Teladan Nabi Ibrahim ‘AS bagi Perdamaian Negeri

Nabi Ibrahim ‘AS merupakan sosok mulia yang dihormati oleh tiga agama besar dunia saat ini, yakni Nasrani (Kristen dan Katolik), Islam, dan Yahudi. Ketiga agama tersebut, menurut data tahun 2015, dipeluk oleh sekitar 4,1 miliar orang atau kurang lebih 55,5% penduduk dunia. Penganut Nasrani dunia saat ini mencapai hampir sepertiga penduduk dunia (31,2%), sedangkan pemeluk Islam jumlahnya hampir seperempat penduduk dunia (24,1%). Ketiga agama tersebut mengakui, menghormati, dan memuliakan sosok Nabi Ibrahim ‘AS.

Al-Qur`an mensifati Nabi Ibrahim ‘AS dengan umat, sebagaimana Allaah SWT firmankan,

Umat yang dimaknai sebagai sekumpulan manusia merupakan isyarat agung bahwa betapa banyaknya sifat terpuji yang berada dalam diri Nabi Ibrahim ‘AS, sehingga hanya dapat diimbangi oleh sifat yang dimiliki oleh banyak orang. Dijelaskan pula dalam QS ash-Shaaffaat ayat 84 dan QS Huud ayat 75 tentang sosok Nabi Ibrahim ‘AS,

Nabi Ibrahim ‘AS diperkirakan lahir pada abad 18 SM (1.800 tahun sebelum masa kelahiran Nabi ‘Isa ‘AS, atau sekitar 3.800-an tahun yang lalu) di daerah bernama Babel atau Ahwaz (sekarang di kawasan negara Irak). Menurut al-Qur`an, Beliau ‘AS telah memiliki  keyakinan kuat tentang Tuhan Yang Maha Tunggal sejak muda dan membenci pemujaan pada patung-patung. Pada usia yang relatif muda tersebut Beliau ‘AS mengambil kapak dan menghancurkan berhala-berhala sesembahan kaumnya, dengan menyisakan satu berhala terbesar serta meletakkan kapak tersebut di dekat berhala besar. Ketika ditanya siapa yang menghancurkan berhala-berhala tersebut, sembari menunjuk kepada satu berhala besar, Beliau ‘AS menjawab, “Bertanyalah kepadanya!”

Hikmah dari kisah ini tidak boleh dimaknai dengan meniru perbuatan beliau untuk merusak sesembahan umat beragama lain, tetapi dengan pemaknaan yang mendalam dan mengena di dalam hati: patung adalah benda mati yang tak bisa menjawab pertanyaan dan tidak pula mampu mendatangkan manfaat atau menolak mudlarat kepada sesama patung, apalagi kepada manusia yang menyembahnya. Selain peristiwa ini, terjadi pula kisah api yang tak mampu membakar Beliau ‘AS dalam upaya melawan kezhaliman penguasa zaman tersebut, yakni Namrudz.

Sesudahnya, Beliau ‘AS kemudian berhijrah ke satu kota di pantai barat sungai Eufrat (masih di kawasan Irak di zaman modern) bernama Ur, yang ketika itu berada di bawah kekuasaan orang-orang Kaldan. Sekian lama di sana; Beliau ‘AS kemudian hijrah ke wilayah kaum Kana’an yang kini bernama Naples; kemudian ke Mesir yang saat itu di bawah penguasa bernama Heksos; kemudian ke Palestina; dan terakhir adalah menuju jazirah Arab, yang sekarang bernama Mekkah.

Allaah SWT mengabadikan peristiwa Nabi Ibrahim ‘AS di Mekkah melalui QS Ibrahim ayat 35 dan 36,

Doa Nabi Ibrahim ‘AS tersebut diucapkan ketika beliau diperintahkan untuk meninggalkan istri dan anaknya, yakni Haajar dan Isma’il, di Mekkah, setelah beberapa lama berada di Mekkah. Doa serupa dengan doa yang disampaikan kepada Allaah SWT oleh Nabi Ibrahim ‘AS, sebagaimana diabadikan dalam QS al-Baqarah (2) ayat 126,

Perbedaannya, doa di QS Ibrahim ayat 35-36 adalah doa saat Nabi Ibrahim ‘AS diperintahkan oleh Allaah SWT untuk meninggalkan istri dan anaknya di Mekkah, sementara doa di QS al-Baqarah adalah doa ketika Nabi Ibrahim ‘AS kembali ke Mekkah beberapa waktu sesudahnya.

Doa yang diabadikan di dalam QS Ibrahim ayat 35-36 merupakan cermin keprihatinan karena menyaksikan berbagai kota yang menyembah berhala di sepanjang perjalanan hijrah beliau: Ur, Naples, Mesir, maupun Palestina. Di Mekkah, beliau menemukan orang-orang yang masih hidup dengan sangat bersahaja dan nomaden (berpindah-pindah, tidak menetap), tempat di mana Beliau ‘AS menempatkan istri dan anaknya. Kisah-kisah selanjutnya, tentu saja sudah sering kita dengarkan, seperti tentang bagaimana Haajar sembari menggendong Ismail kecil berlari-lari mencari air dari bukit Shafa dan Marwah; munculnya sumur zam-zam; menegakkan Ka’bah; hingga perintah penyembelihan Isma’il.

