Menggapai Bahagia Akhirat dengan Rahmat Allaah

(Disampaikan dalam beberapa majelis tarawih, subuh, buka bersama, khatbah jumat, dan syawalan di tahun 2017)

Allaah Tabaraka wa Ta’aala berfirman di dalam QS al-Bayyinah ayat 7,

Sesungguhnya orang-orang yang beriman (secara benar) dan (membuktikan kebenaran iman mereka) dengan mengerjakan amal-amal shaleh, mereka itulah sebaik-baik makhluk.

Allaah Tabaraka wa Ta’aala dengan kemurahannya, memberikan kesempatan kepada kita untuk berbuat kebaikan, sebagai bekal di akhirat. Sesudah menjelaskan keutamaan orang beriman yang membuktikan keimanannya dengan beramal salih, beramal kebajikan, sebagai khoyrul bariyyah, sebaik-baik makhluk, di dalam al-Bayyinah ayat 7, Allaah berjanji akan mengganjarnya, membalasnya dengan surga pada ayat 8,

Balasan mereka di sisi Tuhan Pemelihara mereka ialah surga-surga ‘Adn yang di bawahnya mengalir sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allaah ridla kepada mereka dan mereka pun ridla kepada-Nya. Yang demikian itu adalah (ganjaran) bagi orang yang takut kepada Tuhan Pemeliharanya.

Frase ridla Allaah kepada mereka (radliyallaahu ‘anhum) tercermin dalam keberadaan hamba itu di tempat dan situasi yang dikehendaki Allaah, yakni di surga. Sedangkan mereka pun ridla kepada-Nya (wa radlu-‘anhu) bermakna bahwa hati mereka, hamba Allaah, yang tidak merasa keruh atau tidak enak menerima ketetapan Allaah, apapun bentuknya.

Ada beberapa hal kunci di dalam kedua ayat tersebut, kaitannya dengan kehidupan akhirat, yakni iman, amal shaleh, ridla Tuhan, dan rasa takut kepada Tuhan. Kita akan membahas sedikit saja tentang amal shaleh, ridla Tuhan, dan rasa takut kepada Tuhan.

Hadirin rahimakumullaah.

Kanjeng Nabi Muhammad SAW menyampaikan firman Allaah dalam sebuah Hadits Qudsi. Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim, dengan perbedaan dalam beberapa redaksi atau pilihan kata. Menurut riwayat Imam Bukhari, hadits tersebut berbunyi,

Dari Ibnu ‘Abbas RA, dari Nabi SAW, yang meriwayatkan dari Tuhannya ‘Azza wa Jalla, beliau SAW bersabda, Sesungguhnya Allaah SWT telah menetapkan semua kebaikan dan keburukan,

Kemudian menjelaskannya sebagai berikut, barangsiapa ingin berbuat (merencanakan) kebaikan tetapi tidak jadi (dapat) melakukannya, Allaah akan mencatat (menetapkan pahala) untuknya satu kebaikan yang sempurna; apabila seseorang ingin berbuat kebaikan lalu dapat melaksanakannya, Allaah mencatat (membalas) kebaikan tersebut dengan sepuluh kebaikan di sisi-Nya, (dan melipatkannya) sampai 700 kali lipat hingga kelipatan yang sangat banyak,

Dan barangsiapa yang ingin berbuat keburukan (dosa), tetapi tidak jadi melakukannya, Allaah akan mencatat baginya satu kebaikan yang sempurna di sisi-Nya; apabila seseorang ingin berbuat keburukan (dosa) lalu benar-benar melakukannya, Allaah akan mencatatnya sebagai satu keburukan untuknya.

Di dalam hadits tersebut, perbuatan yang akan dilakukan oleh seorang manusia dibahasakan dengan menggunakan hamma, yang artinya kurang lebih adalah ingin berbuat atau berhasrat. Di dalam hadits yang bersumber dari Abu Hurairah RA, digunakan kata araada, yang maknanya kehendak. Keduanya, hamma maupun araada, merupakan tahap yang sama sebelum terwujudnya suatu perbuatan. Para ulama seperti Imam Ahmad, Imam Nawawi, dan al-Qaadlii ‘Iyaadl, menyatakan tentang al-hamm atau hasrat yang tidak dinilai dosa adalah lintasan pikiran yang belum menetap di dalam jiwa, serta belum disertai ikatan, niat, dan ‘azam atau tekad.

Dari hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu ‘Abbas dan Abu Hurairah di atas, disimpulkan ada lima hukum yang muncul,

  1. Orang yang berkeinginan / berkehendak berbuat baik, tetapi urung melakukannya,
  2. Orang yang berkeinginan / berkehendak berbuat baik, lalu melakukannya,
  3. Orang yang berkeinginan / berkehendak berbuat buruk (dosa), tetapi urung melakukannya karena takut kepada Allaah SWT,
  4. Orang yang berkeinginan / berkehendak berbuat buruk (dosa) tetapi urung melakukannya karena tidak memiliki potensi untuk mewujudkannya,
  5. Orang yang berkeinginan / berkehendak berbuat buruk (dosa), lalu melakukannya.

Hadirin rahimakumullah.

Bagi sebuah niat yang teriring dengannya tekad dalam sebuah perbuatan baik, tetapi urung karena satu dan lain hal, Allaah Ta’aala dengan kemurahan dan rahmat-Nya, menghitungnya sebagai sebuah perbuatan baik yang terjadi dengan sempurna (hasanatan-kaamilah).

Kemudian, apabila niat baik tersebut dibarengi dengan tekad dan ikhtiar nyata sehingga terwujud, Allaah lipat-gandakan kebaikan tersebut. Bisa 10 kali lipat (‘asyra hasanat), bisa 700 kali lipat (sab’i mi-ati dli’-fin), hingga tak terbatas (adl-‘aafin katsiirah). Berkaitan dengan hadits lain yang serupa, yakni tentang pelipat-gandaan pahala, Al-Hafizh Ibnu Hajar di dalam Fathul-Baari menyampaikan bahwa,

Hal ini mengisyaratkan bahwa kelipatan pahala amal baik itu sampai sepuluh. Inilah yang menjadi patokan. Adapun kelipatan melebihi sepuluh dimungkinkan sesuai dengan kualitas keikhlasan, kebenaran niat, penghayatan dalam hati, dan terwujudnya manfaat, seperti sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, keteladanan yang baik, kemuliaan amal kebajikan, dan lain sebagainya.

Itulah kemurahan Allaah Ta’aala bagi kita yang mau membiasakan diri untuk berniat baik sekaligus berikhtiar terus menerus untuk mewujudkannya. Bagaimana dengan niat untuk berbuat buruk?

Urung melakukan perbuatan buruk yang sempat terbersit di dalam benak boleh jadi disebabkan karena dua hal, (1) emosi sesaat tapi kemudian ingat dan takut kepada Allaah, atau (2) sudah menjadi tekad yang bulat, namun tidak ada potensi di sekelilingnya yang mendukung perbuatan buruk tersebut.

Jika perbuatan buruk urung terwujud karena ingat dan takut kepada Allaah Ta’aala, boleh jadi akan terhitung sebagai sedekah. Hal ini sesuai dengan hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim dari Abu Musa al-Asy’ari,

Nabi SAW bersabda, “Setiap Muslim wajib bersedekah”.

Para sahabat bertanya, “Bagaimana menurut Baginda, apabila dia tidak memiliki sesuatu (untuk disedekahkan)?

Nabi SAW menjawab, “Hendaknya dia menahan diri dari perbuatan buruk, hal itu dicatat sebagai sedekah untuknya”.

Bagaimana tentang perbuatan buruk yang urung terjadi selain karena takut kepada Allaah? Ulama hadits Syaikh Muhammad ‘Awwamah menjelaskan,

Bagi orang yang mengurungkan keinginan jahatnya karena faktor selain takut kepada Allaah, pahalanya lebih sedikit dibandingkan oleh perasaan takut kepada Allaah. Sebab, dalil yang sahih menunjukkan keutamaan bagi hamba yang memiliki rasa takut kepada Allaah ketika mengurungkan niat jahatnya.

Namun demikian perlu pula diingat ulasan al-Qaadlii ‘Iyaadl dan Imam Nawawi tentang perbuatan buruk yang urung dilakukan, bahwa,

Orang yang ingin berbuat maksiat dan bertekad mewujudkannya dapat dikenai dosa dalam keyakinan dan tekadnya; ia mendapatkan satu keburukan, tetapi keburukannya tidak sebesar orang lain yang telah melakukan dan mewujudkannya.

Hal yang mirip disampaikan Imam Nawawi ketika membahas hadits dari Imam Muslim yang berbunyi,

Apabila dua orang Islam bertengkar dengan pedangnya, maka orang yang membunuh dan terbunuh sama-sama berada di dalam neraka.

Saya bertanya (Abu Bakrah Nufa’i periwayat hadits), “Wahai Rasulullaah, sudah wajar yang membunuh masuk neraka. Lantas bagaimana gerangan yang terbunuh?”

Beliau menjawab, “Karena ia juga sangat berambisi untuk membunuh sahabatnya”.

Tentang hadits ini, Imam Nawawi mengatakan,

Seseorang yang bertekad bulat untuk melakukan maksiat serta terus-menerus merencanakannya, ia dinilai telah berdosa, meskipun belum sempat melakukannya atau mengucapkannya.

Itulah pembahasan tentang amal-amal kebaikan yang harus terus menerus kita biasakan memunculkannya di benak sekaligus kemudian berikhtiar mewujudkannya. Dan tak kalah pentingnya, bagaimana kita juga mampu membendung terbersitnya niat untuk berbuat dosa. Kalaupun dalam kondisi emosional dan terlanjur timbul di benak kita, segera saja kita ingat kepada Allaah agar niat tersebut tidak menguat menjadi tekad dan kesungguhan.

Hadirin rahimakumullaah.

Namun demikian, berkaitan dengan amal-amal kebaikan kita yang akan menjadi bekal di akhirat, sebagai pembuktian iman kita, perlu kita kembali ke al-Bayyinah ayat 8, ketika Allaah menyampaikan balasan atas amal shaleh kita, bahwa balasan surga mengandung deskripsi, radliyallaahu ‘anhum, Allaah ridla kepada mereka.

Perlu kita semua ingat, bahwa amal-amal shalih kita sama sekali tidak mampu mendatangkan apapun, kecuali atas amal-amal kebaikan tersebut kita mintakan ridla Allaah SWT. Terkadang kita menyangka, bahwa segenap amal shalih kita akan cukup untuk menyelamatkan kita dari neraka atau cukup untuk memasukkan kita ke dalam surga.

Atau yang lebih buruk, jika ada sebagian dari kita dengan santai berbuat buruk, dengan harapan, setelahnya cukup menggantinya dengan amal baik untuk menutupi dosanya. Semoga kita terhindar dari perbuatan yang demikian.

Kanjeng Nabi Muhammad SAW bersabda diriwayatkan oleh Imam Muslim, Imam Bukhari, dan an-Nasaa-i,

Berlaku luruslah kalian, dekatkanlah diri kalian (yakni kepada Allaah), dan bergembiralah kalian (yakni dengan pahala dan ganjaran dari Allaah), dan ketahuilah oleh kalian bahwa amal perbuatan salah seorang dari kalian tidak akan bisa memasukkannya ke surga.

(Mereka para sahabat Nabi SAW) bertanya, Juga termasuk engkau sendiri, ya Rasuulullaah?

