Dua Ayat tentang Kemustahilan

Di antara hakikat dari sebuah rasa syukur kepada Allaah SWT adalah meyakini sepenuh jiwa dan raga tentang betapa besarnya nikmat yang Allaah Ta’aala berikan kepada kita semua. Rahmat Allaah SWT tersebut, karena luas jangkauannya, menyeluruh cakupannya, mendetail di rincian-rinciannya, berlangsung sepanjang waktu, dan menyentuh setiap ciptaan-Nya tanpa kecuali, membuat kita tak akan pernah bisa menghitung anugerah tersebut.

Terdapat dua ayat di dalam al-Qur`an yang menegaskan mustahilnya upaya menghitung nikmat Allaah SWT tersebut. Kedua ayat ini memiliki kalimat yang serupa sekaligus berbeda, yakni di QS Ibrahim (14) ayat 34 dan QS an-Nahl (16) ayat 18. Firman Allaah SWT dalam QS Ibrahim (14) ayat 34 berbunyi,

Sedangkan QS an-Nahl (16) ayat 18 berbunyi,

Kesamaan keduanya berada di kalimat tentang mustahilnya menghitung nikmat Allaah SWT, sedangkan perbedaannya berada di bagian penutup, di mana penutup QS Ibrahim (14) ayat 34 mengingatkan tentang potensi manusia yang dapat berbuat zhalim dan kufur (innal-insaana lazhaluumun-kaffaar), sementara penutup QS an-Nahl (16) ayat 18 meneguhkan betapa besarnya rahmat Allaah SWT dalam menghadapi hamba-Nya yang zhalim dan kufur (innallaaha laghafuurur-rahiim). Dan lebih dari itu, penafsiran atas kedua ayat ini mengandung hikmah yang besar bagi kehidupan umat manusia. Mari kita bahas secara berurutan.

QS Ibrahim (14) ayat 34 dibuka dengan kalimat yang meneguhkan anugerah Allaah SWT, wa aataa-kum min kulli maa sa-altumuuhu, yang artinya adalah dan Dia (Allaah) telah menganugerahkan kepada kami dari segala apa yang kamu mohonkan kepada-Nya. Terdapat dua pemaknaan terhadap kalimat ini.

Pertama, Bahwa segala kebutuhan manusia telah disiapkan oleh Allaah Ta’aala pemenuhannya, walaupun boleh jadi secara individu ada yang tidak dipenuhi permintaanya.

Perlu diingat kembali tentang mengapa tidak terpenuhinya sebuah permintaan, yakni, (1) yang bersangkutan belum siap hatinya untuk menerima anugerah, seperti misalnya terdapat potensi munculnya kesombongan atas ikhtiarnya sehingga lupa bersyukur kepada Allaah SWT; (2) diganti oleh Allaah Ta’aala dengan terhindarnya yang bersangkutan dari bencana; atau (3) ditunda pemenuhannya oleh Allaah SWT menjadi nikmat yang lebih besar di kesempatan lain atau bahkan ditunda hingga menjadi penebus dosa di akhirat kelak.

Ketiga sebab tersebut mengandung keseragaman berupa unsur-unsur keimanan: bersyukur dan berprasangka kepada Allaah SWT serta meyakini hadirnya serangkaian peristiwa Hari Akhir.

Ilustrasi paling mudah bagaimana memahami tidak terpenuhinya sebuah permintaan dapat digambarkan melalui kisah-kisah di seputar tragedi kecelakaan transportasi. Ketika Lion Air JT610 jatuh di Laut Jawa Oktober 2018 yang lalu, muncul cerita tentang seseorang yang terlambat karena kemacetan, sehingga batalmenjadi penumpang Lion Air JT610. Orang tersebut di sepanjang perjalanan menuju bandara pasti berdoa agar tak terlambat, namun Allaah SWT putuskan sebaliknya: terlambat dan justru selamat dari kecelakaan.

Tentu kita sudah sering mendengar kisah serupa yang tidak melulu soal kecelakaan tetapi juga tentang bagaimana berbagai hikmah dapat dipahami jauh setelah peristiwa yang kesan awalnya nampak tidak menyenangkan karena permintaan yang tidak terkabul, namun pada akhirnya berujung pada kebaikan dari Allaah Ta’aala.

Pemaknaan kedua kalimat wa aataa-kum min kulli maa sa-altumuuhu atau dan Dia (Allaah) telah menganugerahkan kepada kami dari segala apa yang kamu mohonkan kepada-Nya, adalah bahwa Allaah SWT telah menyiapkan dan memberikan kepada setiap orang apa yang dimintanya. Kondisi ini terjadi melalui dua mekanisme, yakni yang pertama adalah ikhtiar atau usaha seseorang yang ditakdirkan oleh Allaah SWT berhasil, dan kedua, dari satu manusia ke manusia lain melaluimekanisme ibadah sosial yang Allaah SWT perintahkan kepada umat manusia, baik yang sifatnya wajib (zakat maal dan zakat fitrah) maupun yang sifatnya sunnah (infak, sedekah, hadiah).

Boleh jadi muncul pertanyaan besar, apabila Allaah SWT telah menyiapkan dan memberikan kepada setiap orang apa yang dimintanya, mengapa ketidakadilan, kemiskinan, peperangan, kelaparan, dan kekurangan lain masih berlangsung? Penyebabnya dijawab oleh Allaah SWT dalam ayat yang sama di bagian penutup: innal-insaana lazhaluumun kaffar, potensi kezhaliman dan kekufuran yang dimiliki manusia, sayangnya justru berlangsung dan dikembangkan, secara sadar maupun tidak.