Kisah ketaatan mutlak Nabi Ibrahim ‘AS kepada Allaah SWT merupakan sesuatu yang harus diteladani. Kita tidak boleh memaknainya dengan negatif, yakni bahwa Nabi Ibrahim ‘AS menelantarkan anak dan istri di wilayah yang gersang dan tak berpenduduk, tetapi sebaliknya, memaknainya dengan positif: betapa luar biasanya ketaatan Nabi Ibrahim ‘AS atas perintah Allaah SWT. Belakangan, Mekkah menjadi kota yang makmur meskipun gersang, sementara Beliau ‘AS menjadi penghulu para Nabi: putranya Ismail menjadi Nabi sekaligus leluhur Nabi Muhammad SAW, sementara putranya Ishak juga menjadi Nabi sekaligus leluhur para Nabi di tanah Palestina (Yakub, Daud, Sulaiman, Ilyas, Ilyasa, Musa, Zakariya, Isa, dll).

Selain itu, QS Ibrahim ayat 35 juga mengandung makna tentang perlunya kita berdoa sekaligus berikhtiar untuk meraih keamanan dan keselamatan sebuah wilayah tempat tinggal, agar masyarakatnya hidup dengan limpahan rezeki dari Allaah SWT.

Doa permohonan keamanan wilayah yang diucapkan Nabi Ibrahim ‘AS oleh para ulama tidak dimaknai sebagai permohonan keamanan yang terus menerus tanpa peranan manusia (amn takwiiniy), tetapi sebagai permohonan keamanan yang disebabkan karena adanya hukum keagamaan, sehingga mewajibkan manusia untuk mewujudkan, memelihara, dan menjaga keamanannya (amn tasyrii-‘iy).

Alangkah indahnya, jika masyarakat Islam di berbagai kawasan saat ini juga memaknai ayat ini lebih luas: bahwa mewujudkan keamanan dan perdamaian tempat tinggal adalah kewajiban manusia yang berada di wilayah tersebut, sehingga keamanan bukan hanya disepakati di Mekkah dan Madinah saja, tetapi juga seluruh wilayah dengan mayoritas muslim.

Beberapa data yang sahih menunjukkan bahwa tidak kurang 559 juta muslim (atau setara dengan 30,10% muslim global) berada di 10 negara mayoritas muslim dengan tingkat perdamaian yang sangat rendah, seperti Suriah (peringkat 163 dari 163 negara), Afghanistan (162), Irak (160), Somalia (159), Yaman (158), Libya (157), Sudan (153), Pakistan (151), Turki (149), dan Nigeria (148). Sementara itu 14,10% muslim lainnya (setara dengan sekitar 268 juta jiwa), tinggal di 9 negara mayoritas muslim yang tergolong memiliki tingkat perdamaian rendah, seperti Libanon (147), Mesir (142), Palestina (141), Iran (131), Arab Saudi (129), dan Niger (128).

Terdapat pula 11 negara mayoritas muslim yang termasuk mempunyai tingkat perdamaian medium (264 juta muslim atau 25,70% muslim global), seperti Algeria (109), Uzbekistan (104), Yordania (98), dan Bangladesh (93); serta 13 negara mayoritas muslim dengan tingkat perdamaian tinggi (339 juta muslim atau 18,9 muslim dunia), di mana Maroko (71), Indonesia (55), Senegal (52), dan Malaysia (25) termasuk di dalamnya.

Apakah pantas, jika al-Qur`an mengisyaratkan dorongan bagi muslim untuk mewujudkan perdamaian bagi negeri tempat tinggalnya dengan doa dan ikhtiar, namun 559 juta atau 30 persen muslim saat ini tinggal di kawasan dengan kedamaian sangat rendah, padahal kawasan tersebut adalah sumber kejayaan Islam di masa lalu, seperti Suriah, Irak, dan Turki?

Sementara itu, doa Nabi Ibrahim ‘AS di dalam QS Ibrahim ayat 36 tentang perlindungan bagi Beliau ‘AS beserta keturunannya dari menyembah berhala, bukan dalam arti memaksa mereka mengakui keesaan Allaah SWT, tetapi memohon kiranya fitrah kesucian yang menjadi pendorong munculnya iman pada Allaah SWT Yang Maha Tunggal atau ketauhidan agar senantiasa berada di hati keturunan Beliau ‘AS.

Fitrah ketauhidan di dalam Islam merupakan pondasi utama dalam keimanan. Ketika kita menyaksikan keagungan alam semesta, di mana bumi, bulan, matahari, bintang-gemintang, dan planet-planet terus-menerus berjalan sesuai dengan garis edarnya tanpa terjadi tubrukan satu sama lain; sementara manusia, tumbuhan, dan hewan masing-masing memiliki sistem tubuh yang sangat mendetail dari tingkat sel, jaringan, hingga organ tubuh, yang berfungsi satu sama lain membentuk kehidupan; maka mau tidak mau kita harus meyakini adanya Allaah SWT, Tuhan yang menciptakan dan mengatur seluruh keagungan tersebut.

Kisah Nabi Ibrahim ‘AS tentang penghancuran patung menggambarkan bahwa menyembah ciptaan manusia tak mungkin memenuhi hati dan akal. Sementara memiliki sesembahan lebih dari satu juga tak mampu dicerna akal, karena jika pengatur semesta jumlahnya lebih dari satu, pasti akan terjadi benturan kepentingan antara satu sesembahan dengan sesembahan yang lain. Menyembah kepada Tuhan Yang Maha Tunggal adalah yang paling tepat, meskipun akal belum mampu menjangkau-Nya karena terbatasnya akal kita untuk mencapai keagungan-Nya.