(Nabi SAW) menjawab, (Ya,) termasuk aku sendiri, kecuali bila Allaah melimpahkan ampunan dan rahmat-Nya kepadaku. Dan sungguh, amal perbuatan yang dicintai oleh Allaah adalah yang dilakukan terus menerus, sekalipun sedikit.

Hadirin rahimakumullah.

Demikianlah peringatan Rasuulullaah SAW agar kita tidak mengandalkan amal kebaikan kita, kecuali amal tersebut harus kita konversi untuk memohon rahmat Allaah SWT. Bahkan seorang Nabi SAW pun menyatakan, bukan amal perbuatan baik Beliau SAW yang menjadikan beliau ke surga, tapi rahmat Allaah Ta’aala. Benar Beliau SAW adalah Nabi dan Rasul yang maksum, terjaga dari dosa, namun kemaksuman beliau pun berkat rahmat dari Allaah SWT.

Ada banyak sekali hadits berkualitas shahih yang menceritakan bagaimana rahmat Allaah tidak selalu sama dengan amal baik yang banyak. Misal, seorang pembunuh 100 orang yang bertaubat dan mendapatkan rahmat Allaah, diampuni dosanya; atau sebuah hadits tentang perempuan pendosa dan hadits lain tentang seorang lelaki yang mendapatkan ampunan karena memberi minum anjing kehausan; dan kisah-kisah pertaubatan lain yang menghadirkan rahmat Allaah SWT di masa akhir kehidupan.

Jangan sampai kita salah konsep salah pemahaman, bahwa amal kebaikan adalah segala-galanya, dan melupakan rahmat Allaah, sehingga muncul anggapan di dalam benak kita, seolah hanya amal baik saja yang mendatangkan manfaat.

Amal kebaikan adalah sarana kita meraih ridla Allaah, wasilah kita mendapatkan rahmat Allaah Tabaraka wa Ta’aala. Sungguh bahwa perbuatan baik membuat kita menjadi semakin dekat kepada Allaah Tabaraka wa Ta’aala dan kedekatan dengan Allaah-lah yang menghadirkan rahmat-Nya, bukan semata-mata hanya karena amal tersebut.

Bagaimana agar amalan baik kita mendatangkan rahmat Allaah? Sebelumnya telah kita bahas: Adapun kelipatan (balasan kebaikan) melebihi sepuluh dimungkinkan sesuai dengan kualitas keikhlasan, kebenaran niat, penghayatan dalam hati, dan terwujudnya manfaat, seperti sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, keteladanan yang baik, kemuliaan amal kebajikan, dan lain sebagainya. Dan balasan kebaikan tertinggi adalah jika kelipatannya tak terhingga, yakni ridla dan rahmat Allaah SWT.

Demikianlah penyampaian dari saya, semoga mampu menguatkan kita semua, terutama diri saya sendiri, agar bukan sekedar berusaha untuk berbuat kebaikan sebanyak-banyaknya, tapi juga berusaha untuk memperbaiki kualitas hati kita dalam segenap perbuatan baik kita tersebut, agar berbalas rahmat Allaah SWT. Serta agar kita tidak lagi menggantungkan diri pada amal kebaikan, tanpa melibatkan permintaan ridla Allaah dan rahmat Allah.

Mengurai Hikmah Tragedi Mako Brimob: Islam adalah Kedamaian

Alhamdulillaah, tragedi di Mako Brimob sudah selesai. Ada evaluasi yang harus dilakukan, terutama di manajemen penjara beserta perangkat keamanannya. Pemerintah harus mengakui (serta memperbaikinya, tentu saja) bahwa sebagian pemicunya adalah kedua hal tersebut.

Namun demikian, tidak berarti kita melegalkan kekerasan yang dilakukan oleh para teroris itu. Apalagi membela perilaku keji ini dengan dalih apapun. Bahkan termasuk tuduhan pencitraan kubu politik yang sedang memegang amanah pemerintahan RI. Jika sampai ada yang menyampaikan hal tersebut (tuduhan pencitraan), bagi saya, sungguh telah mati nuraninya. Sementara kepada anggota kepolisian yang gugur dalam tugas, semoga Allaah Ta’aala mengganjar kalian dengan rahmat-Nya yang Maha-agung dan Menyeluruh.

Selain itu, sebagai masyarakat bangsa dan negara, kita juga harus semakin sadar bahwa kejahatan atas nama Islam itu nyata keberadaannya.

Islam tak pernah mengajarkan kekejian, bahkan dalam keadaan perang sekali pun. Namun pembela dan pelaku atas tafsir selain itu benar-benar ada dan hidup berkembang di Indonesia kita tercinta.

Tidak semua yang kritis kepada pemerintah dan/atau bahkan yang anti-negara NKRI berafiliasi dengan para pembajak Islam tersebut, tapi realitasnya, para pembajak Islam alias teroris-teroris itu, memanfaatkan kedua kubu tersebut dengan narasi-narasi cantik nan (seolah-olah) mulia: Islam terzhalimi. Lebih jauh lagi, teroris-teroris tak berperasaan ini dengan percaya diri sering menggunakan isu HAM dengan berlebihan, sedemikian rupa sehingga, pemerintah dan negara yang sedang menegakkan hukum adalah pelanggar HAM terberat di dunia.

Begitu pula dengan isu anti-Amerika Serikat (US). Benar bahwa sejarah terorisme modern berkaitan erat dengan peran US pada masa perang dingin melawan Uni Soviet dengan meradikalkan sebagian kecil umat Islam atas nama perjuangan anti-Soviet. Benar pula, bahwa saat ini pengaruh US kepada semua pemerintah dan negara di seluruh penjuru dunia itu eksis.

Tapi sungguh sebuah kebodohan jika terorisme atas nama Islam di negeri kita digambarkan sebagai sebuah garis lurus perintah/koordinasi antara US, Indonesia, dan terorisme itu sendiri, dengan mengabaikan faktor-faktor lain yang sangat kompleks dan rumit.

Mengapa bodoh? Karena tidak mau berpikir menguraikan persoalan yang sesungguhnya dan memilih sebodoh-bodohnya sikap: memosisikan diri sebagai korban kemudian menunjuk orang lain sebagai pelaku, dengan kata “pokoknya” sebagai penekanan.

Sungguh sikap yang bertentangan dengan ajaran al-Qur’an tentang anjuran untuk berubah dengan ikhtiarnya sendiri.

Maka mari bersama-sama, kita berusaha menjalankan Islam dengan baik dan benar sembari terus memberikan kontribusi terbaik bagi bangsa dan negara melalui kritik konstruktif yang solutif sebagai bentuk nyata ikhtiar untuk meningkatkan kualitas kehidupan umat manusia.

Terakhir, saya ingin mengingatkan pentingnya sebuah institusi negara dlm kehidupan keagamaan dan spritualitas umat, sebagaimana dibahas dalam konferensi internasional ulama thariqah sedunia bertemakan “Bela Negara: Konsep dan Urgensinya menurut Islam”, di Pekalongan 2016 yg lalu.

Hasilnya ada sembilan poin penting, yang empat di antaranya akan saya kutip sebagai penutup tulisan ini:

Pertama, negara adalah tempat tinggal di mana agama diimplementasikan dalam kehidupan.

Kedua, bernegara merupakan kebutuhan primer dan tanpanya kemaslahatan tidak terwujud.

Ketiga, bela negara adalah di mana setiap warga merasa memiliki dan cinta terhadap negara sehingga berusaha untuk mempertahankan dan memajukannya.

Keempat, bela negara merupakan suatu kewajiban seluruh elemen bangsa sebagaimana dijelaskan Al-Quran dan Hadis.

Demikian, semoga bermanfaat.

Blunyah Gede, Yogyakarta, 10 Mei 2018,
Ahmad Rahma Wardhana.

Shalawat Agung

Setelah beberapa bulan disambi dan dicicil, akhirnya selesai juga penulisan ulang shalawat dari buku “70 Shalawat Pilihan” karya al-Ustadz Mahmud Samiy. Buku tersebut sudah saya punyai sejak 21 Juni 2003 (terbitan Pustaka Hidayah, Cetakan VII/April 2001).

Buku ini merupakan terjemahan dari kitab berbahasa arab dengan judul Mukhatashar fi Ma’ani Asma’ Allaah al-Husna pada bab ash-Shalah ‘ala an-Nabi (tanpa tempat dan tahun penulisan).

Isinya merupakan 70 buah shalawat beserta pelafalan, makna, sumber, dan fadlilah-fadlilahnya (keutamaan). Termasuk di dalam 70 shalawat tersebut adalah shalawat Ibrahimiyah, Nariyah, Munjiyat, Nurul Anwar, dan al-Fatih.

Folder yang saya bagi ini berisi file word dan pdf bacaan 70 shalawat tersebut dalam huruf arab berharakat dengan memakai font jenis Amiri Qur’an dan ukuran kertas A5 (pas untuk smartphone atau tablet).

Sementara keterangan lain dari 70 Shalawat tersebut (makna, keutamaan, dan periwayatan shalawat) belum sempat saya tulis ulang. Semoga Allaah berkenan memberikan waktu serta kesehatan kepada saya sehingga dpt menuliskannya, termasuk menambahkan beberapa shalawat masyhur lain yg belum tertulis dlm buku tersebut (misal: thibbil qulub, haji, atau badawiyyah). Aamiin.

Silakan dimanfaatkan sebagai amalan-amalan rutin. Tidak harus semua, memilih beberapa pun juga baik, yang penting terus menerus meskipun sedikit. Kritik dan saran sangat ditunggu, terutama jika terdapat kekeliruan penulisan.

Tautan menuju folder: Buku Shalawat

Buku Konsorsium “KEMALA”: Fikih Energi Terbarukan, Energi Surya untuk Komunitas, dan Sekolah Hijau

“KEMALA” merupakan akronim dari Konsorsium untuk Energi Mandiri dan Lestari. Anggota Konsorsium “KEMALA” terdiri dari

  1. Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia – Pengurus Besar Nahdlatul ‘Ulama (LAKPESDAM-PBNU), sebagai pimpinan Konsorsium,
  2. Pusat Studi Energi Universitas Gadjah Mada (PSE UGM),
  3. Pusat Studi Ekonomi Kerakyatan Universitas Gadjah Mada (PSEK UGM), dan
  4. Center For Civic Engagement and Studies (CCES).

“KEMALA” mendapatkan hibah berasal dari Millenium Challenge Corporation (MCC) United States of America melalui lembaga trust fund Millenium Challenge Account Indonesia (MCA Indonesia) di bawah koordinasi Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional Republik Indonesia, dengan nilai hibah Rp 16.756.874.156,00.

Program yang dijalankan oleh “KEMALA” bernama Peningkatan Pendapatan Rumah Tangga Miskin melalui Usaha Hijau yang Didukung oleh Energi Terbarukan, di tiga lokasi:

  • Desa Sungai Rambut, Kecamatan Berbak, Kabupaten Tanjung Jabung Timur, Provinsi Jambi,
  • Desa Rawasari, Kecamatan Berbak, Kabupaten Tanjung Jabung Timur, Provinsi Jambi, dan
  • Jorong Tandai Bukik Bulek, Nagari Lubuk Gadang Timur, Kecamatan Sangir, Kabupaten Solok Selatan, Provinsi Sumatera Barat.

Program “KEMALA” yang memanfaatkan pendanaan dari MCA-Indonesia telah berakhir pada 23 Februari 2018, namun “KEMALA” melalui anggota-anggota Konsorsiumnya akan terus berupaya melanjutkan program di tiga lokasi tersebut dengan mencari peluang pendanaan lain di luar MCA-Indonesia.

