Islam Nusantara dalam Konteks Konsensus Kebangsaan

~ Jika pemahaman Islam Nusantara diambil dari perspektif konsensus kebangsaan yang diperkaya dengan sejarah dan hikmah atas keadaan politik Timur Tengah dan bangsa Arab dewasa ini, insya-Allaah mau tak mau kita akan menyetujuinya. ~

Salah satu kekecewaan kepada bangsa Arab dan kawasan Timur Tengah adalah kegagalannya dalam menyelesaikan permasalahan kenegaraan dan kebangsaan di kawasan, padahal karakteristiknya relatif homogen, yakni (1) keragaman etniknya kecil, (2) agama mayoritas Islam, (3) berada di satu wilayah daratan yang luas, (4) berbahasa tunggal (Arab), dan (5) memiliki kekhasan budaya yang sangat mirip satu sama lain.

Di zaman Perang Teluk, ketika Irak menyerang Kuwait yang berbatasan dengan Saudi, ulama dari kedua negara (Irak dan Saudi), yang sama-sama Islam Ahlus-Sunnah berfatwa untuk saling menghalalkan darahnya.

Inikah cerminan Islam Rahmatan lil—’aalamiin?

Di zaman sekarang, Irak masih semrawut. Mayoritas Islam. Ada Syiah, ada Sunni, dan ada pula etnis Kurdi. Etnik Kurdi sendiri, merupakan etniknya Salahuddin al-Ayyubi yang sangat tenar itu, tersebar di mana-mana dan terkesan di anak-tirikan di berbagai negara berpenduduk muslim, seperti Irak, Suriah, dan Turki. Kesemrawutannya bukan main-main: perbedaan kepentingan dalam kekuasaan (politik) disikapi dengan pembunuhan massal lewat bom dan senjata.

Inikah cerminan Islam Rahmatan lil—’aalamiin?

Suriah yang sedang dilanda perang saudara sesama muslim. Banyak faksi politik, punya kepentingan masing-masing, semua ngaku Islam. Dan kepentingan pun ditegakkan dengan bom serta senjata.

Ulama besar Suriah, al-Maghfurlah Syaikh Ramadlan al-Buthi, sebelum konflik membesar dan hanya berupa demonstrasi, terus menerus menyuarakan rekonsiliasi nasional, tapi tak pernah didengar oleh para elit muslim yang punya kepentingan. Sampai detik ini, sekitar 6 juta penduduk terkatung-katung di dalam negeri Suriah dan 5 juta jiwa lainnya tersebar di luar Suriah. Semua yang berkepentingan mengatasnamakan penegakan agama Islam.

Inikah cerminan Islam Rahmatan lil—’aalamiin?

Saudi, Bahrain, Uni Emirat Arab, Senegal, Maroko, dan Sudan sedang berkonflik dengan Yaman sekaligus bersitegang dengan Qathar yang sebelumnya berada di koalisi Saudi namun belakangan pecah kongsi. Yaman sendiri sedang perang saudara. Alasannya perebutan kekuasaan politik. Ada Sunni, ada Syiah, ada pula al-Qaeda. Semua pihak, Saudi, Yaman dengan berbagai faksinya, dan Qathar, mayoritas muslim dan sedang berperang.

Inikah cerminan Islam Rahmatan lil—’aalamiin?

Fakta di atas adalah salah satu penyebab mengapa muncul gagasan Islam Nusantara. Bandingkan dengan kondisi kita sebagai bangsa yang masih utuh dan bersatu, meskipun beberapa spesifikasinya berbeda dg Timur Tengah: mayoritas Islam, terpisah lautan, penduduk besar dan beragam suku, bahasa, hingga budaya.

Maka Islam Nusantara diperkenalkan oleh NU, menurut saya, yang diunggulkan adalah Islam sebagai sebuah solusi kebangsaan, konsesus membentuk negara yang berorientasi kepada umat. Islam yang benar-benar rahmatan lil-‘aalamiin karena memprioritaskan musyawarah dalam menyelesaikan masalah, terutama bagaimana kepentingan politik kekuasaan dikelola oleh Indonesia yg mayoritas muslim.

Itulah kenapa NU mendeklarasikan hubungan Pancasila dengan Islam pada 1983 sebagai pedoman umat dalam berbangsa dan bernegara. PBNU juga mengantarkan 12 ulama Afghanistan ke UGM pada 2013 untuk belajar Pancasila. Kemudian Pekalongan menjadi tuan rumah Konferensi Ulama Thariqah Se-dunia dengan tema Bela Negara pada 2016. Dan pada 2018 ini ada Konferensi Ulama Indonesia, Afghanistan, dan Pakistan di Bogor, serta kehadiran ulama Indonesia ke Irak beberapa minggu yg lalu. NU, Islam Indonesia, Islam Nusantara serius berperan dalam perdamaian kebangsaan.

Hanya saja dimensi ini dikaburkan oleh mereka yang benci dengan NU. Mengapa? Karena kalau umat sadar dengan ini, terutama kalangan NU sendiri yang berbasis di pedesaan serta intelektual mudanya di perkotaan, maka habislah kepentingan politik mereka. Ora payu alias tidak laku.