Kemudian, penutup doa Nabi Ibrahim ‘AS di ayat 36 berbunyi, Engkau Maha-pengampun lagi Maha-penyayang, tidak dapat dimaknai bahwa Beliau ‘AS memohon ampun bagi para penyembah berhala, tetapi menyerahkan kepada Allaah SWT putusan akhirnya terhadap perbuatan yang menyalahi fitrah tersebut. Hal ini selaras dengan banyak penjelasan al-Qur`an tentang batasan kita sebagai manusia yang hanya memberikan penjelasan dan teladan, tetapi hadirnya petunjuk adalah mutlak berada di dalam cakupan kuasa Allaah SWT.

Lebih dari itu, iman yang mencakup perbuatan hati, lisan, dan aktivitas, sesungguhnya didasari dengan perbuatan hati, suatu hal yang tak mampu kita jangkau oleh panca indera kita. Realitas ini dihadapkan pada kehidupan sehari-hari kita yang hanya mampu menilai dari panca indera saja. Doa Nabi Ibrahim ‘AS tersebut menunjukkan betapa halus budi pekerti beliau dan betapa besar rasa kasihnya terhadap umat manusia: tidak menghakimi perbuatan yang nampak buruk lahiriahnya, namun menyerahkannya kepada penghakiman Allaah SWT dengan menyebut sifat pengampunan-Nya.

Semoga Allaah SWT berkenan terus menerus memberikan petunjuk-Nya kepada hati kita, agar selalu berjalan di dalam jalan yang lurus: iman kepada Allaah SWT Yang Maha Tunggal, sembari bersungguh-sungguh mewujudkan perdamaian dan menebar kasih sayang kepada sesama umat manusia. Aamiin.

Dua Ayat tentang Kemustahilan

Di antara hakikat dari sebuah rasa syukur kepada Allaah SWT adalah meyakini sepenuh jiwa dan raga tentang betapa besarnya nikmat yang Allaah Ta’aala berikan kepada kita semua. Rahmat Allaah SWT tersebut, karena luas jangkauannya, menyeluruh cakupannya, mendetail di rincian-rinciannya, berlangsung sepanjang waktu, dan menyentuh setiap ciptaan-Nya tanpa kecuali, membuat kita tak akan pernah bisa menghitung anugerah tersebut.

Terdapat dua ayat di dalam al-Qur`an yang menegaskan mustahilnya upaya menghitung nikmat Allaah SWT tersebut. Kedua ayat ini memiliki kalimat yang serupa sekaligus berbeda, yakni di QS Ibrahim (14) ayat 34 dan QS an-Nahl (16) ayat 18. Firman Allaah SWT dalam QS Ibrahim (14) ayat 34 berbunyi,

Sedangkan QS an-Nahl (16) ayat 18 berbunyi,

Kesamaan keduanya berada di kalimat tentang mustahilnya menghitung nikmat Allaah SWT, sedangkan perbedaannya berada di bagian penutup, di mana penutup QS Ibrahim (14) ayat 34 mengingatkan tentang potensi manusia yang dapat berbuat zhalim dan kufur (innal-insaana lazhaluumun-kaffaar), sementara penutup QS an-Nahl (16) ayat 18 meneguhkan betapa besarnya rahmat Allaah SWT dalam menghadapi hamba-Nya yang zhalim dan kufur (innallaaha laghafuurur-rahiim). Dan lebih dari itu, penafsiran atas kedua ayat ini mengandung hikmah yang besar bagi kehidupan umat manusia. Mari kita bahas secara berurutan.

QS Ibrahim (14) ayat 34 dibuka dengan kalimat yang meneguhkan anugerah Allaah SWT, wa aataa-kum min kulli maa sa-altumuuhu, yang artinya adalah dan Dia (Allaah) telah menganugerahkan kepada kami dari segala apa yang kamu mohonkan kepada-Nya. Terdapat dua pemaknaan terhadap kalimat ini.

Pertama, Bahwa segala kebutuhan manusia telah disiapkan oleh Allaah Ta’aala pemenuhannya, walaupun boleh jadi secara individu ada yang tidak dipenuhi permintaanya.

Perlu diingat kembali tentang mengapa tidak terpenuhinya sebuah permintaan, yakni, (1) yang bersangkutan belum siap hatinya untuk menerima anugerah, seperti misalnya terdapat potensi munculnya kesombongan atas ikhtiarnya sehingga lupa bersyukur kepada Allaah SWT; (2) diganti oleh Allaah Ta’aala dengan terhindarnya yang bersangkutan dari bencana; atau (3) ditunda pemenuhannya oleh Allaah SWT menjadi nikmat yang lebih besar di kesempatan lain atau bahkan ditunda hingga menjadi penebus dosa di akhirat kelak.

Ketiga sebab tersebut mengandung keseragaman berupa unsur-unsur keimanan: bersyukur dan berprasangka kepada Allaah SWT serta meyakini hadirnya serangkaian peristiwa Hari Akhir.