Sebagai bagian dari keluaran program, “KEMALA” berhasil menerbitkan tiga buku. Sinopsis dan tautan untuk mengunduh versi elektronik buku tersebut adalah sebagai berikut:

Fikih Energi Terbarukan – Pandangan dan Respons Islam atas Pembangkit Listrik Tenaga Surya

Sinopsis

Dewasa ini, energi terbarukan (renewable energy, ath-thaqah almutajaddadah) merupakan kebutuhan yang sangat penting dan tidak bisa ditunda lagi. Kita tidak bisa lagi terus-menerus bergantung pada energi fosil. Ketersediaan sumber energi fosil semakin menipis. Menurut ahli, dengan pola konsumsi seperti sekarang, dalam waktu sekitar puluhan tahun cadangan bahan bakar fosil akan habis. Oleh karena itu, demi keberlangsungan kehidupan dan mengantisipasi kelangkaan energi, ikhtiar ilmiah pengolahan energi terbarukan adalah pilihan terbaik untuk dilakukan.

Buku ini mengkaji energi terbarukan dalam perspektif Islam (fikih). Pandangan ini sangat penting, karena mayoritas penduduk Indonesia beragama Islam. Hampir setiap masalah selalu dimintakan pandangan keislaman. Meski begitu, buku ini juga memuat pengertian, klasifikasi, urgensi, pengembangan, dan seluk beluk terkait dengan energi terbarukan.

Buku ini sangat penting untuk meyakinkan bahwa inovasi energi terbarukan adalah sangat Islami dan didorong agama demi keterpeliharaan kemaslahatan umat manusia (mashalih al-‘ibad).

Buku Fikih Energi Terbarukan diberi sambutan oleh Ketua Umum PBNU (Prof. Dr. KH. Said Aqil Siroj, MA), Ketua LAKPESDAM-PBNU sekaligus Principal Director “KEMALA” (Dr. H. Rumadi Ahmad), dan terdiri dari lima bab dan satu lampiran.

Tautan untuk mengunduh buku elektronik (format pdf): Fikih Energi Terbarukan – Pandangan dan Respons Islam atas PLTS

Energi Surya untuk Komunitas – Meningkatkan Produktivitas Masyarakat Pedesaan melalui Energi Terbarukan

Endorsment

“Buku ini sangat relevan bagi akademisi, pengambil kebijakan dan pelaku usaha. Ia menunjukkan bahwa pemanfaatan energi terbarukan tidaklah serumit yang dibayangkan dan semahal yang diperkirakan. Pilihan teknologi yang tepat dan pendekatan partisipatif menempatkan energi surya sebagai solusi potensial bagi permasalahan energi kita. Diperlukan keberpihakan
para pengambil kebijakan, agar inovasi yang mensejahterakan ini dapat diwujudkan di berbagai penjuru tanah air”.

Ir. Wijayanto Samirin, MPP,
(Staf Khusus Wakil Presiden Bidang Ekonomi dan Keuangan)

“Sejak kelahirannya, UGM memiliki mandat untuk mengabdi pada ilmu pengetahuan, kesejahteraan masyarakat, dan kemanusiaan. Buku ini merupakan akumulasi pengetahuan dan pengalaman tentang karya UGM untuk mengabdikan pengetahuan tentang energi terbarukan kepada masyarakat. Proses “scaling up” dan “scaling down” diorkestrasi melalui kemitraan. Karya yang menjadi rujukan tertulis  yang menginspirasi”.

drg. Ika Dewi Ana, M.Kes., Ph.D.,
(Wakil Rektor Bidang Penelitian dan Pengabdian

kepada Masyarakat Universitas Gadjah Mada)

“Energi dan pangan adalah dua aspek yg sangat krusial bagi kehidupan. Salah satu tantangan besar bangsa ini adalah peningkatan layanan energi guna peningkatan kesejahteraan masyarakat di pedesaan, termasuk di antaranya di berbagai daerah terluar dan tertinggal. Tugas tersebut menuntut kemampuan dalam mengintegrasikan teknologi energi ke dalam sistem sosial – budaya – ekonomi setempat yang khas untuk tiap daerah. Buku ini sangat menarik disimak karena memberi tambahan wawasan dan opsi praktis.”

Anwar Sanusi, MA, Ph.D.,
(Sekretaris Jenderal Kementerian Desa dan Pembangunan

Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (Kemendes PDTT))

“Sebelumnya Konsorsium Kemala menerbitkan buku “Fikih Energi Terbarukan – Pandangan & Respons Islam atas PLTS”, melanjutkan seri tersebut maka tersusun buku perspektif PLTS tentang teknis instalasi, dinamika sosial dan lingkungan, untuk memastikan keberlanjutan pasca instalasi. Rujukan yang rajih (kuat, terpercaya) dan pengalaman nyata di lapangan, buku-buku Konsorsium Kemala diharapkan menjadi  penyemangat bagi pegiat energi terbarukan”.

Dr. H. Rumadi Ahmad,
(Principal Director Konsorsium KEMALA

dan Ketua Lakpesdam-PBNU)

Buku ini dibuka dengan sambutan penuh optimisme kepada energi terbarukan dari Rektor Universitas Gadjah Mada (Prof. Ir. Panut Mulyono, M. Eng., D. Eng.) serta disusun dalam enam bab termasuk kesimpulan dan penutup.

Tautan untuk mengunduh buku elektronik (format pdf): Energi Surya untuk Komunitas

Sekolah Hijau – Sebuah Alternatif Model Pemberdayaan Masyarakat Pedesaan

Buku ini merupakan cerita pemberdayaan masyarakat dalam program “KEMALA” dengan menggunakan “Sekolah Hijau” sebagai brand-nya. Buku yang terbagi atas tiga bagian, 12 bab, dan sebuah epilogi ini mencakup pembahasan teori pemberdayaan yang diterapkan, profil lokasi program, dan bagaimana teori tersebut dipraktekkan di lapangan. Sambutan dalam buku ini ditulis oleh Guru Besar Fakultas Teknologi Pertanian UGM sekaligus Wakil Ketua UMUM Pengurus Besar NU yang juga menjadi Ketua Steering Commitee “KEMALA”.

Tautan untuk mengunduh buku elektronik (format pdf): Sekolah Hijau

Perkawinan Antar Pemeluk Agama yang Berbeda

Dikutip tanpa perubahan dari buku Wawasan al-Quran: Tafsir Tematik atas Pelbagai Persoalan Umat karya M. Quraish Shihab, halaman 259-264 (Penerbit Mizan tahun 1996, Cetakan II – Desember 2007)

Perkawinan Antar Pemeluk Agama yang Berbeda

Al-Quran juga secara tegas melarang perkawinan dengan orang musyrik seperti Firman-Nya dalam surat Al-Baqarah (2): 221,

Larangan serupa juga ditujukan kepada para wali agar tidak menikahkan perempuan-perempuan yang berada dalam perwaliannya kepada laki-laki musyrik.

Menurut sementara ulama walaupun ada ayat yang membolehkan perkawinan pria Muslim dengan wanita Ahl Al-Kitab (penganut agama Yahudi dan Kristen), yakni surat Al-Maidah (5): 5 yang menyatakan,

Tetapi izin tersebut telah digugurkan oleh surat Al-Baqarah ayat 221 di atas. Sahabat Nabi, Abdullah Ibnu Umar, bahkan mengatakan:

Pendapat ini tidak didukung oleh mayoritas sahabat Nabi dan ulama. Mereka tetap berpegang kepada teks ayat yang membolehkan perkawinan semacam itu, dan menyatakan bahwa walaupun aqidah Ketuhanan ajaran Yahudi dan Kristen tidak sepenuhnya sama dengan aqidah Islam, tetapi Al-Quran tidak menamai mereka yang menganut Kristen dan Yahudi sebagai orang-orang musyrik. Firman Allah dalam surat A1-Bayyinah (98): 1 dijadikan salah satu alasannya.

Ayat ini menjadikan orang kafir terbagi dalam dua kelompok berbeda, yaitu Ahl Al-Kitab dan Al-Musyrikin. Perbedaan ini dipahami dari kata “wa” yang diterjemahkan “dan”, yang oleh pakar bahasa dinyatakan sebagai mengandung makna “menghimpun dua hal yang berbeda”.

Larangan mengawinkan perempuan Muslimah dengan pria non-Muslim–termasuk pria Ahl Al-Kitab–diisyaratkan oleh Al-Quran. Isyarat ini dipahami dari redaksi surat Al-Baqarah (2): 221 di atas, yang hanya berbicara tentang bolehnya perkawinan pria Muslim dengan wanita Ahl Al-Kitab, dan sedikit pun tidak menyinggung sebaliknya. Sehingga, seandainya pernikahan semacam itu dibolehkan, maka pasti ayat tersebut akan menegaskannya.

Larangan perkawinan antar pemeluk agama yang berbeda itu agaknya dilatarbelakangi oleh harapan akan lahirnya sakinah (ketenangan – tambahan dari Ahmad R. Wardhana) dalam keluarga. Perkawinan baru akan langgeng dan tenteram jika terdapat kesesuaian pandangan hidup antar suami dan istri, karena jangankan perbedaan agama, perbedaan budaya, atau bahkan perbedaan tingkat pendidikan antara suami dan istri pun tidak jarang mengakibatkan kegagalan perkawinan. Memang ayat itu membolehkan perkawinan antara pria Muslim dan perempuan Utul-Kitab (Ahl Al-Kitab), tetapi kebolehan itu bukan saja sebagai jalan keluar dari kebutuhan mendesak ketika itu, tetapi juga karena seorang Muslim mengakui bahwa Isa a.s. adalah Nabi Allah pembawa ajaran agama. Sehingga, pria yang biasanya lebih kuat dari wanita–jika beragama Islam–dapat mentoleransi dan mempersilakan Ahl Al-Kitab menganut dan melaksanakan syariat agamanya,

Ini berbeda dengan Ahl Al-Kitab yang tidak mengakui Muhammad
Saw. sebagai nabi.

Di sisi lain harus pula dicatat bahwa para ulama yang membolehkan perkawinan pria Muslim dengan Ahl Al-Kitab, juga berbeda pendapat tentang makna Ahl Al-Kitab dalam ayat ini, serta keberlakuan hukum tersebut hingga kini. Walaupun penulis cenderung berpendapat bahwa ayat tersebut tetap berlaku hingga kini terhadap semua penganut ajaran Yahudi dan Kristen, namun yang perlu diingat bahwa Ahl Al-Kitab yang boleh dikawini itu, adalah yang diungkapkan dalam redaksi ayat tersebut sebagai “wal muhshanat minal ladzina utul kitab”. Kata al-muhshnnat di sini berarti wanita-wanita terhormat yang selalu menjaga kesuciannya, dan yang sangat menghormati dan mengagungkan Kitab Suci. Makna terakhir ini dipahami dari penggunaan kata utuw yang selalu digunakan Al-Quran untuk menjelaskan pemberian yang agung lagi terhormat.[1] Itu sebabnya ayat tersebut tidak menggunakan istilah Ahl Al-Kitab, sebagaimana dalam ayat-ayat lain, ketika berbicara tentang penganut ajaran Yahudi dan Kristen.