NU yang berpegang pada empat prinsip (tawasuth atau pertengahan, tawazun atau keseimbangan, tasamuh atau tepa selira, dan i’tidal atau keadilan) akan memandang persoalan dengan objektif serta fokus pada fakta dan data. NU mendorong ikhtiar untuk menelaah persoalan dari beragam perspektif, sebelum memutuskan arah politiknya.

Bagaimana agar objektivitas ini kabur dan hilang? Serang dengan subjektivitas: kebencian membabi buta, kebencian pada perbedaan pendapat, kebencian pada tokoh NU, kebencian pada tokoh bangsa. Ketika berbeda, habisi dengan hujatan dan kata-kata kasar, tidak perlu melihat konteksnya atau objektivitasnya.

Agar massif, serang lewat sosial media. Tujuan lain lewat sosial-media  adalah agar masyarakat yang belum lama melek internet, termasuk kalangan NU di pedesaan yg belum kenal hoax dan objektivitas informasi, agar beralih ke subjektivitas dan keluar dari empat prinsip NU. Maka dalam hal ini, pesantren menjadi sebuah jangkar yang sangat penting bagi NU untuk terus memproduksi calon-calon pemimpin umat yang teguh pada nilai Islam dan kebangsaan.

Kalau kita tidak memahami Islam Nusantara dalam konteks konsensus kebangsaan, bahkan mengaburkan maknanya ke arah fitnah keji dan kebencian massif (misal: mengganti syariat, menjunjung tinggi budaya lokal dibandingkan Qur`an dan Sunnah, membenci Arab secara mutlak), maka bukan tidak mungkin krisis Timur Tengah akan berpindah ke Indonesia. Kita memohon perlindungan Allaah dari yang demikian.

Mari kita dinginkan suasana perebutan kepentingan di 2019 nanti dengan menghindari caci maki, mengurangi kebencian, dan diskusi cerdas berdasarkan objektivitas.

Sebagai penutup, Kanjeng Nabi SAW pernah bersabda,

Al-amnu wal-‘aafiyah ni’mataani magh-buunun fii-himaa katsiirun-minan-naas. Keamanan dan kesehatan adalah dua nikmat yg membuat banyak orang terlena.

Semoga Allaah memudahkan niat baik NU untuk terus memperdengarkan Islam Nusantara.

Blunyah Gede,
8 Juli 2018,
Ahmad Rahma Wardhana.

Lampiran Foto: dua buku yang relevan dengan maksud tulisan ini sehingga layak untuk dibaca

IMG20180708135016

IMG20180708151129

IMG20180708151146

Mengurai Hikmah Tragedi Mako Brimob: Islam adalah Kedamaian

Alhamdulillaah, tragedi di Mako Brimob sudah selesai. Ada evaluasi yang harus dilakukan, terutama di manajemen penjara beserta perangkat keamanannya. Pemerintah harus mengakui (serta memperbaikinya, tentu saja) bahwa sebagian pemicunya adalah kedua hal tersebut.

Namun demikian, tidak berarti kita melegalkan kekerasan yang dilakukan oleh para teroris itu. Apalagi membela perilaku keji ini dengan dalih apapun. Bahkan termasuk tuduhan pencitraan kubu politik yang sedang memegang amanah pemerintahan RI. Jika sampai ada yang menyampaikan hal tersebut (tuduhan pencitraan), bagi saya, sungguh telah mati nuraninya. Sementara kepada anggota kepolisian yang gugur dalam tugas, semoga Allaah Ta’aala mengganjar kalian dengan rahmat-Nya yang Maha-agung dan Menyeluruh.

Selain itu, sebagai masyarakat bangsa dan negara, kita juga harus semakin sadar bahwa kejahatan atas nama Islam itu nyata keberadaannya.

Islam tak pernah mengajarkan kekejian, bahkan dalam keadaan perang sekali pun. Namun pembela dan pelaku atas tafsir selain itu benar-benar ada dan hidup berkembang di Indonesia kita tercinta.

Tidak semua yang kritis kepada pemerintah dan/atau bahkan yang anti-negara NKRI berafiliasi dengan para pembajak Islam tersebut, tapi realitasnya, para pembajak Islam alias teroris-teroris itu, memanfaatkan kedua kubu tersebut dengan narasi-narasi cantik nan (seolah-olah) mulia: Islam terzhalimi. Lebih jauh lagi, teroris-teroris tak berperasaan ini dengan percaya diri sering menggunakan isu HAM dengan berlebihan, sedemikian rupa sehingga, pemerintah dan negara yang sedang menegakkan hukum adalah pelanggar HAM terberat di dunia.

Begitu pula dengan isu anti-Amerika Serikat (US). Benar bahwa sejarah terorisme modern berkaitan erat dengan peran US pada masa perang dingin melawan Uni Soviet dengan meradikalkan sebagian kecil umat Islam atas nama perjuangan anti-Soviet. Benar pula, bahwa saat ini pengaruh US kepada semua pemerintah dan negara di seluruh penjuru dunia itu eksis.

