Islam Nusantara dalam Konteks Konsensus Kebangsaan

~ Jika pemahaman Islam Nusantara diambil dari perspektif konsensus kebangsaan yang diperkaya dengan sejarah dan hikmah atas keadaan politik Timur Tengah dan bangsa Arab dewasa ini, insya-Allaah mau tak mau kita akan menyetujuinya. ~

Salah satu kekecewaan kepada bangsa Arab dan kawasan Timur Tengah adalah kegagalannya dalam menyelesaikan permasalahan kenegaraan dan kebangsaan di kawasan, padahal karakteristiknya relatif homogen, yakni (1) keragaman etniknya kecil, (2) agama mayoritas Islam, (3) berada di satu wilayah daratan yang luas, (4) berbahasa tunggal (Arab), dan (5) memiliki kekhasan budaya yang sangat mirip satu sama lain.

Di zaman Perang Teluk, ketika Irak menyerang Kuwait yang berbatasan dengan Saudi, ulama dari kedua negara (Irak dan Saudi), yang sama-sama Islam Ahlus-Sunnah berfatwa untuk saling menghalalkan darahnya.

Inikah cerminan Islam Rahmatan lil—’aalamiin?

Di zaman sekarang, Irak masih semrawut. Mayoritas Islam. Ada Syiah, ada Sunni, dan ada pula etnis Kurdi. Etnik Kurdi sendiri, merupakan etniknya Salahuddin al-Ayyubi yang sangat tenar itu, tersebar di mana-mana dan terkesan di anak-tirikan di berbagai negara berpenduduk muslim, seperti Irak, Suriah, dan Turki. Kesemrawutannya bukan main-main: perbedaan kepentingan dalam kekuasaan (politik) disikapi dengan pembunuhan massal lewat bom dan senjata.

Inikah cerminan Islam Rahmatan lil—’aalamiin?

Suriah yang sedang dilanda perang saudara sesama muslim. Banyak faksi politik, punya kepentingan masing-masing, semua ngaku Islam. Dan kepentingan pun ditegakkan dengan bom serta senjata.

Ulama besar Suriah, al-Maghfurlah Syaikh Ramadlan al-Buthi, sebelum konflik membesar dan hanya berupa demonstrasi, terus menerus menyuarakan rekonsiliasi nasional, tapi tak pernah didengar oleh para elit muslim yang punya kepentingan. Sampai detik ini, sekitar 6 juta penduduk terkatung-katung di dalam negeri Suriah dan 5 juta jiwa lainnya tersebar di luar Suriah. Semua yang berkepentingan mengatasnamakan penegakan agama Islam.

Inikah cerminan Islam Rahmatan lil—’aalamiin?

Saudi, Bahrain, Uni Emirat Arab, Senegal, Maroko, dan Sudan sedang berkonflik dengan Yaman sekaligus bersitegang dengan Qathar yang sebelumnya berada di koalisi Saudi namun belakangan pecah kongsi. Yaman sendiri sedang perang saudara. Alasannya perebutan kekuasaan politik. Ada Sunni, ada Syiah, ada pula al-Qaeda. Semua pihak, Saudi, Yaman dengan berbagai faksinya, dan Qathar, mayoritas muslim dan sedang berperang.

Inikah cerminan Islam Rahmatan lil—’aalamiin?

Fakta di atas adalah salah satu penyebab mengapa muncul gagasan Islam Nusantara. Bandingkan dengan kondisi kita sebagai bangsa yang masih utuh dan bersatu, meskipun beberapa spesifikasinya berbeda dg Timur Tengah: mayoritas Islam, terpisah lautan, penduduk besar dan beragam suku, bahasa, hingga budaya.