Kata lazhaluumun sendiri artinya sangat berbuat zhalim, yang memiliki beberapa makna buruk, seperti menzalimi dan menghalangi orang lain memperoleh haknya atau mengambil melebihi dari yang seharusnya dia ambil atau bersifat mubazir, yakni menyia-nyiakan sesuatu dan tidak menggunakannya pada tempat yang semestinya.

Kezhaliman yang kadang tidak kita sadari adalah soal sisa makanan. Sebuah riset yang dirilis pada tahun 2017 mengutip dua data yang menyakitkan, cermin kezhaliman kita sebagai umat manusia: ketika sepertiga makanan secara global terbuang menjadi sampah, masih terdapat 805 juta jiwa manusia yang mengalami kelaparan. Angka 805 juta jiwa sendiri setara dengan 11% penduduk dunia atau lebih dari tiga kali penduduk Indonesia.

Sementara itu, kezhaliman yang lebih sistemik, misalnya dapat diamati dari perdagangan senjata internasional. Pada tahun 2017, penjualan  senjata oleh 100 perusahaan terbesar di lebih dari 20 negara (Amerika Serikat, Rusia, Inggris, Perancis, Jerman, India, Israel, Jepang, Korea Selatan, dll) nilainya mencapai USD 412,47 miliar. Nilai ini hampir menyamai Produk Domestik Bruto (nilai seluruh aktivitas perekonomian sebuah negara) Iran (USD 439,51 miliar) atau Thailand (USD 455,22 miliar) dan nyaris setara dengan separuh PDB Belanda (USD 826,20 miliar) atau Turki (USD 851,10 miliar).

Di mana letak kezhalimannya? Jika komunitas global berkomitmen membentuk perdamaian dunia melalui banyak aktivitas bersama di berbagai kerja sama internasional, apakah nilai perlu untuk terus mengembangkan penjualan persenjataan? Bukan berarti harus membunuh inovasi persenjataan sebagai upaya negara membela kedaulatannya atau menutup industri dengan jutaan karyawan, tetapi lebih kepada nilainya yang terlampau besar, sementara kemiskinan, kelaparan, akses energi dan kesehatan, serta kebutuhan air bersih masih belum merata di semua negara. Alangkah indahnya jika perdamaian adalah kesungguhan bagi setiap negara dan masyarakatnya, sehingga investasi dan modal untuk mengembangkan persenjataan dapat dialihkan untuk memenuhi kebutuhan pokok masyarakat global.

Inilah kezhaliman yang dimaksud oleh Allaah SWT, salah satu faktor yang menjadi sebab mengapa rahmat yang telah disiapkan untuk setiap orang belum dapat diberikan kepada setiap orang apa yang memintanya.

Sementara itu, kemustahilan untuk menghitung nikmat Allaah Ta’aala dinyatakan dengan kata laa-tuh-shuuhaa atau tidaklah dapat menghinggakannya. Kata tuh-shuu-haa berasal dari akar kata yang terdiri atas huruf haa’, shaad, dan yaa’, serta mengandung tiga makna asal, yaitu: 1) menghalangi atau melarang; 2) menghitung dengan teliti dan mampu, sehingga lahir makna mengetahui, mencatat, atau memelihara; kemudian makna 3) sesuatu yang merupakan abgian dari tanah, sehingga lahir kata hashaa yang artinya batu.

Pada masa lampau, manusia menggunakan batu untuk menghitung. Atau apabila telah mencapai pada hitungan sepuluh, digunakanlah sebuah batu untuk menandai setiap sepuluh hitungan. Dari sinilah kata tersebut dimaknai sebagai menghitung. Pemilihan kata ini juga menimbulkan kesan, bahwa jumlah nikmat Allaah SWT sangatlah banyak, ibarat sejumlah batu-batu yang merupakan bagian dari tanah. Seseorang baru akan mampu menghitungnya jika ia telah mampu menghitung batu-batu di muka bumi. Tentu saja ini adalah kemustahilan.

Kemustahilan tersebut juga dapat dipahami, sebagaimana telah disampaikan pada bagian awal, bahwa nikmat Allaah SWT yang betapa luas jangkauannya, yang menyeluruh cakupannya, yang mendetail di rincian-rinciannya, yang berlangsung sepanjang waktu, dan yang menyentuh setiap ciptaan-Nya tanpa kecuali, membuat kita tak akan pernah bisa menghitung anugerah tersebut.

Nah, kalimat penutup innal-insaana lazhaluumun kaffar telah dijelaskan sebelumnya, sehingga kali ini akan dijelaskan penutup di QS an-Nahl (16) ayat 18, innallaaha laghafuurur-rahiim.

