Peradaban Islam ala Indonesia: Menghimpun Keberagaman

Ketika muncul fatwa rokok sebagai sesuatu yang haram, NU sering diejek. NU dianggap tak berani dalam mengharamkan rokok dikarenakan para ulama NU banyak yang merokok. Ya memang benar adanya sih, bahwa banyak ulama NU yang merokok. Bahkan bagi seorang nahdliyin, kapabilitas untuk merokok adalah bagian dari keabsahan sebagai seorang nahdliyin. Terlepas dia kader maupun bukan.

Namun benarkah pertimbangan hukum NU tentang rokok hanya sebatas karena umat dan ulamanya juga perokok? Mari kita telusuri sejarahnya bersama.

Ketika Risalah Menghampiri

Revolusi peradaban oleh Islam dimulai ketika seorang Quraisy menerima wahyu dari Tuhan. Dialah yang kemudian selalu dipanggil oleh umatnya berurutan sesudah menyebut nama Tuhan setidaknya lima kali dalam sehari. Sayyidinaa Muhammad SAW.

Ketika pertama bertemu dengan Pembawa Pesan Agung, Malaikat Jibril ‘AS, Sayyidinaa Muhammad SAW terpaku. Tak dinyana, risalah pertama dari langit adalah kalimat perintah, Iqra`!, yang bermakna perintah untuk membaca, Bacalah! Sayyidinaa Muhammad SAW pun bertanya balik dengan balasan kalimat tanya, maa aqra`?, yang berarti: Apa yang harus saya baca?

Lantunan kalimat suci pun berlanjut: Iqra` bismirabbikalladzii khalaq, khalaqal insaana min ‘alaq; bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu yang mencipta, mencipta manusia dengan sesuatu yang bergantung di dinding rahim; dan seterusnya hingga ayat kelima.

Para penafsir menjelaskan kisah ini dengan sangat indah, sebagai cerminan amanah peradaban seorang muslim. Prof. Quraish Shihab, seorang penafsir nusantara menjelaskan bahwa pertanyaan dari Sayyidinaa Muhammad SAW merupakan kewajaran, sebab: (1) perintah membaca dari Malaikat Jibril ‘AS yang tidak lazim menurut tata bahasa Arab karena perintah tanpa objek, dan (2) Sayyidinaa Muhammad SAW yang buta huruf tak bisa membaca dan menulis aksara apapun.

Adanya perintah tanpa objek spesifik justru membawa pesan agung sebagai dasar risalah yang dibawa Islam: bacalah segala sesuatu yang terhampar di hadapanmu, tulisan maupun peristiwa, bacaan suci keagamaan maupun selainnya, selama konteksnya adalah sembari mengingat Tuhan yang menciptamu, bismirabbikalladzi khalaq.

Tafsir ayat berikutnya menjadi semakin indah, ketika Tuhan berfirman, khalaqal insaana min ‘alaq, mencipta manusia dengan sesuatu yang bergantung di dinding rahim, bahwa manusia berasal dari sesuatu yang bergantung pada sesuatu dan ia sampai kapanpun tak dapat berdiri sendiri tanpa manusia lain. Sungguh, mayat tak dapat menguburkan dirinya sendiri! Maka, kebutuhan spiritualitas berketuhanan adalah keniscayaan, namun ketergantungan kepada sesama manusia adalah realitas kehidupan.

Selanjutnya, perintah yang mula-mula turun ini perlu dikaitkan pula dengan menjelaskan sebuah firman Tuhan yang lain tentang awal penciptaan manusia. Malaikat yang bertanya mengapa Tuhan berencana mencipta makhluk yang menumpahkan darah, justru Tuhan menjadi pembela manusia dengan berfirman, wa ‘allama aadamal-asmaa-a kullaha, dan (Dia) mengajarkan kepada Adam nama benda semuanya. Tafsirnya, manusia berpotensi menumpahkan darah, namun manusia pula mampu mengembangkan alam di sekelilingnya untuk memenuhi kebutuhannya.

Maka inilah fitrah bagi seorang muslim yang sesungguhnya: berwawasan luas dan mendalam, baik spiritualitas berketuhanan maupun ilmu pengetahun dan teknologi modern, demi memenuhi kemaslahatan sesama manusia. Bahasa Tuhan menyebut, wa maa arsanalka illaa rahmatan lil-‘aalamin, dan Kami tidak mengutusmu (Sayyidinaa Muhammad SAW) kecuali menjadi rahmat, kasih, dan sayang, bagi semesta alam.