Maka Islam Nusantara diperkenalkan oleh NU, menurut saya, yang diunggulkan adalah Islam sebagai sebuah solusi kebangsaan, konsesus membentuk negara yang berorientasi kepada umat. Islam yang benar-benar rahmatan lil-‘aalamiin karena memprioritaskan musyawarah dalam menyelesaikan masalah, terutama bagaimana kepentingan politik kekuasaan dikelola oleh Indonesia yg mayoritas muslim.

Itulah kenapa NU mendeklarasikan hubungan Pancasila dengan Islam pada 1983 sebagai pedoman umat dalam berbangsa dan bernegara. PBNU juga mengantarkan 12 ulama Afghanistan ke UGM pada 2013 untuk belajar Pancasila. Kemudian Pekalongan menjadi tuan rumah Konferensi Ulama Thariqah Se-dunia dengan tema Bela Negara pada 2016. Dan pada 2018 ini ada Konferensi Ulama Indonesia, Afghanistan, dan Pakistan di Bogor, serta kehadiran ulama Indonesia ke Irak beberapa minggu yg lalu. NU, Islam Indonesia, Islam Nusantara serius berperan dalam perdamaian kebangsaan.

Hanya saja dimensi ini dikaburkan oleh mereka yang benci dengan NU. Mengapa? Karena kalau umat sadar dengan ini, terutama kalangan NU sendiri yang berbasis di pedesaan serta intelektual mudanya di perkotaan, maka habislah kepentingan politik mereka. Ora payu alias tidak laku.

NU yang berpegang pada empat prinsip (tawasuth atau pertengahan, tawazun atau keseimbangan, tasamuh atau tepa selira, dan i’tidal atau keadilan) akan memandang persoalan dengan objektif serta fokus pada fakta dan data. NU mendorong ikhtiar untuk menelaah persoalan dari beragam perspektif, sebelum memutuskan arah politiknya.

Bagaimana agar objektivitas ini kabur dan hilang? Serang dengan subjektivitas: kebencian membabi buta, kebencian pada perbedaan pendapat, kebencian pada tokoh NU, kebencian pada tokoh bangsa. Ketika berbeda, habisi dengan hujatan dan kata-kata kasar, tidak perlu melihat konteksnya atau objektivitasnya.

Agar massif, serang lewat sosial media. Tujuan lain lewat sosial-media  adalah agar masyarakat yang belum lama melek internet, termasuk kalangan NU di pedesaan yg belum kenal hoax dan objektivitas informasi, agar beralih ke subjektivitas dan keluar dari empat prinsip NU. Maka dalam hal ini, pesantren menjadi sebuah jangkar yang sangat penting bagi NU untuk terus memproduksi calon-calon pemimpin umat yang teguh pada nilai Islam dan kebangsaan.

Kalau kita tidak memahami Islam Nusantara dalam konteks konsensus kebangsaan, bahkan mengaburkan maknanya ke arah fitnah keji dan kebencian massif (misal: mengganti syariat, menjunjung tinggi budaya lokal dibandingkan Qur`an dan Sunnah, membenci Arab secara mutlak), maka bukan tidak mungkin krisis Timur Tengah akan berpindah ke Indonesia. Kita memohon perlindungan Allaah dari yang demikian.

Mari kita dinginkan suasana perebutan kepentingan di 2019 nanti dengan menghindari caci maki, mengurangi kebencian, dan diskusi cerdas berdasarkan objektivitas.

Sebagai penutup, Kanjeng Nabi SAW pernah bersabda,

Al-amnu wal-‘aafiyah ni’mataani magh-buunun fii-himaa katsiirun-minan-naas. Keamanan dan kesehatan adalah dua nikmat yg membuat banyak orang terlena.

Semoga Allaah memudahkan niat baik NU untuk terus memperdengarkan Islam Nusantara.

Blunyah Gede,
8 Juli 2018,
Ahmad Rahma Wardhana.