Kalimat innallaaha laghafuurur-rahiim, merupakan bagian dari tiada terhingganya nikmat Allaah SWT. Maksudnya, sekalipun kita sebagai umat manusia kolektif kadang bahkan sering melakukan kezhaliman dan tidak mensyukuri nikmat (kufur nikmat), Allaah Ta’aala tetap saja membuka pintu ampunan dan tetap pula mencurahkan rahmah-Nya, kasih sayang-Nya. Hal ini muncul pula dalam sebuah hadits dari Sayyidinaa Abu Hurairah yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim Radliyallaahu’anhum, Nabi Muhammad SAW bersabda, tatkala Allaah menciptakan makhluk-Nya, Dia menulis dalam kitab-Nya, yang kitab itu terletak di sisi-Nya di atas ‘Arsy,

Maghfirah atau ampunan Allaah SWT dalam penutup ayat 18 QS an-Nahl tersebut terbentuk dari kata ghafara yang maknanya menutup. Terdapat pula pendapat bahwa terambil dari kata al-ghafar, yaitu sejenis tumbuhan yang digunakan untuk mengobati luka. Jika makna menutup yang digunakan, maka di antara ampunan Allaah Ta’aala adalah Dia menutup dosa hamba-hamba-Nya sebagai bentuk kemurahan dan anugerah-Nya. Dan apabila makna jenis tumbuhan untuk mengobati luka yang dipakai, maka ampunan Allaah SWT sebenaranya merupakan anugerah kesadaran dan penyesalan atas dosa-dosa, yang berakibat pada kesembuhan, yakni terhapusnya dosa-dosa.

Pemaknaan Maha-pengampun ini dipaparkan pula oleh Imam Ghazali RA, tulis beliau,

Dia yang menampakkan keindahan dan menutupi keburukan. Dosa-dosa adalah bagian dari sejumlah keburukan dan yang ditutupi-Nya dengan jalan tidak menampakkannya di dunia serta mengesampingkannya di akhirat.

Lebih jauh, Imam Ghazali menjelaskan, sedikitnya ada tiga ketertutupan yang dianugerahkan oleh Allaah SWT kepada manusia. Pertama, yang ditutupi adalah sisi dalam jasmani manusia yang tak sedap dipandang mata. Betapa luar biasanya fungsi organ tubuh kita di balik kulit dan tulang belulang, dari ujung kepala sampai ujung kaki, namun keterbukaannya akan mencengangkan pandangan, bahkan cenderung menjijikkan bagi sebagian besar orang, terkecuali para dokter yang memiliki tugas mulia untuk mengobati manusia. Ketertutupan organ tubuh dengan kulit dan tulang bahkan bukan hanya untuk menutupi keburukan lahiriah, tetapi juga berfungsi untuk melindunginya dari benturan dan infeksi, serta memperindah wajah dan rupa kita sebagai manusia.

Kedua, Allaah SWT menutupi bisikan dan hati serta kehendak manusia. Tak seorang pun mengetahui isi hati dan pikiran orang lain, kecuali dirinya sendiri dan Allaah SWT. Betapa kacaunya kehidupan sosial dan pribadi kita, apabila antara satu manusia dengan manusia lainnya dapat saling melihat isi hati dan pikiran, lebih-lebih jika sebuah keburukan: dengki, iri, marah, prasangka buruk, niat jahat, dan lain sebagainya. Sedangkan yang ketiga, anugerah ketertutupan Allaah SWT adalah kehendak-Nya untuk menutupi dosa dan pelanggaran manusia satu sama lain, sehingga tidak dapat diketahui oleh umum.

Hadirin yang dirahmati Allaah SWT, dua ayat di QS Ibrahim dan QS an-Nahl tersebut mendorong kita untuk terus berusaha mensyukuri nikmat Allaah SWT sekaligus berupaya mengurangi kezhaliman, agar keadilan sosial dapat dicapai. Ada banyak hal yang bisa dilakukan di tingkat individu, yang dalam hal ini, penulis mencontohkan melalui makanan: mengurangi sampah makanan dengan mengambil secukupnya dan menghabiskan makanan yang telah diambil. Inilah sekecil-kecilnya upaya kita untuk mengurangi kezhaliman berupa menyia-nyiakan makanan.

Lebih dari itu, kedua ayat ini, terutama di QS an-Nahl, hendaknya menyadarkan kita tentang luasnya rahmat dan ampunan Allaah SWT. Tentu saja pemahaman atas ayat ini tidak berarti kita kemudian melakukan dosa dengan bebas karena adanya ampunan Allaah SWT, tetapi dengan menghindarkan diri sebaik-baiknya dari perbuatan yang tercela sekecil apapun.

Semoga Allaah SWT berkenan meneguhkan hati kita untuk terus berada di dalam jalan yang lurus dan benar: mensyukuri pemberian-Nya, mengurangi kezhaliman, dan memohon ampunan-Nya. Aamiin.

Kemuliaan Silaturrahmi

Keluarga menurut Islam harus saling mendukung satu sama lain, baik di saat suka maupun duka. Jika seluruh keluarga, atau kita katakan, setiap keluarga dan antara satu keluarga dengan keluarga lain, semua kompak dan saling menyayangi, maka sebuah bangsa akan kuat. Musuh sulit menerobos barisannya, apalagi mencoreng kehormatan dan martabatnya. Maka Allaah Ta’aala pun perintahkan, dalam surah an-Nisaa` ayat pertama:

Dan bertakwalah kepada Allaah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain dan peliharalah hubungan silaturahmi.

Bertakwa berarti memelihara. Bertakwa kepada Allaah berarti memelihara diri dari siksa Allaah yang timbul akibat pelanggaran atas perintah Allaah. Sementara alladzii tasaa-aluuna bihi, berarti dengan mempergunakan nama-Nya, Allaah, kamu saling meminta satu sama lain, yakni bagaimana kita semua menyeru Gusti Allaah, menyebut nama Allaah, saat kita meminta sesuatu, baik langsung kepada Allaah melalui doa kita, maupun meminta tolong melalui orang lain.

