Uraian tentang Kebaikan

Di dalam ajaran Islam, dikenal terminologi birr atau kebajikan, sebagaimana kita sering mendengar istilah birrul-walidayn, berbuat baik kepada kedua orang tua atau berbakti kepada kedua orang tua. Kebajikan atau birr pengertiannya mencakup semua kebaikan. Bahkan sesuatu yang sederhana, seperti ucapan baik dan wajah berseri.

Ucapan yang baik akan mengarah pada tindakan yang baik. Sementara menampakkan wajah berseri ketika bertemu teman dan kerabat adalah tanda kebajikan. Sikap yang demikian, yakni mengucapkan tentang kebaikan dengan cara yang baik serta menampakkan wajah yang berseri, akan dapat menarik hati, menanamkan kecintaan dan kasih sayang, dan menumbuhkan ketenangan. Berbeda dengan ucapan kasar dan muka masam, dua hal ini tidak disukai dan dijauhi semua orang. Maka sungguh, bahwa Islam adalah ajaran yang mengajak semua orang menuju pada kebaikan.

Hadirin rahimakumullah. Islam mengajarkan kita berbicara dengan baik dan menampakkan wajah berseri ketika bertemu dengan orang-orang terkasih. Cara ini berguna untuk menebarkan dakwah Islam di kalangan semua orang dan menumbuhkan rasa cinta kepada sesama. Allaah SWT memerintahkan di dalam surah al-Hijr ayat 88,

 photo uraian kebaikan - 1_zpskm3yrsjy.png

Kata janaaha pada mulanya berarti sayap. Penggalan ayat ini mengilustrasikan sikap dan perilaku seseorang seperti halnya seekor burung yang merendahkan sayapnya pada saat ia hendak mendekat kepada pasangannya. Begitu pula saat melindungi anak-anaknya, dengan sayapnya yang dikembangkan dengan merendah dan merangkul, tidak beranjak dari tempatnya berada hingga bahaya yang mengancam anak-anaknya telah berlalu.

Gambaran ini membawa ayat wakhfidl janahaka lil-mu’miniina, rendahkanlah sayapmu kepada orang-orang mukmin, dapat dimaknai agar mewujudkan kerendahan hati, hubungan harmonis, perlindungan, dan ketabahan bersama kaum beriman, khususnya pada kondisi sulit dan krisis.

Sikap baik ini ditekankan pula tentang bagaimana seorang utusan Allaah SWT menjalankan tugas kerasulannya. Allaah SWT berfirman di dalam surah ‘Ali Imron ayat 159,

uraian kebaikan - 2

Selain menggambarkan tentang watak utusan Allaah Ta’aala yang harus penuh kelembutan baik hati maupun perilakunya, ayat ini juga menunjukkan adanya pendidikan langsung dari Allaah Ta’aala kepada Nabi Muhammad SAW. Allaah SWT mendidik langsung dengan menghilangkan faktor-faktor yang memengaruhi terbentuknya kepribadian seorang manusia.

Ayah Nabi Muhammad SAW wafat sebelum Nabi lahir dan dibawa jauh dari ibu beliau sejak kecil untuk disusukan. Nabi Muhammad SAW tidak mampu membaca dan menulis dan hidup di masyarakat yang belum begitu maju jika dibandingkan dengan peradaban di sekitar jazirah arab yang sudah maju pada masa itu, seperti munculnya peradaban dengan pemerintahan kerajaan di Persia dan Romawi.

Maka sesungguhnya, Allaah takdirkan hilangnya empat faktor yang biasanya mendidik manusia dari Nabi Muhammad SAW, yakni ayah, ibu, bacaan, dan lingkungan. Hampir tidak ada yang menyentuh kehidupan Nabi Muhammad SAW dari keempat faktor pendidikan tersebut. Namun, perangai seorang Nabi Muhammad SAW tetap penuh dengan keluhuran, penuh dengan kebajikan, penuh dengan kelembutan, baik di hati maupun di perilaku. Inilah yang dimaksud dalam ayat fabimaa rahmatim-minallaah linta-lahum, maka disebabkan rahmat dari Allaah-lah, engkau berlaku lemah-lembut terhadap mereka.

Kondisi Nabi Muhammad yang dididik langsung dari Allaah juga ditekankan kemudian dalam ayat walaw kunta fazh-zha ghalizhal-qalbi, sekiranya engkau bersikap keras lagi berhati kasar, di mana Allaah gunakan redaksi berupa pengandaian bersyarat yang tidak mungkin terwujud dengan menggunakan kata law atau diartikan sebagai sekiranya. Artinya, sikap keras dan hati kasar tersebut hanyalah pengandaian yang tak mungkin terwujud dari sosok seorang Nabi Muhammad SAW. Inilah wujud pendidikan dari Allaah SWT.