Lampiran Foto: dua buku yang relevan dengan maksud tulisan ini sehingga layak untuk dibaca

IMG20180708135016

IMG20180708151129

IMG20180708151146

Melihat Tahlilan dan Maulidan lewat Kacamata Saya

Melihat Tahlilan dan Maulidan lewat Kacamata Saya

Bismillaah ar-Rahmaan ar-Rahiim.

Allaahumma shalli ‘alaa Sayyidinaa Muhammadin Shalla-Llaahu ‘alayhi wa aalihii wa sallam.

Sesungguhnya, membahas hal ini di kalangan umum (seperti ditulis di blog, misalnya) adalah kurang tepat menurut saya, karena menimbulkan potensi perdebatan yang tiada habisnya. Seorang ulama yang saya kenal baik, menolak membahas hal ini setiap ada tantangan yang diajukan kepada beliau (meskipun beliau punya kapasitas untuk membahasnya), alasannya sederhana: menghindari perdebatan yang mampu mengeraskan hati.

Mengapa perlu dihindari perdebatan? Menurut saya ada beberapa sebab,

  1. pembahasan hal ini merupakan urusan khilafiyah (hal sudah disepakati sebagai perbedaan di kalangan Islam), bukan sesuatu yang pokok dalam agama, sehingga pembahasannya hanya akan menghabiskan energi, yang alangkah baiknya dialihkan untuk hal lain yang lebih urgent dan penting,
  2. masing-masing pihak sesungguhnya sudah mantab dengan pilihannya (yang menganggap sunnah maupun yang bukan), maka tidak perlu diperdebatkan lagi keabsahannya, karena mereka telah bersandar pada pendapat ulama masing-masing, yang menganggap sunnah silakan diamalkan, yang menganggap bukan sunnah ya tidak perlu mengamalkan (plus jangan menuduh sesat atau bahkan mengafirkan kepada yang mengamalkan).

Nah, selanjutnya, akan saya sampaikan bagaimana jalan pikiran saya mengenai permasalahan ini, bersumber dari apa yang saya dapat selama ini, membaca buku yang ditulis oleh ulama yang berkapasitas dan bertanya/diskusi kepada ulama yang berkapasitas.

***

Tahlilan

Saya termasuk orang yang dengan mantab meyakini kegiatan Tahlilan sebagai bagian Sunnah Rasuul SAW, bukan bagian dari bid’ah sesat. Sunnah itu segala sesuatu yang bersandarkan pada Rasuul SAW (perkataan, perbuatan, atau persetujuan Rasuul SAW terhadap suatu hal), sementara bid’ah sesat  adalah segala sesuatu yang tidak bersandarkan pada Rasuul SAW.

Mengapa dengan mantab? Karena saya tidak menemukan adanya kesesatan dalam kegiatan-kegiatan tersebut.

Kegiatan Tahlilan, pokok kegiatannya adalah mendoakan orang yang meninggal dengan berwasilahkan amal shalih, yakni membaca surat Yaa-Siin dan kalimat-kalimat thayyibah yang diajarkan Rasuul SAW.

(salah satu) yang berkaitan denganTahlilan adalah hadits shahih tentang tiga orang yang terjebak di dalam gua (pintu gua tertutup oleh batu yang besar di mana ketiga orang tersebut tidak kuat untuk mendorongnya). Solusinya, sebagaimana dikisahkan dalam hadits tersebut, tiga orang ini kemudian berdoa kepada Allaah Ta’aala agar bergeser batu tersebut. Doanya diucapkan dengan terlebih dahulu menyebutkan amal shalih yang pernah dilakukan dengan ikhlas karena Allaah Ta’aala. Dikisahkan, mereka bertiga berhasil keluar karena batunya memang bergeser, sehingga cukup bagi ketiganya untuk melewatinya.

Hadits shahih tersebut menunjukkan kebolehan bagi kita untuk berdoa dengan menggunakan amal shalih sebagai washilah atau perantara. Bahasa mudahnya (semoga Allaah Ta’aala mengampuni saya jika analogi tidak sesuai dengan kehendak-Nya), kita beramal dengan ikhlas, sedangkan amal-amal tersebut sewaktu-waktu bisa dipakai sebagai perantara agar permohonan kita terkabul.