Sementara wal-arhaam, sesungguhnya berasal dari rahiim, yaitu tempat peranakan, atau tempat bayi dibesarkan di perut seorang ibu. Rahim adalah penghubung seorang manusia dengan manusia lainnya. Misal, rahim adalah penghubung antara orang tua dengan anaknya. Bahkan melalui rahim pula, persamaan sifat fisik dan sifat muncul antara anak dengan ayah atau ibunya. Dan dengan rahim pula, muncul hubungan persaudaraan dekat antara satu sama lain, seperti dikenal di Indonesia adalah hubungan kekeluargaan trah, yang berhimpun dari seorang Kakek hingga ke semua keturunannya.

Wal-arhaam, yang diambil dari makna tersebut kemudian ditafsirkan sebagai silaturrahmi antar-manusia, karena pada dasarnya, satu manusia dengan manusia lain, satu keluarga dengan keluarga lain, sekalipun berbeda leluhur, beda orang tua, beda kakek, beda simbah, tetapi semua dibentuk dari proses yang sama, mengalami cara tumbuh yang sama di dalam rahim, maka, firman Allaah ditafsirkan menjadi: peliharalah ketakwaan kepada Allaah dan pelihara pula hubungan antar-sesama manusia, yakni silaturrahmi.

Hadirin rahimakumullaah.

Silaturrahmi menjadi tema penting dalam Ramadlan, karena pada bulan Ramadlan ini, hubungan persaudaraan kaum muslimin menjadi semakin kuat, karena semangat beribadah membuat kita semua dalam satu kampung kecil atau komunitas masjid atau mushalla, menjadi sering bertemu, bertegur sapa, bertukar kabar dan cerita, di sela-sela kegiatan ibadah massal: buka bersama, tadarus, pengajian, dan lain sebagainya.

Puncaknya, di Idul Fitri nanti, janji Allaah yang mengampuni seluruh dosa kita setelah Ramadlan kita lengkapi dengan sowan kepada orang tua yang masih sugeng dan kemudian sowan kepada yang lebih sepuh daripada kita, untuk saling maaf memaafkan. Ini gambaran yang baik bagi kita sebagai umat Islam di Indonesia bahwa orang tua dan saudara dekat kita kunjungi, begitu pula dengan tetangga yang setiap hari kita berkomunikasi, sehingga pasti ada kesalahan dan kekhilafan, juga kita sowani, sekalipun tidak memiliki hubungan saudara dekat. Budaya ini, harus kita pertahankan dan bahkan kita perkuat.

Hadirin rahimakumullaah.

Salah satu pentingnya silaturrahmi digambarkan dalam kisah Abu Sufyan saat diutus Kanjeng Nabi SAW untuk berdakwah ke pemimpin Romawi Heraclius. Pemimpin Kristen itu menerima Abu Sufyan, kemudian bertanya kepadanya: Apa yang diperintahkan kepada kalian? Maksud pertanyaannya, Apa yang diperintahkan dari yang kau sebut Nabi itu kepada kalian?

Abu Sufyan menjawab,

Nabi SAW bersabda sembahlah Allaah Yang Maha-Esa dan jangan sekutukan Allaah dengan apapun; tinggalkan apa yang dikatakan nenek moyangmu; dirikanlah shalat; berlaku jujur; menjaga diri; dan menyambung tali kekeluargaan.

Artinya, sebagai gambaran awal Islam, karena Abu Sufyan sedang berdakwah pada pimpinan Kristen, disampaikanlah pilar-pilar penting dalam Islam, termasuk pentingnya menyambung tali persaudaraan. Silaturrahmi juga menjadi penting, kaitannya dengan kesempurnaan iman, di mana Kanjeng Nabi Muhammad SAW bersabda,

…Siapa saja yang beriman kepada Allaah dan hari akhir hendaklah ia (1) memuliakan tamunya, (2) menghubungkan tali persaudaraan, (3) berkata yang baik atau diam saja.

Di dalam al-Qur`an banyak sekali diurai tentang keimanan, di mana iman menurut Islam yang ada enam (kepada Allaah, malaikat Allaah, kitab-kitab Allaah, utusan Allaah, hari akhir, takdir Allaah), diringkas menjadi dua hal ini: iman kepada Allaah dan hari Akhir. Mengapa? Karena kedua hal ini telah merangkum keenam rukun iman. Percaya kepada Allaah berarti meyakini malaikat Allaah, kitab Allaah, utusan Allaah, dan segala ketentuan serta takdir Allaah, termasuk kemudian percaya kepada datangnya Hari Kiamat.

Dan hadits ini menjelaskan di antara karakteristik orang beriman kepada Allaah dan hari akhir, yaitu memuliakan tamu, menyambung persaudaraan, dan menjauhkan diri dari perkataan buruk, karena pilihan dari Kanjeng Nabi SAW jelas: berkata yang baik atau daripada perkataan buruk, lebih baik diam, menahan diri.

Hadirin rahimakumullaah.

Lebih dari itu, silaturrahmi juga akan mendatangkan manfaat materiil, sebagaimana Kanjeng Nabi SAW ngendika,

…Barangsiapa yang menyukai untuk mendapatkan kelapangan rizki dan panjang usianya, hendaklah ia menyambung hubungan dengan familinya.