Islam di Negeri Seribu Pulau

Islam terus berkembang hingga kemudian mencapai Indonesia tercinta, yang pada masa lalu dikenal sebagai Nusantara. Peranan Dewan Wali Sembilan tak bisa dipungkiri menjadi faktor penting bagi cepatnya Islam berkembang di Nusantara. Salah satu prinsip yurisprudensi Islam yang digunakan oleh Dewan Wali Sembilan adalah muhafazhatu ‘ala qadiimish-shaalih, wal-akhdzu ‘ala jadiidil-ash-lah; memelihara tradisi lama yang baik dan mengambil tradisi baru yang lebih baik. Tradisi lama sebelum masuknya Islam dimodifikasi, dibersihkan dari hal-hal yang melanggar ketentuan dasar Islam, dikonversi menjadi tradisi baru yang lebih baik sebagai alat memperkenalkan Islam.

Peran Ulama sebagai penerus Dewan Wali Sembilan mulai mengglobal ketika suku-suku di jazirah Arab takluk di bawah penguasa tunggal Dinasti as-Saud dan memegang akses menuju dua kota suci, Makkah al-Mukarramah (Makkah yang Penuh Kemuliaan) dan Madinah al-Munawwarah (Madinah yang Penuh Cahaya), di mana Saudi berencana menyeragamkan praktek ibadah di kedua kota tersebut, terbentuklah Komite Hijaz untuk berunding dengan otoritas Saudi agar urung mewujudkan penyeregaman tersebut. Inilah embrio terbentuknya organisasi Islam terbesar di Indonesia, bahkan di dunia, yakni Nahdlatul-‘Ulama` (NU) atau Kebangkitan Ulama.

Penghargaan NU kepada Dewan Wali Sembilan tercermin dalam lambang NU yang antaranya memiliki sembilan bintang, representasi keberadaan Dewan Wali Sembilan. Lima bintang di atas adalah simbol Sayyidinaa Muhammad SAW dan empat sahabat utama beliau, yakni Sayyidinaa Abu Bakar, Sayyidinaa ‘Umar, Sayyidinaa ‘Utsman, dan Sayyidinaa ‘Ali, sementara empat bintang di bawah adalah gambaran empat ulama besar dalam yurisprudensi Islam, yakni Imam Malik, Imam Hanafi, Imam Syafi’i, dan Imam Hambali.

NU, Kebangsaan, dan Kenegaraan

Salah satu peran nyata NU bersama umat Islam kepada Indonesia adalah penerimaan Pancasila sebagai Dasar Negara. Ketika perwakilan tokoh dari Indonesia bagian timur menolak tujuh kata dalam Piagam Jakarta, Islam yang salah satunya diwakili oleh NU, kemudian memilih mengalah. Tujuannya adalah demi terbentuknya negara. Imam Ghazali menulis dalam Ihya ‘Ulumiddin (Menghidupkan Keberagamaan):

al-mulku wad-diin taw-amaani, kekuasaan dan agama merupakan dua saudara kembar;

fad-diiny ashluw-was-sulthaanu haarisun, agama sebagai landasan dan kekuasaan sebagai pengawalnya;

wa maa laa ashlalahu famahduumun, sesuatu tanpa landasan pasti tumbang;

wa maa laa haarisalahu fadlaa-i-‘un, sedangkan sesuatu yang tak punya pengawal akan tersia-siakan.

Para tokoh Islam dan NU pada 1945 sadar, bahwa negara dan agama adalah saudara kembar yang saling membutuhkan. Maka pilihan terbaik adalah memenuhi permintaan tokoh Indonesia bagian Timur, demi terbentuknya sebuah negara kebangsaan, Indonesia berdasarkan Pancasila.

Sesudah dinamika yang sangat pelik hubungan NU dengan berbagai kelompok politik pada periode 1945 sampai dengan munculnya Orde Baru, hubungan Pancasila dengan Islam diteguhkan kemudian oleh NU melalui Munas Alim Ulama NU tahun 1983 di Situbondo. Meskipun secara politik didorong oleh pemerintah agar menerima Pancasila sebagai azas tunggal, momen ini menjadi kesempatan bagi NU untuk menguatkan Pancasila sebagai jalan tengah demi bersatunya kebangsaan Indonesia. Keputusan Munas tersebut berbunyi:

  1. Pancasila sebagai dasar dan falsafah Negara Republik Indonesia bukanlah agama, tidak dapat menggantikan agama dan tidak dapat dipergunakan untuk menggantikan kedudukan agama.