Tapi sungguh sebuah kebodohan jika terorisme atas nama Islam di negeri kita digambarkan sebagai sebuah garis lurus perintah/koordinasi antara US, Indonesia, dan terorisme itu sendiri, dengan mengabaikan faktor-faktor lain yang sangat kompleks dan rumit.

Mengapa bodoh? Karena tidak mau berpikir menguraikan persoalan yang sesungguhnya dan memilih sebodoh-bodohnya sikap: memosisikan diri sebagai korban kemudian menunjuk orang lain sebagai pelaku, dengan kata “pokoknya” sebagai penekanan.

Sungguh sikap yang bertentangan dengan ajaran al-Qur’an tentang anjuran untuk berubah dengan ikhtiarnya sendiri.

Maka mari bersama-sama, kita berusaha menjalankan Islam dengan baik dan benar sembari terus memberikan kontribusi terbaik bagi bangsa dan negara melalui kritik konstruktif yang solutif sebagai bentuk nyata ikhtiar untuk meningkatkan kualitas kehidupan umat manusia.

Terakhir, saya ingin mengingatkan pentingnya sebuah institusi negara dlm kehidupan keagamaan dan spritualitas umat, sebagaimana dibahas dalam konferensi internasional ulama thariqah sedunia bertemakan “Bela Negara: Konsep dan Urgensinya menurut Islam”, di Pekalongan 2016 yg lalu.

Hasilnya ada sembilan poin penting, yang empat di antaranya akan saya kutip sebagai penutup tulisan ini:

Pertama, negara adalah tempat tinggal di mana agama diimplementasikan dalam kehidupan.

Kedua, bernegara merupakan kebutuhan primer dan tanpanya kemaslahatan tidak terwujud.

Ketiga, bela negara adalah di mana setiap warga merasa memiliki dan cinta terhadap negara sehingga berusaha untuk mempertahankan dan memajukannya.

Keempat, bela negara merupakan suatu kewajiban seluruh elemen bangsa sebagaimana dijelaskan Al-Quran dan Hadis.

Demikian, semoga bermanfaat.

Blunyah Gede, Yogyakarta, 10 Mei 2018,
Ahmad Rahma Wardhana.

Cinta kepada Sesama Manusia: Pokok Ajaran Islam

Tautan versi PDF, silakan untuk digunakan sebagai bahan ceramah: LINK.

Alhamdulillaah, segala puji hanya pantas disandang oleh Allaah Tabaraka wa Ta’aala yang masih berkenan memberikan kepada kita kenikmatan agung untuk bertemu kembali dengan Ramadlan. Shalawat serta salam semoga tetap dan terus tercurahkan kepada Nabi Muhammad SAW, beserta keluarga, sahabat, serta, pengikut beliau.

Hadirin rahimakumullaah.

Nikmat pertemuan dengan Ramadlan harus benar kita syukuri, agar Allaah Ta’aala melipat-gandakan nikmat tersebut, yakni semoga memberikan kesempatan kepada kita untuk bertemu dengan Ramadlan-Ramadlan di tahun berikutnya. Sesuai dengan firman Allaah Ta’aala yang masyhur tentang bersyukur (QS Ibrahim ayat 7),

Sama halnya dengan dua nikmat lain, yang kita kebanyakan lupa dan terlena, karena kehadiran nikmat tersebut yang berlangsung hampir setiap saat. Kanjeng Nabi SAW bersabda (HR at-Thabrani dari Ibnu ‘Abbas),

Dalam berbagai kesempatan, di setiap Ramadlan, saya selalu mengingatkan betapa aman dan nyamannya kita beribadah sebagai umat Islam di Indonesia. Kadang nikmat ini, yakni termasuk nikmat keamanan sebagaimana Nabi SAW sampaikan, lupa untuk kita syukuri.

Munculnya peledakan di Kampung Melayu yang diklaim oleh ISIS sebagai dalangnya, sudah sepantasnya meningkatkan kewaspadaan kita terhadap nikmat keamanan, yang jangan-jangan kita lupa mensyukurinya. Mari kita bercermin pula pada munculnya ISIS di Filipina, negara yang sangat dekat dengan Indonesia. Pun dengan peledakan dua bom di Baghdad, negeri berpenduduk mayoritas Islam, dalam sehari terakhir.

ISIS adalah ancaman nyata bagi umat Islam, karena pada nyatanya korban terbesar kekejian mereka selama ini adalah umat Islam sendiri. Ketika mereka terdesak di Timur Tengah, ISIS mencari cara lain untuk menyebarkan ajaran sesatnya: melalui kelompok-kelompok radikal di luar Timur Tengah. Sayangnya, ada sebagian putra bangsa Indonesia yang justru menganggapnya ancaman nyata ini sebagai rekayasa semata.

Hadirin rahimakumullaah.

Boleh jadi ada di antara kita ada yang bertanya-tanya, di mana letak kesalahan ajaran ISIS? Bukankah ISIS membawa bendera bertuliskan kalimat tauhid (laa-ilaaha-illaa-Llaah)? Jelas nyata, salah satu kesalahan yang paling nampak adalah kekejian ISIS kepada sesama manusia. Padahal Nabi SAW bersabda (HR Bukhari),

Jika Nabi SAW memerintahkan demikian, apakah mungkin muncul kekejian kepada sesama manusia? Tentu tidak.