Bagaimana bisa memanjangkan umur dan mendatangkan rezeki? Ada cerita gojegan, tentang Abu Nawas. Suatu kali Abu Nawas ditanya oleh seseorang, berkaitan dengan hadits ini. Abu Nawas ditanya, bagaimana bisa silaturrahmi memanjangkan usia? Dengan santai Abu Nawas menjawab, karena saat engkau pergi silaturrahmi, malaikat Izrail nggak ketemu denganmu di rumahmu, jadi panjanglah usiamu, gak pernah ketemu dengannya. Tapi ini cerita candaan lho ya.

Tapi bagaimana bisa memanjangkan umur dan mendatangkan rezeki? Kuasa Allaah tentu saja meliputi segala sesuatu. Kalau belum datang waktunya mati, ya belum akan mati. Kalau memang jatahnya dapat rezeki tiban dalam semalam atau justru bangkrut dalam semalam, Allaah pun bisa melakukannya. Tetapi hadits ini dapat sedikit dinalar, sebagai bagian dari diri kita untuk menambah keyakinan kita:

Misal, ada teman atau kerabat yang sudah lama tidak bertemu, kemudian kita sambung lagi tali silaturrahmi ini, maka boleh jadi muncul pekerjaan baru. Atau bagi yang pengusaha, menemukan barang baru yang bisa dijual, kerjasama dengan teman lama. Atau dari jalinan tali silaturrahmi ini akan timbul hubungan bisnis atau perdagangan baru. Semuanya serba mungkin.

Kaitannya dengan panjang usia, ketika kita silaturrahmi, jika yang kita datangi, nyuwun sewu, kondisinya lebih memprihatinkan daripada kita, maka kita akan bersyukur dengan kondisi kita yang lebih baik dan bahkan merupakan kesempatan kita untuk beramal shalih membantu meringankan bebannya. Atau jika yang kita datang silaturrahmi kondisinya lebih sejahtera daripada kita, maka kesempatan bagi kita untuk nyinau semangatnya, nyinau perjuangannya menjadi sejahtera, meneladani kebaikannya untuk memperbaiki kesejahteraan kita. Sehingga setelah silaturrahmi kita akan menjadi orang yang lebih bersyukur dan bahkan lebih bersemangat menjalani hidup untuk mencapai kesejahteraan, dengan tetap eling kepada Gusti Allaah tentunya. Dan hidup penuh dengan syukur sekaligus semangat inilah yang menjadi salah satu sebab panjangnya usia kita.

Coba perhatikan saudara dan kerabat kita di pedesaan. Hidupnya sederhana, tapi lazimnya memiliki usia yang lebih panjang daripada orang-orang di perkotaan. Mengapa? Karena beban pikiran mereka berbeda dengan kita di perkotaan. Kebutuhan makan mereka dipenuhi oleh ladang dan kebun, yang merupakan hasil kerja mereka sehari-hari atau simpanan musim panen sebelumnya. Kebutuhan lain, hampir tidak ada.

Sementara kita yang berada di kota, bebannya macam-macam. Sekolah, kuliah, utang kendaraan, utang rumah, utang modal kerja, dan bahkan kita itu kober mikir urusan Jakarta, menteri, Kapolri, Presiden, partai, dan lain sebagainya. Mereka yang di desa bisa qanaah (nrima setelah diusahakan yang disertai doa) dan semeleh, berbeda dengan kita.

Uraian tersebut, hadirin rahimakumullaah, merupakan gambaran bahwa hadits ini, silaturrahmi yang memperpanjang usia dan melapangkan rizki, sangat mungkin terjadi di dalam kehidupan kita. Tentu saja semuanya harus kita yakini bahwa atas seizin Allaah, bukan semata-mata usaha kita saja. Bahwa Allaah memang telah gariskan usia kita lebih panjang dan rezeki kita lapang, dengan lantaran ikhtiar kita dengan silaturrahmi.

Lebih jauh, Kanjeng Nabi Muhammad SAW juga pernah bersabda, yang artinya,

Silaturrahmi yang menggantung di ‘Arsy berkata, ‘Siapa saja yang menjalin silaturahmi denganku maka Allaah akan menjalin hubungan dengannya. Siapa saja yang memutuskan silaturrahmi denganku maka Allaah akan memutuskan hubungan dengannya.

Hadits ini menunjukkan pentingnya untuk tidak memutus tali kekerabatan dan persaudaraan, di mana digambarkan sebagai silaturrahmi yang menggantung di ‘Arsy Allaah.

Khusus mengenai memutus tali persaudaraan dan kekerabatan, tindakan ini, yakni memutus tali silaturrahmi merupakan dosa besar dan mendatangkan siksaan pedih. Rasuulullaah Muhammad SAW pernah ditanya sahabat,

Wahai Rasuulullaah, aku punya kerabat. Aku menjalin silaturrahmi dengan mereka, tetapi mereka justru memutus hubungan denganku. Aku berbuat baik kepada mereka, tetapi mereka justru berbuat jahat kepadaku. Aku bersikap santun kepada mereka, tetapi mereka justru membodohiku?

Rasuulullaah SAW menjawab, Jika yang engkau katakan itu benar, berarti engkau telah memberi mereka abu panas. Allaah senantiasa menolongmu terhadap mereka, asalkan engkau konsisten seperti itu.