Tahlilan diawali dengan membaca surat Yaa-Siin, membaca beberapa kali surat Faatihaah, membaca beberapa ayat al-Qur`an lain, membaca kalimat-kalimat thayyibah yang memuji Allaah Ta’aala dan Rasuul SAW (yang diajarkan Rasuul SAW dalam berbagai hadits), yang kemudian ditutup dengan doa. Doa penutup tahlil secara gamblang dan eksplisit menyebutkan proses per-washilahan tadi: mendoakan kebaikan dan ampunan bagi yang meninggal dengan perantara amal shalih membaca ayat-ayat Qur`an, shalawat, serta kalimat thayyibah yang sudah dilakukan sebelumnya.

Ada yang membantah bahwa tahlilan itu sia-sia bagi mayyit dengan berlandaskan hadits bahwa amal manusia terputus saat kematiannya, kecuali ilmu, amal shalih, dan doa dari anaknya yang shalih. Hadits ini benar, karena memang orang yang sudah mati tidak bisa melakukan apapun. Tetapi, dalam tahlilan itu yang beramal shalih adalah yang masih hidup, kemudian amal shalih tersebut digunakan untuk berdoa, doanya ya untuk kebaikan mayyit.

Merujuk pada hadits tiga orang terjebak di gua, maka cara ini (tahlilan, yakni mendoakan mayyit berperantakan amal shalih) insya-Allaah menjadi doa yang ijabah.

Maka penting dalam sebuah acara tahlilan, imam tahlilan sudah seharusnya membuka Tahlilan dengan meminta keikhlasan makmum Tahlilan dalam membacakan Yaa-Siin, Qur`an, shalawat, serta kalimat thayyibah. Atau membukanya dengan mengingatkan kebaikan-kebaikan si mayyit semasa masih hidup, agar muncul dorongan balas budi: keikhlasan dalam mendoakannya di dalam Tahlilan.

Di mana kesesatan Tahlilan? Kalau bid’ah, ya. Rasuul SAW memang tidak melakukannya sebagai sebuah kegiatan pasca kematian seseorang yang disebut Tahlilan, sebagaimana sekarang ada urutannya. Tetapi kalau mengatakan Tahlilan itu bid’ah sesat, (menurut saya) sangat keliru! Esensi Tahlilan itu tidak ada yang menentang ajaran Rasuul SAW, bahkan bersandar pada ajaran Rasuul SAW sebagaimana saya sampaikan tadi.

Buku Tahlilan yang beredar itu semacam pedoman bagi umat, bahwa Tahlilan nilai pahalanya menjadi baik kalau dilakukan berdasar buku tersebut. Adapun kalau tidak mengikuti buku tersebut ya tidak masalah, selama prinsip melakukan amal shalih dengan ikhlas dan kemudian berdoa untuk mayyit dengan amal shalih, terpenuhi.

Sebagai ilustrasi, di buku Tahlilan ada anjuran membaca Laa ilaaha illaa-Llaah 100 kali. Tetapi saya pribadi ketika ngimami Tahlilan di kampung ya tidak serta merta 100 kali. Biasanya saya reduksi menjadi 25 atau 50 kali saja. Mengapa? Biasanya Tahlilan di kampung-kampung dilakukan setelah Isya, padahal Bapak-Bapak yang hadir sudah capek seharian kerja. Sehingga, agar prinsip keikhlasan terpenuhi, ya jumlahnya disedikitkan.

Selain itu, sesungguhnyaTahlilan tidak terbatas pada mendoakan mayyit, tetapi bisa digunakan untuk mendoakan hajat tertentu. Prinsipnya jelas: lakukan amal shalih (membaca ayat-ayat Qur`an, shalawat, dan kalimat thayyibah) dan gunakanlah sebagai perantara bagi doa.