Kemudian dari ayat ini pula, Allaah Ta’aala mengingatkan umat manusia tentang kesatuan hati dan perbuatan. Bahwa Nabi Muhammad SAW adalah manusia yang penuh kebaikan, luar maupun dalam: yang tampak dari luar, yakni tidak berlaku keras sekaligus, tidak berhati kasar, yaitu sesuatu yang tersembunyi di dalam diri seorang manusia. Sehingga nasihatnya adalah jangan setengah-setengah dalam berbuat baik: bukan menjadi seorang yang berlaku keras walaupun sesungguhnya berhati lembut dan bukan pula menjadi seseorang yang hatinya lembut tetapi tak mengerti sopan santun sehingga keras perbuatan lahirnya. Inilah teladan dari seorang Nabi Muhammad SAW, bersungguh-sungguh dalam mewujudkan kebaikan, di hati maupun di lisan dan perbuatan.

Hadirin rahimakumullaah, demikian pula dengan anjuran dalam banyak hadits Nabi Muhammad SAW yang sejalan dengan perintah berbuat baik dari al-Qur’an. Hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim, dari ‘Adiy bin Haatim, misalnya, Nabi Muhammad SAW bersabda,

uraian kebaikan - 3

Hadits ini menganjurkan amalan sekalipun hanya bisa sedikit. Allaah Ta’aala memastikan bahwa sebuah kebaikan akan mendapatkan balasan, sekecil apapun kebaikan tersebut,

uraian kebaikan - 3B

Begitu pula dengan berbicara dengan lembut, termasuk sebagai sedekah yang mendatangkan pahala. Sebab, ucapan yang lembut menunjukkan rasa hormat dan menghargai kedudukan orang lain. Kata-kata yang baik dapat menghilangkan dendam dan kebencian dalam jiwa. Nabi Muhammad SAW, diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim dari Abu Hurairah RA, pernah bersabda,

 photo uraian kebaikan - 4_zpsfcphxslo.png

Demikian juga dengan senyuman, keceriaan, ucapan lembut dan baik, semua merupakan sedekah, bagaikan bersedekah harta. Imam Muslim meriwayatkan ucapan Nabi Muhammad SAW yang bersumber dari Abu Dzarr RA,

uraian kebaikan - 5

Kebaikan dalam hadits ini bermakna sesuatu yang dianggap baik menurut ajaran Islam dan didukung akal sehat. Adapun dengan wajah ramah atau wajah berseri-seri adalah menampakkan kegembiraan, penuh toleransi, dan senang bertemu orang lain. Ekspresi seperti ini dapat menanamkan rasa cinta dan kasih sayang dalam hati.

Al-Qur`an membandingkan dampak perkataan baik di tengah masyarakat, sebagaimana Allaah firmankan di dalam surah Ibrahim ayat 24-26,

uraian kebaikan - 6

Para ulama tafsir memaknai kalimat yang baik yang diumpakan pohon tersebut adalah kalimat tauhid, yakni kalimat laa-ilaaha-illa-Llaah, tiada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allaah SWT. Inilah kalimat kesaksian kita kepada Allaah Ta’aala.

Ketika keimanan kepada Allaah Ta’aala mewujud di dalam hati, maka sudah seharusnya rukun iman pun turut mewujud: keimanan akan malaikat-malaikat Allaah, kitab-kitab Allaah, para utusan Allaah, takdir dan ketentuan Allaah, serta Hari Pembalasan. Keimanan yang sempurna adalah iman yang diikuti dengan keislaman.

Tentu saja bukan sekedar dalam batasan Rukun Islam yang lima, yakni dua kalimat kesaksian, salat lima waktu, puasa, zakat, dan haji; tapi juga islam dalam makna kedamaian dan keselamatan: yakni bagaimana diri kita mampu mendatangkan keduanya seiring dengan perjalanan kehidupan kita. Bahwa kehadiran kita adalah kedamaian bagi diri sendiri dan orang lain, bahwa lisan kita adalah keselamatan bagi diri sendiri dan orang lain, bahwa perbuatan kita adalah kelembutan bagi diri sendiri dan orang lain.

Hadirin rahimakumullaah, di surah al-‘Alaq ayat kedua Allaah berfirman, khalaqal insaana min ‘alaq, yang menciptakan manusia dari ‘alaq. ‘Alaq dapat dimaknai sebagai segumpal darah atau dapat pula dimaknai sebagai sesuatu yang bergantung di dinding rahim. Pengertian ini membawa makna akan satu di antara sifat-sifat dasar manusia: bergantung menunjukkan kebutuhan kepada orang lain. Kebutuhan kepada Allaah Ta’aala jelas nyata, tapi kebutuhan kepada sesama manusia juga ada. Allaah sampaikan firman ini setelah memerintahkan kita membaca, iqra` bismirabbikalladzi khalaq, bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu yang mencipta, kemudian ayat khalaqal insaana min ‘alaq.