Pada akhirnya betapapun berbeda pendapat ulama tentang boleh tidaknya perkawinan Muslim dengan wanita-wanita Ahl Al-Kitab, namun seperti tulis Mahmud Syaltut dalam kumpulan fatwanya.[2]

Pendapat para ulama yang membolehkan itu berdasarkan kaidah syar’iyah yang normal, yaitu bahwa suami memiliki tanggung jawab kepemimpinan terhadap istri, serta memiliki wewenang dan fungsi pengarahan terhadap keluarga dan anak-anak. Adalah kewajiban seorang suami Muslim berdasarkan hak kepemimpinan yang disandangnya untuk mendidik anak-anak dan keluarganya dengan akhlak Islam. Laki-laki diperbolehkan mengawini non-Muslimah yang Ahl Al-Kitab, agar perkawinan itu membawa misi kasih sayang dan harmonisme, sehingga terkikis dari hati istrinya rasa tidak senangnya terhadap Islam. Dan dengan perlakuan suaminya yang baik yang berbeda agama dengannya itu, sang istri dapat lebih mengenal keindahan dan keutamaan agama Islam secara amaliah praktis, sehingga ia mendapatkan dari dampak perlakuan baik itu ketenangan, kebebasan beragama, serta hak-haknya yang sempurna, lagi tidak kurang sebaik istri.

Selanjutnya Mahmud Syaltut menegaskan bahwa kalau apa yang
dilukiskan di atas tidak terpenuhi –sebagaimana sering terjadi pada masa kini– maka ulama sepakat untuk tidak membenarkan perkawinan itu, termasuk oleh mereka yang tadinya membolehkan.

Kalau seorang wanita Muslim dilarang kawin dengan non-Muslim karena kekhawatiran akan terpengaruh atau berada di bawah kekuasaan yang berlainan agama dengannya, maka demikian pula sebaliknya. Perkawinan seorang pria Muslim, dengan wanita Ahl Al-Kitab harus pula tidak dibenarkan jika dikhawatirkan ia atau anak-anaknya akan terpengaruh oleh nilai-nilai yang bertentangan dengan nilai-nilai Islam.

[1] Kata utuw, dalam berbagai bentuknya terulang di dalam al-Quran sebanyak 32 kali. Al-Quran menggunakannya untuk anugerah yang agung berupa ilmu atau Kitab Suci.

[2] Mahmud Syaltut 1959: 253

Kesungguhan Niat dan Keberkahannya

Sering sekali kita mendengar istilah niat kaitannya dengan ibadah. Apa sebenarnya makna niat?

Secara kebahasaan niat adalah: maksud atau tujuan perbuatan. Secara praktis, wujud niat itu menyengaja, yakni ada kesengajaan mengerjakan sesuatu, dan tujuan bersengaja tersebut adalah karena Allaah. Nabi Muhammad SAW bersabda,

Sesungguhnya niat letaknya di hati, atau dalam bahasa Jawa, krenteging ati untuk melakukan sesuatu dengan tujuan tertentu. Banyak bentuknya. Ada yang cukup dari hati. Ada yang dengan ucapan. Para ulama menyusun bacaan niat adalah sebagai penuntun agar hati kita niatnya jelas, tujuannya lurus. Maka muncul bacaan niat shalat, niat puasa, niat wudlu, dan lain sebagainya.

Ada yang dibaca bersama, seperti niat puasa, adalah sebagai pendidikan untuk semua umat, ayo bareng-bareng digenahke niate. Saat shalat pun bermacam-macam. Ketika kita berangkat ke Masjid untuk shalat, maka sesungguhnya niat tersebut sudah mewujud. Insya-Allaah cukup mencakup hadits Rasuulullaah SAW tentang niat tadi.

Tetapi agar mantap, disempurnakan juga tidak masalah. Maka muncul sebagian ulama dan umat, membaca niat khusus sesaat sebelum shalat. Kenapa perlu diucapkan? Ya untuk ngencengke tekad tadi. Ushalli fardlal subhi, rak-‘atayni, mustaqbilal qiblati, makmuuman, lillaahi ta’aala. Layaknya iman yang mencakup di dalam hati, lisan, dan perbuatan, begitu pula dengan niat, wujudnya juga akan lebih baik, jika mencakup ketiganya.

Hadirin rahimakumullaah.

Sudah sering kita dengar bagaimana fungsi niat dan pahala yang diperoleh, bahwa apa yang diniatkan, itulah yang kita peroleh. Dalam konteks masa hijrah Nabi Muhammad SAW, ada yang hijrah karena perempuan dan harta, maka harta dan perempuan tersebutlah batas perolehannya, tidak sampai kepada Allaah.

Atau ketika pasukan Abrahah mencoba menyerang Ka’bah, pasukan dihabiskan oleh Allaah dari depan sampai belakang, sehingga Sayyidatina ‘Aisyah bertanya kepada Rasuulullaah SAW, bagaimana status mereka yang berniat berdagang, bukan menyerang Ka’bah atau bukan termasuk golongan mereka (Abrahah)? Rasuulullaah SAW menjawab,

Atau bagaimana niat shadaqah yang lebih karena ingin dilihat orang lain, bukan karena ingin membantu? Maka yang didapat ya hanya pujian orang lain, tanpa pahala di sisi Allaah.

Sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim, menggambarkan bagaimana niat sebuah perbuatan mampu membawa keberkahan yang lebih daripada seharusnya.

Hadirin rahimakumullaah.

Hadits ini menunjukkan bahwa orang bersedekah mendapatkan pahala kebaikan sesuai dengan niatnya, walaupun sedekah ternyata diberikan kepada yang tidak berhak, yaitu orang kaya. Syaratnya, ia tidak tahu bahwa ia salah sasaran (tidak sengaja salah sasaran). Maksudnya baik, niatnya baik, pahala sedekah pun ia peroleh.

Hadits ini juga memberi pelajaran kepada kita bahwa niat baik tidak boleh berhenti sekalipun dikomentari orang lain. Bahkan, niat baik dan lurus, yang dikerjakan penuh kesungguhan, hanya karena Allaah, akan mendatangkan keberkahan berlipat dalam konteks hadits tersebut: mencegah orang mencuri, mencegah orang menjual diri, mendorong orang kaya melakukan sedekah.

Pun dengan i’tikaf kita. Niatkan karena Allaah, yakni mendekatkan diri kepada Allaah. Bukan karena status atau ingin dilihat orang lain. Sehingga ibadah i’tikaf akan membekas, di mana nama-nama Allaah yang baik, asmaul husna, Dzat yang sedang kita dekati, juga muncul dalam keseharian dan kehidupan sosial kita.

Sebagai penutup, akan saya berikan kisah masyhur yang konon terjadi pada diri Abu Nawas, kaitannya dengan keteguhan niat.

Suatu hari Abu Nawas bersama anaknya hendak menjual keledai ke pasar hewan. Keduanya berjalan kaki tanpa menunggangi keledainya.

Bertemulah ketiganya (dua manusia dan satu keledai) dengan seseorang dari arah berlawanan, di mana orang tersebut (yang tidak kenal dengan Abu Nawas, anaknya, maupun keledainya), berucap kepada rombongan Abu Nawas, “Ada keledai kok tidak dikendarai”,

Abu Nawas bereaksi, kemudian mengendarai keledainya.

Beberapa saat kemudian, rombongan Abu Nawas bertemu lagi dengan orang lain, sama tidak kenalnya, yang melontarkan komentar, “Orang tua kok tidak sayang anaknya. Anaknya jalan, ayahnya naik keledai”.

Abu Nawas bereaksi lagi, turun dari keledai dan menyuruh anaknya gantian mengendarai keledai.

Belum lama anak Abu Nawas berkendara, bertemulah mereka dengan seorang lagi yang tak mereka kenal, namun berkomentar, “Dasar anak durhaka. Ayahnya jalan kaki, yang muda naik kendaraan!”

Abu Nawas mendengarnya dan kemudian berboncengan bersama anaknya mengendarai sang keledai.

Lha kok belum berjalan lama, ketemu lagi dengan orang lain yang berkomentar, “Dasar manusia tak menghargai sesama makhluk ciptaan Allaah! Tahu keledai gak besar, masih juga dikendarai dua orang!”

Sambil menahan amarah, Abu Nawas berkata kepada anaknya, “sekarang kita turun dari keledai ini dan kita gendong keledai ini hingga tiba di pasar hewan! Tidak perlu dengarkan orang lain!”

Hadirin yang dirahmati Allaah SWT, demikianlah sikap yang benar dalam menghadapi suara orang lain. Ada dua jenis suara orang lain kepada kita, (1) suara dari orang yang tidak kenal dengan kita, hanya melihat sepintas pada diri kita, kemudian bersuara, ini disebut sebagai komentar; dan (2) suara dari orang yang kenal baik dengan kita, tahu persis siapa diri kita, sehingga menyuarakan pendapatnya, ini disebut sebagai nasihat.

Aktivitas kita sehari-hari, hingga langkah-langkah serius dan beresiko yang kita lakukan untuk mencapai cita-cita, kadang berhenti atau menjadi lambat, hanya karena mendengar komentar orang lain. Padahal, komentar harus selalu kita abaikan. Yang harus didengar adalah nasihat, bukan komentar.

Kalau sudah niat melakukan kebaikan karena Allaah, madhep manteb hanya mengharap ridla Allaah, kenapa harus repot mendengarkan komentar dan suara dari orang yang tidak kenal dengan kita? Cukup tolak dengan akhlak baik, seperti kita katakan, matur nuwun atas nasihatnya, ya, akan coba saya perhatikan. Tapi abaikan jika menghambat! Karena sesungguhnya itu hanya komentar saja.

Dengarkan nasihat dari mereka yang mengenal kita dengan baik, dari mereka yang sungguh-sungguh mengharap kebaikan kepada diri kita. Ingat selalu kisah Abu Nawas tadi sebagai ukuran untuk membedakan antara mana yang komentar, mana yang nasihat, agar semakin mudah bagi kita menjalani hidup dan ibadah.

Meneguhkan Pancasila dan Jalan Pertengahan sebagai Solusi Kebangsaan

Disampaikan dalam Ceramah Bakda Tarawih Keluarga Mahasiswa NU UGM di Mushalla Fakultas Filsafat UGM, 1 Juni 2017

Teman-teman yang dirahmati Allaah SWT.

Umat Islam adalah umat pertengahan, sebagaimana firman Allaah dalam al-Baqarah 143,

Kata wasath pada mulanya berarti segala yang baik sesuai objeknya, sebagaimana ungkapan arab,

Maka, yang terbaik adalah di pertengahan, yakni berada di antara dua posisi ekstrem. Bahwa berani adalah pertengahan antara nekat dan takut. Sementara dermawan adalah pertengahan antara boros dan kikir.

Lebih jauh, jika ada dua pihak yang berseteru, maka akan ada penengah yang harus adil, yakni disebut wasit.

Sementara, kata syahiid dan syuhadaa` berasal dari kata yang sama yang membawa makna luas, yakni yang disaksikan atau yang menyaksikan. Maksudnya, umat Islam adalah umat pertengahan yang disaksikan oleh semua umat manusia, sementara umat Islam menyaksikan Rasuul SAW sebagai sumber sifat-sifat pertengahannya. Umat Islam adalah syuhadaa`, yakni yang disaksikan (oleh manusia), sekaligus yang menyaksikan Rasuul SAW, sang syahiid, yang disaksikan, sebagai sumber wasathiyah, sumber pertengahan.

