Islam Nusantara dalam Konteks Konsensus Kebangsaan

~ Jika pemahaman Islam Nusantara diambil dari perspektif konsensus kebangsaan yang diperkaya dengan sejarah dan hikmah atas keadaan politik Timur Tengah dan bangsa Arab dewasa ini, insya-Allaah mau tak mau kita akan menyetujuinya. ~

Salah satu kekecewaan kepada bangsa Arab dan kawasan Timur Tengah adalah kegagalannya dalam menyelesaikan permasalahan kenegaraan dan kebangsaan di kawasan, padahal karakteristiknya relatif homogen, yakni (1) keragaman etniknya kecil, (2) agama mayoritas Islam, (3) berada di satu wilayah daratan yang luas, (4) berbahasa tunggal (Arab), dan (5) memiliki kekhasan budaya yang sangat mirip satu sama lain.

Di zaman Perang Teluk, ketika Irak menyerang Kuwait yang berbatasan dengan Saudi, ulama dari kedua negara (Irak dan Saudi), yang sama-sama Islam Ahlus-Sunnah berfatwa untuk saling menghalalkan darahnya.

Inikah cerminan Islam Rahmatan lil—’aalamiin?

Di zaman sekarang, Irak masih semrawut. Mayoritas Islam. Ada Syiah, ada Sunni, dan ada pula etnis Kurdi. Etnik Kurdi sendiri, merupakan etniknya Salahuddin al-Ayyubi yang sangat tenar itu, tersebar di mana-mana dan terkesan di anak-tirikan di berbagai negara berpenduduk muslim, seperti Irak, Suriah, dan Turki. Kesemrawutannya bukan main-main: perbedaan kepentingan dalam kekuasaan (politik) disikapi dengan pembunuhan massal lewat bom dan senjata.

Inikah cerminan Islam Rahmatan lil—’aalamiin?

Suriah yang sedang dilanda perang saudara sesama muslim. Banyak faksi politik, punya kepentingan masing-masing, semua ngaku Islam. Dan kepentingan pun ditegakkan dengan bom serta senjata.

Ulama besar Suriah, al-Maghfurlah Syaikh Ramadlan al-Buthi, sebelum konflik membesar dan hanya berupa demonstrasi, terus menerus menyuarakan rekonsiliasi nasional, tapi tak pernah didengar oleh para elit muslim yang punya kepentingan. Sampai detik ini, sekitar 6 juta penduduk terkatung-katung di dalam negeri Suriah dan 5 juta jiwa lainnya tersebar di luar Suriah. Semua yang berkepentingan mengatasnamakan penegakan agama Islam.

Inikah cerminan Islam Rahmatan lil—’aalamiin?

Saudi, Bahrain, Uni Emirat Arab, Senegal, Maroko, dan Sudan sedang berkonflik dengan Yaman sekaligus bersitegang dengan Qathar yang sebelumnya berada di koalisi Saudi namun belakangan pecah kongsi. Yaman sendiri sedang perang saudara. Alasannya perebutan kekuasaan politik. Ada Sunni, ada Syiah, ada pula al-Qaeda. Semua pihak, Saudi, Yaman dengan berbagai faksinya, dan Qathar, mayoritas muslim dan sedang berperang.

Inikah cerminan Islam Rahmatan lil—’aalamiin?

Fakta di atas adalah salah satu penyebab mengapa muncul gagasan Islam Nusantara. Bandingkan dengan kondisi kita sebagai bangsa yang masih utuh dan bersatu, meskipun beberapa spesifikasinya berbeda dg Timur Tengah: mayoritas Islam, terpisah lautan, penduduk besar dan beragam suku, bahasa, hingga budaya.

Maka Islam Nusantara diperkenalkan oleh NU, menurut saya, yang diunggulkan adalah Islam sebagai sebuah solusi kebangsaan, konsesus membentuk negara yang berorientasi kepada umat. Islam yang benar-benar rahmatan lil-‘aalamiin karena memprioritaskan musyawarah dalam menyelesaikan masalah, terutama bagaimana kepentingan politik kekuasaan dikelola oleh Indonesia yg mayoritas muslim.

Itulah kenapa NU mendeklarasikan hubungan Pancasila dengan Islam pada 1983 sebagai pedoman umat dalam berbangsa dan bernegara. PBNU juga mengantarkan 12 ulama Afghanistan ke UGM pada 2013 untuk belajar Pancasila. Kemudian Pekalongan menjadi tuan rumah Konferensi Ulama Thariqah Se-dunia dengan tema Bela Negara pada 2016. Dan pada 2018 ini ada Konferensi Ulama Indonesia, Afghanistan, dan Pakistan di Bogor, serta kehadiran ulama Indonesia ke Irak beberapa minggu yg lalu. NU, Islam Indonesia, Islam Nusantara serius berperan dalam perdamaian kebangsaan.

Hanya saja dimensi ini dikaburkan oleh mereka yang benci dengan NU. Mengapa? Karena kalau umat sadar dengan ini, terutama kalangan NU sendiri yang berbasis di pedesaan serta intelektual mudanya di perkotaan, maka habislah kepentingan politik mereka. Ora payu alias tidak laku.

NU yang berpegang pada empat prinsip (tawasuth atau pertengahan, tawazun atau keseimbangan, tasamuh atau tepa selira, dan i’tidal atau keadilan) akan memandang persoalan dengan objektif serta fokus pada fakta dan data. NU mendorong ikhtiar untuk menelaah persoalan dari beragam perspektif, sebelum memutuskan arah politiknya.

Bagaimana agar objektivitas ini kabur dan hilang? Serang dengan subjektivitas: kebencian membabi buta, kebencian pada perbedaan pendapat, kebencian pada tokoh NU, kebencian pada tokoh bangsa. Ketika berbeda, habisi dengan hujatan dan kata-kata kasar, tidak perlu melihat konteksnya atau objektivitasnya.

Agar massif, serang lewat sosial media. Tujuan lain lewat sosial-media  adalah agar masyarakat yang belum lama melek internet, termasuk kalangan NU di pedesaan yg belum kenal hoax dan objektivitas informasi, agar beralih ke subjektivitas dan keluar dari empat prinsip NU. Maka dalam hal ini, pesantren menjadi sebuah jangkar yang sangat penting bagi NU untuk terus memproduksi calon-calon pemimpin umat yang teguh pada nilai Islam dan kebangsaan.

Kalau kita tidak memahami Islam Nusantara dalam konteks konsensus kebangsaan, bahkan mengaburkan maknanya ke arah fitnah keji dan kebencian massif (misal: mengganti syariat, menjunjung tinggi budaya lokal dibandingkan Qur`an dan Sunnah, membenci Arab secara mutlak), maka bukan tidak mungkin krisis Timur Tengah akan berpindah ke Indonesia. Kita memohon perlindungan Allaah dari yang demikian.

Mari kita dinginkan suasana perebutan kepentingan di 2019 nanti dengan menghindari caci maki, mengurangi kebencian, dan diskusi cerdas berdasarkan objektivitas.

Sebagai penutup, Kanjeng Nabi SAW pernah bersabda,

Al-amnu wal-‘aafiyah ni’mataani magh-buunun fii-himaa katsiirun-minan-naas. Keamanan dan kesehatan adalah dua nikmat yg membuat banyak orang terlena.

Semoga Allaah memudahkan niat baik NU untuk terus memperdengarkan Islam Nusantara.

Blunyah Gede,
8 Juli 2018,
Ahmad Rahma Wardhana.

Lampiran Foto: dua buku yang relevan dengan maksud tulisan ini sehingga layak untuk dibaca

IMG20180708135016

IMG20180708151129

IMG20180708151146

Sejarah Terorisme atas Nama Islam

Aksi terorisme, sebuah aksi menggunakan kekerasan yang mengatas-namakan Islam, yang terjadi di Surabaya, sebenarnya merupakan bentuk ekstrimisme dalam beragama. Sikap ekstrim atau berlebihan dalam memahami dan menjalani ajaran agama sesungguhnya bukan konsep yang dianjurkan oleh Islam maupun agama manapun.

Menurut Islam, anjuran bersikap moderat atau wasathiyah alias pertengahan, disampaikan oleh Allaah SWT di dalam al-Qur`an surat al-Baqarah ayat 143,

 photo sejarah teror-1_zpszhywk5c4.png

Allaah SWT dalam ayat ini menggunakan kata Kami menjadikan, yang bermakna adanya peran selain Allaah dalam mewujudkan ummatan wasath. Peran selain Allaah bukan berarti sekutu Allaah, karena Allaah tak membutuhkan sekutu. Peran selain Allaah yang dimaksud dalam ayat ini adalah dibutuhkannya ikhtiar untuk menjadikan umat yang wasath.