Maka sesungguhnya, dalam Tahlilan itu tak dikenal istilah wajib dilakukan, kalau tidak melakukannya akan berdosa. Berdosalah kalau ada orang yang mengatakan ini. Tahlil itu bid’ah kemasannya, sunnah isinya. Bermanfaat bagi yang Tahlilan (melakukan amal shalih), bermanfaat pula bagi yang di-tahlil-kan (didoakan keselamatannya, di mana keijabahannya dijanjikan oleh hadits shahih).

Ada banyak hal lain yang bisa dibahas lebih mendalam tentang dalil-dalil Tahlilan, tapi ruangnya bukan di tulisan ini. Insya-Allaah nanti pada akhir tulisan ini akan saya rujukkan buku dan ulama yang tepat untuk membahas permasalahan ini.

***

Maulidan

Saya juga tergolong orang yang setuju dengan Maulidan sebagai bagian dari sunnah Rasuul SAW (isinya) dan Maulidan bukan pula bagian dari bid’ah sesat, tetapi merupakan bid’ah yang baik.

Salah satu dalil utama Maulidan adalah sebuah hadits shahih riwayat Imam Bukhari, yang mengisahkan bahwa setahun setelah kematian Abu Lahab (paman sekaligus musuh bebuyutan Rasuul SAW), al-‘Abbas (paman Rasuul SAW yang lain) bertemu dengan Abu Lahab di dalam mimpi. Al-‘Abbas melihat Abu Lahab memakai pakaian putih, kemudian al-‘Abbas bertanya tentang keadaannya. Abu Lahab (dalam mimpi tersebut) menjawab bahwa dia di neraka, tetapi setiap malam Senin Allaah meringankan siksanya karena dia memerdekakan hamba sahayanya (Tsuwaibah), yang pada saat kelahiran Rasuul SAW menyampaikan kabar tersebut kepadanya.

Abu Lahab, yang sedemikian hebat permusuhannya kepada Rasuul SAW (hingga diabadikan sebagai ayat Qur`an) saja mendapat keringanan siksa, karena memerdekakan hamba sahayanya berkat kegembiraanya saat mendengar berita Rasuul SAW lahir; apalagi umat Islam yang bukan hanya gembira, tapi bahkan mencintainya dan menjalankan ajarannya.

Hadits tersebutlah yang menjadi dorongan bagi umat Islam mengadakan bid’ah baik yang disebut Maulidan, membaca riwayat hidup Rasuul SAW. Tujuannya jelas, ekspresi kegembiraan atas hadirnya Rasuul SAW, me-refresh pengetahuan kehidupan Rasuul SAW agar bisa meneladani, memperbarui semangat keberagamaan dengan mendengar kembali bagaimana perjuangan Rasuul SAW.

Lebih jauh, acara Maulidan juga dirangkai dengan majelis dzikir dan doa, yang prinsipnya sama dengan Tahlilan: beramal shalih dengan membaca Qur`an, mengingat kehidupan Rasuul SAW, membaca shalawat, membaca kalimat-kalimat dzikir (kalimat thayyibah), dan kemudian ditutup dengan doa yang berperantarakan amal-amal shalih tadi.

Kitab Maulid yang dibaca biasanya dimulai dengan menceritakan silsilah keluarga Rasuul SAW yang mulia sejak Nabi Ismail ‘AS, yang memberi hikmah kepada kita: bentuklah keluargamu sebagai semulia-mulia keluarga! Dilanjutkan dengan peristiwa-peristiwa jelang kelahiran Rasuul SAW, saat Beliau SAW lahir, hingga kemudian mengisahkan kemuliaan akhlak Beliau SAW yang sangat menginspirasi beserta mukjizat-mukjizatnya.