Inilah kepedulian yang seharusnya muncul dari pemeluk Islam. Cinta, yang tidak hanya kepada sesama muslim atau sesama mukmin, tapi kepada sesama manusia. Atau dapat pula dikatakan, cinta kepada sesama manusia saja diperintahkan oleh Nabi SAW, apalagi kepada sesama muslim atau mukmin.

Dalam sabdanya yang lain Nabi SAW bersabda (HR ath-Thabrani dari Abu Umamah),

Sabda Nabi SAW menggambarkan bahwa ibadah vertikal dan personal kita kepada Allaah Tabaraka wa Ta’aala harus membekas di dalam kehidupan sosial kemasyarakatan. Bukankah memalukan jika shalat kita khusyu’ dan rajin namun tak tercermin di dalam cara kita berkomunikasi dengan tetangga atau orang lain siapapun itu? Bukankah seharusnya diri kita sendirilah yang mewujudkan firman Allaah (QS al-‘Ankabut ayat 45),

Ini karena kita bukan sekedar makhluk individu, tetapi juga makhluk sosial. Karena Allaah gambarkan pula penciptaan kita melalui makna surat al-‘Alaq, sesuatu yang menggantung di dinding rahim yang dimaknai kebutuhan manusia terhadap manusia lainnya. Wajarlah kemudian Islam juga mengajarkan fungsi sosial harta, melalui zakat, shadaqah, hibah, wakaf, hadiah, dan bahkan melarang beredarnya harta di antara sedikit orang, sebagaimana Allaah Ta’aala sampaikan dalam firman-Nya (QS al-Hasyr ayat 7),

Lebih dari itu, Nabi SAW menekankan pentingnya misi kemanusiaan dalam Islam, melalui sabda beliau (HR ath-Thabrani),

Sesudah iman kepada Allaah, maka wujud nyata keimanan harus ditujukan kepada sesama makhluk, terutama manusia. Dorongan ini selaras dengan fungsi kita sebagai khalifatullaah fil-ardl, wakilnya Gusti Allaah SWT di muka bumi, untuk memakmurkan bumi dan seisinya, menciptakan bayang surga di muka bumi.

Di sabda Nabi SAW yang lain, yang mirip maknanya dengan amalan utama sesudah iman agar mencintai sesama manusia, bahkan ditambah dengan perintah lain yang lebih indah. Beliau SAW bersabda (HR Baihaqi),

Inilah indahnya Islam yang sesungguhnya. Bahkan kepada mereka yang durjana pun, kita diperintahkan untuk berbuat baik. Membenci dan memberikan hukuman atas perbuatan seseorang yang melanggar dengan hukum positif itu harus, tapi tidak boleh kemudian memperburuk keadaan dengan berbuat buruk kepadanya. Justru sebaliknya: berbuat baiklah, sekalipun kepada seorang yang durjana!

Hadirin rahimakumullaah.

Mengapa berbuat buruk kepada pendosa dilarang? Mengapa mencaci seseorang yang berbuat dosa dilarang? Sebagaimana dikisahkan sebuah hadis (HR al-Bukhari dari Abu Hurairah RA), bahwa seorang laki-laki yang menenggak minuman keras dihadapkan kepada Nabi Muhammad SAW, Abu Hurairah berkata,

Menghukum seseorang sesuai dengan norma yang berlaku itu harus. Tetapi mencaci-maki sang pelanggar atau mengutuk hingga melaknatnya, sungguh dilarang oleh Nabi Muhammad SAW. Bahkan oleh Nabi SAW disamakan dengan memberikan pertolongan kepada setan!

Mengapa demikian? Karena tujuan syaithan menggoda manusia adalah untuk menjerumuskan kita kepada neraka, sehingga ketika kita sebagai manusia melakukan laknat kepada sesama manusia, mengutuk sesama manusia agar Allaah membenci, bahkan berharap para pendosa masuk ke neraka, apa bedanya kita dengan syaithan? Inilah maksud Nabi Muhammad SAW dengan memberikan pertolongan kepada syaithan.

Hadirin rahimakumullaah.

Saya berada di atas mimbar ini utamanya adalah untuk mengingatkan diri saya sendiri, baru kemudian mengajak bersama-sama kepada seluruh hadirin, untuk mengubah cara kita memandang kepada saudara-saudara kita yang masih bergelimang dosa. Tidak lagi dengan jijik dan kutukan, tapi dengan rasa kasihan dan dakwah serta doa.

Melihat para pemuda yang terjerumus ke premanisme dan bertindak kekerasan, tidak lagi dengan laknat tapi dengan rasa kasihan, kemudian memberikan nasihat jika kenal serta mendoakan semampunya. Melihat seorang yang sudah berusia dewasa namun masih menenggak minuman keras tidak lagi dengan sekedar kutukan dan doa keburukan, tapi dengan rasa kasih tentang kesehatan organ dalamnya, seraya memberikan nasihat dan mendoakan semampunya.