Sikap wasathiyah adalah jalan tengah atau keseimbangan antara dua hal yang berbeda atau bertentangan. Dalam prakteknya, jalan tengah di antara dua hal yang berbeda, antara A dan B misalnya, mengandung dua pengertian, yaitu:

  1. pengertian bukan A dan bukan B, sebagaimana sifat dermawan merupakan sikap pertengahan, bukan boros (menghamburkan harta di luar kebutuhan) dan bukan pula kikir (terlalu hemat dalam mengeluarkan harta atau bahkan tidak mau menggunakan harta sama sekali meskipun untuk hal-hal penting). Atau sifat pemberani yang merupakan sikap pertengahan, bukan penakut dan bukan pula sembrono atau
  2. pengertian A sekaligus B, sebagaimana Islam yang memperhatikan urusan dunia sekaligus akhirat atau jasmani sekaligus rohani.

Prinsip-prinsip pertengahan tersebut menjadi ruh utama dalam Islam, sejak awal kelahiran Islam hingga kelak datangnya hari kiamat, termasuk dalam memperjuangkan agama Islam. Perjuangan menegakkan agama Islam harus didasari pada kasih sayang, karena kemunculan agama dan ketaatan kepada Allaah, pada akhirnya bertujuan pada kemashlahatan para pemeluknya.

Terorisme dan kekerasan atas nama perjuangan Islam tidak dimulai baru-baru ini saja. Dalam sejarah, ada beberapa peristiwa penting yang menjadi penanda kehadiran kelompok sempalan dalam Islam. Sesuatu yang sempal, tentu merupakan pecahan yang tidak berguna dan bukan bagian utama dari sebuah komponen besar, yang dalam hal ini adalah Islam.

Hadirin rahimakumullaah, kemunculan Islam sempalan ini dimulai sejak zaman Sayyidinaa ‘Ali KW. Ketika Sayyidinaa ‘Ali KW dan Sayyidinaa Muawiyah RA berbeda pandangan dalam urusan kemasyarakatan Islam saat itu hingga terjadi peperangan sesama muslim. Ketika perdamaian diinisiasi, ada kelompok yang tidak suka dengan hadirnya perdamaian. Belakangan kelompok ini menuduh semua yang berseberangan dengannya adalah kafir yang berhak dibunuh. Alasannya, menurut mereka, perdamaian itu upaya manusia, bukan berdasarkan Kitabullaah. Bagi mereka, jika berdasarkan Kitabullaah adalah mereka harus menang, bukan damai, bukan kalah.

Salah satu pentholan kelompok ini bernama Abdurrahman bin Muljam, seorang penghafal Qur`an, ahli qiyamul-lail, hobi berpuasa. Abdurrahman bin Muljam pula, pernah dikirim oleh Sayyidinaa ‘Umar bin Khaththab RA untuk ke Mesir, menjadi pengajar al-Qur`an. Namun Abdurrahman bin Muljam pula yang kemudian membunuh Sayyidinaa ‘Ali bin Abi Thalib RA. Kelompok ini, kemudian dikenal dengan nama Khawarij, semakna dengan khuruj, yang artinya keluar. Kelompok yang keluar dari kelaziman Islam.

Hadirin rahimakumullaah, kelompok ini terus ada dan berkembang di dalam kepala segelintir kaum muslimin, namun sepanjang periode kerajaan Umayyah, Abbasiyah, maupun Utsmani, tidak begitu populer karena kalah dengan kelompok-kelompok lain dalam Islam.

Hingga pada tahun 1979, kelompok ini muncul kembali dengan baju baru. Berkembang dari kelompok-kelompok masyarakat yang awalnya dimanfaatkan kekejamannya dalam mendirikan Kerajaan Saudi dengan mempersatukan suku-suku di jazirah Arab, belakangan kelompok ini melihat Kerajaan Saudi tidak konsisten dalam menjalankan ajaran Islam. Radio dan televisi bagi Khawarij modern ini adalah kesesatan yang nyata.

Puncaknya terjadi pada tanggal 20 November 1979, tepat pagi hari bakda subuh, 1 Muharram 1400 H. Sekelompok bersenjata yang dipimpin oleh Juhaiman al-Uthaibi, merebut mikrofon imam Masjidil Haram, kemudian mengabarkan kehadiran Imam Mahdi. Puluhan ribu jamaah, termasuk di antaranya dari Indonesia, yang belum semua pulang dari masa ibadah haji, berhamburan, berusaha keluar dari Masjidil Haram. Ketika polisi Kerajaan Saudi berusaha merebut kembali Masjidil Haram, dari menara-menara masjid mereka ditembaki dengan senapan serbu. Darah tertumpah di Masjidil Haram, tak ada salat berjamaah dan tawaf selama beberapa hari, siaran harian ibadah Masjidil Haram televisi untuk sementara dialihkan ke Masjid Nabawi di Madinah.

Sementara karena keterbatasan tersebarnya informasi pada masa itu, berita-berita berkembang liar di luar Kerajaan Saudi dan karena baru saja terjadi Revolusi Iran di awal 1979, masyarakat Islam internasional saat itu melihat bahwa pengepungan Masjidil Haram adalah rekayasa Amerika Serikat dan Israel. Kedutaan Besar Amerika Serikat di beberapa negara didemo bahkan sampai jatuh korban nyawa.

Pengepungan Masjidil Haram berakhir pada 4 Desember 1979 dengan korban tewas sekitar 127 orang, setelah Kerajaan Saudi meminta asistensi secara rahasia saat itu, kepada beberapa personel pasukan khusus Prancis. Perlu dicatat, bahwa ulama Saudi membutuhkan 3 hari dalam mengeluarkan fatwa bolehnya pasukan Saudi memasuki Masjidil Haram dengan membawa senjata dan menembak musuh.

Beberapa hari kemudian setelah peristiwa Pengepungan Mekkah, dimulailah perang Soviet melawan Afghanistan. Perang yang berlangsung selama 9 tahun tersebut dimulai pada 24 Desember 1979 dan berakhir pada 15 Februari 1989 serta meninggalkan bekas yang sangat berpengaruh pada keadaan Islam saat ini.

Perang Soviet vs Afghanistan merupakan bagian dari perang dingin antara Amerika Serikat melawan Uni Soviet, antara dua aliran besar politik saat itu, demokrasi melawan komunisme. Amerika Serikat yang enggan mengirim pasukan langsung, namun memilih membiayai kelompok-kelompok mujahidin dari Pakistan dan Kerajaan Saudi untuk membantu Afghanistan melawan Soviet. Ya senjata, ya pelatihan militer. Uniknya, termasuk dalam kelompok pendukung Afghanistan adalah mujahidin Syiah dari Iran dan mujahidin yang didukung oleh Tiongkok, berhalauan Maoisme.

Pada akhirnya Soviet kalah, Afghanistan menang, namun sayangnya Afghanistan tak pernah damai karena kelompok-kelompok mujahidin saling bersitegang berebut pengaruh satu sama lain hingga saat ini. Salah satu mujahidin alumni perang Afghanistan adalah yang kita kenal dengan nama Usamah bin Ladin.

Hadirin rahimakumullaah, seusai perang Afghanistan melawan Soviet, pada 1990 terjadi peristiwa lain yang berkaitan dengan sejarah terorisme atas nama Islam, yakni Invasi Irak ke Kuwait. Arab Saudi yang berbatasan dengan Kuwait sekaligus Irak turut khawatir invasi itu akan menguasai wilayah Kerajaan Saudi. Pada masa itu, ulama Irak mengeluarkan fatwa halal membunuh pasukan Saudi dan hal yang sama dilakukan oleh ulama Saudi, mengeluarkan fatwa halal membunuh pasukan Irak, selama dalam konteks peperangan dan mempertahankan diri.

Usamah bin Ladin yang berkebangsaan Saudi berinisiatif mengumpulkan mujahidin alumni Afghanistan dalam berbagai penjuru, hingga mendapatkan sekitar 4.000 relawan. Pasukan tak berbayar ini Usamah tawarkan kepada pemerintah Saudi untuk menangkal serangan Irak. Sayangnya, Saudi lebih percaya dengan Amerika Serikat dan Inggris, tentu saja, menolak tawaran gratis dari Usamah bin Ladin. Lebih dari itu, pada perang teluk ini, Amerika Serikat mendirikan pangkalan militer di Arab Saudi.

Sejak saat itu, Usamah bin Ladin memusuhi pemerintah Saudi, Amerika Serikat, dan sekutu-sekutunya, serta menyerang aset-aset Pemerintah Amerika Serikat, mendirikan al-Qaeda, hingga puncaknya, serangan ke World Trade Center, 11 September 2001.

Sebagai balasan atas serangan 11 September, Amerika Serikat menyerang Afghanistan. Mengapa? Karena rezim Taliban, penguasa Afghanistan pada tahun tersebut merupakan pelindung Usamah bin Ladin, sahabat yang terikat karena Perang Afghanistan melawan Soviet pada 1979-1989.