Namun sesungguhnya, isi dari kitab-kitab Maulid itu berintikan pada salah satu keluarbiasaan beliau: akhlak. Kitab-kitab tersebut ditulis dalam bahasa sastra arab yang tinggi nilainya, mendeksripsikan cahaya-cahaya perilaku dan perkataan Rasuul SAW, agar para peserta Maulid tidak luntur cintanya kepada Rasuul SAW.

Boleh jadi, fakta sejarah memang mengatakan bahwa bid’ah baik (perayaan Maulid) ini diawali oleh Dinasti Syiah untuk mendakwahkan kesesatannya. Akan tetapi apakah kita yang tidak sesat kemudian tidak boleh mengamalkannya, selama kesesatannya dihilangkan dan bahkan kita manfaatkan sebagai alat mempersatukan umat?

Buktinya, para ulama yang jelas bukan Syiah (bahkan menentang Syiah) justru menganjurkan pembacaan Maulid. Bahkan kalau kita membaca terjemahnya (cobalah membaca!) kitab-kitab Maulid yang masyhur di kalangan Ahlus-Sunnah, seperti Barzanji, Syaraful-Anam, Burdah, dan Simthud-Durar, tak ada sedikitpun kesesatan di dalamnya!

Seandainya fakta sejarah ditemukan bahwa microphone dan pengeras suara pada awalnya digunakan kaum nasrani di gereja dalam khatbah-khatbahnya, apakah kemudian menjadi haram bagi Islam? Tentu tidak, karena microphone dan pengeras suara juga bisa kita gunakan untuk memperdengarkan syiar Islam atau bahkan ayat-ayat Qur`an.

Sesungguhnya, Maulid adalah bid’ah bentuknya (karena Rasuul SAW tidak merayakan kelahiran Beliau SAW kecuali dengan puasa di hari Senin), bahkan (mungkin) bid’ah sesat pada awalnya (kaitannya sejarah Dinasti Syiah jika dibenarkan), tetapi sunnah isinya, karena menuntun kita untuk lebih mengenal akhlak keseharian Rasuul SAW, sehingga muncul dorongan untuk semakin meneladani Beliau SAW. Apalagi, jika Maulidan merupakan bentuk nyata kegembiraan kita akan hadirnya Rasuul SAW di dunia, bukankah keringanan siksaan insya-Allaah akan kita dapatkan kelak, sebagaimana Abu Lahab dapatkan?

***

Autokritik atas Tahlilan dan Maulidan

Saya tidak akan memungkiri adanya kritik pada ritual Tahlilan dan Maulidan.

Contoh kritik misalnya, seolah ada kewajiban bagi yang mengadakan Tahlilan atas keluarga yang baru meninggal agar mengadakan jamuan makan bagi jamaah dan tetangga yang hadir untuk ikut Tahlilan. Tentu saja kewajiban semu ini akan memberatkan bagi keluarga mayyit jika tergolong miskin.

Sesungguhnya, tidak ada kewajiban untuk menjamu, karena menjamu tamu itu sunnah, apalagi tamu tersebut hadir untuk ikut mendoakan. Solusinya sederhana, bahwa jamaah Tahlilan sudah seharusnya memakluminya (jika keluarga mayyit memang tidak mampu), baik dengan diam jika tak mendapatkan jamuan apapun (walaupun ini tidak mungkin, maksudnya tidak mungkin tanpa jamuan) atau bahkan dengan menyedekahkan sebagian hartanya kepada ahli waris untuk membantu meringankan beban jamuannya.

Sedangkan autokritik tentang Maulidan, misalnya adalah munculnya kadar berlebihan dalam pembelanjaan harta dalam perayaan Maulid, baik lewat hiasan-hiasan atau hidangan-hidangan yang terlalu mewah dan dihabiskan dalam beberapa jam saja. Bagi orang yang mampu, hal tersebut mungkin saja terjadi karena semangatnya yang tinggi untuk mengekspresikan kegembiraannya terhadap kelahiran Rasuul SAW melalui Maulid.