Maknanya: iqra`, bacalah, yakni manfaatkanlah ilmu pengetahuan dan teknologi, tapi ingatlah, bismirabbikalladzi khalaq, dengan menyebut nama Tuhanmu yang mencipta, bahwa semua harus diliputi suasana ingat kepada Tuhan, sehingga kemanfaatan ilmu pengetahuan dan teknologi tersebut haruslah kembali kepada kemakmuran manusia karena khalaqal insaana min ‘alaq, diciptakan dari sesuatu yang bergantung di dinding rahim, karena sesama manusia saling membutuhkan satu sama lain.

Maka, mari kita tegakkan kalimat tauhid dengan sebenarnya, yakni bukan sekedar mengucapkannya bagi diri sendiri atau bahkan justru beralih untuk menebar teror dan ketakutan bagi orang lain, tapi menyempurnakannya dengan keislaman, yakni menjalani perintah agama dengan sesungguh-sungguhnya, agar terwujud keselamatan, kedamaian, dan kebaikan di muka bumi karena kehadiran kita.

Semoga Allaah Ta’aala memudahkan usaha kita untuk selalu memiliki hati yang lembut dan berniat baik, sekaligus mampu mewujudkannya dalam bentuk kata-kata dan perbuatan baik. Aamiin, ya Rabbal ‘aalamiin.

Kecenderungan Manusia adalah Dalam Kebaikan

Pada mulanya, kondisi manusia itu sangat dekat dan taat kepada Allaah, hal ini dipahami secara tersirat sebagaimana firman Allaah yang ditujukan kepada Nabi Adam ‘AS ketika masih berada di dalam surga, di dalam surah al-A’raaf [7] ayat 19

Dan Wahai Adam! Diamilah olehmu dan istrimu surga (ini), maka makanlah oleh kamu berdua di mana dan kapan saja kamu berdua kehendaki, dan janganlah kamu berdua mendekati pohon ini, sehingga menyebabkan kamu berdua termasuk orang-orang zhalim.

Isyarat penting dalam ayat ini adalah Allaah menggunakan kata tunjuk ini untuk menjelaskan letak pohon terlarang, di mana kata tunjuk ini membawa makna letaknya dekat.

Akan tetapi karena tipuan setan, keduanya kemudian mendekati pohon tersebut, bahkan memakan buahnya. Pelanggaran ini membuat mereka menjadi jauh dari Allaah dan Allaah pun menjauh darinya, sehingga pada kelanjutan kisah tersebut, pada ayat 22 Allaah berfirman,

Dan Tuhan Pemelihara mereka menyeru kepada mereka berdua: “Bukankah Aku telah melarang kamu berdua melampaui (mendekati) pohon itu dan telah Aku firmankan kepada kamu berdua sesungguhnya setan (itu) adalah musuh yang nyata bagi kamu berdua?”

Perhatikan isyarat yang digunakan Allaah dalam ayat ke-22, Allaah berseru dan penggunaan kata itu untuk menjelaskan letak pohon.

Jadi, sebelum manusia melanggar perintah Allaah, ketika manusia masih taat dengan Allaah, ada kedekatan, yakni Allaah menunjuk pohon dengan kata ini.

Tetapi, begitu mereka melanggar perintah Allaah, atau dengan kata lain, menjauh dari Allaah, maka Allaah pun kemudian menjauh dari mereka, sehingga pesan Allaah harus disampaikan dengan berseru, yakni mengeraskan suara agar terdengar karena letaknya yang jauh. Bahkan, karena jaraknya yang jauh, Allaah menunjuk pada pohon dengan kata ganti tunjuk itu, dari yang semula ini.

Maka, dosa akan menjauhkan manusia dari Allaah dan menjauhkan Allaah dari manusia, saling menjauh satu sama lain.

Tetapi yang perlu menjadi catatan penting bagi kita adalah bahwa kondisi awal manusia, kondisi fitrah manusia, kondisi normal manusia adalah taat dan tunduk kepada Allaah. Bahkan ketika kita kembali taat, berusaha mendekatkan diri kembali kepada Allaah Ta’aala, Allaah berfirman dalam Hadits Qudsi,

Siapa yang datang kepada-Ku sejengkal, Aku akan datang kepadanya sehasta. Siapa yang datang kepada-Ku dengan merangkak, Aku akan datang kepada-Nya dengan berjalan. Siapa yang datang kepada-Ku dengan berjalan, Aku akan datang kepadanya dengan berlari.