Hadirin rahimakumullaah, kelompok sempalan Islam, dengan berbagai variasi bentuk dan alasannya, namun konsisten pada halalnya kekerasan dan kekejian terus berlanjut hingga pada pendirian ISIS, Negara Islam di Irak dan Suriah. Irak belum stabil sejak menjadi sasaran serangan Amerika Serikat pada 2003 dan ketidak-puasan oposisi pada pemerintahan Suriah, menjadi medan tempur bagi ISIS. Saya tidak perlu menceritakan ruwetnya ISIS yang melawan pemerintahan Irak maupun Suriah sekaligus melawan kelompok mujahidin yang berbeda pandangan politik sembari melawan kelompok etnik Kurdi sambil melawan pasukan atau peralatan perang dari berbagai negara seperti Turki, Amerika Serikat, Prancis, dan Rusia. Keruwetan ini berkaitan dengan kekuasaan politik (kenegaraan) namun tidak berdasar pada kebangsaan (karena mayoritas berbangsa Arab). Kurang ajarnya, masing-masing kelompok mengatasnamakan Islam, mengatasnamakan sebuah agama yang secara bahasa bermakna perdamaian atau keselamatan. Benarkah Islam mengajarkan yang demikian?

Pelajaran penting bagi kita sebagai umat Islam yang berada di Indonesia di antaranya adalah:

  1. Pentingnya rasa kebangsaan dan kenegaraan.

Pelaksanaan ajaran agama membutuhkan keamanan dan stabilitas sebuah negara. Kita wajib bersyukur dengan negara bangsa Indonesia, di mana dasar negara, pondasi bangsa telah diletakkan sejak 1945. Saat ini kewajiban kita untuk menjaganya serta membangun sebuah rumah bersama bernama Indonesia. Ibadah-ibadah utama kita kepada Allaah (rukun Islam) telah dilindungi oleh negara-bangsa, tinggal bagaimana mengembangkannya kepada ibadah muamalah kepada sesama manusia, mewujudkan kesejahteraan dan kemakmuran.

  1. Umat Islam tidak bisa menghindar dari tanggung jawab pemberantasan terorisme.

Terorisme, kekejian, dan kekerasan, adalah bukan dari ajaran Islam yang sesungguhnya. Tetapi sejarah menunjukkan bahwa kelompok yang menafsirkan sebaliknya adalah nyata adanya, hidup dan berkembang, bahkan di Indonesia!

Tanggung jawab kita adalah mengkampanyekan Islam yang lemah lembut tapi tetap tegas ketika dibutuhkan, baik melalui ceramah, diskusi, tulisan, buku, video, konten media sosial lain, dan yang paling utama adalah perilaku kita sehari-hari. Termasuk memastikan kehidupan masyarakat kita di kampung-kampung masih berjalan sebagaimana mestinya, penuh dengan ketenteraman, tepa selira, peduli satu sama lain, tanpa memandang agama, suku, bahasa, maupun faktor perbedaan lain. Cukuplah alasan sebagai sesama menungsa sebagai pendorong kita untuk berbuat baik di manapun dan kapanpun.

Benar bahwa ada faktor luar yang turut menumbuh-kembangkan kelompok sempalan ini, terutama kepentingan-kepentingan berkaitan dengan urusan duniawi seperti persenjataan, minyak bumi, maupun duit, namun sungguh, sebaik-baik koreksi dan perubahan adalah ketika dimulai dari diri sendiri, umat Islam sendiri.

Kita sebagai umat Islam wajib menjaga diri sendiri, lingkungan, dan masyarakat terdekat, dari ajaran sesat ekstrim dalam beragama. Ukurannya sederhana, jika ada orang atau kelompok mengaku Islam, tetapi ajakannya untuk membenci kelompok lain, sesama Islam maupun kelompok lain di luar Islam dengan membabi buta, bahkan hingga menghalalkan darahnya, maka kelompok semacam ini wajib kita lawan, baik dengan melaporkannya kepada yang berwajib, atau jika mampu, mengajak mereka kembali ke jalan yang benar, berpindah dari tepi (ekstrim) ke tengah (moderat).

Kita tidak boleh menghakimi seseorang atau kelompok orang hanya berdasarkan cara berpakaian atau penampilan luar. Kita tidak bisa dan tidak boleh menarik kesimpulan bahwa setiap yang bercadar, berjenggot lebat, atau bercelana di atas mata kaki, selalu berkaitan dengan ekstrimisme Islam, apalagi menuduh sebagai bagian dari terorisme. Sungguh, terorisme atas nama Islam merupakan cobaan terberat dari saudara-saudara kita yang memilih demikian (celana di atas mata kaki, berjenggot lebat, dan bercadar), karena sebuah kenyataan bahwa kelompok ekstrim ini memilih cara yang sama dengan mereka dalam berpakaian dan penampilan. Hanya cara berpakaian dan penampilan luarnya saja.

Hadirin rahimakumullaah, sebagai sebuah negara bangsa yang berdaulat dan stabilitas keamanan, kita bukan hanya mampu menghidupkan ajaran agama, tapi juga mengupayakan perdamaian kepada sesama negara muslim, seperti di Tanah Suci Yerussalem atau Afghanistan.

Indonesia kita adalah negara berpenduduk muslim terbesar di dunia, namun kekuatan ekonomi, pertahanan, dan keamanannya belum bisa mengimbangi kekuatan negara besar lain, meskipun kita sudah masuk pula dalam Kelompok G-20 (20 negara terbesar dalam anggaran pemerintahannya). Faktor-faktor tersebut membuat suara negara kita memang diperhatikan, tetapi belum cukup berpengaruh. Menariknya, realitas ini tidak membuat negara kita kemudian minder. Kaidah fikih mengatakan

 photo sejarah teror-2_zpsclaobstc.png

Ketika pengaruh Indonesia yang belum sebesar negara maju, Indonesia sangat serius berikhtiar untuk mewujudkan perdamaian di mana Indonesia memiliki pengaruh lebih kuat, seperti perdamaian Rohingnya atau Afghanistan.

Pada tahun 2013 yang lalu, ada sekitar 12 ulama dari 12 suku terbesar di Afghanistan yang datang ke Yogyakarta, belajar Pancasila di UGM. Inisiasi ini terus menerus dilanjutkan dan dikembangkan hingga pada awal tahun 2018 ini Presiden Indonesia mengunjungi Afghanistan. Walaupun dua hari sebelum kehadiran Presiden terjadi pemboman di ibukota Kabul yang menewaskan 103 orang, Presiden tetap bersikeras hadir sebagai bentuk komitmen kenegaraan dengan Afghanistan sekaligus sebagai isyarat tak gentar dengan terorisme. Alhamdulillaah Presiden selamat dalam kunjungan 6 jam tersebut, sehingga beberapa pejabat pengiring Presiden bersujud syukur ketika kembali ke pesawat.

Upaya perdamaian di Afghanistan tersebut ditindaklanjuti dengan mengadakan Konferensi Ulama Tiga Negara di Bogor, 11 Mei 2018. Hadir dalam konferensi sehari ini 19 ulama dari Afghanistan, 17 ulama dari Pakistan, dan 17 ulama dari Indonesia, untuk menyusun langkah awal perdamaian di Afghanistan. Ini merupakan tahapan permulaan yang harus dipupuk dan ditumbuh-kembangkan menjadi agenda ulama di Afghanistan dan Pakistan: mengurangi kekerasan dan menegakkan musyawarah sebagai ikhtiar mencari jalan keluar.

Sekitar 10 hari sebelumnya, pada tanggal 1-3 Mei 2018, Indonesia juga menyelenggarakan Konferensi Tingkat Tinggi Islam Washatiyah, atau Islam Pertengahan, di Bogor. Konferensi ini menghadirkan seratusan ulama dari berbagai negara berpenduduk muslim, untuk membahas pentingnya sikap pertengahan sebagai upaya melawan penyelewengan Islam oleh kelompok sempalan yang menghalalkan kekerasan dan kekejian.

Hadirin rahimakumullaah, demikianlah seharusnya yang kita lakukan, kembali kepada ulama, dimulai dari ulama, para pemegang otoritas keagamaan Islam, agar bersama-sama terus menyuarakan Islam Pertengahan, Islam Washatiyah, Islam Moderat, sekaligus sebuah bentuk tanggung jawab kita sebagai umat Islam kebanyakan yang lurus dan tidak menghendaki caci maki, kekerasan, kekejian, baik dalam kata-kata maupun perbuatan.