Pengertian pertengahan ini luas, yang setidaknya mencakup beberapa hal berikut,

  1. Umat Islam menganut ajaran Islam, yakni ajaran yang tidak ekstrem mengandalkan akal/logika saja, tetapi tidak pula terjatuh dalam spiritualitas absolut. Tidak pula terlalu materialistis (kebendaan, jasmaniah ekstrem), tetapi tidak pula spiritualistis murni (ruhaniah ekstrem). Islam tidak pula mengingkari wujud Tuhan, tetapi juga tidak kemudian terjebak dalam politeisme (banyak sesembahan), karena bagi Islam sesembahan adalah satu, Tuhan Allaah SWT. Mustahil Penguasa Alam ini lebih dari satu, karena pasti satu dengan lainnya memeiliki kehendak yang berbeda.

Islam tidak pula mengekang kebutuhan fisik seseorang (makan, minum, seksual), tetapi juga tidak membebaskannya secara ekstrim dalam memuaskannya. Islam menghendaki pemenuhan kebutuhan fisik tersebut dikendalikan dan dibingkai secara spiritual. Jasmani dan ruhani, seimbang. Di Ramadlan, siangnya kita wajib berpuasa bagi yang mampu, yakni menunda makan, minum, seksual, dan hal lain yang membatalkannya. Di Ramadlan pula, malamnya, kita diperbolehkan makan, minum, dan bahkan berhubungan seksual. Hanya saja, yang hubungan seksual itu hanya boleh yang sah dalam ikatan pernikahan.

Islam tidak melarang kepemilikan dan keinginan duniawiyah, tapi tidak pula memusatkan tujuan kehidupan hanya pada kehidupan sesudah kematian. Dunia adalah bekal bagi kehidupan akhirat. Berusahalah mencapai kondisi baik pada urusan duniamu sekaligus akhiratmu. Seimbang.

  1. Posisi pertengahan, ummatan wasathan membawa makna bahwa seorang muslim berada di posisi tengah, posisi pusat, dan menjadi perhatian dari berbagai penjuru. Maka, seorang muslim harus menjadi teladan sekaligus harus mampu memahami peristiwa-peristiwa yang terjadi di sekelilingnya. Memahami dalam arti mampu menarik hikmah dari segala hal yang terjadi dalam pandangannya.
  2. Tengah, wasathan, juga membawa makna menegakkan keadilan kapan pun, di mana pun. Allaah Ta’aala berfirman di surat an-Maa`idah ayat 8,

Hadirin rahimakumullaah.

Sikap pertengahan-lah yang menjadi salah satu sebab dipilihnya Pancasila sebagai dasar negara Republik Indonesia. Di tengah situasi genting pada tahun 1945, para tokoh bangsa berhasil mencari jalan tengah di antara ide-ide tentang bentuk negara Indonesia saat itu. Pancasila merupakan dasar negara yang unik, karena para pendiri bangsa berhasil bersikap di tengah-tengah, di antara bentuk negara agama atau sekuler (meninggalkan agama dalam kehidupan bernegara).

Indonesia kita dengan Pancasilanya, bukanlah negara berdasarkan satu agama tertentu dan bukan pula negara sekuler yang meninggalkan agama sama sekali. Indonesia menjadikan agama sebagai menjadi spirit di kepala masing-masing warga dan penduduknya. Agama menjadi tuntunan moral utama bagi seluruh bangsa untuk menggerakkan negeri ke arah yang lebih baik, mencapai kesejahteraan dan kemakmuran bangsa, karena seluruh agama memiliki tujuan serta kebenaran universal tentang moral, kemanusiaan, kebaikan, dan keadilan.

Agama adalah kebutuhan mendasar setiap orang, karena manusia difitrahkan untuk mencari panduan hidup. Dan semua agama, dengan bentuknya masing-masing, memiliki satu bahasan yang sama di antara satu dengan yang lainnya, yaitu konsep KETUHANAN, betapapun berbedanya antara satu agama dengan agama lainnya.

Maka, yang dipilih Indonesia bukanlah agama apa yang akan menjadi dasar negara, dan lebih lagi, demi menghargai kemajemukan, Islam yang mayoritas melalui tokoh-tokoh kebangsaan di era kemerdekaan pun berkenan menerima konsensus agung: Ketuhanan sebagai Dasar Negara. Konsep Ketuhanan tepat dipilih, karena ia jauh lebih tinggi daripada agama manapun, dan sesungguhnya, merupakan tujuan dari masing-masing ajaran agama, yakni meraih ridla dari Tuhan.

Sayangnya, karena kondisi politik dan keamanan pada masa sesudah Gerakan 30 September, Pancasila ini dimanfaatkan menjadi jargon politik belaka. Pancasila didetailkan menjadi butir-butir pengamalan yang dipaksakan menjadi teori-teori di kelas, tanpa pelaksanaan yang terukur. Apalagi di tingkat kebijakan umum nasional, Pancasila belum di-breakdown dengan baik terutama untuk bidang ekonomi dan bidang lainnya. Bahasa mudahnya: konsep baik, tapi implementasi masih kurang.

Hadirin rahimakumullaah.

Hubungan Pancasila dengan Islam diteguhkan kemudian oleh NU melalui Munas Alim Ulama NU tahun 1983 di Situbondo. Meskipun pada awalnya hanya karena didorong oleh pemerintah agar menerima Pancasila sebagai azas tunggal untuk semua organisasi, momen ini menjadi kesempatan bagi NU untuk menguatkan penjelasan Pancasila sebagai jalan tengah umat Islam demi bersatunya kebangsaan Indonesia. Keputusan Munas tersebut berbunyi,

MEMUTUSKAN

Menetapkan

DEKLARASI TENTANG HUBUNGAN PANCASILA DENGAN ISLAM

Bismillahirramanirrahim

  1. Pancasila sebagai dasar dan falsafah Negara Republik Indonesia bukanlah agama, tidak dapat rnenggantikan agama dan tidak dapat dipergunakan untuk menggantikan kedudukan agama.

  2. Sila Kehutanan Yang Maha Esa sebagai dasar Negara Republik Indonesia menurut pasal 29 ayat (1) Undang-Undang Dasar 1945, yang menjiwai sila-sila yang lain, mencerminkan tauhid menurut pengertian keimanan dalam Islam.

  3. Bagi Nahdlatul Ulama, Islam adalah aqidah dan syari’ah, meliputi aspek hubungan manusia dengan Allah dan hubungan antar manusia. Penerimaan dan pengamalan Pancasila merupakan perwujudan dari upaya ummat Islam Indonesia untuk menjalankan syari’at agamanya.

  4. Sebagai konsekwensi dari sikap di atas, Nahdlatul Ulama berkewajiban mengamankan pengertian yang benar tentang Pancasila dan pengamalannya yang murni dan konsekwen oleh semua fihak.

Seiring dengan berjalannya sejarah bangsa Indonesia sejak merdeka hingga saat ini, kita dengan Pancasilanya, berhasil menunjukkan performa yang sangat indah, terlepas dari berbagai kekurangan yang masih ada.

Secara geografis, kita memiliki bentuk negeri berupa kepulauan, terhubung dengan lautan, membentang panjang, dengan berbagai bentuk perbedaannya, baik suku, bahasa, agama, budaya, dan adat kebiasaan lain. Lebih dari itu, jarak geografis yang berjauhan dan kekeliruan model pembangunan, membuat pemerataan kesejahteraan belum berlangsung dengan baik.

Namun, deskripsi tersebut tadi, tidak pernah memecah belah bangsa Indonesia. Benar muncul gerakan separatis di beberapa tempat, namun mayoritas masyarakat masih mencintai Merah-Putih, mencintai Indonesia sebagai negara dan kebangsaannya. Tanyalah pada teman-teman kita yang KKN hingga ke ujung-ujung Nusantara, bagaimana mereka dan masyarakat yang tak pernah kedatangan pejabat, tetap bersemangat dalam setiap perayaan kemerdekaan 17 Agustus.

Fenomena inilah yang mendorong kekuatan luar Indonesia untuk konsisten memecah belah bangsa. Bagaimana mungkin, negeri yang lebih rumit daripada Amerika Serikat kemajemukannya, bisa tetap bersatu dan bertahan, bahkan dengan ketidak-adilan ekonomi yang masih terus diperjuangkan?

Fenomena ini pula, yang ditambah dengan fenomena agama Islam sebagai mayoritas, membuat banyak orang bertanya-tanya, kenapa bisa tetap bersatu tanpa menjadi negara Islam? Kenapa bisa tidak terpecah-belah seperti halnya negara-negara berpenduduk Islam lainnya? Kenapa radikalisme tidak muncul dengan massif, padahal mayoritas muslim?

Inilah berkah Pancasila, yakni berkah atas konsistensi kita untuk berada di jalan tengah.

Hadirin rahimakumullaah.

Di tengah pergolakan keterbukaan politik di negeri-negeri berpenduduk Muslim di Timur Tengah dan Afrika, pada 2016 kemarin diadakan di Pekalongan sebuah Konferensi Internasional Ulama Thariqah yang menghadirkan ulama kunci dan berpengaruh dari 40 negara. Uniknya, konferensi mengambil judul Bela Negara: Konsep dan Urgensinya Menurut Islam. Dan beberapa tahun sebelumnya, ulama-ulama kunci dari Afghanistan rawuh ke UGM untuk belajar Pancasila.

Anda bayangkan, di saat beberapa golongan tertentu memaksakan formalisasi Islam sebagai Dasar Negara, kita justru didatangi oleh ulama dari 40 negara lebih, karena melihat berhasilnya konsep kenegaraan Indonesia yang kita bangun, melalui Pancasila, melalui konsep pertengahan.

Apa hasil dari Konferensi Ulama Thariqah? Ada sembilan poin, yakni

Pertama, negara adalah tempat tinggal di mana agama diimplementasikan dalam kehidupan.

Kedua, bernegara merupakan kebutuhan primer dan tanpanya kemaslahatan tidak terwujud.

Ketiga, bela negara adalah di mana setiap warga merasa memiliki dan cinta terhadap negara sehingga berusaha untuk  mempertahankan dan memajukanya.

Keempat, bela negara merupakan suatu kewajiban seluruh elemen bangsa sebagaimana dijelaskan Al-Quran dan Hadis.

Kelima, bela negara dimulai dari membentuk kesadaran diri yang bersifat ruhani dengam bimbingan para ulama.

Keenam, bela negara tidak terbatas melindungi negara dari musuh atau sekedar tugas kemiliteran, melainkan usaha ketahanan dan kemajuan dalam semua aspek kehidupan seperti ekonomi, pendidikan, politik, pertanian, sosial budaya dan teknologi informasi.

Ketujuh, bela negara menolak adanya terorisme, radikalisme dan ekstremisme yang mengataasnamakan agama.

Kedelapan, untuk mewujudkan bela negara dibutuhkan empat pilar, yaitu ilmuwan, pemerintahan yang kuat, ekonomi dan media.

Kesembilan, menjadikan Indonesia sebagai inisiator bela negara yang merupakan perwujudan dari Islam rahmatan lil alamin.

Hadirin rahimakumullaah.

Sekali lagi, inilah penegasan bersama, pentingnya Pancasila dan jalan tengah, kemoderatan umat Islam dalam kehidupan berbangsa. Saat ini, bukan Pancasilanya yang dihapus, tetapi kita perbaiki implementasinya dalam kebijakan-kebijakan strategis pemerintahan.

Mari kita bersama-sama, berperan dalam pembangunan bangsa, sesuai dengan jangkauan ruang dan waktu yang kita miliki, sesuai dengan bidang yang kita kuasai masing-masing. Dengan tetap konsisten berjalan di ajaran Islam yang moderat, insya-Allaah, menjadi siapapun kita, ahli di bidang apapun kita, konsep tawasuth, konsep pertengahan adalah yang terbaik untuk menyelesaikan berbagai urusan, termasuk kemajuan bangsa Indonesia.