Hadirin rahimakumullaah.

Kisah ini menunjukkan bahayanya memutus tali persaudaraan, bagaikan dilempari abu panas dari orang yang berbuat baik kepada kita, jika kita membalasnya dengan kejahatan. Pelajaran pentingnya, kita harus konsisten tumindak sae dhateng sinten kemawon, termasuk mereka yang bahkan berbuat jahat kepada kita. Tentu saja niatnya tumindak sae nggih kedah leres, niatnya harus benar dan lurus, yakni benar-benar berbuat kebaikan, bukan niat yang lain, seperti membalas dendam karena dulu pernah disakiti, atau alasan lain seperti memamerkan hartanya. Karena kalau demikian, bukan berbuat baik dan bukan pula menyambung tali silaturrahmi, tetapi kesombongan dan kecongkakan untuk merendahkan orang lain. Semoga kita bisa meluruskan niat perbuatan baik kita kepada orang lain. Aamiin.

Kaitannya dengan silaturrahmi dengan kerabat dekat, ada dua hal yang ingin saya sampaikan sebagai penutup uraian ini. Pertama, bahwa berbuat baik kepada kerabat dekat, yakni dengan bersadaqah, mendapatkan pahala dua kali lipat. Kanjeng Nabi Muhammad SAW bersabda,

Shadaqah kepada orang miskin itu bernilai satu pahala, sedangkan kepada kerabat mengandung dua pahala: sedekah dan silaturrahmi.

Inilah keuntungan kita membantu meringankan saudara dekat kita yang kekurangan, memperoleh dua keuntungan, sekaligus bentuk isyarat dari Allaah kepada kita agar peduli dan empati kepada yang dekat terlebih dahulu sebelum peduli kepada mereka yang sama-sama dalam kondisi kesusahan tetapi jauh dari kita.

Terakhir, dalam sebuah hadits muttafaqun ‘alayh, yakni yang disepakati oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim, bersumber dari Asma’ binti Abu Bakar RA, beliau berkata

Ibuku mendatangiku, sedangkan ia seorang perempuan musyrik di zaman Rasulullaah. Aku pun meminta fatwa kepada Rasuulullaah SAW. Aku berkata, “Ibuku datang dan meminta sesuatu dariku. Bolehkah aku menyambung tali silaturrahmi dengan ibuku?”

Beliau bersabda, “Ya, sambunglah silaturrahmi dengan ibumu.”

Hadirin rahimakumullaah.

Demikianlah pentingnya silaturrahmi, termasuk silaturrahmi kepada kerabat yang berbeda keyakinan sekalipun. Manfaatnya akhiratnya jelas, yakni termasuk dalam ketaatan yang mendatangkan rahmat Allaah. Sedangkan manfaat dunianya juga ada, dengan catatan, niat tulus silaturrahmi tidak boleh berubah menjadi niat mencari kelapangan rezeki atau niat memperpanjang usia.

Semoga Allaah berkenan menganugerahkan kepada kita kemudahan bagi hati dan diri kita untuk selalu menyambung tali persaudaraan dan silaturrahmi, kapanpun dan di manapun. Aamiin, Allaahumma Aamiin.

 

Mensyukuri Nikmat Tenteram di Indonesia

Disampaikan sebagai khatbah Jumat di Masjid Kagungan Dalem al-Falaah Blunyah Gede, Yogyakarta pada 18 Januari 2013.

___

Hadirin rahimakumullaah, alhamdulillaah, perlu kita syukuri bersama bahwa Allaah Ta’aala berkenan menggariskan bagi kita bisa lahir dan besar di negeri bernama Indonesia dalam keadaan mengenal indahnya iman dan islam. Sesungguhnya, nikmat terbesar adalah terikatnya jiwa kita kepada iman dan islam, namun nikmat berada di negeri bernama Indonesia pun merupakan nikmat yang tak kalah besarnya.

Kalau kita sejenak menengok ke belahan dunia lain dan merangkainya dengan berbagai peristiwa yang akhir-akhir ini terjadi, kita akan melihat betapa nikmatnya berada di Indonesia. Sebut saja negara selain Indonesia, niscaya tak akan kita temukan tempat senyaman negeri kita ini, Indonesia.

Arab Saudi misalnya, akan kita temui betapa kerasnya pembatasan kepada kaum wanita dan betapa kakunya kehidupan keberaganaan di sana. Pakistan, Irak, dan Afghanistan misalnya, di negara tersebut akan kita temui betapa mengerikannya proses jegal-menjegal dalam rangka memperebutkan kursi-kursi kekuasaan. Hampir setiap hari di Pakistan akan kita temui berita mengenai bom mobil atau penembakan-penembakan yang menewaskan orang tak bersalah.

Mesir, Libya, dan Tunisia kondisinya setelah reformasi justru kacau balau. Saat ini, ketiga negara dengan penduduk muslim yang mayoritas ini sedang mengalami masa seperti di Indonesia pada tahun 1945: rembugan tentang dasar negara. Patut kita syukuri bersama bahwa kita dikaruniai para negarawan dengan jiwa yang besar, sehingga mampu merumuskan Pancasila sebagai jalan tengah bagi majemuknya bangsa Indonesia. Di ketiga negara tersebut, saat ini sedang dihadang ancaman perpecahan karena masing-masing kubu, ada yang ingin jadi negara demokrasi, ada yang ingin jadi negara Islam, ada yang ingin jadi negara demokrasi dengan jiwa Islami, semuanya bersikeras dengan pandangannya masing-masing bahkan tak segan untuk mengangkat senjata.