Di Indonesia, Muhammadiyah menggunakan slogan Islam Berkemajuan, Islam yang mampu beradaptasi dengan kemajuan zaman. Sementara Nahdlatul ‘Ulama memakai semboyan Islam Nusantara, Islam yang mampu beradaptasi dengan budaya masyarakat setempat, selama tak menyimpang dari nilai ketauhidan. Keduanya, di bawah naungan negara bangsa bernama Indonesia, bersama-sama dengan umat Islam lain dan komponen bangsa lain, berhasil membentuk kesejahteraan dan kemakmuran Indonesia, meskipun belum sepenuhnya berhasil dan masih terus diperjuangkan. Namun keindahan hubungan negara, bangsa, dan agama untuk berikhtiar bersama mencapai kemashlahatan umat, patut didengungkan ke negara berpenduduk muslim lain, terutama yang masih mengalami konflik sosial-politik.

Demikianlah uraian tentang sejarah terorisme yang mengatasnamakan Islam dan bagaimana kita sebagai negara bangsa turut berupaya untuk melawannya, dengan cara yang lebih baik. Perlu menjadi catatan penting, bahwa kekerasan atas nama Islam menjadi sorotan saat ini, karena Islam adalah agama yang berkembang paling cepat sekaligus ajarannya yang meyakini sebagai penutup kenabian, memperbaiki agama-agama besar sebelumnya, terutama Yahudi dan Nasrani. Tetapi sejarah kekerasan bukanlah milik Islam sendiri. Seorang pengamat dari Kanada dalam bukunya A World Without Islam atau dalam bahasa Indonesia diterjemahkan menjadi Apa Jadinya Dunia Tanpa Islam menyatakan dalam kesimpulan di antaranya bahwa aksi bom bunuh diri akan tetap terjadi karena bukan Islam yang pertama kali melakukannya.

Semoga Allaah memudahkan kita dalam ikhtiar bersama menebarkan Islam yang ramah, penuh kasih, dan menjadi rahmat bagi semesta alam. Aamiin.

Rektor UGM: Ketakwaan dan Pendidikan untuk Kesejahteraan NKRI

“Korea yang kemerdekaannya hanya selisih beberapa hari dengan Indonesia, yang kemiskinannya saat itu hampir sama dengan Indonesia, yang kekayaan alamnya lebih sedikit dari Indonesia, saat ini lebih maju daripada Indonesia. Begitu pula dengan Singapura atau Finlandia atau Jepang. Mengapa demikian? Karena Korea, selain memiliki semangat luar biasa, juga mempunyai sistem pendidikan yang bagus dan etos kerja yang tinggi.”

Demikian sambutan Rektor Universitas Gadjah Mada (UGM), Prof. Ir. Panut Mulyono, M. Eng., D. Eng. dalam acara Buka Bersama Forum Komunikasi Dosen dan Mahasiswa Nahdlatul Ulama (NU) UGM yang diselenggarakan hari ini, 26 Mei 2018, di Masjid al-Ihsan Fakultas Kehutanan UGM.

IMG_9346

IMG20180526165612

Acara ini dihadiri pula oleh Wakil Ketua Umum Pengurus Besar NU yang juga Guru Besar Fakultas Teknologi Pertanian UGM, Prof. Dr. Ir. Mochammad Maksum Machfoedz, M. Sc., dosen, dan mahasiswa UGM, termasuk dari organisasi mahasiswa NU UGM tingkat D3 dan S1 (Keluarga Mahasiswa NU UGM atau KMNU UGM) serta tingkat S2 dan S3 (Forum Silaturahmi Mahasiswa Pasca NU UGM).

Selanjutnya Prof. Panut juga mengajak agar mahasiswa NU UGM terus menempuh pendidikan setinggi-tingginya sesuai dengan kemampuan masing-masing sekaligus memiliki determinasi, seperti konsep “PBNU” (Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, NKRI, dan UUD 1945). “PBNU” sendiri, menurut Prof. Panut, merupakan modal terbesar bagi bangsa Indonesia, sehingga masyarakat dan warga negara tinggal menjalankannya.

“Kekayaan alam bukan segalanya, tetapi pendidikanlah yang memajukan sebuah bangsa. Pendidikan sungguh bisa mengubah dunia. Ajak adik, saudara, dan teman dari pesantren untuk mendaftar ke UGM. Kita sepakat bahwa “PBNU” sudah final, walaupun masih belum sempurna pelaksanaannya. Maka menjadi tugas kalian semua di masa mendatang untuk menjalankan negara Indonesia dengan benar, agar lebih maju dan sejahtera”, kata Prof. Panut.

IMG_0020

IMG_0002

Sementara berkaitan dengan hikmah puasa, Rektor UGM mengingatkan kembali bahwa ketakwaan yang dituju dapat menyempurnakan ilmu dan pendidikan, karena ketakwaan dapat mencegah dari berbagai perbuatan tidak baik.

“Sayangnya, kita semua, kadang menilai takwa hanya sekedar dengan timbangan. Merasa berbuat baik cukup banyak, kemudian berani berbuat kurang baik dengan alasan masih berat perbuatan baiknya. Ini evaluasi kita bersama tentang kualitas ketakwaan kita.”

Sebagai penutup sambutannya, Rektor UGM yang merupakan Guru Besar Fakultas Teknik UGM juga menekankan optimismenya terhadap masa depan Indonesia.

Prof. Panut berpesan, “Saya yakin seyakin-yakinnya, masa depan Indonesia itu sangat cerah. Saya menyaksikan kebaikan, cita-cita, dan rasa persatuan yang tinggi di mata para mahasiswa. Tinggal bagaimana sikap ini menjadi dominan”.

Acara kemudian ditutup dengan doa bersama, buka puasa, dan salat Maghrib berjamaah.

IMG20180526180759

IMG_9426

Implementasi Energi Terbarukan Berbasis Komunitas

Teksnya dapat diunduh pada tautan berikut ini: TEKS

Kerusakan Lingkungan dalam Pandangan Islam

Kondisi perekonomian sebagai cerminan kondisi kesejahteraan fisik umat manusia, dalam dua abad terakhir mengalami peningkatan luar biasa. Namun demikian, kemajuan tersebut harus dibayar sangat mahal. Kualitas lingkungan hidup terdegradasi luar biasa parah. Sekitar separo hutan di muka bumi telah hilang, reduksi keanekaragaman parah terjadi di banyak tempat, air tanah terus terkuras dan terkontaminasi, polusi udara meningkat di sangat banyak tempat dan berbagai bencana serta potensi bencana lanjutan terkait perubahan iklim global terus bermunculan. Sementara itu sekitar seperlima penduduk dunia saat ini masih tetap hidup miskin. Kebutuhan untuk meningkatkan taraf hidup penduduk, termasuk lapisan miskinnya dan sekian banyak penduduk lagi yang akan lahir, menuntut berbagai kemajuan di bidang ekonomi. Jika pola pertumbuhan yang dianut saat ini terus berlanjut, maka tekanan destruktif pada daya dukung lingkungan dan ketersediaan berbagai sumber daya alam akan meningkat. Indonesia juga menghadapi masalah serupa [1].

Kerusakan lingkungan akibat perbuatan manusia, termasuk untuk kegiatan perekonomian, digambarkan dalam al Qur`an sebagai rusaknya keseimbangan. Shihab dalam menafsirkan al Qur`an surat ar-Ruum (30) ayat 41 menyatakan bahwa makna fasaad adalah keluarnya sesuatu dari keseimbangan atau lawan dari ash-shalaah yang berarti manfaat atau berguna. Sehingga ayat tersebut menggambarkan terjadinya kerusakan, ketidakseimbangan, serta kekurangan manfaat di daratan dan di lautan, yang mengarah pada kacaunya keseimbangan lingkungan. Fasaad tersebut dilakukan oleh manusia dan akan mengakibatkan siksaan kepada manusia. Semakin banyak kerusakan yang terjadi pada lingkungan, semakin besar pula dampak buruknya kepada manusia, karena Allaah SWT menciptakan semua makhluk saling kait-berkait. Timbulnya gangguan pada keharmonisan dan keseimbangan alam pasti berdampak pada seluruh bagian alam (termasuk manusia) baik yang merusak maupun yang merestui perusakan itu [2].

Perusakan lingkungan akibat kegiatan perekonomian juga dikecam dan diharamkan oleh Islam menurut penilaian Muktamar Nahdlatul ‘Ulama (NU) ke-29 di Cipasung, Tasikmalaya, pada 4 Desember 1994. Muktamar di antaranya menjawab pertanyaan dengan redaksi

Industrialisasi yang sekarang sedang digalakkan oleh pemerintah, ternyata membawa ekses yang cukup serius dan dampaknya juga merugikan kepentingan rakyat banyak, yakni biasanya hanya mengejar keuntungan sendiri, serta melupakan kewajiban untuk menangani dampak limbah yang ditimbulkan oleh pabrik. (a) Bagaimana hukum mencemarkan lingkungan? (b) Bagaimana konsep Islam dalam menangani ekses pencemaran lingkungan?