Demikian gambaran betapa cepatnya rahmat Allaah untuk hadir dalam kehidupan kita, apabila kita senantiasa berusaha mendekatkan diri kepada Allaah.

Bahkan dalam ayat yang lain, al-Qur`an memberi gambaran betapa mudahnya mendorong hati dan diri kita untuk berbuat baik daripada berbuat buruk.

Dalam sebuah ayat yang sudah sangat masyhur, yaitu ayat terakhir (286) surat al-Baqarah, Allaah Ta’aala berfirman

Untuk manusia ganjaran bagi perbuatan (baik) yang dilakukannya, dan siksa bagi perbuatan (buruk) yang dilakukannya.

Ayat ini mengulang kata yang dilakukan sebanyak dua kali, satu dengan kata kasabat, yang satu lagi dengan kata iktasabat.

Mengutip Tafsir al-Manar karya Syaikh Muhammad Abduh, Prof. Quraish Shihab menjelaskan bahwa kata iktasabat yang melekat pada perbuatan buruk dan siksa memberi makna adanya upaya sungguh-sungguh dari pelakunya.

Sedangkan kata kasabat yang melekat dengan perbuatan baik dan ganjaran membawa arti sesuatu yang dilakukan dengan mudah tanpa pemaksaan.

Jadi, perbuatan baik itu sesuatu yang dengan mudah hati dan diri kita melakukannya, enteng nglakoninya. Dan sebaliknya, sebuah perbuatan buruk, butuh satu kondisi keterpaksaan yang tinggi, sehingga berat bagi diri manusia untuk melakukannya.

Sebagai ilustrasi, wong niku yen arep maling utawa ngrampok mesthi mikire ping akeh. Yen konangan, dikepruk. Geneo ora konangan, mengko ngedole barang colongan yo ora bisa sak nggon-nggon, dan seterusnya, dan seterusnya. Harus ada situasi yang mendesak sehingga muncul istilah nekat dalam sebuah perbuatan buruk.

Suatu kali, Sahabat Nawas Ibnu Sam’an sowan dhateng Rasuulullaah SAW, kemudian bertanya tentang kebaikan dan kejahatan. Rasuul SAW sebagaimana tercantum dalam kitab Bulughul Maram karya Imam Ibnu Hajar al-‘Asqalani,

‘kebaikan ialah akhlak yang baik dan kejahatan ialah sesuatu yang terlintas di dadamu dan engkau tidak suka bila orang lain mengetahuinya.’ (Riwayat Muslim)

Pada waktu lain, sahabat Wabishah bin Ma’bad juga sowan kepada Kanjeng Nabi SAW dan bertanya tentang kebaikan. Rasuul Muhammad SAW menjawab

Tanyailah hatimu! Kebajikan adalah sesuatu yang tenang terhadap jiwa dan yang tenteram terhadap hati, sedangkan dosa adalah yang mengacaukan hati dan membimbangkan dada, walaupun setelah orang memberimu fatwa. (Riwayat Ahmad dan ad-Darimi)

Maka kemudian, sesungguhnya sangatlah mudahlah bagi kita membedakan perbuatan baik dan buruk. Yang menenangkan jiwa setelah dikerjakan, itulah perbuatan baik. Yang menggelisahkan jiwa setelah dikerjakan dan ketakutan jika diketahui orang lain, itulah perbuatan buruk.

Dan momentum Ramadlan ini, sesungguhnya kesempatan besar bagi kita untuk memperbanyak kebaikan untuk kemudian membiasakannya. Apa pentingnya membiasakan perbuatan baik? Kanjeng Nabi Muhammad SAW bersabda,

Dari Abu Musa al-Asy’ari RA berkata, Rasuulullaah SAW bersabda, “Apabila seseorang menderita sakit atau sedang bepergian, maka dicatatlah pahala baginya amal perbuatan yang biasa dikerjakannya pada waktu tidak bepergian (muqiiman) dan pada waktu sehat (HR Bukhari)

Coba kita bayangkan, kebiasaan perbuatan baik kita ketika sehat dan mukim akan dicatat sebagai amal yang dikerjakan, meskipun kita sedang dalam kondisi sakit dan bepergian, atau dengan kata lain kondisi sakit dan bepergian yang secara lahir menghalangi kebiasaan perbuatan baik, ternyata tidak menghalangi catatan amal dan  tetap dicatat sedang kita kerjakan. Betapa luar biasa rahmat Allaah SWT.

Semoga Allaah senantiasa memberi kesehatan bagi kita di Ramadlan kali ini, sehingga mudah bagi kita berpuasa, mudah bagi kita untuk selalu berbuat kebaikan.

Aamiin.