Begitu juga dengan negara tetangga kita Malaysia. Harus diakui, bahwa Malaysia saat ini memang lebih maju daripada kita. Tetapi sesungguhnya, kehidupan sosial di Malaysia masih sama dengan kondisi Indonesia pada tahun 1990-an, di mana pemerintah mengontrol semua media komunikasi, radio, televisi, dan koran. Segala kritikan pada pemerintah pasti tidak akan pernah menjadi berita untuk dikonsumsi masyarakatnya. Yang terparah adalah, sesungguhnya Malaysia berada dalam ancaman konflik rasial, konflik karena perbedaan warna kulit. Partai politik terbesar di Malaysia ada tiga, satu untuk yang bangsa Melayu, satu untuk keturunan bangsa Cina, dan yang satu untuk keturunan bangsa India. Terpecah belah atas suku dan warna kulit, berbeda dengan kita bangsa Indonesia yang sudah dewasa, tak lagi memperasalahkan perbedaan suku bangsa untuk urusan politik dan kekuasaan.

Hadirin rahimakumullaah. Allaah Ta’aala berfirman dalam az-Zukhruf (43): 32

zukhruf 32

Apakah mereka (orang-orang musyrik itu) yang (kuasa) membagi-bagi rahmat Tuhan Pemelihara kamu? (Tidak!); Kami telah membagi di antara mereka (berdasar kebijaksanaan Kami) penghidupan mereka di kehidupan dunia, dan Kami meninggikan sebagian mereka di atas sebagian yang lain (beberapa derajat), supaya sebagian mereka dapat mempergunakan sebagian (yang lain, yakni tolong menolong). Dan rahmat Tuhan Pemelihara kamu lebih baik (bagimu) dari apa yang mereka kumpulkan (berupa kekayaan dan kekuasaan duniawi).

Ayat ini mengandung makna bahwa di dalam sebuah masyarakat, di dalam sebuah bangsa pasti akan terdiri atas berbagai macam manusia, berbagai macam kondisi ekonomi, berbagai macam keahlian dan profesi. Mengapa Allaah menggariskan seperti itu? Jelas alasannya, agar kita semua saling mengambil manfaat antara satu dengan lainnya. Orang kaya adalah harapan bagi orang miskin untuk menyambung khidupannya, sementara orang miskin adalah pemuas jiwa bagi orang kaya, yakni sebagai tempat bershadaqah dan berbagi kebahagiaan. Sudah menjadi kesimpulan semua ajaran agama dan kebudayaan semua bangsa, bahwa sekedar kaya tanpa berbagi akan menjadi kekosongan bagi jiwa.

Yang lebih pandai akan menjadi perencana, sementara yang yang tidak begitu pandai akan menjadi pelaksana. Seorang sarjana teknik yang merancang rumah akan dibayar jauh lebih tinggi daripada tukang batu yang membangun, karena pekerjaan sang sarjana membawa tanggung jawab besar, yakni memastikan kuat tidaknya bangunan tersebut untuk ditinggali selama puluhan bahkan ratusan tahun, sementara tukang batu bayarannya lebih kecil, karena ia hanya bertanggung jawab selama proses pembangunan berlangsung. Ibaratnya, sarjana bertanggung jawab selamanya, tukang batu bertanggung jawab hanya selama proses membangunnya. Masing-masing golongan masyarakat memiliki tanggung jawab sendiri-sendiri dan masing-masing pula dapat mengambil manfaatnya bagi diri sendiri tanpa merugikan orang lain. Kesemuanya telah digariskan oleh Allaah Ta’aala.

Allaah Ta’aala juga berfirman dalam surat al-Hujuraat (49): 13

hujurat 13

Wahai manusia! Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan serta menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku, supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allaah ialah yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allaah Maha Mengetahui, lagi Maha Mengenal.

Selain Allaah ciptakan manusia dalam golongan-golongan keahlian dan kemampuan, Allaah gariskan pula manusia dalam kelompok-kelompok besar, yakni suku dan bangsa, agar saling mengenal satu dengan lainnya. Apa maksud dan tujuan perkenalan tersebut? Jelas adanya, bahwa terwujudnya sebuah kerjasama yang saling membawa manfaat dimulai dengan mengenali mitra kerjasama tersebut. Apa yang kita punya, apa yang kita bisa, apa yang mereka punya, apa yang mereka bisa, di mana pengenalan tersebut akan berujung pada satu pemahaman bersama yakni karena saling membutuhkan, maka mari saling memberi manfaat, bukan sekedar mencari keuntungan semata yang berakhir pada penindasan dan penguasaan yang kuat kepada yang lemah.

Inilah takdir manusia sejak dalam awal penciptaannya, “khalaqal-insaana min ‘alaq” yang artinya “dan diciptakanlah menusia dari sesuatu yang bergantung pada dinding rahim”, bahwa manusia tak akan pernah bisa mampu berdiri sendiri, tanpa berinteraksi dengan masyarakat.

Hadirin rahikumullaah. Mari kita isi rasa syukur kita, yakni rasa syukur kita tentang kondisi bangsa yang relatif tenteram dalam sehari-harinya dengan kegiatan positif dalam rangkaian ikhtiar dan tawakkal kita untuk menjadi pribadi yang terbaik bagi orang lain, yang terbaik bagi masyarakat, yang terbaik bagi bangsa dan negara.