Ilustrasi paling mudah bagaimana memahami tidak terpenuhinya sebuah permintaan dapat digambarkan melalui kisah-kisah di seputar tragedi kecelakaan transportasi. Ketika Lion Air JT610 jatuh di Laut Jawa Oktober 2018 yang lalu, muncul cerita tentang seseorang yang terlambat karena kemacetan, sehingga batalmenjadi penumpang Lion Air JT610. Orang tersebut di sepanjang perjalanan menuju bandara pasti berdoa agar tak terlambat, namun Allaah SWT putuskan sebaliknya: terlambat dan justru selamat dari kecelakaan.

Tentu kita sudah sering mendengar kisah serupa yang tidak melulu soal kecelakaan tetapi juga tentang bagaimana berbagai hikmah dapat dipahami jauh setelah peristiwa yang kesan awalnya nampak tidak menyenangkan karena permintaan yang tidak terkabul, namun pada akhirnya berujung pada kebaikan dari Allaah Ta’aala.

Pemaknaan kedua kalimat wa aataa-kum min kulli maa sa-altumuuhu atau dan Dia (Allaah) telah menganugerahkan kepada kami dari segala apa yang kamu mohonkan kepada-Nya, adalah bahwa Allaah SWT telah menyiapkan dan memberikan kepada setiap orang apa yang dimintanya. Kondisi ini terjadi melalui dua mekanisme, yakni yang pertama adalah ikhtiar atau usaha seseorang yang ditakdirkan oleh Allaah SWT berhasil, dan kedua, dari satu manusia ke manusia lain melaluimekanisme ibadah sosial yang Allaah SWT perintahkan kepada umat manusia, baik yang sifatnya wajib (zakat maal dan zakat fitrah) maupun yang sifatnya sunnah (infak, sedekah, hadiah).

Boleh jadi muncul pertanyaan besar, apabila Allaah SWT telah menyiapkan dan memberikan kepada setiap orang apa yang dimintanya, mengapa ketidakadilan, kemiskinan, peperangan, kelaparan, dan kekurangan lain masih berlangsung? Penyebabnya dijawab oleh Allaah SWT dalam ayat yang sama di bagian penutup: innal-insaana lazhaluumun kaffar, potensi kezhaliman dan kekufuran yang dimiliki manusia, sayangnya justru berlangsung dan dikembangkan, secara sadar maupun tidak.

Kata lazhaluumun sendiri artinya sangat berbuat zhalim, yang memiliki beberapa makna buruk, seperti menzalimi dan menghalangi orang lain memperoleh haknya atau mengambil melebihi dari yang seharusnya dia ambil atau bersifat mubazir, yakni menyia-nyiakan sesuatu dan tidak menggunakannya pada tempat yang semestinya.

Kezhaliman yang kadang tidak kita sadari adalah soal sisa makanan. Sebuah riset yang dirilis pada tahun 2017 mengutip dua data yang menyakitkan, cermin kezhaliman kita sebagai umat manusia: ketika sepertiga makanan secara global terbuang menjadi sampah, masih terdapat 805 juta jiwa manusia yang mengalami kelaparan. Angka 805 juta jiwa sendiri setara dengan 11% penduduk dunia atau lebih dari tiga kali penduduk Indonesia.

Sementara itu, kezhaliman yang lebih sistemik, misalnya dapat diamati dari perdagangan senjata internasional. Pada tahun 2017, penjualan  senjata oleh 100 perusahaan terbesar di lebih dari 20 negara (Amerika Serikat, Rusia, Inggris, Perancis, Jerman, India, Israel, Jepang, Korea Selatan, dll) nilainya mencapai USD 412,47 miliar. Nilai ini hampir menyamai Produk Domestik Bruto (nilai seluruh aktivitas perekonomian sebuah negara) Iran (USD 439,51 miliar) atau Thailand (USD 455,22 miliar) dan nyaris setara dengan separuh PDB Belanda (USD 826,20 miliar) atau Turki (USD 851,10 miliar).

Di mana letak kezhalimannya? Jika komunitas global berkomitmen membentuk perdamaian dunia melalui banyak aktivitas bersama di berbagai kerja sama internasional, apakah nilai perlu untuk terus mengembangkan penjualan persenjataan? Bukan berarti harus membunuh inovasi persenjataan sebagai upaya negara membela kedaulatannya atau menutup industri dengan jutaan karyawan, tetapi lebih kepada nilainya yang terlampau besar, sementara kemiskinan, kelaparan, akses energi dan kesehatan, serta kebutuhan air bersih masih belum merata di semua negara. Alangkah indahnya jika perdamaian adalah kesungguhan bagi setiap negara dan masyarakatnya, sehingga investasi dan modal untuk mengembangkan persenjataan dapat dialihkan untuk memenuhi kebutuhan pokok masyarakat global.

Inilah kezhaliman yang dimaksud oleh Allaah SWT, salah satu faktor yang menjadi sebab mengapa rahmat yang telah disiapkan untuk setiap orang belum dapat diberikan kepada setiap orang apa yang memintanya.

Sementara itu, kemustahilan untuk menghitung nikmat Allaah Ta’aala dinyatakan dengan kata laa-tuh-shuuhaa atau tidaklah dapat menghinggakannya. Kata tuh-shuu-haa berasal dari akar kata yang terdiri atas huruf haa’, shaad, dan yaa’, serta mengandung tiga makna asal, yaitu: 1) menghalangi atau melarang; 2) menghitung dengan teliti dan mampu, sehingga lahir makna mengetahui, mencatat, atau memelihara; kemudian makna 3) sesuatu yang merupakan abgian dari tanah, sehingga lahir kata hashaa yang artinya batu.