Muktamar NU menjawab

(a) Hukum mencemarkan lingkungan, baik udara, air maupun tanah, apabila menimbulkan dharar (kerusakan), maka hukumnya haram dan termasuk perbuatan kriminal (jinayat). (b) Konsepsi Islam dalam menangani ekses pencemaran lingkungan adalah: 1) apabila ada kerusakan, maka wajib diganti oleh pencemar, 2) memberikan hukuman yang menjerakan (terhadap pencemar) yang pelaksanaannya dengan amar ma’ruf nahi munkar sesuai dengan tingkatannya.

Jawaban Muktamar NU tersebut kemudian dilengkapi dengan kutipan rujukan dari 9 kitab yaitu: 1) al-Tafsir al-Kabir/Mafatih al-Ghaib (Muhammad al-Razi), 2) al-Jami’ li Ahkam al-Qur`an (Muhammad bin Abi Bakar al-Qurthubi), 3) al-Mawahib al-Saniyah Syarh al-Fawa’id al-Bahiyah (Abdullah bin Sulaiman), 4) Tabyin al-Haqa’iq Syarh Kanz al-Daqa’iq (Utsman bin Ali al-Zaila’i), 5) al-Kharraj (Abu Yusuf), 6) al-Ahkam al-Sulthaniyah (Abu Ya’la al Farra’), 7) Majma’ al-Dhamanat (Ghanim bin Muhammad al-Baghawi), 8) Mirqah Su’ud al-Tashdiq Syarh Sulam al-Taufiq (Muhammad Nawawi bin Umar al Bantani), (9) Ihya` ‘Ulum al-Diin (Abu Hamid al-Ghazaki), dan dua rujukan lain yang tidak dikutip (Hasyiyah al-Jamal, Juz V, halaman 196 dan Tafsir Ibn Katsir, Juz II, halaman 222) [3].

Tafsir al Qur`an surat ar Ruum (30) ayat 41 dan pembahasan Muktamar NU ke-29 tentang perusakan lingkungan menggambarkan konsistensi pandangan Islam tentang perekonomian, bahwa tujuan perekonomian sebagai hifdzu al-maal (perlindungan harta) demi memenuhi kemashlahatan umat tidak boleh menimbulkan kerusakan lingkungan, karena akan mengancam pada maqashid syariah lain, seperti hifdzu-n-nafs (perlindungan jiwa) dan hifdzu-n-nasli (perlindungan keturunan) [1].

Suplai dan Konsumsi Energi Indonesia: Penggerak Perekonomian

Kebutuhan energi Indonesia akan terus meningkat seiring dengan perkembangan ekonomi dan populasi. Populasi Indonesia meningkat 24,11%, dari sekitar 205 juta jiwa pada tahun 2000 menjadi 255 juta jiwa pada 2015. Peningkatan juga terjadi pada Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia yang merupakan indikator utama perekonomian. PDB Indonesia meningkat 119%, antara tahun 2000 dengan 2015, dari . Gambar 1 dan Gambar 2 menunjukkan grafik pertumbuhan populasi dan PDB Indonesia sejak tahun 2000 hingga 2015 [4].

Pada kurun waktu yang sama, pola energi Indonesia juga memiliki trend yang sama. Suplai energi meningkat 83,33% dari 726.687 SBM (2000) ke 1.332.242 SBM (2015), sedangkan konsumsi energi meningkat 63,18% dari 508.883 SBM (2000) menjadi 830.420 SBM (2015). Gambar 3 merupakan grafik pertumbuhan suplai dan konsumsi energi di Indonesia tahun 2000-2015 [4].

Apa yang Dimaksud dengan Energi Terbarukan?

Energi terbarukan (ET) secara umum didefinisikan sebagai energi yang berasal dari sumber yang terbarukan secara alami dan berkelanjutan, dengan laju yang lebih cepat dibandingkan dengan laju konsumsinya, seperti sinar matahari, angin, hujan, pasang-surut, gelombang, dan panas bumi, di mana memiliki empat fungsi khas yaitu menghasilkan energi untuk listrik, pendingin atau pemanas air dan udara, transportasi, dan jasa energi untuk wilayah terpencil [5, 6, 7, 8]. Lebih spesifik, ET dikelompokkan di antaranya menjadi bioenergi, geotermal atau panas bumi, air, laut (pasang-surut, gelombang, dan panas), matahari, serta angin [8].

ET menjadi solusi tepat untuk mengatasi pola pertumbuhan manusia dan listrik 40 tahun terakhir, di mana manusia bertambah dari 4 milyar menjadi 7 milyar dan listrik tumbuh 250% [9]. ET yang memiliki emisi karbon jauh lebih sedikit dibandingkan energi fosil (Tabel 1) juga sekaligus akan berkontribusi dalam ikhtiar global untuk membatasi peningkatan suhu global di bawah 2 °C. Laporan International Renewable Energy Agency (IRENA) pada 2015 misalnya, menunjukkan bahwa tanpa peran ET, emisi total sektor energi secara global akan 20% lebih tinggi [10].

Implementasi ET juga menimbulkan dampak positif pada pertumbuhan ekonomi karena munculnya lapangan kerja, baik langsung (direct, seperti perancangan, manufaktur, pengiriman, instalasi/konstruksi beserta manajemen dan administrasinya, serta operasional dan pemeliharaan), tidak langsung (indirect, seperti manufaktur alat dan komponen pendukung sistem ET sepanjang rantai pasoknya), maupun terikut (induced, seperti tumbuhnya aktivitas perekonomian karena adanya instalasi atau proses pengajaran teknologi ET) [12]. Memungkinkan pula bagi ET yang mampu melistriki daerah terpencil untuk meningkatkan pendapatan masyarakat setempat karena meningkatnya kemampuan mengolah sumber daya alam lokal berbasis ET atau munculnya lapangan pekerjaan baru akibat adanya akses listrik.

Secara global, lapangan kerja langsung di sektor ET menyerap 6,5 juta pekerja pada 2013; 7,7 juta pekerja pada 2014; dan 8,1 juta pekerja pada 2015 [13, 14, 15]. Jumlah ini akan terus meningkat karena nilai investasi terhadap ET diproyeksi harus meningkat hingga USD 550 Milyar per tahun untuk mencegah bencana global akibat perubahan iklim. Peningkatan investasi ini akan didukung di antaranya oleh: 1) menurunnya harga komponen ET, 2) teknologi ET yang terus berkembang efisiensinya, 3) meningkatnya pengalaman pengembang dan lembaga keuangan dalam menghitung resiko, dan 4) manfaat ET yang makin terasa secara simultan di sektor ekonomi, sosial, dan lingkungan [16].

Energi Terbarukan Indonesia: Pembangkit Listrik

Indonesia yang terletak di wilayah ekuator bumi sesungguhnya memiliki beberapa faktor pendukung pengembangan ET, di antaranya: 1) matahari bersinar sepanjang tahun, 2) tanpa musim dingin, sehingga tidak ada permintaan energi yang besar dalam bentuk panas pada musim dingin, 3) wilayah laut yang luas sebagai sumber pengembangan energi kelautan (pasang-surut atau gelombang), 4) gunung berapi dan hutan, potensi energi biomassa tumbuhan, 5) banyaknya wilayah kepulauan, potensi kemandirian energi dengan sumber daya energi lokal, dan 6) wilayah perkotaan yang padat, potensi energi sampah perkotaan.

Porsi energi nasional yang digunakan sebagai pembangkit listrik pada tahun 2015 mencapai 16,5%. Porsi ini mengalami peningkatan jika dibandingkan dengan tahun 2000 yang hanya pada angka 9,8%. Gambar 4 menunjukkan persentase porsi energi nasional yang berfungsi untuk pembangkitan listrik tahun 2000-2015 [17].

Seberapa besar peran energi terbarukan dalam pasokan listrik nasional? Data terbaru yang dirilis Direktorat Jenderal Ketenagalistrikan Kementerian ESDM RI menunjukkan kapasitas terpasang pembangkit listrik dari energi terbarukan non-bio hanya 12,4% (6.706,25 MW). Selebihnya, 44,61% (24.770,50 MW) dari batubara; 27,51% (15.275,35 MW) berbahan bakar gas; 15,65% (8.689,79 MW) merupakan pembangkit listrik dari berbagai jenis produk turunan minyak bumi; dan sisanya adalah pembangkit listrik biomassa (0,09% – 50,23 MW) dan sampah (0,06% – 36 MW). Gambar 5 menunjukkan kapasitas pembangkit listrik terpasang di Indonesia berdasarkan jenisnya [17].