Solusinya adalah pembelanjaan harta tersebut bisa ditekan dan dialihkan ke hal lain, semisal memberi makan anak yatim, atau dialihkan ke bidang pendidikan dan kesehatan, serta lain sebagainya.

Autokritik lain atas Tahlilan adalah semangat kyai-kyai kampung yang khawatir dengan gerakan anti-Tahlilan dan anti-Maulidan sehingga mendakwahkan Tahlilan dan Maulidan di masyarakat awam sebagai sesuatu yang harus dilakukan dan berdosa meninggalkannya. Ini harus diakui karena memang terjadi di beberapa daerah tertentu.

Solusinya, adalah bagaimana para ulama, kyai, dan dai mendakwahkan pemahaman terhadap Tahlilan dan Maulidan ini kepada masyarakat dengan benar dan mendidik, bukan dengan memasang label dosa kepada yang meninggalkannya, sehingga masyarakat semakin tidak tahu (bahwa sesungguhnya ada dalilnya) atau menimbulkan fanatisme buta (karena ketidaktahuannya).

***

Silsilah Keguruan yang Jelas

Insya-Allaah diri saya pribadi sudah final dan paripurna tentang Tahlilan dan Maulidan, bahwa keduanya adalah bagian dari Sunnah Rasuul SAW. Argumen terhadap kesimpulan saya ini dijelaskan dengan gamblang oleh para ‘Ulama di berbagai tulisan, penjelasan, dan majelis-majelis ilmu.

Mereka, para ‘Ulama yang memegang teguh Tahlil dan Maulid sebagai bagian dari Sunnah Rasuul SAW, bukan orang yang sembarangan menyandarkan sesuatu kepada Rasuul SAW, apalagi berbohong mengenainya. Mereka berani menyandarkannya kepada Rasuul SAW, karena demikianlah yang mereka dapat dari guru mereka. Di mana silsilah keguruan mereka terus menerus bersambung ke atas, hingga sampai ke para ‘Ulama yang masih ngonangi sugeng (mengalami masa hidup) para tabbi’t-tabbi’in dan para tabbi’in.

Sungguh memprihatinkan, bahwa di abad ke-20 ini, pedoman yang sudah bertahan selama berabad sebagai bagian dari Sunnah Rasuul SAW, harus terganggu oleh segelintir orang yang mengaku (atau diakui oleh pengikutnya sebagai) ‘Ulama, tapi tak bisa dipertanggungjawabkan keguruannya.

Orang tersebut dengan metode yang tak bisa dipertanggungjawabkan, tanpa hafalan hadits yang memadahi, tanpa berguru dengan bertatap muka kepada para ‘Ulama yang jelas silsilah keguruannya, kemudian dengan mudahnya menilai hadits sekelas Shahih Muslim dan Shahih Bukhari. Maka menjadi wajar kalau kemudian ia memberikan penilaian terhadap sebuah hadits dengan penilaian yang bertolak belakang, tanpa menjelaskan mana yang sebagai ralat atau mana yang sebagai pendapat akhir bagi dirinya.

Sementara jelas adanya, bahwa Imam Bukhari dan Imam Muslim sebelum menulis satu hadits saja harus dengan pertimbangan yang sangat matang. Imam Bukhari, Imam Muslim dan Imam Hadits lain juga mempunyai hafalan ribuan hadits, baik sanad (jalur dari mana hadits tersebut didapatkan, dari siapa yang mendengar dari siapa, dan seterusnya hingga ke Rasuul SAW) maupun matan (redaksi atau isi)nya. Imam Bukhari, Imam Muslim, dan para Imam Hadits lain mendapatkan hafalan tersebut dengan mengelilingi negeri-negeri muslim, berkelana dan berguru.