Pada masa lampau, manusia menggunakan batu untuk menghitung. Atau apabila telah mencapai pada hitungan sepuluh, digunakanlah sebuah batu untuk menandai setiap sepuluh hitungan. Dari sinilah kata tersebut dimaknai sebagai menghitung. Pemilihan kata ini juga menimbulkan kesan, bahwa jumlah nikmat Allaah SWT sangatlah banyak, ibarat sejumlah batu-batu yang merupakan bagian dari tanah. Seseorang baru akan mampu menghitungnya jika ia telah mampu menghitung batu-batu di muka bumi. Tentu saja ini adalah kemustahilan.

Kemustahilan tersebut juga dapat dipahami, sebagaimana telah disampaikan pada bagian awal, bahwa nikmat Allaah SWT yang betapa luas jangkauannya, yang menyeluruh cakupannya, yang mendetail di rincian-rinciannya, yang berlangsung sepanjang waktu, dan yang menyentuh setiap ciptaan-Nya tanpa kecuali, membuat kita tak akan pernah bisa menghitung anugerah tersebut.

Nah, kalimat penutup innal-insaana lazhaluumun kaffar telah dijelaskan sebelumnya, sehingga kali ini akan dijelaskan penutup di QS an-Nahl (16) ayat 18, innallaaha laghafuurur-rahiim.

Kalimat innallaaha laghafuurur-rahiim, merupakan bagian dari tiada terhingganya nikmat Allaah SWT. Maksudnya, sekalipun kita sebagai umat manusia kolektif kadang bahkan sering melakukan kezhaliman dan tidak mensyukuri nikmat (kufur nikmat), Allaah Ta’aala tetap saja membuka pintu ampunan dan tetap pula mencurahkan rahmah-Nya, kasih sayang-Nya. Hal ini muncul pula dalam sebuah hadits dari Sayyidinaa Abu Hurairah yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim Radliyallaahu’anhum, Nabi Muhammad SAW bersabda, tatkala Allaah menciptakan makhluk-Nya, Dia menulis dalam kitab-Nya, yang kitab itu terletak di sisi-Nya di atas ‘Arsy,

Maghfirah atau ampunan Allaah SWT dalam penutup ayat 18 QS an-Nahl tersebut terbentuk dari kata ghafara yang maknanya menutup. Terdapat pula pendapat bahwa terambil dari kata al-ghafar, yaitu sejenis tumbuhan yang digunakan untuk mengobati luka. Jika makna menutup yang digunakan, maka di antara ampunan Allaah Ta’aala adalah Dia menutup dosa hamba-hamba-Nya sebagai bentuk kemurahan dan anugerah-Nya. Dan apabila makna jenis tumbuhan untuk mengobati luka yang dipakai, maka ampunan Allaah SWT sebenaranya merupakan anugerah kesadaran dan penyesalan atas dosa-dosa, yang berakibat pada kesembuhan, yakni terhapusnya dosa-dosa.

Pemaknaan Maha-pengampun ini dipaparkan pula oleh Imam Ghazali RA, tulis beliau,

Dia yang menampakkan keindahan dan menutupi keburukan. Dosa-dosa adalah bagian dari sejumlah keburukan dan yang ditutupi-Nya dengan jalan tidak menampakkannya di dunia serta mengesampingkannya di akhirat.

Lebih jauh, Imam Ghazali menjelaskan, sedikitnya ada tiga ketertutupan yang dianugerahkan oleh Allaah SWT kepada manusia. Pertama, yang ditutupi adalah sisi dalam jasmani manusia yang tak sedap dipandang mata. Betapa luar biasanya fungsi organ tubuh kita di balik kulit dan tulang belulang, dari ujung kepala sampai ujung kaki, namun keterbukaannya akan mencengangkan pandangan, bahkan cenderung menjijikkan bagi sebagian besar orang, terkecuali para dokter yang memiliki tugas mulia untuk mengobati manusia. Ketertutupan organ tubuh dengan kulit dan tulang bahkan bukan hanya untuk menutupi keburukan lahiriah, tetapi juga berfungsi untuk melindunginya dari benturan dan infeksi, serta memperindah wajah dan rupa kita sebagai manusia.

Kedua, Allaah SWT menutupi bisikan dan hati serta kehendak manusia. Tak seorang pun mengetahui isi hati dan pikiran orang lain, kecuali dirinya sendiri dan Allaah SWT. Betapa kacaunya kehidupan sosial dan pribadi kita, apabila antara satu manusia dengan manusia lainnya dapat saling melihat isi hati dan pikiran, lebih-lebih jika sebuah keburukan: dengki, iri, marah, prasangka buruk, niat jahat, dan lain sebagainya. Sedangkan yang ketiga, anugerah ketertutupan Allaah SWT adalah kehendak-Nya untuk menutupi dosa dan pelanggaran manusia satu sama lain, sehingga tidak dapat diketahui oleh umum.

Hadirin yang dirahmati Allaah SWT, dua ayat di QS Ibrahim dan QS an-Nahl tersebut mendorong kita untuk terus berusaha mensyukuri nikmat Allaah SWT sekaligus berupaya mengurangi kezhaliman, agar keadilan sosial dapat dicapai. Ada banyak hal yang bisa dilakukan di tingkat individu, yang dalam hal ini, penulis mencontohkan melalui makanan: mengurangi sampah makanan dengan mengambil secukupnya dan menghabiskan makanan yang telah diambil. Inilah sekecil-kecilnya upaya kita untuk mengurangi kezhaliman berupa menyia-nyiakan makanan.