Tetaplah setia kepada Indonesia dan Pancasilanya, terus mengabdi melalui ajaran agama Islam ala ahl as-Sunnah wal-Jamaah ah-Nahdliyah, demi meraih ridla Allaah SWT.

Cinta kepada Sesama Manusia: Pokok Ajaran Islam

Tautan versi PDF, silakan untuk digunakan sebagai bahan ceramah: LINK.

Alhamdulillaah, segala puji hanya pantas disandang oleh Allaah Tabaraka wa Ta’aala yang masih berkenan memberikan kepada kita kenikmatan agung untuk bertemu kembali dengan Ramadlan. Shalawat serta salam semoga tetap dan terus tercurahkan kepada Nabi Muhammad SAW, beserta keluarga, sahabat, serta, pengikut beliau.

Hadirin rahimakumullaah.

Nikmat pertemuan dengan Ramadlan harus benar kita syukuri, agar Allaah Ta’aala melipat-gandakan nikmat tersebut, yakni semoga memberikan kesempatan kepada kita untuk bertemu dengan Ramadlan-Ramadlan di tahun berikutnya. Sesuai dengan firman Allaah Ta’aala yang masyhur tentang bersyukur (QS Ibrahim ayat 7),

Sama halnya dengan dua nikmat lain, yang kita kebanyakan lupa dan terlena, karena kehadiran nikmat tersebut yang berlangsung hampir setiap saat. Kanjeng Nabi SAW bersabda (HR at-Thabrani dari Ibnu ‘Abbas),

Dalam berbagai kesempatan, di setiap Ramadlan, saya selalu mengingatkan betapa aman dan nyamannya kita beribadah sebagai umat Islam di Indonesia. Kadang nikmat ini, yakni termasuk nikmat keamanan sebagaimana Nabi SAW sampaikan, lupa untuk kita syukuri.

Munculnya peledakan di Kampung Melayu yang diklaim oleh ISIS sebagai dalangnya, sudah sepantasnya meningkatkan kewaspadaan kita terhadap nikmat keamanan, yang jangan-jangan kita lupa mensyukurinya. Mari kita bercermin pula pada munculnya ISIS di Filipina, negara yang sangat dekat dengan Indonesia. Pun dengan peledakan dua bom di Baghdad, negeri berpenduduk mayoritas Islam, dalam sehari terakhir.

ISIS adalah ancaman nyata bagi umat Islam, karena pada nyatanya korban terbesar kekejian mereka selama ini adalah umat Islam sendiri. Ketika mereka terdesak di Timur Tengah, ISIS mencari cara lain untuk menyebarkan ajaran sesatnya: melalui kelompok-kelompok radikal di luar Timur Tengah. Sayangnya, ada sebagian putra bangsa Indonesia yang justru menganggapnya ancaman nyata ini sebagai rekayasa semata.

Hadirin rahimakumullaah.

Boleh jadi ada di antara kita ada yang bertanya-tanya, di mana letak kesalahan ajaran ISIS? Bukankah ISIS membawa bendera bertuliskan kalimat tauhid (laa-ilaaha-illaa-Llaah)? Jelas nyata, salah satu kesalahan yang paling nampak adalah kekejian ISIS kepada sesama manusia. Padahal Nabi SAW bersabda (HR Bukhari),

Jika Nabi SAW memerintahkan demikian, apakah mungkin muncul kekejian kepada sesama manusia? Tentu tidak.

Inilah kepedulian yang seharusnya muncul dari pemeluk Islam. Cinta, yang tidak hanya kepada sesama muslim atau sesama mukmin, tapi kepada sesama manusia. Atau dapat pula dikatakan, cinta kepada sesama manusia saja diperintahkan oleh Nabi SAW, apalagi kepada sesama muslim atau mukmin.

Dalam sabdanya yang lain Nabi SAW bersabda (HR ath-Thabrani dari Abu Umamah),

Sabda Nabi SAW menggambarkan bahwa ibadah vertikal dan personal kita kepada Allaah Tabaraka wa Ta’aala harus membekas di dalam kehidupan sosial kemasyarakatan. Bukankah memalukan jika shalat kita khusyu’ dan rajin namun tak tercermin di dalam cara kita berkomunikasi dengan tetangga atau orang lain siapapun itu? Bukankah seharusnya diri kita sendirilah yang mewujudkan firman Allaah (QS al-‘Ankabut ayat 45),

Ini karena kita bukan sekedar makhluk individu, tetapi juga makhluk sosial. Karena Allaah gambarkan pula penciptaan kita melalui makna surat al-‘Alaq, sesuatu yang menggantung di dinding rahim yang dimaknai kebutuhan manusia terhadap manusia lainnya. Wajarlah kemudian Islam juga mengajarkan fungsi sosial harta, melalui zakat, shadaqah, hibah, wakaf, hadiah, dan bahkan melarang beredarnya harta di antara sedikit orang, sebagaimana Allaah Ta’aala sampaikan dalam firman-Nya (QS al-Hasyr ayat 7),

Lebih dari itu, Nabi SAW menekankan pentingnya misi kemanusiaan dalam Islam, melalui sabda beliau (HR ath-Thabrani),

Sesudah iman kepada Allaah, maka wujud nyata keimanan harus ditujukan kepada sesama makhluk, terutama manusia. Dorongan ini selaras dengan fungsi kita sebagai khalifatullaah fil-ardl, wakilnya Gusti Allaah SWT di muka bumi, untuk memakmurkan bumi dan seisinya, menciptakan bayang surga di muka bumi.

Di sabda Nabi SAW yang lain, yang mirip maknanya dengan amalan utama sesudah iman agar mencintai sesama manusia, bahkan ditambah dengan perintah lain yang lebih indah. Beliau SAW bersabda (HR Baihaqi),

Inilah indahnya Islam yang sesungguhnya. Bahkan kepada mereka yang durjana pun, kita diperintahkan untuk berbuat baik. Membenci dan memberikan hukuman atas perbuatan seseorang yang melanggar dengan hukum positif itu harus, tapi tidak boleh kemudian memperburuk keadaan dengan berbuat buruk kepadanya. Justru sebaliknya: berbuat baiklah, sekalipun kepada seorang yang durjana!

Hadirin rahimakumullaah.

Mengapa berbuat buruk kepada pendosa dilarang? Mengapa mencaci seseorang yang berbuat dosa dilarang? Sebagaimana dikisahkan sebuah hadis (HR al-Bukhari dari Abu Hurairah RA), bahwa seorang laki-laki yang menenggak minuman keras dihadapkan kepada Nabi Muhammad SAW, Abu Hurairah berkata,

Menghukum seseorang sesuai dengan norma yang berlaku itu harus. Tetapi mencaci-maki sang pelanggar atau mengutuk hingga melaknatnya, sungguh dilarang oleh Nabi Muhammad SAW. Bahkan oleh Nabi SAW disamakan dengan memberikan pertolongan kepada setan!

Mengapa demikian? Karena tujuan syaithan menggoda manusia adalah untuk menjerumuskan kita kepada neraka, sehingga ketika kita sebagai manusia melakukan laknat kepada sesama manusia, mengutuk sesama manusia agar Allaah membenci, bahkan berharap para pendosa masuk ke neraka, apa bedanya kita dengan syaithan? Inilah maksud Nabi Muhammad SAW dengan memberikan pertolongan kepada syaithan.

Hadirin rahimakumullaah.

Saya berada di atas mimbar ini utamanya adalah untuk mengingatkan diri saya sendiri, baru kemudian mengajak bersama-sama kepada seluruh hadirin, untuk mengubah cara kita memandang kepada saudara-saudara kita yang masih bergelimang dosa. Tidak lagi dengan jijik dan kutukan, tapi dengan rasa kasihan dan dakwah serta doa.

Melihat para pemuda yang terjerumus ke premanisme dan bertindak kekerasan, tidak lagi dengan laknat tapi dengan rasa kasihan, kemudian memberikan nasihat jika kenal serta mendoakan semampunya. Melihat seorang yang sudah berusia dewasa namun masih menenggak minuman keras tidak lagi dengan sekedar kutukan dan doa keburukan, tapi dengan rasa kasih tentang kesehatan organ dalamnya, seraya memberikan nasihat dan mendoakan semampunya.

Secara praktek, ini sangat sulit. Bahkan saya sendiri pun belum tentu bisa melakukannya. Berdoa untuk yang kita kenal saja kadang kita lupa, bagaimana mungkin mendoakan orang yang buruk perangainya agar bisa berubah ke arah yang lebih baik? Maukah kita menyempatkan diri untuk memberi rasa kasih kepada saudara-saudara kita yang demikian, melalui dakwah, kata-kata, kelembutan, teladan, dan doa, agar kembali ke jalan yang benar?

Hadirin rahimakumullaah.

Nabi Muhammad SAW bersabda (HR ad-Dailami dari ‘Aisyah),

Inilah tugas kita dalam ikhtiar bersama menjadi wakil Allaah Tabaraka wa Ta’aala di muka bumi: mengajak manusia ke arah yang lebih baik dengan kata-kata, teladan, dan doa, dengan penuh kelembutan sebagai bentuk implementasi rasa cinta kepada sesama manusia. Bahkan kelembutan pada manusia sama fardlunya dengan kewajiban-kewajiban lain di dalam agama.

Tentu saja, tidak ada paksaan dari kita, apakah yang kita ajak mau ikut atau tidak. Bagaimanapun juga, datangnya hidayah, hadirnya petunjuk ke dalam hati seorang manusia bukan di tangan kita, tapi sepenuhnya merupakan kuasa Allaah SWT. Bahkan Nabi Muhammad SAW-pun tidak berhasil membuat pamannya Abu Thalib mengucapkan dua kalimat persaksian hingga akhir hayatnya.

Dengan demikian, bertemunya rasa cinta kepada sesama manusia dan kelembutan dakwah di dalam Islam, hendaknya akan menghindarkan kita dari siksa Allaah Ta’aala di dunia maupun akhirat, sebagaimana Allaah ingatkan (QS an-Nuur ayat 19),

Dan tentu saja, rasa cinta pada sesama manusia dan kelembutan dakwah, juga akan mencegah dari munculnya kerugian dan kekecewaan kita sebagai hamba Allaah, sebagaimana Nabi SAW sabdakan (HR Abu Nu’a-im al-Ashbahani),

Demikianlah penyampaian dari saya. Jika ada lebihnya itu hadir karena rahmat Allaah SWT, jika banyak kekurangan, sungguh semata-mata karena masih lemahnya ilmu yang saya miliki. Semoga Allaah memberikan kekuatan kepada kita untuk istiqamah berada di jalan cinta dan kelembutan dalam menjalankan Islam, Islam yang rahmatan lil-‘aalamiin. Aamiin.

Membeberkan Kesalahan tanpa Tujuan yang Dibenarkan

Akhir-akhir ini kondisi Indonesia sungguh sangat menyakitkan. Kata-kata hinaan dan cacian dikeluarkan dengan mudah melalui lisan kita. Pun dengan jari-jari kita melalui tulisan, cuitan, dan komentar di media sosial. Tidak hanya kita, karena bahkan beberapa orang yang dapat dikategorikan sebagai ulama atau sekedar dai juga menggunakan ekspresi lisan yang tak sopan di dalam ceramah-ceramahnya. Yang lebih menyakitkan adalah ketika cacian dan makian ditujukan kepada sesama muslim, di mana cacian terebut muncul hanya karena perbedaan pandangan terhadap sebuah permasalahan. Inikah Islam yang kita banggakan menjadi rahmat bagi semesta alam?

