab-kitab Maulid itu berintikan pada salah satu keluarbiasaan beliau: akhlak. Kitab-kitab tersebut ditulis dalam bahasa sastra arab yang tinggi nilainya, mendeksripsikan cahaya-cahaya perilaku dan perkataan Rasuul SAW, agar para peserta Maulid tidak luntur cintanya kepada Rasuul SAW.

Boleh jadi, fakta sejarah memang mengatakan bahwa bid’ah baik (perayaan Maulid) ini diawali oleh Dinasti Syiah untuk mendakwahkan kesesatannya. Akan tetapi apakah kita yang tidak sesat kemudian tidak boleh mengamalkannya, selama kesesatannya dihilangkan dan bahkan kita manfaatkan sebagai alat mempersatukan umat?

Buktinya, para ulama yang jelas bukan Syiah (bahkan menentang Syiah) justru menganjurkan pembacaan Maulid. Bahkan kalau kita membaca terjemahnya (cobalah membaca!) kitab-kitab Maulid yang masyhur di kalangan Ahlus-Sunnah, seperti Barzanji, Syaraful-Anam, Burdah, dan Simthud-Durar, tak ada sedikitpun kesesatan di dalamnya!

Seandainya fakta sejarah ditemukan bahwa microphone dan pengeras suara pada awalnya digunakan kaum nasrani di gereja dalam khatbah-khatbahnya, apakah kemudian menjadi haram bagi Islam? Tentu tidak, karena microphone dan pengeras suara juga bisa kita gunakan untuk memperdengarkan syiar Islam atau bahkan ayat-ayat Qur`an.

Sesungguhnya, Maulid adalah bid’ah bentuknya (karena Rasuul SAW tidak merayakan kelahiran Beliau SAW kecuali dengan puasa di hari Senin), bahkan (mungkin) bid’ah sesat pada awalnya (kaitannya sejarah Dinasti Syiah jika dibenarkan), tetapi sunnah isinya, karena menuntun kita untuk lebih mengenal akhlak keseharian Rasuul SAW, sehingga muncul dorongan untuk semakin meneladani Beliau SAW. Apalagi, jika Maulidan merupakan bentuk nyata kegembiraan kita akan hadirnya Rasuul SAW di dunia, bukankah keringanan siksaan insya-Allaah akan kita dapatkan kelak, sebagaimana Abu Lahab dapatkan?

***

Autokritik atas Tahlilan dan Maulidan

Saya tidak akan memungkiri adanya kritik pada ritual Tahlilan dan Maulidan.

Contoh kritik misalnya, seolah ada kewajiban bagi yang mengadakan Tahlilan atas keluarga yang baru meninggal agar mengadakan jamuan makan bagi jamaah dan tetangga yang hadir untuk ikut Tahlilan. Tentu saja kewajiban semu ini akan memberatkan bagi keluarga mayyit jika tergolong miskin.

Sesungguhnya, tidak ada kewajiban untuk menjamu, karena menjamu tamu itu sunnah, apalagi tamu tersebut hadir untuk ikut mendoakan. Solusinya sederhana, bahwa jamaah Tahlilan sudah seharusnya memakluminya (jika keluarga mayyit memang tidak mampu), baik dengan diam jika tak mendapatkan jamuan apapun (walaupun ini tidak mungkin, maksudnya tidak mungkin tanpa jamuan) atau bahkan dengan menyedekahkan sebagian hartanya kepada ahli waris untuk membantu meringankan beban jamuannya.

Sedangkan autokritik tentang Maulidan, misalnya adalah munculnya kadar berlebihan dalam pembelanjaan harta dalam perayaan Maulid, baik lewat hiasan-hiasan atau hidangan-hidangan yang terlalu mewah dan dihabiskan dalam beberapa jam saja. Bagi orang yang mampu, hal tersebut mungkin saja terjadi karena semangatnya yang tinggi untuk mengekspresikan kegembiraannya terhadap kelahiran Rasuul SAW melalui Maulid.

Solusinya adalah pembelanjaan harta tersebut bisa ditekan dan dialihkan ke hal lain, semisal memberi makan anak yatim, atau dialihkan ke bidang pendidikan dan kesehatan, serta lain sebagainya.

Autokritik lain atas Tahlilan adalah semangat kyai-kyai kampung yang khawatir dengan gerakan anti-Tahlilan dan anti-Maulidan sehingga mendakwahkan Tahlilan dan Maulidan di masyarakat awam sebagai sesuatu yang harus dilakukan dan berdosa meninggalkannya. Ini harus diakui karena memang terjadi di beberapa daerah tertentu.

Solusinya, adalah bagaimana para ulama, kyai, dan dai mendakwahkan pemahaman terhadap Tahlilan dan Maulidan ini kepada masyarakat dengan benar dan mendidik, bukan dengan memasang label dosa kepada yang meninggalkannya, sehingga masyarakat semakin tidak tahu (bahwa sesungguhnya ada dalilnya) atau menimbulkan fanatisme buta (karena ketidaktahuannya).

***

Silsilah Keguruan yang Jelas

Insya-Allaah diri saya pribadi sudah final dan paripurna tentang Tahlilan dan Maulidan, bahwa keduanya adalah bagian dari Sunnah Rasuul SAW. Argumen terhadap kesimpulan saya ini dijelaskan dengan gamblang oleh para ‘Ulama di berbagai tulisan, penjelasan, dan majelis-majelis ilmu.

Mereka, para ‘Ulama yang memegang teguh Tahlil dan Maulid sebagai bagian dari Sunnah Rasuul SAW, bukan orang yang sembarangan menyandarkan sesuatu kepada Rasuul SAW, apalagi berbohong mengenainya. Mereka berani menyandarkannya kepada Rasuul SAW, karena demikianlah yang mereka dapat dari guru mereka. Di mana silsilah keguruan mereka terus menerus bersambung ke atas, hingga sampai ke para ‘Ulama yang masih ngonangi sugeng (mengalami masa hidup) para tabbi’t-tabbi’in dan para tabbi’in.