Lebih dari itu, kedua ayat ini, terutama di QS an-Nahl, hendaknya menyadarkan kita tentang luasnya rahmat dan ampunan Allaah SWT. Tentu saja pemahaman atas ayat ini tidak berarti kita kemudian melakukan dosa dengan bebas karena adanya ampunan Allaah SWT, tetapi dengan menghindarkan diri sebaik-baiknya dari perbuatan yang tercela sekecil apapun.

Semoga Allaah SWT berkenan meneguhkan hati kita untuk terus berada di dalam jalan yang lurus dan benar: mensyukuri pemberian-Nya, mengurangi kezhaliman, dan memohon ampunan-Nya. Aamiin.

Hikmah dalam Peristiwa Hudaibiyah

Salah satu kejadian penting di masa kehidupan Rasuulullaah Muhammad SAW adalah disepakatinya Perjanjian Hudaibiyah antara kaum muslim dengan kaum musyrik Quraisy di bulan Dzulqa’dah tahun 6 Hijriyah (sekitar 628 Masehi). Betapa penting peristiwa ini dalam sejarah perkembangan Islam, sehingga para ilmuwan pengamat Islam -yang biasnaya kebanyakan dari mereka mengkritik Islam- justru memujinya sebagai langkah diplomasi Nabi SAW yang piawai. Maka hal ini sudah sepantasnya menjadi teladan bagi kita umat Islam dalam melakukan musyawarah dan menyelesaikan masalah. Ingat, Allaah SWT berfirman dalam surat al-Ahzaab ayat 21,

 photo hudaibiyah-1_zpswwnxabqw.png

Hadirin rahimakumullaah, pada awalnya Rasuulullaah SAW berniat melakukan umrah dengan membawa 1.400 / 1.300 / 1.600 orang. Rombongan dari Madinah menampakkan dengan jelas keinginan beribadah dan bukan untuk berperang, dengan deskripsi di antaranya:

  1. tanpa membawa senjata sama sekali atau boleh jadi membawa senjata sebagai bentuk kehati-hatian dalam sebuah perjalanan, tanpa memamerkannya,
  2. membawa 70 ekor unta yang gemuk dan diberi kalung sebagai tanda binatang kurban,
  3. sesudah 10 km dari Madinah, berihram, sebagai isyarat ibadah dengan memakai pakaian tak berjahit, tanpa wewangian, dan
  4. Mengucapkan talbiyah di sepanjang perjalanan.

Ketika rombongan umrah tiba di daerah ‘Asfan, sekitar 80 km dari Mekkah, muncul kabar bahwa kaum musyrik Mekkah telah mengetahui perjalanan Rasuulullaah SAW dan berada di Kura’ al-Ghamim, sekitar 64 km dari Mekkah atau 24 km dari tempat Rasuulullaah SAW mendapat kabar tersebut, untuk menghadang rombongan. Nampaknya, beberapa pertempuran dan peperangan sejak awal hijrahnya Nabi SAW telah mendorong digunakannya jasa mata-mata atau telik sandi untuk mengintai dan memantau pergerakan musuh. Tentu saja tujuannya untuk mencegah pertempuran dan bukan sebaliknya.

Alhasil, rombongan Nabi SAW tetap melanjutkan perjalanan, dengan memilih rute yang berbeda dari biasanya untuk menghindari pertempuran (karena niatnya ibadah umrah): jalannya berliku, sempit, turun-naik, penuh batu-batu keras yang melukai.

Mendekat di daerah Hudaibiyah, unta Nabi SAW berhenti. Para sahabat berkata, al-Qashwaa` telah berhenti untuk meentap di sini. Nabi SAW menjawab perkataan para sahabat dengan bersabda,

 photo hudaibiyah-2_zpsbwgw1gwz.png

Maksud Nabi SAW, yang menghalangi unta beliau melanjutkan perjalanan adalah Allaah, sebagaimana Allaah menghalangi gajah Abrahah menyerang Makkah untuk menghancurkan Ka’bah.

Rasuulullaah SAW dan rombongan kemudian mengambil jalur yang tidak langsung ke Makkah, tetapi menuju ujung Hudaibiyah. Di sana beliau bermarkas, tetapi ternyata airnya sedikit sehingga rombongan kehausan.

Menurut riwayat Imam Bukhari, Rasuulullaah SAW mengambil anak panah dan memerintahkan untuk menusukkannya ke dalam sumur, maka serta merta airnya melimpah. Riwayat lain menyatakan bahwa beliau meminta seteguk air sumur itu, lalu beliau berkumur dengannya, kemudian air yang dikumur itu dimasukkan kembali ke sumur, maka sumur pun melimpahkan air.

Hadirin rahimakumullaah, dari Hudaibiyah inilah Rasuulullaah SAW memulai ikhtiar perdamaian, berusaha meyakinkan tokoh-tokoh Makkah, baik melalui orang-orang netral maupun utusan langsung, bahwa kedatangan rombongan Nabi SAW semata-mata ingin beribadah umrah. Di sisi lain, pihak Makkah pun berusaha meyakinkan sebaliknya, bahwa Rasuulullaah SAW tidak boleh menyentuh Makkah sedikitpun.