Memang benar ada sebagian siswa dan mahasiswa yang menkhianati kewajibannya dengan tawuran. Memang ada segolongan masyarakat yang saling menumpahkan darah hanya karena masalah sepele tanpa dipahami terlebih dahulu permasalahannya. Memang ada menteri, hakim, anggota dewan, bupati, walikota, atau pejabat publik lain yang menzhalimi dirinya dan masyarakat dengan perilaku curang dan korup.

Semua perilaku tidak Islami tersebut memang ada, sering terjadi, dan bahkan mungkin saat ini pun masih terus.berlangsung. Tetapi cukuplah hal-hal buruk tersebut menjadi catatan dan pengingat bagi kita dalam menjalani kehidupan ke depan.

Karena sikap kita yang laling tepat adalah bagaimana kita menemukan berkas-berkas cahaya di antara kegelapan pekat tersebut. Bahwa masih banyak siswa dan pelajar yang tidak tawuran dan masih fokus belajar. Bahwa masih banyak masyarakat yang sudah dewasa dalam menghadapi konflik, tidak grusa-grusu menyelesaikan masalah dengan dendam dan menumpahkan darah. Bahwa masih banyak menteri, anggota dewan, hakim, bupati, walikota, gubernur, dan pejabat publik yang jujur dan setia dengan nilai kebenaran.

Hal-hal positif inilah yang sudah seharusnya menjadi baterai bagi kita dalam berkarya dan bertindak. Mari kita motivasi anak-anak kita, saudara-saudara kita, orang-orang terdekat dalam kehidupan kita dengan kisah-kisah yang bercahaya ini, bahwa masih ada harapan bagi negeri kita untuk bangkit dari keterpurukan akhlak.

Kita dorong mereka agar terus melanjutkan sekolah dan pendidikan, sedangkan bagi yang sudah bekerja mari kita semangati mereka untuk berani bertindak jujur dan benar. Katakan pada mereka, bahwa kita tidak pernah sendiri dalam berbuat baik.

Hadirin rahimakumullaah. Momentum tahun baru dan hadirnya bulan Rabbi’ul ‘Awwal adalah waktu yang sangat bagi kita untuk memperbarui semangat juang kita untuk menjadi pribadi yang baik, pribadi shalih dalam iman dan taqwa kepada Allaah yang mampu mendatangkan manfaat bagi orang lain di sekitar kita. Kita cari informasi-informasi masyhur bagaimana Rasuulullaah SAW mampu menjadi motor perubahan ke arah positif, dengan akhlak dan perilaku beliau yang sangat terpuji.

Allaah Ta’aala berfirman dalam Ar-Ra’d (13): 11

ra'd 13

Sesungguhnya Allaah tidak mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah apa (sikap mental dan pikiran) yang ada pada diri mereka.

Prof. Quraish Shihab menjelaskan dalam bukunya Wawasan al-Qur’an bahwa Ayat ini berbicara tentang dua macam perubahan dengan dua pelaku. Pertama, perubahan masyarakat yang pelakunya adalah Allah, dan kedua perubahan keadaan diri manusia (sikap mental) yang pelakunya adalah manusia. Perubahan yang dilakukan Tuhan terjadi secara pasti melalui hukum-hukum masyarakat yang ditetapkan-Nya. Hukum-hukum tersebut tidak memilih kasih atau membedakan antara satu masyarakat/kelompok dengan masyarakat/kelompok lain.

“Ma bi anfusihim” yang diterjemahkan dengan “apa yang terdapat dalam diri mereka”, terdiri dari dua unsur pokok, yaitu nilai-nilai yang dihayati dan iradah (kehendak) manusia. Perpaduan keduanya menciptakan kekuatan pendorong guna melakukan sesuatu.

Ayat di atas berbicara tentang manusia dalam keutuhannya, dan dalam kedudukannya sebagai kelompok, bukan sebagai wujud individual. Dipahami demikian, karena pengganti nama pada kata anfusihim (diri-diri mereka) tertuju kepada qawm (kelompok/masyarakat). Ini berarti bahwa seseorang, betapapun hebatnya, tidak dapat melakukan perubahan, kecuali setelah ia mampu mengalirkan arus perubahan kepada sekian banyak orang, yang pada gilirannya menghasilkan gelombang, atau paling sedikit riak-riak perubahan dalam masyarakat.

Hadirin rahimakumullaah, tak perlu menunggu pemilu atau pemilihan kepala daerah, mari menggulirkan perubahan ke arah yang lebih baik Indonesia sebagai bentuk syukur kita atas ketenteraman ini. Mari kita mulai dari diri sendiri, dari orang-orang terdekat dalam kehidupan kita, yang nantinya akan merembes ke perubahan di masyarakat, bangsa, dan negara, insya-Allaah. Semoga Allaah Ta’aala meridlai ikhtiar zhahir dan bathin kita untuk mencapai sebaik-baik manusia, yakni insan yang mampu memberi manfaat kepada lainnya. Amiin, allaahumma amin.

_____

Semoga bermanfaat dan membawa secercah cahaya bagi hati para pembaca!

Kampus JTF UGM, 18 Januari 2013, 16:20 [UTC+7],

Ahmad Rahma Wardhana,

stempel