Beberapa hari yang lalu saya tersentak saat membaca penjelasan ulama besar Suriah, Syaikh Prof. Wahabah az-Zuhaili soal cacian: bahkan kepada seorang pendosa sekalipun, mencaci itu dilarang!

Berikut ini saya kutipkan penjelasan beliau di dalam Buku Ensiklopedia Akhlak Muslim – Berakhlak dalam Bermasyarakat terbitan Penerbit Noura Books tahun 2013, yang merupakan terjemahan dari Kitab Akhlaaq al-Muslim: ‘Alaaqatuhuu bi al-Mujtama` (Dar al-Fikr, Damaskus, Suriah, tahun 2002).

Semoga dapat menjadi bahan renungan kita semua, yang merindukan suasana damai dan tenteram di Indonesia tercinta.

Kutipannya sebagai berikut:

Membeberkan Kesalahan tanpa Tujuan yang Dibenarkan

Manusia terkadang melakukan kesalahan, kekhilafan, penyimpangan, dan kelalaian yang tidak disengaja. Oleh sebab itu, orang lain tidak dibenarkan mencela dan membeberkan kesalahan-kesalahan tersebut hingga menjatuhkan martabat yang bersangkutan. Etika yang baik adalah justru menyembunyikannya. Jika seseorang melakukan kesalahan, tidaklah pantas ia membicarakan dan membeberkan kelakuannya di malam hari secara diam-diam. Sebaliknya, ia harus bersyukur kepada Allaah SWT yang menutupi kesalahannya dan tidak diperlihatkan. Di samping itu, seseorang juga tidak boleh mencaci orang yang divonis berbuat salah, atau memberondong dengan segudang cacian, makian, dan umpatan, atau mengucapkan, “Semoga Allaah memusnahkanmu”. Semua kesalahan ini mendatangkan siksa atau hukuman bukan pada tempatnya.

Oleh karena itu, Allaah SWT memperingatkan orang-orang yang suka menebar rumor atau kata-kata kotor terhadap pelaku kesalahan dalam firman-Nya (al-Qur`an Surat an-Nuur (24) ayat 19):

 

 

Sesungguhnya orang-orang yang senang tersebarnya kekejian di (kalangan) orang-orang yang beriman, bagi mereka siksa yang sangat pedih  di dunia dan (azab yang lebih pedih) di akhirat.

Dengan kata lain, orang yang membeberkan perbuatan buruk tanpa keperluan, ia pantas mendapatkan siksaan yang pedih dan menyakitkan di dunia ini dan di akhirat. Larangan membeberkan berita buruk dan propaganda jahat yang tidak ada berguna ini sangat jelas.

Hadits berikut ini menganjurkan kita agr menutupi rahaisa yang tidak boleh dibeberkan, atau mengucapkan hal-hal yang tidak ada manfaatnya. Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah RA dari Nabi Muhammad SAW bersabda,

Dari Abu Hurairah RA, dari Nabi SAW, beliau bersabda: “Tidak ada orang yang menutupi kejelekan orang lain di dunia, kecuali Allaah akan menutupi kejelekannya di Hari Kiamat.”

Maksudnya, balasan menutupi kesalahan seseorang yang tidak disengaja, yaitu dengan tidak membeberkannya, kelak Allaah SWT akan menutupi kesalahan orang tersebut. Artinya, bisa jadi Allaah SWT menghapus dosanya. Bisa jadi pula Allaah SWT menutupi hingga tak seorang pun mengetahuinya.

Sebuah hadis muttafaq ‘alaih  dari Abu Hurairah RA mengatakan bahwa aku pernah mendengar Nabi Muhammad SAW bersabda,

Umatku akan mendapat ampunan, kecuali orang-orang yang terang-terangan berbuat dosa. Di antara dari mereka adalah orang yang berbuat dosa di malam hari dan pada pagi harinya ia menceritakannya, padahal Allaah telah menutupinya. Ia berkata, ‘Hai Fulan, aku tadi malam berbuat begini dan begini’. Sesungguhnya malam itu Allaah telah menutupi perbuatannya, namun pagi harinya ia malah membuka sendiri perbuatannya yang telah Allaah tutup.”

Hadis ini menjelaskan betapa besar dosa orang yang membeberkan kesalahan yang diperbuat. Tindakan seperti itu mengundang murka Allaah SWT. Orang seperti ini berarti tidak mengindahkan perasaan orang lain, merusak kesucian yang berlaku di masyarakat, serta melecehkan agama.

Hal ini ditegaskan lagi oleh hadis lain tentang larangan omong kosong atau bicara berlebihan.

Dalam hadis shahih dari Abu Hurairah RA dari Nabi Muhammad SAW bersabda,

Jikalau seorang hamba sahaya wanita nyata-nyata berzina maka cambuklah ia sesuai dengan had yang ditentukan dan jangan mengolok-oloknya. Kemudian jika ia berzina lagi maka cambuklah ia sebagai had-nya dan jangan mengolok-oloknya. Selanjutnya, jika ia masih berzina untuk ketiga-kalinya maka hendaklah ia dijual saja, sekalipun seharga seutas rambut.

Dengan kata lain, hukuman bagi pelaku zina bertujuan mendidik dan mengajaknya kembali ke jalan yang benar. Jika pemilik ingin menjualnya maka ia harus menjelaskan kekurangannya kepada si pembeli. Sebab, menjelaskan kekurangan hukumnya wajib, tentu saja jangan sampai berlebihan.

Demikian pula dengan orang merdeka, sebagaimana disitir hadis riwayat Imam al-Bukhari dari Abu Hurairah RA bahwa seorang laki-laki yang menenggak minuman keras dihadapkan kepada Nabi Muhammad SAW, Abu Hurairah berkata,

Di antara kami ada yang memukul orang itu dengan tangannya, ada yang memukul dengan sandalnya,  bahkan ada yang memukul dengan pakaiannya. Setelah orang itu pergi, sebagian orang berkata, Semoga engkau dihinakan Allaah. Beliau bersabda, Jangan berkata begitu. Janganlah kalian memberikan pertolongan kepada setan untuk menggodanya lagi.

Maksudnya, penenggak minuman keras boleh dijatuhi hukuman cambuk dengan tangan, pakaian, sandal, dan pelepah kurma. Akan tetapi, jangan mengutuknya, karena dengan begitu ia membantu setan. Doakan ia agar mendapat hidayah, kebenaran, dan selamat dari kehinaan. Ungkapan-ungkapan yang tidak disertai umpatan atau cacian tersebut dapat memacu pelaku maksiat untuk meninggalkan perbuatan dosa.

Begitulah arahan dan pendidikan Nabi Muhammad SAW, yaitu fokus pada menjatuhkan hukuman dengan tidak menggembar-gemborkan, mencaci, atau mengumpat pelakunya. Begitulah Islam dalam bermuamalah dan menjatuhkan sanksi hukum; serta menyesuaikan dan menerapkan keadilan antara tindakan dan hukuman. Sudah selayaknya kita menghiasi diri dengan akhlak luhur seperti ini, yang sangat kontras dengan yang terjadi di zaman sekarang, di mana pelaku kesalahan dihujani berbagai cacian, makian, dan kutukan.

 

Khatbah Kedua: Berkah di Puncak Spiritualitas Hari Jumat

Bismillaah ar-Rahmaan ar-Rahiim,

Allaahumma shalli wa sallim ‘alaa Sayyidinaa Muhammad Shalla-Lllaahu ‘alayhi wa aalihi wa sallam.

Jumu’ah yang Ijabah

Menurut berbagai riwayat, hari Jumat adalah hari yang istimewa, bahkan sebuah hari raya bagi umat muslim. Hari Jumat juga salah satu waktu yang ijabah untuk berdoa.

Khusus tentang hal ini (waktu ijabah) para ulama bermacam-macam pendapatnya. Ada yang mengatakan saat masuk hari Jumat (Kamis pas maghrib), ada yang mengatakan jelang berakhirnya Jumat (Jumat pas ashar), ada pula yang berpendapat saat di antara dua khatbah.

Maka, mari berprasangka baik kepada Allaah Ta’aala, bahwa saat ijabah tersebut sengaja dirahasiakan, agar sepanjang hari Jumat (sejak Kamis maghrib hingga Jumat jelang maghrib) kita tanpa henti-hentinya berusaha meraih keijabahan tersebut: banyak istighfar, shalawat, dzikir, dan berdoa sepanjang hari Jumat.

Selain itu, di hari raya Jumat juga ada ibadah khusus bagi lelaki, yakni Shalat Jumat. Dalam ibadah Shalat Jumat, terdapat dua khatbah (dengan jeda sejenak di antara keduanya) kemudian ditutup dengan shalat dua rakaat.

Masing-masing Khatbah Jumat diawali dengan pujian kepada Allaah Ta’aala, kemudian dua kalimat persaksian (dua kalimat syahadat), shalawat kepada Rasuul SAW, dan wasiat ketakwaan. Ayat Qur`an juga harus dibacakan pada salah satu khatbah dan pada akhir khatbah kedua.

Khatbah yang Menarik

Aturannya, jamaah itu harus mendengarkan khatbah, bukan untuk ngobrol dengan jamaah lain (berkata satu kata saja ibadah Jumatnya batal!), apalagi tidur. Yah walaupun kalau ketiduran (tidak sengaja tidur) insya-Allaah masih bisa dimaklumi.

Maka sesungguhnya, penting bagi seorang khatib untuk memilih kata yang bagus atau tema yang menarik atau cara menyampaikan yang berbeda dalam khatbahnya, agar jamaah menyimak (bukan malah menjadi terkantuk-kantuk), agar nasihat-nasihat yang disampaikan bisa masuk ke dalam qalbu.

Sebagai contoh, sebisa mungkin khatib tidak melulu menduduk ke arah teks khatbahnya, tetapi lakukan kontak dengan jamaah. Sapulah pandangan ke seluruh jamaah (di arah 10 cm di atas kepala jamaah) agar terkesan ada kontak. Karena kalau langsung memandang ke mata jamaah dan terjadi kontak, bukan tidak mungkin muncul sekilas rasa grogi.

Contoh lain, adalah ada intonasi dalam berkhatbah. Guru public speaking saya pernah mengajarkan, seorang dai yang baik adalah al-Maghfurlah KH Zainuddin MZ. Intonasi beliau bisa lembut, bisa keras, bisa tegas, bisa dalam suaranya, dan seterusnya, bergantung konteks kalimat. Kalau sedang mengisahkan cerita (yang kemudian dibahas hikmahnya), misalnya, cobalah seperti para pendongeng: ada perbedaan suara ketika terjadi dialog.

Bisa pula dengan memilih kata-kata pembuka yang berbeda dari kelaziman: kalimat pujian kepada Allaah, kalimat shalawat, dan wasiat taqwa yang puitis, sehingga sejak awal khatbah jamaah akan menaruh perhatian. Misalnya, gunakan cara repetitif (berulang) tapi dengan kata yang berbeda meski masih bersinonim. Konsekuensi cara ini adalah khatib harus melanjutkannya penjelasannya dengan tema yang menarik, sehingga jamaah tidak bosan dan malah jatuh dalam jebakan kengantukan.

Khatbah Jumat itu komunikasi satu arah, maka kualitasnya ya bergantung pada sang Khatib. Kesempatan diberikan oleh agama, yakni diamnya jamaah, maka khatib harus bisa memanfaatkannya dengan baik dan seoptimal mungkin untuk memotivasi umat agar meneguhkan diri untuk selalu berusaha menjadi pribadi yang terbaik, begitu ibadah Jumat selesai.