Sungguh memprihatinkan, bahwa di abad ke-20 ini, pedoman yang sudah bertahan selama berabad sebagai bagian dari Sunnah Rasuul SAW, harus terganggu oleh segelintir orang yang mengaku (atau diakui oleh pengikutnya sebagai) ‘Ulama, tapi tak bisa dipertanggungjawabkan keguruannya.

Orang tersebut dengan metode yang tak bisa dipertanggungjawabkan, tanpa hafalan hadits yang memadahi, tanpa berguru dengan bertatap muka kepada para ‘Ulama yang jelas silsilah keguruannya, kemudian dengan mudahnya menilai hadits sekelas Shahih Muslim dan Shahih Bukhari. Maka menjadi wajar kalau kemudian ia memberikan penilaian terhadap sebuah hadits dengan penilaian yang bertolak belakang, tanpa menjelaskan mana yang sebagai ralat atau mana yang sebagai pendapat akhir bagi dirinya.

Sementara jelas adanya, bahwa Imam Bukhari dan Imam Muslim sebelum menulis satu hadits saja harus dengan pertimbangan yang sangat matang. Imam Bukhari, Imam Muslim dan Imam Hadits lain juga mempunyai hafalan ribuan hadits, baik sanad (jalur dari mana hadits tersebut didapatkan, dari siapa yang mendengar dari siapa, dan seterusnya hingga ke Rasuul SAW) maupun matan (redaksi atau isi)nya. Imam Bukhari, Imam Muslim, dan para Imam Hadits lain mendapatkan hafalan tersebut dengan mengelilingi negeri-negeri muslim, berkelana dan berguru.

Fakta tersebut (orang yang mengomentari para Imam Hadits dihadapkan pada kenyataaan kemuliaan Imam Bukhari, Muslim, dan Imam Hadits lain) adalah keprihatinan saya, yang sungguh, justru semakin memantabkan saya terhadap kedudukan Tahlilan dan Maulidan sebagai bid’ah baik dalam bentuknya sekaligus Sunnah Rasuul SAW dalam isinya.

***

Bid’ah-Bid’ah yang Baik

Berikut ini adalah di antara banyak bid’ah-bid’ah yang baik, sebagai gambaran untuk memahami uraian saya di atas.

  1. membukukan al-Qur`an,
  2. membukukan hadits,
  3. tahlilan dan maulid,
  4. tarawih 20 rakaat dan witir 3 rakaat,
  5. ceramah keagamaan di antara isya dan tarawih,
  6. ceramah keagamaan sesudah subuh,
  7. ceramah keagamaan rutin 35 hari sekali,
  8. ditinggikan dan dilebarkannya tugu yang dilontari jumrah agar bisa dibuat bertingkat, demi memenuhi kapasitas jamaah yang jutaan,
  9. khatbah Jumat bahasa Indonesia,
  10. khatbah ‘Idul Fitri dan ‘Idul Adha bahasa Indonesia,
  11. penggunaan alat-alat modern sebagai sarana dakwah.

***

Sikap yang Baik Memahami Perbedaan

Di kampung saya, mayoritas Muhammadiyah, sebagian berkultur NU. Saya sendiri sudah dikenal berafiliasi dengan kultur NU. Tidak ada halangan bagi saya untuk menjadi khatib Jumat atau menjadi imam atau penceramah di saat Ramadlan di tengah masyarakat tersebut.

Sementara, dua diantara sahabat-sahabat saya adalah yang satu berafiliasi Muhammadiyah, yang satu berafiliasi kepada Salafi, tetapi tak ada halangan bagi kami untuk bergantian menjadi imam shalat fardlu saat kami shalat berjamaah.

Maka, kembali sebagaimana saya sampaikan di awal

masing-masing pihak sesungguhnya sudah mantab dengan pilihannya (yang menganggap sunnah maupun yang bukan), maka tidak perlu diperdebatkan lagi keabsahannya, karena mereka telah bersandar pada pendapat ulama masing-masing, yang menganggap sunnah silakan diamalkan, yang menganggap bukan sunnah ya tidak perlu mengamalkan, tanpa perlu menuduh sesat atau bahkan mengafirkan yang lain.

dan

hal ini merupakan urusan khilafiyah (hal sudah disepakati sebagai perbedaan di kalangan Islam / bersepakat untuk berbeda), bukan sesuatu yang pokok dalam agama, sehingga pembahasannya hanya akan menghabiskan energi, yang alangkah baiknya dialihkan untuk hal lain yang lebih urgent dan penting.

***

Penutup

Demikian sedikit uraian mengenai Amalan Sunnah yang Dituduh Bid’ah: Tahlilan dan Maulid. Nantinya, jika muncul komentar negatif-kontraproduktif mengenai tulisan ini, akan langsung saya hapus, karena perdebatan bukan tujuan dari menulis ini. Selain itu, saya tidak mempunyai kapasitas kemampuan, keilmuan, dan keguruan untuk mendebatnya. Tugas saya, lewat tulisan ini adalah menyampaikan apa-apa yang mudah dicerna oleh awam seperti yang saya pahami (sebagai awam pula).

Jika yang muncul adalah komentar yang membangun atau memperbaiki argumentasi yang saya paparkan, tidak segan bagi saya untuk segera memperbaikinya.

Semoga bermanfaat.

Wallaahu a’lam.

Blunyah Gede, 15 Juli 2013,

Ahmad Rahma Wardhana bin Suwarno

Beberapa buku rujukan,

Tradisi-Islami CAM00321