Secara praktek, ini sangat sulit. Bahkan saya sendiri pun belum tentu bisa melakukannya. Berdoa untuk yang kita kenal saja kadang kita lupa, bagaimana mungkin mendoakan orang yang buruk perangainya agar bisa berubah ke arah yang lebih baik? Maukah kita menyempatkan diri untuk memberi rasa kasih kepada saudara-saudara kita yang demikian, melalui dakwah, kata-kata, kelembutan, teladan, dan doa, agar kembali ke jalan yang benar?

Hadirin rahimakumullaah.

Nabi Muhammad SAW bersabda (HR ad-Dailami dari ‘Aisyah),

Inilah tugas kita dalam ikhtiar bersama menjadi wakil Allaah Tabaraka wa Ta’aala di muka bumi: mengajak manusia ke arah yang lebih baik dengan kata-kata, teladan, dan doa, dengan penuh kelembutan sebagai bentuk implementasi rasa cinta kepada sesama manusia. Bahkan kelembutan pada manusia sama fardlunya dengan kewajiban-kewajiban lain di dalam agama.

Tentu saja, tidak ada paksaan dari kita, apakah yang kita ajak mau ikut atau tidak. Bagaimanapun juga, datangnya hidayah, hadirnya petunjuk ke dalam hati seorang manusia bukan di tangan kita, tapi sepenuhnya merupakan kuasa Allaah SWT. Bahkan Nabi Muhammad SAW-pun tidak berhasil membuat pamannya Abu Thalib mengucapkan dua kalimat persaksian hingga akhir hayatnya.

Dengan demikian, bertemunya rasa cinta kepada sesama manusia dan kelembutan dakwah di dalam Islam, hendaknya akan menghindarkan kita dari siksa Allaah Ta’aala di dunia maupun akhirat, sebagaimana Allaah ingatkan (QS an-Nuur ayat 19),

Dan tentu saja, rasa cinta pada sesama manusia dan kelembutan dakwah, juga akan mencegah dari munculnya kerugian dan kekecewaan kita sebagai hamba Allaah, sebagaimana Nabi SAW sabdakan (HR Abu Nu’a-im al-Ashbahani),

Demikianlah penyampaian dari saya. Jika ada lebihnya itu hadir karena rahmat Allaah SWT, jika banyak kekurangan, sungguh semata-mata karena masih lemahnya ilmu yang saya miliki. Semoga Allaah memberikan kekuatan kepada kita untuk istiqamah berada di jalan cinta dan kelembutan dalam menjalankan Islam, Islam yang rahmatan lil-‘aalamiin. Aamiin.

Islam yang Menjadi Rahmat bagi Semesta Alam

Disampaikan sebagai Khatbah Idul Fitri di Dusun Pragak-Bendorejo, Semanu, Gunungkidul.

* Muqaddimah *

al-Baqarah 185

al Baqarah 185

 

Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangan-(nya) dan hendaklah kamu mengagungkan Allaah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepada kamu, supaya kamu bersyukur.

Rasuulullaah SAW bersabda

sabda Rasul SAW - merahmati yg di bumi

 

Rahmatilah siapa yang hidup di bumi, niscaya yang hidup di langit akan merahmati kamu.

Bapak, Ibu, Saudara-Saudari sekalian, Jamaah Shalat ‘Idul Fitri yang dirahmati Allaah SWT.

Pertama dan paling utama, marilah kita kembali teguhkan rasa syukur kita kehadirat Allaah SWT, dengan rasa syukur yang sesungguh-sungguhnya. Allaah masih berkenan menerangi hati kita dengan cahaya iman dan Islam, sehingga terdoronglah kita untuk hadir di majelis yang penuh keberkahan ini.

Bahkan, Allaah SWT masih pula mencintai negeri kita Indonesia, dengan mengondisikan negeri kita ini, setelah pemilihan umum DPR dan Presiden, alhamdulilllaah, masih dengan Indonesia yang aman dan tenteram, tak ada kerusuhan, tak ada perselisihan, tak ada konflik sosial, apalagi pembunuhan berlatar belakang politik.

Berbeda dengan negeri berpenduduk muslim lainnya di luar Indonesia, yang kalau tidak ada pemilihan saja saling berbunuhan sesama muslim, apalagi jika ada pemilihan, pertumpahan darah sesama muslim selalu saja terjadi. Alhamdulillaah, segala puji hanya pantas disandang oleh Allaah SWT, di Indonesia kita semoga hal tersebut tak pernah terjadi, semoga Allaah SWT berkenan menjaga kondisi negeri kita, Indonesia tercinta, selalu damai, aman, dan tenteram, Aamiin, Allaahumma Aamiin.

Shalawat serta salam dari Allaah SWT beserta dari seluruh makhluk ciptaan Allaah SWT semoga senantiasa tersampaikan kepada junjungan kita, manusia terbaik sepanjang masa, pemimpin umat manusia, sekaligus pemimpin dan penutup nasab para Nabi dan Rasul, seorang yang paling baik budi pekertinya, seorang yang paling bagus kata dan perbuatannya, sebaik-baik contoh dan teladan bagi manusia, beliaulah Rasuulullaah Sayyidinnaa Muhammad SAAW.