Masih bersumber dari data yang sama, pada tahun 2015, energi terbarukan non-bio yang terpasang di Indonesia di dominasi oleh pembangkit listrik tenaga air dan geotermal, sisanya merupakan pembangkit minihidro, mikrohidro, tenaga surya (PLTS), dan tenaga angin (PLT-Bayu). Kapasitas pembangkit listrik tenaga air mencapai 5.079,06 MW (75,74%) dan panas bumi berada pada angka 1.435,40 MW (21,40%). Sedangkan kapasitas terpasang minihidro, mikrohidro, PLTS, dan PLT-Bayu berturut-turut adalah 151,18 MW (2,25%); 30,46 MW (0,45%); 9,02 MW (0,13%); dan 1,13 MW (0,02%). Persentase kapasitas pembangkit energi terbarukan non-bio ditampilkan secara grafis pada Gambar 6 [17].

Perlu menjadi catatan penting, bahwa kapasitas terpasang atau daya terpasang dalam bahasa awam dapat disebut sebagai potensi energi, bersatuan Watt. Sebuah pembangkit mampu memproduksi energi jika ia menyala dalam kurun waktu tertentu, satuannya dinyatakan dalam Watt jam atau dikenal Watt hour. Listrik PLN misalnya, tarifnya dibayar per kWh, per kilo-Watt hour, per kilo-Watt jam, atau setiap listrik senilai 1.000 Watt jam. Sebuah televisi dengan daya 150 Watt, misalnya, jika dinyalakan satu jam bermakna akan menghabiskan listrik sejumlah 150 Watt jam, dan seterusnya.

Artinya, kapasitas terpasang pembangkit listrik tidak menjamin tersedianya listrik, kecuali pasokan bahan bakarnya berlangsung secara kontinyu. Rantai pasok batubara dan berbagai produk turunan minyak bumi memiliki peran penting, terutama bagi pembangkit listrik di wilayah terpencil. Beberapa pengelola pembangkit memiliki SOP yang jelas untuk mencegah terhentinya pasokan bahan bakar akibat kendala transportasi, meskipun menimbun bahan bakar juga berkonsekuensi pada biaya pergudangan dan lingkungan yang tak sedikit.

Sementara pembangkit energi terbarukan bertenaga air memiliki masalah tentang kurangnya debit air, baik akibat sedimentasi pada bendungan (untuk PLTA), maupun kurangnya pasokan air di musim kemarau (untuk minihidro dan mikrohidro). Kendala pada PLTS dan PLT-Bayu, masing-masing terletak pada pasokan sinar matahari yang kurang karena mendung serta hembusan angin yang tak berlangsung sepanjang 24 jam.

Kapasitas energi terbarukan di Indonesia akan terus ditingkatkan oleh para pemangku kepentingan nasional, mengingat Peraturan Pemerintah Nomor 79 Tahun 2014 tentang Kebijakan Energi Nasional mengamanatkan suplai energi terbarukan harus mencapai persentase 23% pada 2025 dan 31% pada 2050.

Rasio Elektrifikasi

Akses listrik masyarakat dinyatakan dalam sebuah rasio elektrifikasi, yakni perbandingan antara rumah tangga yang telah memiliki akses listrik dengan rumah tangga secara keseluruhan. Hingga akhir tahun 2015, rasio elektrifikasi Indonesia mencapai angka 88,30%, dengan rincian 56,6 juta pelanggan PLN dan 1,37 juta berlistrik non-PLN, dari total 65,67 juta rumah tangga di seluruh Indonesia. Rasio elektrifikasi pada akhir 2015 tersebut juga berarti masih ada sekitar 7,6 juta kepala keluarga yang belum menikmati listrik sama sekali. Lebih dari itu, jika ditinjau dari rasio elektrifikasi di setiap provinsi, terdapat variasi nilai sebagai berikut: 1) 90-an persen, 9 provinsi, 2) 80-an persen, 15 provinsi, 3) 70-an persen, 6 provinsi, 4) 60-an persen, 2 provinsi, 5) 50-an persen, satu provinsi, dan 6) 40-an persen satu provinsi [17].

Pemerintah optimis tahun 2016 rasio elektrifikasi nasional dapat mencapai angka 90-91 persen, karena harus mengejar target rasio elektrifikasi minimal 99,5% pada 2019. Optimisme ini muncul, merujuk pada kinerja 2014 dan 2015 yang mampu melampaui target. Pemerintah pada 2014 menargetkan 84,3% yang ternyata terwujud hingga 87,5%, dan pada 2015, dari target 87,5% dapat terealiasasi hingga 88,3% [18].

Energi Terbarukan untuk Kemandirian Desa: KEMALA

Pada tanggal 24 Juni 2016, Konsorsium untuk Energi Mandiri dan Lestari (KEMALA), menandatangani perjanjian hibah PSDABM (Pengelolaan Sumber Daya Alam Berbasis Masyarakat) dengan Millenium Challenge Account Indonesia (MCAI). KEMALA merupakan konsorsium yang dipimpin oleh Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Masyarakat Nahdlatul ‘Ulama (Lakpesdam-PBNU) yang beranggotakan Pusat Studi Ekonomi Kerakyatan UGM (PUSTEK UGM), Pusat Studi Energi UGM (PSE UGM), dan Center For Civic Engagement and Studies (CCES atau Pusat Kajian dan Penguatan Kewargaan).

Hibah PSDABM yang diterima Konsorsium Kemala bertajuk Peningkatan Pendapatan Rumah Tangga Miskin melalui Usaha Hijau yang Didukung oleh Energi Terbarukan yang berlokasi di Kabupaten Tanjung Jabung Timur, Provinsi Jambi (dua desa) dan Kabupaten Solok Selatan, Provinsi Sumatera Barat (satu jorong).

Hibah ini merupakan ikhtiar nyata NU dan UGM untuk memadukan kemampuan kedua lembaga besar ini: NU dan CCES dengan basis pengelolaan komunitas yang partisipatif dan advokasinya, serta UGM dengan kemampuan pengelolaan teknologi energi terbarukan dan pengembangan perekonomian kerakyatannya.

Energi terbarukan dalam hibah ini merupakan pembangkit listrik tenaga surya yang akan digunakan sebagai pemicu peningkatan kualitas hidup masyarakat setempat dengan akses energi rendah emisi karbon, di antaranya melalui, 1) penerangan pada malam hari, 2) energi untuk mengelola komoditas perekonomian lokal (peningkatan nilai tambah komoditas kopi, jagung, pisang, dan ikan), serta 3) energi untuk penyediaan air bersih melalui pompa air bertenaga surya.

Implementasi energi terbarukan ditargetkan akan menumbuhkan lapangan pekerjaan (green jobs), peningkatan pengetahuan administrasi dan keuangan, peningkatan waktu belajar di malam hari, dan peningkatan kualitas kesehatan akibat ketersediaan air bersih. Beberapa green jobs yang ditargetkan muncul di antaranya adalah 1) pekerjaan lokal untuk mendukung pelaksanaan hibah, 2) lembaga pengelola administrasi dan keuangan sistem energi, 3) personel operasional dan pemeliharaan, dan 4) pengelolaan komoditas lokal beserta rantai produksi, distribusi, dan pemasarannya.

Sementara sebagai salah satu strategi peningkatan kapasitas, KEMALA akan membentuk Sekolah Hijau yang terdiri dari tiga tahapan pembelajaran yaitu, pendidikan dasar (peningkatan wawasan dan karakter individu), pendidikan menengah (keterampilan dan penguatan kelembagaan), serta pendidikan lanjut (penguatan jaringan dan pemasaran). Peserta Sekolah Hijau nantinya adalah masyarakat desa berbagai lapisan dan profesi dengan afirmasi peserta dari penduduk miskin dan kelompok perempuan.

Membangun Kesadaran akan Kemandirian

Kendala elektrifikasi yang paling nyata dihadapi adalah masalah akses menuju konsumen listrik, sehingga meningkatkan biaya konstruksi infrastruktur distribusi listrik. Wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) yang belum memiliki listrik mayoritas terletak di sekitar kawasan pantai Gunungkidul atau pegunungan di Kulon Progo. Kondisi topografi dan jauhnya dari pemukiman lain, menjadikan PLN harus merogoh koceknya cukup dalam jika ingin melistriki wilayah tersebut.

Sama halnya dengan lokasi di program KEMALA. Satu lokasi di Sumatera Barat harus ditempuh selama dua jam dari ibukota Solok Selatan, meskipun jarak horizontalnya hanya 25 km. Sementara dua desa lokasi program di Jambi, hanya bisa ditempuh dengan menggunakan kapal motor kecil. Keterbatasan akses tersebut berkonsekuensi pada banyak hal, seperti akses pendidikan yang terbatas, ketergantungan pada pasokan minyak diesel atau bahkan memilih untuk tidak memiliki listrik sama sekali, serta munculnya tambahan waktu dan biaya untuk setiap kebutuhan yang dibeli dari luar desa/jorong. Khusus dua desa di Jambi yang berada di tepi sungai Batanghari, lokasi ini memiliki masalah tahunan berupa banjir sekaligus masalah harian berupa air bersih MCK yang diambil dari sungai dan air minum kemasan galon yang dibeli dari luar desa. Kesimpulannya, masalah utama masyarakat di lokasi program adalah kemiskinan.