Salah satu utusan Rasuulullaah SAW adalah Sayyidinaa ‘Utsman bin ‘Affan RA. Diplomasi yang dilakukan oleh Sayyidinaa ‘Utsman RA ternyata berlangsung cukup lama, sehingga muncul isu bahwa beliau telah dibunuh. Kemudian berlangsunglah Bai’at ar-Ridlwan, sebuah sumpah setia kepada Rasuulullaah SAW, bahwa jika pihak Makkah mengkhianati upaya perdamaian dengan membunuh Sayyidinaa ‘Utsman, maka seluruh rombongan akan setia kepada Nabi SAW untuk menyerang Makkah sampai titik darah penghabisan. Alhamdulillaah, Sayyidinaa ‘Utsman bin Affan kembali ke Hudaibiyah dalam keadaan sehat wal ‘afiyat, sehingga pertumpahan darah dapat dicegah.

Sementara utusan pertama Makkah kepada Nabi SAW adalah Budail bin Warqa` al-Khuza’i. Budail yang melihat langsung keadaan Rasuulullaah SAW dan rombongannya, melaporkan ke Makkah bahwa hanya ibadahlah tujuan Rasuulullaah SAW. Sayangnya Makkah tidak percaya dengan Budail, dengan alasan Budail berasal dari suku Khuza’ah yang selama ini punya hubungan baik dengan keluarga besar Nabi Muhammad SAW.

Utusan kedua pihak Makkah adalah ‘Urwah bin Mas’ud, tokoh dari suku Tsaqif. Terjadi ketegangan dalam berembug namun tak ada kata sepakat. Menariknya, ‘Urwah melaporkan sesuatu yang sangat indah ketika kembali ke Makkah. Diriwayatkan, ‘Urwah berkata

Demi Allaah, aku telah berkunjung ke raja-raja. Aku telah menemui Kaisar (Romawi), Kisra (Persia), Negus (Abbesinia), sungguh aku tidak melihat seorang penguasa yang diagungkan oleh teman-temannya, sebagaimana Muhammad diagungkan.

Utusan dari Makkah berikutnya adalah al-Hullais bin ‘Alqamah. Ketika Nabi SAW melihatnya datang, beliau SAW sampaikan kepada para pendherek beliau,

Orang ini dari kaum yang memiliki rasa keagamaan yang baik. Giringlah unta-unta yang akan dikorbankan agar dia melihatnya.

Sabda Nabi SAW tentang urusan unta ini merupakan salah satu bentuk firasat. Firasat sendiri terdiri dari dua jenis. Jenis pertama, firasat adalah seni memprediksi dengan memanfaatkan pengetahuan: pengumpulan data, pengalaman, dan perkiraan ilmiah lain. Firasat jenis ini di dunia ilmu pengtahuan biasa dinamai dengan istilah seperti perkiraan, proyeksi, prediksi, atau pemodelan. Perkiraan cuaca, misalnya, dilihat dari foto udara dari satelit, suhu, kelembapan udara, arah angin, dan lain sebagainya. Ini adalah jenis firasat yang didapat atas ikhtiar manusia.

Jenis kedua adalah firasat yang langsung berasal dari Allaah SWT, kepada siapapun yang dikehendaki oleh Allaah SWT. Dalam konteks firasat ini, Nabi SAW juga bersabda

 photo hudaibiyah-3_zpsfuk5n7qf.png

Sungguh tepat firasat Nabi SAW tersebut tentang bagaimana menghadapi utusan Makkah, Hullais. Sayangnya, ketika Hullais kembali ke Makkah dan melaporkan ke kaum Quraisy, Hullais justru diejek, diremehkan, dan disepelekan. Bahkan kaum Quraisy yang mengutus Hullais dengan kasar mengatakan, duduk sajalah! Engkau tidak lain kecuali penduduk gunung yang tidak mengerti!

Tokoh-tokoh kaum Quraisy ini meremehkan Hullais, tapi di saat yang sama tidak berani menyerang Nabi SAW secara langsung, karena khawatir dikecam masyarakat luas bahwa mereka menyerang rombongan yang mau beribadah. Masyarakat Makkah penentang Nabi SAW saat itu berada dalam kondisi terjepit.

Utusan dari Makkah berikutnya adalah Mukriz bin Hafsh yang juga gagal dan utusan terakhir adalah Suhail bin ‘Amr.

Tentang Suhail bin ‘Amr tersebut, ada pelajaran penting tentang optimisme dari Nabi SAW. Ketika Nabi SAW melihat Suhail dikirim sebagai utusan, optimisme Nabi SAW meningkat. Kemunculan optimisme baru ini karena nama “Suhail” yang seakar dengan sahl, yang maknanya mudah. Nabi SAW pernah bersabda,

 photo hudaibiyah-4_zps0yldf5fb.png

Nabi Muhammad SAW seringkali menjadikan kalimat yang indah atau nama sesuatu yang baik yang Beliau SAW dengar atau temui sebagai sarana menumbuhkan optimisme. Tetapi tidak dengan sebaliknya, ketika menjumpai nama yang buruk kemudian menjadikannya sebagai sumber pesimisme. Nabi SAW juga bersabda,

 photo hudaibiyah-5_zpsa9xkwbrp.png

Demikianlah, kalimat yang indah, atau nama yang baik, dijadikan Rasuulullaah SAW sebagai penopang optimisme, yang memang sudah seharusnya selalu menghiasi jiwa seseorang, apapun yang terjadi. Perlu diperhatikan bahwa penopang optimisme tersebut diartikan sebagai sebuah peningkatan atas usaha yang sedang berlangsung, serta tidak boleh dimaknai bahwa kalimat tersebut, nama tersebut, atau apapun yang mendatangkan optimisme tersebut, secara mandiri mampu mendatangkan manfaat maupun mudlarat. Sumber segala manfaat adalah dari Allaah SWT, begitupun dengan mudlarat yang hadir atas seizin Allaah sebagai ujian. Manusia sendiri wajib untuk berikhtiar dan kemudian disempurnakan dengan kepasrahan kepada Allaah SWT perihal hasil akhirnya.