Tercurah pula semoga kepada keluarga, sahabat, dan pengikut beliau, insya-Allaah termasuk kita yang hadir dalam majelis penuh kemuliaan ini. Aamiin, ya Rabbal-‘Aalamiin.

Hadirin sekalian yang insya-Allaah penuh dengan curahan rahmat Allaah.

Satu bulan lamanya kita berada di dalam bulan kemuliaan, bulan Ramadlan, alhamdulillaah pagi hari ini kita memasuki bulan baru, bulan Syawwal, dalam sebuah hari raya utama umat Muslim, ‘Idul Fitri, hari di mana kita kembali ke fitrah, kembali kepada kesucian diri.

Kumandang takbir, tahlil dan tahmid itu sesungguhnya adalah wujud kemenangan dan rasa syukur kaum muslimin kepada Allah SWT atas keberhasilannya meraih fitrah (kesucian diri) melalui mujahadah (perjuangan lahir dan batin) dan pelaksanaan amal ibadah selama bulan suci Ramadhan yang baru berlalu. Allah SWT menegaskan di dala al Qur’an surah al Baqarah 185,

Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangan-(nya) dan hendaklah kamu mengagungkan Allaah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepada kamu, supaya kamu bersyukur.

Dalam suasana hari raya ini, marilah kita menghayati kembali makna kefitrahan kita, baik sebagai hamba Allah maupun sebagai khalifatullah fil ardli. Di sinilah sesungguhnya letak keagungan dan kebesaran hari raya Idul fitri, Hari di mana para hamba Allah merayakan keberhasilannya mengembalikan kesucian diri dari segala dosa dan khilaf melalui pelaksanaan amal shaleh dan ibadah puasa Ramadhan, sebagaimana disabdakan Rasulullah SAW,

hadits puasa

“Siapa yang berpuasa di bulan Ramadhan atas dasar keimanan dan dilaksanakan dengan benar, maka ia diampuni dosa-dosanya yang telah lewat”. (HR. Imam Muslim).

Jamaah Shalat ‘Idul Fitri yang insya-Allaah dikasihi Allaah SWT.

Ampunan Allaah dan rahmat Allaah yang mengapus dosa masa lalu kita di bulan Syawwal sesungguhnya adalah isyarat penting bagi umat manusia agar meneladani-Nya, meneladani Allaah Ta’aala, yakni memberi maaf, atau mengampuni dosa dan kesalahan orang lain, serta mengasihi segenap makhluk di seluruh muka bumi ini.

Ketika Sayyidatina ‘Aisyah RA ditimpa peristiwa al-Ifik, di mana beliau difitnah telah berselingkuh, turun rangkaian ayat di Surat an-Nuur ayat 10-18, pembelaan dari Allaah Ta’aala kepada Sayyidatina ‘Aisyah RA, menghapus segala tuduhan keji dan palsu kepada beliau RA.

Ketika peristiwa tersebut terjadi, salah seorang yang terlibat dalam menyebar berita palsu tersebut adalah Mistah, seorang yang hidupnya dibiayai oleh Sayyidinaa Abu Bakar RA. Begitu mendengar kabar ini, Sayyidinaa Abu Bakar RA, yang juga ayah dari Sayyidatinaa ‘Aisyah RA, istri Nabi SAW, marah, duka, lajeng ngucap sumpah untuk tidak memaafkan dan tidak akan membantu lagi Mistah. Tapi kemudian turun ayat ke-22 dari surah an-Nuur,

an Nuur 22

Hendaklah mereka memberi maaf dan melapangkan dada. Tidaklah kamu ingin diampuni oleh Allaah?

Dan sebagaimana dalam ayat yang lain, al Baqarah 187, at Taubah 43, asy Syuuraa 40, ‘Ali Imran 152 dan 155, dan juga al Maidah 95 dan 101, yang semuanya berbicara tentang Allaah yang memberi maaf dan tidak ada anjuran sama sekali untuk meminta maaf.

Mengapa Allaah lebih anjurkan untuk memberi maaf daripada meminta maaf? Jelas adanya bahwa Allaah ingin mengisyaratkan bahwa meminta maaf itu mudah, tanpa diisyaratkan pun, manusia akan lebih enteng njaluk ngapura. Tapi menehi apuran, memberi maaf, memaafkan, pasti terasa lebih berat, karena harus merelakan sesuatu yang menyakiti hati. Allaah tekankan anjuran ini, agar kita selalu memperhatikannya, selalu melakukannya.

Maka Allaah isyaratkan, berilah maaf, karena Allaah pun memaafkan sebelum hamba-Nya meminta ampunan. Kemudian lapangkan dadamu, hapuslah semua yang telah berlalu, kosongkan jiwamu dari kesalahan orang lain, dan raihlah ampunan Allaah. Allaah ingin tunjukkan kemuliaan mereka yang mau memaafkan, apalagi memaafkan sebelum datangnya permintaan maaf.

Hadirin yang dicintai Allaah SWT.