Pada awal November 2016, sebagai bagian dari kegiatan hibah, KEMALA mendatangkan 12 orang  dari lokasi program ke Yogyakarta selama lima hari dalam kegiatan bertajuk Green Visioning atau pembangunan visi hijau masyarakat, sebagai awal pembentukan Komunitas Belajar Sekolah Hijau. Kegiatan ini di antaranya adalah kunjungan ke Desa Nglanggeran di Gunungkidul yang sukses dengan kemandirian desanya di bidang wisata, pertanian, perkebunan, dan peternakannya, secara integral, serta Dusun Banyumeneng di Panggang, Gunungkidul yang berhasil dalam membangun komunitas pengelolaan air bersih berbasis PLTS-nya. Selain itu, 12 orang inilah yang akan menjadi Kader Hijau di tingkat desa/jorong, sebagai penggerak dan motivator bagi masyarakat desa/jorong untuk mencapai kemandirian desa/jorong secara bersama-sama. Tujuan besar yang sesungguhnya adalah membangun visi masyarakat, melalui masyarakat, yang nantinya manfaatnya juga langsung akan dirasakan oleh masyarakat sendiri.

Salah satu kesan yang ditangkap oleh KEMALA setelah kegiatan Green Visioning adalah adanya semangat yang luar biasa dari Kader      Hijau untuk belajar dan menambah wawasan serta melakukan kontekstualisasi pada daerahnya masing-masing. Hanya saja, selama ini kurangnya wawasan, pengetahuan, teknologi, dan pendampingannya telah meredupkan semangat bagi masyarakat untuk berbenah ke arah yang lebih baik. Lebih dari itu, Sekolah Hijau juga ditargetkan untuk mampu berkontribusi dalam meningkatkan kapasitas masyarakat, menggugah kesadaran tentang adanya potensi sumber daya lokal, dan mengelolanya untuk meningkatkan pendapatan masyarakat.

Dalam mengembangkan kemandiriannya, desa atau komunitas lokal di tingkat masyarakat tidak bisa dimaknai berdiri sendiri di dalam siklus tertutup di tingkat lokal. Justru desa harus bekerjasama secara sinergis dan integral dengan desa-desa lain untuk saling memenuhi kebutuhan, saling memanfaatkan dalam arti yang positif. Begitu pula dengan pemerintah desa yang memiliki wewenang pemanfaatan anggaran dana desa (dari APBN dan APBD), sangat berpeluang mengalokasikan dana pemberdayaan masyarakat untuk mengelola komoditas lokal. Sementara pemerintah kabupaten dan provinsi melalui SKPD harus turut mendorong kemandirian desa lewat alokasi dana di APBD: bukan memberi ikan, tetapi justru memberi pancing dan mengajarkan cara memancingnya. Konsekuensi logisnya juga sangat positif, yakni adanya keterlibatan langsung masyarakat dalam menyusun program pembangunan desa sekaligus pelaksanaan dan pengawasan penggunaan anggarannya.

Pembangunan dari desa merupakan solusi riil kemandirian Indonesia, sebagai perwujudan cita-cita para pendiri bangsa saat mendeklarasikan NKRI: memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial. Semoga Allaah SWT memudahkan ikhtiar kita.

 

REFERENSI

  1. Budiarto, R.; Wardhana, A. R.; Prastowo, A. R. (2016). Implementation of Islamic Economics in Indonesia by Developing Green Economics Through Renewable Energy Technologies, 1st Gadjah Mada International Conference on Islamic Economic and Development, Yogyakarta
  2. Shihab, Q. (2003). Tafsir Al-Mishbah – Pesan, Kesan, dan Keserasian Al-Qur`an Volume 11, Lentera Hati, Jakarta
  3. Tim Lajnah Ta’lif wan Nasyr (LTN) PBNU (2011). Ahkamul Fuqaha – Solusi Problematika Aktual Hukum Islam – Keputusan Muktamar, Munas, dan Konbes Nahdlatul Ulama (1926 – 2010 M), Khalista, Surabaya
  4. Kementerian ESDM RI (2016). Handbook of Energy & Economic Statistics of Indonesia 2016, Jakarta
  5. Omar Ellabban, Haitham Abu-Rub, Frede Blaabjerg (2014). Renewable energy resources: Current status, future prospects and their enabling technology. Renewable and Sustainable Energy Reviews 39, 748–764, 749, doi:10.1016/j.rser.2014.07.113
  6. REN21 (2010). Renewables 2010 Global Status Report, hlm. 15
  7. http://www.iea.org/topics/renewables/, diakses pada 1 Juni 2016
  8. IRENA (2009). Statute of The International Renewable Energy Agency (IRENA), hlm. 4-5.
  9. IRENA (2014). REthinking Energy 2014, hlm. 12.
  10. IRENA (2015). REthinking Energy 2015, hlm. 11.
  11. Lenzen, M. (2009). Current state of development of electricity-generating technologies, The University of Sydney
  12. Wei, M, Patadia, S., and Kammen, D.M. (2010). Putting renewables and energy efficiency to work: How many jobs can the clean energy industry generate in the US?, of Energy Policy, Vol. 38, hlm. 919 – 931
  13. IRENA (2014). Renewable Energy and Jobs – Annual Review 2014
  14. IRENA (2015). Renewable Energy and Jobs – Annual Review 2015
  15. IRENA (2016). Renewable Energy and Jobs – Annual Review 2016
  16. IRENA (2014). REthinking Energy 2014, hlm. 12-17
  17. Kementerian ESDM RI, Dirjen Ketenagalistrikan (2016). Statistik Ketenagalistrikan 2015 – Edisi No. 29 Tahun Anggaran 2016, Jakarta
  18. http://m.liputan6.com/bisnis/read/2497279/esdm-optimistis-rasio-elektrifikasi-2016-lampaui-target, diakses pada 30 November 2016
  19. Lenzen, M. (2009).Current state of development of electricity-generating technologies, The Universityof Sydney

Sugeng Tindak Gusti Joyo – Selamat Jalan Gusti Joyo

Gusti Joyo, demikian masyarakat akrab memanggil beliau. Saya belum pernah ngobrol dengan beliau, tapi salaman setidaknya dua kali saya pernah.

Pertama saat masjid dekat rumah -yang masih termasuk masjid milik Kasultanan Ngayogyakarta- menjadi tuan rumah untuk Majelis Bukhoren Kasultanan Ngayogyakarta.

Majelis Bukhoren adalah majelis di mana kyai se-DIY (biasanya offical dari PCNU) datang ke masjid yang telah ditunjuk, kemudian ratusan ulama ini tadarus Shahih Imam Bukhari (Shahih Bukharinya sudah dibagi-bagi menjadi beberapa kitab-kitab tersendiri). Sesudah selesai kemudian dibukalah dialog antar-kyai dengan membahas bagian yang tadi sempat terbaca untuk didiskusikan.

Baru kemudian sambutan dari Gusti Joyo selaku penyelenggara yang isinya menjelaskan budaya, simbol, dan tradisi yang Islami yang ada dan selama ini dijalankan oleh Kasultanan Ngayogyakarta.

Majelis Bukhoren kemudian ditutup dengan 5 kali doa, yang dibaca oleh wakil kiai dari 4 kabupaten dan 1 kota (5 daerah setingkat kabupaten di DIY). Uniknya, kiai dari masing-masing daerah ini mempunyai perbendaharaan doa yang berbeda.

Kesempatan kedua (dan mungkin ketiga dan keempat) saya bersalaman dengan Gusti Joyo adalah di Majelis Ahad Pon (kalau saya tidak salah ingat) di Masjid Panepen Kasultanan Ngayogyakarta.

Majelis ini merupakan majelis para takmir Masjid Kagungan Dalem di seluruh wilayah DIY. Acaranya sederhana, doa penutup khataman (semalam sebelumnya di Masjid Panepen ada yang memulai khataman), shalat zhuhur berjamaah, kemudian makan siang disambi mendengarkan sambutan dari Gusti Joyo dan taushiah dari ulama yang ditunjuk.

Uniknya adalah saat shalat zhuhur berjamaah. Mbah Kyai Aly As’ad mendorong Gusti Joyo agar ngimami (sebagai shahibul bayt), tapi sambil tersenyum Gusti Joyo gantian mendorong Mbah Aly As’ad untuk maju mengimami. Agaknya Gusti Joyo merasa bahwa urusan agama ya tetep kyai yang harus di depan.