Nah, sepanjang 19 atau 20 hari di Hudaibiyah tersebut telah banyak utusan silih berganti hadir kedua belah pihak, namun belum ada titik terang. Begitu Suhail datang, bersabdalah Nabi SAW tentang optimisme tersebut.

Hadirin rahimakumullaah, setelah perundingan yang tak kalah alot dan penuh perdebatan, akhirnya disepakati sebuah perjanjian yang dalam sejarah Islam dikenal sebagai Perjanjian Hudaibiyah. Isi perjanjian tersebut secara ringkas adalah:

  1. Gencatan senjata selama 10 tahun. Tak boleh permusuhan dan tindakan buruk satu sama lain selama periode tersebut.
  2. Siapapun dari kaum musyrik yang datang ke Nabi SAW (menjadi muslim) tanpa izin keluarga, harus dikembalikan ke Makkah. Tetapi jika sebaliknya (dari muslim kembali ke kaum musyrik), maka tidak akan dikembalikan ke Nabi SAW.
  3. Diperkenankan siapa saja dari suku-suku Arab untuk mengikat perjanjian damai dan menggabungkan diri kepada salah satu pihak (Makkah atau Nabi SAW).
  4. Tahun ini belum boleh memasuki Makkah. Tahun depan boleh masuk Mekkah dengan syarat hanya mukim tiga hari dan tanpa senjata kecuali pedang yang disarungkan.
  5. Perjanjian diikat atas dasar ketulusan dan kesediaan penuh untuk melaksanakannya, tanpa penipuan atau penyelewengan.

Meskipun Perjanjian Hudaibiyah secara sekilas nampak seperti kegagalan umat Islam, bahkan sempat muncul suara ketidak-puasan dari para sahabat, di mana salah satunya adalah dialog antara Rasuulullaah SAW dengan Sayyidinaa ‘Umar bin Khaththab, sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Bukhari,

Sayyidinaa ‘Umar RA : Bukankah engkau benar-benar Rasuulullaah?

Rasuulullaah SAW      : Benar aku adalah Rasuulullaah SAW.

Sayyidinaa ‘Umar RA : Bukankah kita dalam kebenaran dan musuh kita dalam kebatilan?

Rasuulullaah SAW      : Benar. Kita dalam kebenaran.

Sayyidinaa ‘Umar RA : Kalau demikian, mengapa kita menerima sesuatu yang rendah menyangkut agama kita?

Rasuulullaah SAW      : Aku adalah Rasul Allaah. Aku tidak akan mendurhakai-Nya. Dia adalah Penolong/Pembelaku.

Sayyidinaa ‘Umar RA : Bukankah engkau pernah menyampaikan kepada kami bahwa kita akan melakukan thawaf di Ka’bah?

Rasuulullaah SAW      : Benar! Tapi, apakah aku menyatakan bahwa itu tahun ini?

Sayyidinaa ‘Umar RA : Memang engkau tidak menyatakan bahwa itu tahun ini.

Rasuulullaah SAW      : Sungguh, yakinlah bahwa engkau akan berkunjung dan thawaf di sana.

Dialog ini wajar terjadi karena suasana psikologis 1.400-an orang yang sangat optimis dapat umrah, namun tertunda. Mempertanyakan adalah logis, walaupun akhirnya ketaatan kepada Rasuulullaah SAW adalah pilihan terbaik. Pada akhirnya, demikian pula yang dilaksanakan oleh ribuan umat Islam dalam rombongan yang dipimpin oleh Nabi SAW.

Mengapa para sejarawan internasional justru memandang perjanjian ini sebagai langkah diplomasi Nabi SAW yang piawai? Karena berhasil memaksa orang Quraisy yang selama ini memandang rendah umat Islam untuk duduk setara, sama tinggi dan sejajar, mengadakan sebuah perjanjian.

Hadirin rahimakumullaah, ada beberapa pelajaran penting sepanjang peristiwa Hudaibiyah ini. Di antaranya adalah pentingnya mendahulukan musyawarah, mengutamakan perdamaian, melancarkan berbagai strategi, dalam melawan musuh. Lebih dari itu, jika kepada musuh yang mengancam secara fisik saja musyawarah dan perdamaian mencari solusi didahulukan, maka sudah seharusnya, perbedaan-perbedaan dengan sesama anak bangsa atau sesama umat Islam diselesaikan dengan sebaik-baiknya, tanpa caci maki, fokus pada jalan keluar, tanpa pertentangan dan permusuhan.

Semoga Allaah berkenan meneguhkan hati kita, untuk selalu menjadi umat Islam yang penuh perdamaian dalam upaya-upaya mewujudkan kemashlahatan umat manusia. Aamiin.