Budaya memaafkan ini, sungguh merupakan ajaran yang luar biasa dalam Islam. Karena ketika meminta maaf dan memberi maaf yang dilakukan dengan sepenuh jiwa dan raga akan menumbuhkan kedamaian di muka bumi. Tiada lagi tetangga yang konflik karena masalah sepele, tak ada lagi tali persaudaraan yang putus dan lepas karena masalah-masalah agama yang tidak pokok, bahkan dalam masalah yang sesungguhnya para ulama justru sudah sepakat untuk berbeda.

Allaah Ta’aala berfirman dalam surat al Anbiyaa` ayat 107,

al Anbiya 107

Dan tidaklah Kami mengutusmu (Nabi Muhammad SAAW), melainkan (sebagai) rahmat bagi semesta alam.

Bahkan Nabi Muhammad SAW memperinci dalam sabda beliau,

Rahmatilah siapa yang hidup di bumi, niscaya yang hidup di langit akan merahmati kamu.

Inilah wajah Islam yang sesungguhnya, menjadi rahmat bagi alam semesta. Bukan hanya Nabi Muhammad SAW saja yang seharusnya menjadi pengasih dan penyayang, tapi juga umat beliau, kita semua, sudah seharusnya menjadi manusia penyayang, pemaaf, pengasih kepada siapapun, apapun, di manapun.

Rasuulullah SAW pernah bersabda,

Apabila kalian mengendarai binatang, berikanlah haknya, dan janganlah menjadi setan-setan terhadapnya.

Rasuul SAW juga pernah ngendika,

Seorang wanita dimasukkan Tuhan ke neraka diakarenakan ia mengurung seekor kucing, tidak diberinya makan, tidak pula dilepaskan untuk mencari makan sendiri.

Sewalikipun, kali lain Nabi SAW paring sabda,

Seorang yang bergelimang dosa diampuni Tuhan karena memberi minum seekor anjing yang kehausan.

Inilah akhlak-akhlak kepada hewan yang Beliau SAW ajarkan.

Hadirin yang dirahmati Allaah Ta’aala.

Nabi Muhammad SAW bahkan melarang kita untuk menjual buah yang mentah atau memetik bunga yang belum mekar, beliau SAW bersabda,

Biarkan semua bunga mekar agar mata menikmati keindahannya dan lebah mengisap sarinya.

Inilah akhlak beliau SAW kepada tumbuhan, yang ternyata dibuktikan bahwa perilaku seperti ini mampu mencegah kerusakan pada keseimbangan alam.

Rasuul SAW juga merahmati benda-benda yang tak bernyawa sekalipun, dengan memberinya nama. Perisai Nabi diberi nama Dzat al-Fudlul, pedangnya dinamai Dzulfiqar, pelananya Rasuul SAW bernama al-Daaj, tikar, klasanipun Kanjeng Nabi SAW gadhah asma al-Kuz, gelasipun Nabi SAW kagungan asma ash-Shadir, teken Kanjeng Nabi SAW bernama al-Mamsyuk.

Benda-benda itu tak bernyawa, tapi dinamai dengan nama yang indah penuh makna, seakan-akan mempunyai kepribadian, yang berarti membutuhkan uluran tangan, pemeliharaan, rahmat, dan kasih sayang.

Bahkan, nalika Rasuul SAW merasa mendapat penolakan dakwah di Makkah, Beliau SAW mencoba dakwah ke Tha’if, tapi yang didapat justru lemparan batu hingga wajah Beliau SAW berdarah-darah. Datanglah Malaikat Jibril ‘AS, yang menawarkan bantuan dari malaikat lain yang siap mengangkat dua bukit untuk ditimpakan kepada penduduk yang melempari Beliau SAW.

Apa jawaban Beliau? Beliau katakan, jangan, jangan, bahkan aku berharap kelak ada keturunan mereka yang akan beriman kepada Allaah.

Sayyidinaa Hasan RA, cucu Rasuul SAW pernah meriwayatkan dari pamannya Hind bin Abi Halah,

Sayyidinaa Hasan dr Hind bin Abi Halah

Beliau tiada berlaku kasar dan tidak pernah menghina, Nikmat Allaah SWT dibesarkannya walaupun hanya sedikit.

Sayidatinaa ‘Aisyah RA berkata,

Sayyidatinaa Aisyah - akhlak Rasuul

Rasuulullaah SAW bukanlah orang yang keji, beliau tidak membiarkan kekejian, tiada mengeluarkan suara keras di pasar-pasar dan tidak membalas kejahatan orang lain dengan kejahatan. Beliau suka memaafkan dan berjabatan tangan.

Sayyidinaa Husain RA pernah meriwayatkan dari ayahnya Sayyidinaa ‘Ali bin Abi Thalib,

Sayyidinaa Ali - Wajah Manis Rasul

Rasuulullaah SAW adalah orang yang bermuka manis, lembut budi pekertinya,

Sayyidinaa Ali - Akhlak Rasul

tawadlu’, tidak bengis, tiada kasar, tiada bersuara keras, tiada berlaku dan berkata keji, tidak suka mencela dan tiada kikir.

Inilah akhlak Rasuul SAW, penuh kelembutan dan kasih sayang.

Hadirin rahimakumullaah.