Fakta tersebut (orang yang mengomentari para Imam Hadits dihadapkan pada kenyataaan kemuliaan Imam Bukhari, Muslim, dan Imam Hadits lain) adalah keprihatinan saya, yang sungguh, justru semakin memantabkan saya terhadap kedudukan Tahlilan dan Maulidan sebagai bid’ah baik dalam bentuknya sekaligus Sunnah Rasuul SAW dalam isinya.

***

Bid’ah-Bid’ah yang Baik

Berikut ini adalah di antara banyak bid’ah-bid’ah yang baik, sebagai gambaran untuk memahami uraian saya di atas.

  1. membukukan al-Qur`an,
  2. membukukan hadits,
  3. tahlilan dan maulid,
  4. tarawih 20 rakaat dan witir 3 rakaat,
  5. ceramah keagamaan di antara isya dan tarawih,
  6. ceramah keagamaan sesudah subuh,
  7. ceramah keagamaan rutin 35 hari sekali,
  8. ditinggikan dan dilebarkannya tugu yang dilontari jumrah agar bisa dibuat bertingkat, demi memenuhi kapasitas jamaah yang jutaan,
  9. khatbah Jumat bahasa Indonesia,
  10. khatbah ‘Idul Fitri dan ‘Idul Adha bahasa Indonesia,
  11. penggunaan alat-alat modern sebagai sarana dakwah.

***

Sikap yang Baik Memahami Perbedaan

Di kampung saya, mayoritas Muhammadiyah, sebagian berkultur NU. Saya sendiri sudah dikenal berafiliasi dengan kultur NU. Tidak ada halangan bagi saya untuk menjadi khatib Jumat atau menjadi imam atau penceramah di saat Ramadlan di tengah masyarakat tersebut.

Sementara, dua diantara sahabat-sahabat saya adalah yang satu berafiliasi Muhammadiyah, yang satu berafiliasi kepada Salafi, tetapi tak ada halangan bagi kami untuk bergantian menjadi imam shalat fardlu saat kami shalat berjamaah.

Maka, kembali sebagaimana saya sampaikan di awal

masing-masing pihak sesungguhnya sudah mantab dengan pilihannya (yang menganggap sunnah maupun yang bukan), maka tidak perlu diperdebatkan lagi keabsahannya, karena mereka telah bersandar pada pendapat ulama masing-masing, yang menganggap sunnah silakan diamalkan, yang menganggap bukan sunnah ya tidak perlu mengamalkan, tanpa perlu menuduh sesat atau bahkan mengafirkan yang lain.

dan

hal ini merupakan urusan khilafiyah (hal sudah disepakati sebagai perbedaan di kalangan Islam / bersepakat untuk berbeda), bukan sesuatu yang pokok dalam agama, sehingga pembahasannya hanya akan menghabiskan energi, yang alangkah baiknya dialihkan untuk hal lain yang lebih urgent dan penting.

***

Penutup

Demikian sedikit uraian mengenai Amalan Sunnah yang Dituduh Bid’ah: Tahlilan dan Maulid. Nantinya, jika muncul komentar negatif-kontraproduktif mengenai tulisan ini, akan langsung saya hapus, karena perdebatan bukan tujuan dari menulis ini. Selain itu, saya tidak mempunyai kapasitas kemampuan, keilmuan, dan keguruan untuk mendebatnya. Tugas saya, lewat tulisan ini adalah menyampaikan apa-apa yang mudah dicerna oleh awam seperti yang saya pahami (sebagai awam pula).

Jika yang muncul adalah komentar yang membangun atau memperbaiki argumentasi yang saya paparkan, tidak segan bagi saya untuk segera memperbaikinya.

Semoga bermanfaat.

Wallaahu a’lam.

Blunyah Gede, 15 Juli 2013,

Ahmad Rahma Wardhana bin Suwarno

Beberapa buku rujukan,

Tradisi-Islami CAM00321