Gusti Joyo telah tiada, tapi semangat beliau seorang pendakwah, cinta majelis ta’lim dan dzikir, serta dekat dengan kiai dan pesantren harus kita tiru. Apalagi, dakwah dan kedekatan Gusti Joyo tersebut -saya berprasangka baik- sangat ikhlas, karen dijalani justru setelah beliau berhenti dari politik.

Sugeng tindak Gusti Joyo! Semoga rahmat Allaah Ta’aala selalu bersama panjenengan dan peran panjenengan dalam dakwah Islamiyah di Kasultanan dan wilayah DIY insya-Allaah akan menjadi wasilah bg jalan terang panjenengan di akhirat. Aamiin, Allaahumma aamiin.

Khushushan ilaa ruuhi Gusti Bendoro Pangeran Haryo Haji Joyokusumo bin Sri Sultan Hamengkubuwono IX, al-Faatihaah…

CAM00003

CAM00002

 

*keterangan foto: undangan majelis bukhoren untuk takmir masjid deket rumah, Masjid Kagungan Dalem Blunyah Gede

Mahasiswa NU di Kampus Umum: Paripurna Persiapannya

Tulisan ini adalah penulisan ulang sambutan lisan yang saya sampaikan pada pemberangkatan rombongan KMNU UGM yang berziarah ke waliyullaah di Jawa Tengah, Jumat 11 November 2011.

Saya kaget saat kemarin mendengar berita tentang seorang Harry Tanoesoedibjo yang menyatakan diri bergabung dengan Partai NasDem. Artinya NasDem sudah mempunyai empat corong media, Metro TV, Global TV, RCTI, dan MNC TV. Pak Aburizal Bakrie ada dua TV, ANTV dan TV One. Pak SBY, setahu saya masih didukung oleh Pak Chairul Tanjung melalui Trans TV dan Trans 7-nya. Pada Pemilu 2009 kemarin nampak sekali keberpihakannya. Sedangkan SCTV sendiri sekarang memiliki 84% saham di Indosiar, yang keberpihakan politiknya menurut saya pribadi belum begitu nampak arahnya.

Pertanyaannya, di mana media yang menyiarkan suara-suara NU? Alhamdulillaah Gus Mus dan Kang Aqil Siradj sudah kersa menggunakan twitter dan facebook. Begitupun dengan PBNU yang gencar menggunakan internet sebagai media penerbitan berita-berita ke-NU-an. Namun itu kan masih kurang. Padahal media massa adalah salah satu pembentuk opini publik yang paling efektif.

Nah, sebelum melanjutkan ke pembahasan masalah media, saya ingin mengatakan bahwa kita adalah salah satu generasi bangsa yang terbaik. Kita adalah umat NU, Nahdlatul ‘Ulama, yang sudah seharusnya kuat iman dan takwa, luas dan dalam pengetahuan keberagamaannya, pintar ilmu akhiratnya. Di sisi lain, kita juga adalah cendekiawan di berbagai bidang keilmuan, dari berbagai kampus. Ada UGM, UNY, UIN, UII, AMIKOM, Kedokteran, Pertanian, Teknik, MIPA, Komunikasi, Politik Pemerintahan, Biologi, dan lain-lain. Ilmu akhirat bisa, ilmu dunia kita juga bisa. Apa yang belum kita punya?

Banyak para pembesar kita bagus keilmuannya, bagus pengetahuan agamanya. Tapi nyatanya banyak pula yang terjerat integritasnya, sebagaimana kita saksikan di media: korupsi, suap, dan semacamnya yang masih merajalela.

Maka, KMNU UGM adalah wadah yang tepat bagi kita untuk menguatkan sisi keagamaan kita, sisi spiritual kita. Ziarah Waliyullaah Jawa Tengah ini adalah salah satu contohnya. Menempa iman dan takwa. Mempertebal kesungguhan dalam beragama. Mendekatkan diri kepada Allaah Ta’aala, agar menjadi hamba-Nya yang paripurna imannya. Menjaga idealisme dalam kebaikan dan kebenaran agar senantiasa kokoh di dalam jiwa raga kita.

Di sisi yang lain, kita semua yang berasal dari berbagai kampus, UGM, UNY, UIN, UII, AMIKOM. Dari beragam jurusan, berbagai program studi, berbagai bidang keilmuan, mari tekuni dengan sempurna bidang keilmuan kita masing-masing, sehingga mencapai derajat seorang pakar.

NU sebenarnya tidak pernah kekurangan ahli dan pakar di semua bidang keilmuan, hanya saja kemampuan manajerial kita memang masih lemah. Buktinya, saat ini setidaknya ada 118 kader muda NU lintas ilmu. NU-nya membawa konsekuensi iman-takwa, penguasaan nilai spiritual dan ranah akhirat. Kampus dan jurusannya membawa konsekuensi kepakaran, seorang cendekiawan di ilmu dan ranah keduniaan. Katakanlah, kader yang seimbang dunia-akhiratnya. Hanya saja NU belum mampu mengaturnya. Ya, kemampuan manajerial kita masih kurang.

Kesempatan berhimpun di KMNU ini adalah untuk memoles dua sisi kehidupan kita agar menjadi semakin sempurna. Bidang keagamaan diasah, bidang keilmuan kampus tetap dikejar. Bonusnya adalah insya-Allaah kita semua secara otomatis akan menciptakan jaringan kebajikan yang saling menguatkan satu dengan yang lainnya, saling mengingatkan satu dengan yang lainnya.

Kalau NU sampai sekarang belum mempunyai media untuk menyuarakan aspirasi dan prestasinya, maka menjadi tugas kitalah untuk mengisinya. Bagi yang ahli menulis, mari suarakan aspirasi dan prestasinya lewat tulisan. Bagi yang sering berprestasi, marilah berprestasi. Mari kita isi media dengan suara kita, suara aspirasi warga NU.

Kita berasal dari banyak daerah. Jawa Barat-Tengah-Timur, Jakarta, Sumatera, Kalimantan, dan wilayah-wilayah nusantara lain. Kelak, kita yang insya-Allaah paripurna kesungguhannya dalam menjaga keseimbangan keilmuan dunia-akhiratnya, mau beraksi, berbuat, dan bekerja di lingkungan kehidupan kita. Mau berprestasi di masyarakat sekitar kita, maka siapapun Presidennya, siapapun menterinya, siapapun gubernur, bupati, atau walikotanya, masyarakat tetap akan selalu tersenyum bahagia karena sentuhan hati dan tangan kita, atas nama pribadi masing-masing, atas nama NU.

Saya beri contoh. Di majalah Energi edisi Okober 2011, ada satu artikel menarik berjudul “Kiai Nyamplung”. Seorang kiai yang pernah nyantri di Pesantren Ciganjurnya Gus Dur, sukses membuat usaha biodiesel, solar yang berasal dari biji buah nyamplung. Beliau mendirikan laboratorium di Bantul dan Kebumen, sekaligus membeli biji nyamplung di sepanjang Kebumen sampai Kroya. Hasilnya, bermanfaat bagi para petani yang dibeli nyamplung-nya, bermanfaat bagi orang banyak karena menghasilkan solar yang hijau alias ramah lingkungan.

Contoh prestasi yang membawa manfaat nyata dari sang Kiai Nyamplung. Namun sayang kurang terekspos karena keterbatasan kita sebagai warga NU ke media massa yang besar.

Benar adanya, kita harus menjaga nilai-nilai tradisi sunnah yang sering sekali keliru dianggap bid’ah. Benar adanya, kita harus melestarikan ziarah dan maulid, tahlil dan wirid, serta shalawat. Tapi tugas kita yang lebih mulia, sebagai bentuk tanggung jawab mengemban ilmu umum adalah menggunakan ilmu tersebut untuk kemaslahatan umat. Bermanfaat bagi umat akan lebih menyentuh mereka, sebagaimana dakwah NU yang selama ini memang menyentuh hati umat, bil hikmah wa ma-u-izhatil hasanah.

Media bukanlah tujuan, tetapi alat kita untuk menyuarakan aspirasi dan prestasi, agar mampu menjadi energi pendorong bagi diri kita untuk terus menerus beraksi, bertindak, dan berbuat demi kemaslahatan umat, bermanfaat bagi orang lain. Mari berprestasi untuk masyarakat, atas nama pribadi dan NU, demi kejayaan Indonesia.

Sekali lagi, mari berziarah sebagai upaya spiritual kita, yang sesudahnya nanti untuk tetap berhimpun di KMNU agar menjaganya tetap bersemayam di dalam diri kita. Kemudian dengan tetap tekun menempuh bidang keilmuan kita hingga mencapai maqam pakar keilmuan. Maka paripurnalah persiapan kita untuk menjadi generasi muda NU yang siap terjun ke masyarakat nusantara Indonesia. Insya-Allaah.