Akhlak Rasuul SAW yang luar biasa itu, sayangnya sedang dilukai oleh orang-orang yang mengaku Islam. Saat ini, di Irak dan Suriah ada yang meneriakkan tegaknya pemerintah Islam, tapi perilakunya tidak mencerminkan umat Islam, tidak menggambarkan akhlak Rasuul SAW yang penuh kelembutan dan kasih sayang.

Mereka tunjukkan di internet, mereka banggakan bom-bom mereka, senjata-senjata mereka, yang mereka katakan, untuk membela Islam, menegakkan agama Allaah. Apakah itu mencerminkan Islam yang membawa makna kedamaian dan keselamatan?

Mereka banggakan peran mereka mengahncurkan makam Nabi Yunus ‘AS, menghancurkan masjid-masjid peninggalan para tabbi’in, meluluh lantakkan makam-makam ulama yang berjasa mengantarkan dan menegakkan agama Islam di tanah mereka. Inikah cerminan Islam, padahal Islam menghargai sejarah dengan memelihara Ka’bah, mensunnahkan shalat di Maqam Ibrahim, tempat batu bekas kaki Nabi Ibrahim ‘AS saat membangun Ka’bah?

Mereka pamerkan video menyembelih sesama manusia, menembak sesama manusia, berbuat keji sesama manusia, sesama warga bangsanya, dan mengatas-namakan perjuangan Islam, sementara Rasuul SAW membenci kekejian dan tak pernah berbuat kasar?

Dan yang lebih mengerikan lagi, masyarakat kita, beberapa minggu yang lalu, berkumpul di sebuah tempat di Jawa Tengah, dan mereka menyatakan bersumpah setia kepada ISIS (Islamic State of Iraq and Syria), sempalan Islam yang mencoreng sifat kasih sayang Islam, mencoreng ajaran mulia Islam, menjadi rahmat bagi semesta alam.

Hadirin rahimakumullaah.

Aliran sempalan ini harus kita waspadai. Mengapa, karena kita Indonesia sudah memiliki Pancasila sebagai hasil ijtihad para ulama pendiri bangsa dan tidak pernah dibantah oleh ulama Indonesia sampai detik ini. Pancasila, sebuah jalan tengah untuk kehidupan berbangsa dan bernegara. Apakah kita ingin seperti mereka, segala sesuatu diselesaikan dengan bom dan tembak-menembak, bunuh-membunuh, walaupun sesama Islam? Tentu tidak. Maka kita harus bertahan.

Kita jaga kampung-kampung kita dengan ajaran Islam yang damai, yang mengajak kepada kebaikan dengan kebaikan, tidak dengan cara yang keras. Kita jaga desa-desa kita, dusun-dusun kita, dengan bertanya kepada mereka yang memiliki ilmu Islam yang baik, yang diajarkan dari kiai-kiai kita, ustadz-ustadz kita, bukan ajaran dari ulama-ulama timur tengah yang selalu dalam kondisi konflik, sehingga keras isi dakwahnya.

Kita tetap mengambil ajaran ulama timur tengah, tetapi harus melalui lisan pengajar kita yang memahami ilmu bahasa arab, ilmu sejarah, ilmu qur`an, ilmu hadits, ilmu fiqh, dan ilmu pendukung lain. Mengapa harus melalui pengajar yang seperti ini? Karena mereka paham dengan kondisi kita, dan bisa memilih dan memilah, mana yang harus diajarkan kepada masyarakat kita, mana yang harus tidak diajarkan karena mengandung unsur politik dan keadaan setempat pada masa ajaran atau kitab tersebut disusun.

Mari kita jaga masyarakat kita dengan ilmu, mari kita jaga bangsa kita dengan ilmu, sehingga nantinya dari tanah air Indonesia kita akan menjadi wakil nyata agama Islam dari perilaku pemeluknya, yakni Islam yang rahmatan lil-‘aalamiin, menjadi rahmat bagi seluruh alam semesta, insya-Allaah, aamiin, Allaahumma aamiin.
اَللّٰهُ أَكْبَرُ، اَللّٰهُ أَكْبَرُ، لَاإِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَ اللّٰهُ أَكْبَرُ، اَللّٰهُ أَكْبَرُ وَ لِلّٰهِ الْحَمْدُ.

Hadirin yang insya-Allaah selalu dalam naungan kasih sayang Allaah.

Kesimpulannya, Idul Fitri adalah hari di mana kita kembali fitrah, kembali suci karena rahmat Allaah, karena ampunan Allaah atas mujahadah, kesungguhan kita dalam berjuang di Ramadlan. Hikmahnya, mari kita meniru Allaah, meneladani Allaah dengan menjadi manusia yang memberi maaf sebelum ada permintaan maaf, sekaligus menjadi pengasih, penyayang, pemurah, kepada alam semesta, lebih-lebih kepada sesama umat manusia, dan kita wujudkan dengan lisan dan perilaku kita, umat muslim Indonesia, bahwa kita, Islam, adalah rahmat bagi keseluruhan alam dan seisinya.

* Khatimah *

* Khatbah Kedua – Doa Penutup *

Download Teks Khatbah A5 (Google Drive)