Khatbah Kedua: Berdoa

Jika saya berkesempatan khatbah, biasanya uraian khatbah saya sampaikan seluruhnya di khatbah pertama. Mulai dari penjelasan hingga kesimpulan. Kemudian saya gunakan khatbah kedua total untuk berdoa.

Begitu membaca rangkaian hamdalah, syahadah, shalawat, wasiyat, dan ayat qur`an (biasanya ayat Shalawat, al-Ahzab 56) dimulailah rangkaian doa saya bacakan.

Bagi saya, khatbah pertama adalah ikhtiar bagi khatib dan jamaah untuk memperbaiki diri: mendengar teorinya kemudian meneguhkan jiwa untuk melaksanakannya. Sementara khatbah kedua adalah tawakkal, yakni ikhtiar bathin dalam memperbaiki diri dan masyarakat, dengan berdoa.

Bagaimanapun, dalam pandangan Islam, doa itu sama pentingnya dengan ikhtiar dan usaha. Di saat jamaah sedang dalam kondisi terbaik iman-taqwanya sejak masuk masjid, kemudian diteguhkan oleh karena uraian khatib di khatbah pertama, plus ijabahnya waktu di sepanjang Jumat untuk berdoa, maka saya berprasangka baik kepada Allaah Ta’aala, bahwa khatbah kedua itu merupakan puncak spiritual hari Jumat: sangat ijabah untuk berdoa!

Berikut ini adalah contoh kalimat yang biasa saya ucapkan sebelum memulai membaca doa:

Hadirin rahimakumullaah.

Di khatbah yg kedua ini, mari kita manfaatkan bertumpuk-tumpuknya keberkahan ini dg memohon dan megucap doa kpd Allaah Ta’aala.

Hari ini adl Hari Jumat, Hari Raya, Hari yang Mulia kata Kanjeng Nabi SAW. Maka ada keberkahan di sepanjang harinya.

Saat ini kita berada dalam majelis jum’at, sebuah majelis ilmu karena di dalamnya disampaikan nasihat keagamaaan dan juga merupakan majelis dzikir karena di dalamnya kita diingatkan utk mengingat Allaah Ta’aala dan Rasuulullaah SAW.

Maka kata Kanjeng Nabi SAW, ada keberkahan di majelis ilmu dan majelis dzikir.

Saat ini pula kita berada di dalam masjid, tempat untuk bersujud, rumah Allaah yang suci, maka ada keberkahan di dalamnya.

Saat ini pula kondisi jiwa dan qalbu kita adalah kondisi yg terdekat dg Allaah. Kita bersama-sama di dalam masjid krn keikhlasan, berniat menghadap Allaah, berniat ibadah, melupakan sejenak urusan keduniaan kita. Maka kondisi hati yg seperti ini adl yg terdekat dan terbaik, penuh keberkahan di dalam sikap semacam ini.

Maka hadirin rahimakumullaah, keberkahan yg bertumpuk-tumpuk ini, keberkahan waktu, keberkahan tempat, dan keberkahan kondisi ini mari kita gunakan utk memohon kehadirat Allaah SWT.

Semoga Allaah memudahkan urusan dunia kita, yakni urusan dunia yg mampu menjadi bekal bg kehidupan kita di akhirat kelak.

Memohon, semoga Allaah memudahkan kita dalam membiasakan diri dan mendidik anak-anak kita utk menjadi yang lebih baik, lebih beriman dan bertakwa.

Memohon kepada Allaah, semoga Allaah melindungi kita dan orang yg kita cintai, terutama negeri kita Indonesia beserta seluruh negeri muslim lainnya, dari segala bencana dan bala, dari segala konflik dan peperangan, dari segala pertumpahan darah maupun bencana alam. Aamiin, Allaahumma Aamiin…

*kemudian baca doa, khatbah selesai*

Setelah ini, akan saya bahas doa yang biasa saya bacakan dan uraian penjelasannya mengapa doa itu yang saya pilih. Teks doa arab dan maknanya, insya-Allaah akan saya lampirkan di akhir tulisan ini (siapa tahu ada yang mau memakainya).

1. shalawat ke Rasuul SAW

Begitu ayat Shalawat dibaca, doa di khatbah dibuka dengan bacaan Shalawat ke atas Rasuul SAW. Bacaan shalawat beribu macamnya, ada yang panjang ada yang pendek. Dalam khatbah, yang biasa saya baca yang lafadznya:

Ya Allaah, limpahkanlah shalawat atas Sayyidinaa Muhammad, hamba-Mu, Nabi-Mu, dan Rasul-Mu, Nabi yang ummiy.

2. kemudian diteruskan dengan doa untuk kaum muslim dan mukmin, sebagaimana sangat lazim kita dengar

Ya Allaah, ampunilah (dosa) kaum muslim laki-laki dan kaum muslim perempuan, kaum mukmin laki-laki dan kaum mukmin perempuan, (baik) yang masih hidup (maupun) yang telah wafat, sesungguhnya Engkau Maha-mendengar, Maha-dekat, lagi Maha-mengabulkan permintaan, Wahai Yang Mencukupi Kebutuhan.

3. doa qur`ani tentang keluarga

Jamaah Jumat itu semuanya laki-laki, para kepala keluarga (dan calon kepala keluarga). Maka penting bagi khatib untuk membaca doa ini, yakni dari surat al-Furqaan (25) ayat 74. Berdoa bagi seluruh jamaah agar mampu menciptakan keluarga yang baik.

Ya Allaah, Tuhan Pemelihara kami, anugerahkanlah untuk kami, dari pasangan-pasangan kami serta keturunan kami, penyejuk-penyejuk mata (kami) dan jadikanlah kami teladan-teladan bagi orang-orang bertakwa. [al-Furqaan (025): 74]

4. doa qur`ani tentang keteguhan petunjuk

Ibadah Jumat memberikan banyak nasihat dan petunjuk kepada jamaah, maka agar teguh dan tak bengkok hatinya selepas Jumat hingga bertemu dengan Jumat lagi, doa yang bersumber dari surat Aali ‘Imraan (003) ayat 8 ini juga penting untuk dibaca

Ya Allaah, Tuhan Pemelihara kami, janganlah Engkau jadikan hati kami berpaling, sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan anugerahkanlah kepada kami rahmat dari sisi-Mu, sesungguhnya Engkau Maha Pemberi (anugerah). [Aali ‘Imraan (003): 8]

5. doa qur`ani untuk kemudahan dalam urusan

selepas Jumat, berlanjutlah aktivitas umat. maka perlu dibaca doa ini, sebagai bekal spiritual bagi jamaah. doa ini bersumber dari surat al-Kahfi (018) ayat 10

Ya Allaah, Tuhan Pemelihara kami, anugerahilah kami rahmat dari sisi-Mu; dan siapkanlah bagi kami petunjuk untuk urusan kami. [al-Kahfi (018): 10]

6. doa umat Sayyidinaa Muhammad

setelah berdoa dengan lingkup lokal, puncak spiritual Jumat tersebut perlu pula kita manfaatkan untuk doa yang lebih global, doa keummatan. Doa ini saya kutip dari buku Nashaihul ‘Ibad nya Imam Nawawi al-Bantani.

Ya Allaah ampunilah umat Sayyidinaa Muhammad,

Ya Allaah rahmatilah umat Sayyidinaa Muhammad,

Ya Allaah tutupilah (kekurangan) umat Sayyidinaa Muhammad,

Ya Allaah (berilah) kecukupan (untuk) umat Sayyidinaa Muhammad,

Ya Allaah perbaikilah (urusan) umat Sayyidinaa Muhammad,

Ya Allaah (berilah) kesehatan (untuk) umat Sayyidinaa Muhammad,

Ya Allaah lindungilah umat Sayyidinaa Muhammad SAW

dan

Ya Allaah rahmatilah umat Sayyidinaa Muhammad dengan rahmat yang menyeluruh, wahai Tuhan Pemelihara Seluruh Alam.

Ya Allaah ampunilah umat Sayyidinaa Muhammad dengan ampunan yang menyeluruh, wahai Tuhan Pemelihara Seluruh Alam.

Ya Allaah lapangkanlah umat Sayyidinaa Muhammad dengan kelapangan yang datang dengan segera, wahai Tuhan Pemelihara Seluruh Alam.

7. doa keselamatan ummat
Bahasa lain dari doa ini adalah doa tolak bala’, doa yang berisi permohonan perlindungan kepada Allaah Ta’aala untuk kaum muslimin di seluruh negeri-negeri Islam. doanya cukup eksplisit karena bisa ditambah dengan menyebut nama tempat (dalam hal ini, saya tambahkan Indonesia), sebagaimana nanti nampak dalam teks doa.

Ya Allaah hindarkanlah kami dari bencana, bala`, malapetaka, kekejian, kemungkaran, silang sengketa, serta kekejaman dan peperangan, (baik) yang tampak (maupun) yang tersembunyi, di negeri kami Indonesia khususnya dan negeri-negeri kaum muslimin pada umumnya. Sesungguhnya Engkau Maha-kuasa atas segala sesuatu.

8. doa qur`ani penutup
setelahnya, ditutup dengan dua doa qur`ani, yang memang sudah sering dan lazim dibaca dalam berbagai bentuk rangkaian doa: doa sapu jagad (al-Baqarah (002): 201) dan doa ibrahim (al-Baqarah (002): 127-128), karena cakupannya yang menyeluruh

Ya Allaah, Tuhan Pemelihara kami, anugerahilah kami hasanah (segala yang baik) di dunia dan hasanah di akhirat dan peliharalah kami dari azab neraka. [al-Baqarah (002): 201]

dan

Ya Allaah, Tuhan Pemelihara kami, terimalah dari kami (amal kami) sesungguhnya Engkau-lah Yang Maha-mendengar lagi Maha-mengetahui, dan terimalah taubat kami, Wahai Penolong kami, sesungguhnya Engkau-lah Yang Maha-penerima taubat lagi Maha-pengasih. [al-Baqarah (002): 127-128]

9. kalimat-kalimat penutup
doa pun ditutup dengan pengharapan surga sebagai bentuk iman dengan akhirat, shalawat, dan pujian kepada Allaah Ta’aala

Dan masukkanlah kami ke dalam surga bersama orang-orang yang berbuat baik, wahai Yang Maha-perkasa lagi Maha-pengampun, (wahai) Tuhan Pemelihara Seluruh Alam.

kemudian

Dan shalawat Allaah (terlimpahkan) ke atas Sayyidinaa Muhammad serta ke atas keluarga dan sahabat beliau, (serta) berkatilah dan sejahterakanlah.

serta

Maha-suci Tuhan Pemeliharamu, Tuhan Pemelihara Yang Maha-mulia dari apa yang mereka sifatkan, dan (terlimpahlah) kesejahteraan ke atas rasul. Segala puji bagi Allaah, Tuhan Pemelihara Seluruh Alam.

Demikianlah rangkaian doa yang lazim untuk saya baca.

Semoga mampu menjadi masukan bagi para khatib, demi mengantar para umat pada puncak spiritualitas hari Jumat: berdoa pada Khatbah Kedua.

Wallaahu a’lam.

File 1, rangkaian doa dalam ukuran kertas A5, format pdf, arab saja: doa jumat arab A5

File 2, rangkaian doa dalam ukuran kertas A5, format pdf, arab dan makna: doa jumat arab A5 – makna

NB: bagi para pembaca yang menemukan kekeliruan redaksional dalam arab dan maknanya, mohon koreksi