  2. Sila Ketuhanan Yang Maha Esa sebagai dasar Negara Republik Indonesia menurut pasal 29 ayat (1) Undang-Undang Dasar 1945, yang menjiwai sila-sila yang lain, mencerminkan tauhid menurut pengertian keimanan dalam Islam.

  3. Bagi Nahdlatul Ulama, Islam adalah aqidah dan syari’ah, meliputi aspek hubungan manusia dengan Allah dan hubungan antar manusia. Penerimaan dan pengamalan Pancasila merupakan perwujudan dari upaya ummat Islam Indonesia untuk menjalankan syari’at agamanya.

  4. Sebagai konsekuensi dari sikap di atas, Nahdlatul Ulama berkewajiban mengamankan pengertian yang benar tentang Pancasila dan pengamalannya yang murni dan konsekuen oleh semua pihak.

Sederhananya, NU menjalankan Islam sebagai ajaran agamanya dalam berbagai lini kehidupan. Khusus untuk lini kehidupan bernegara, berbangsa, dan bermasyarakat, bagi NU, ajaran Islam tercermin dalam Pancasila.

Pada periode 1980-1990 tersebut pula tercetuslah empat prinsip utama bagi warga NU dalam menyikapi berbagai persoalan yang dihadapi: (1) tawasuth atau pertengahan, (2) tawazun atau keseimbangan, (3) tasamuh atau toleransi, dan (4) i’tidal atau keadilan. Empat sikap ini bukan karangan NU, tetapi diambil dari berbagai sumber hukum Islam.

Sikap pertengahan atau tawasuth, misalnya, diambil dari firman Tuhan, wa kadzaalika ja’alnaakum ummataw-wasathaa, dan demikian Kami menjadikan kamu umat pertengahan. Kata wasit dalam bahasa Indonesia, diserap dari kata yang sama, tawasuth. Sebagai ilustrasi tentang makna sikap pertengahan, misalnya: (1) pemberani adalah pertengahan antara penakut dan nekat, (2) dermawan adalah pertengahan antara kikir dan boros.

Menjelaskan Beberapa Sikap NU: Refleksi atas Konsistensi

Beberapa peristiwa mutakhir menunjukkan konsistensi NU sebagai representasi Islam yang fleksibel namun tak meninggalkan nilai dasar spiritualitas keagamaan, di antaranya adalah sebagai berikut:

  1. Hukum Haram Rokok

NU memilih diam terhadap hukum rokok, atau maksimal menghukuminya sebagai makruh (tidak disukai), karena kehati-hatian. Konsekuensi hukum haram adalah serangkaian yang menuju kepadanya dan bersumber darinya juga harus dimaknai haram. Hukum haram rokok bermakna seluruh rantai suplai rokok, sejak dari petani tembakau, karyawan produksi rokok hingga penjualnya, cukai dan pajak rokok, serta semua uang yang berkaitan dengannya berhukum haram. Betapa mengerikannya negeri ini dipenuhi dengan keharaman yang bertubi. Bahkan saat ini, jika rokok dihukumi sebagai haram, maka sebagian pembiayaan jaminan kesehatan nasional dalam waktu dekat akan menjadi haram karena bersumber dari cukai dan pajak rokok.

Maka bagi NU, keharaman rokok belum mutlak, selama belum ditemukan solusi komprehensif dalam mengalihkan industri rokok yang berukuran massif kepada lapangan pekerjaan lain yang sepadan. Inilah sikap tawasuth, (pertengahan yang tidak ekstrim), memperhatikan semua aspek (tawazun atau keseimbangan informasi), dan penuh keadilan bagi semua pihak.

  1. Keterlibatan NU pada Pembelaan terhadap Penghayat Kepercayaan, Keturunan PKI, Ahmadiyah, dan Syiah

Salah satu lembaga di NU, Lembaga Kajian dan Pengembangan SDM NU (LAKPESDAM-PBNU) terlibat aktif di dalam pembelaan hukum maupun rekonsiliasi sosial terhadap masyarakat di berbagai daerah.

Kasus kolom agama bagi penghayat kepercayaan didasari pada hak dasar para penghayat yang dipaksa masuk ke salah satu dari enam agama agar dapat menikah atau lulus ujian sekolah.

Kasus bekas tahanan politik PKI dan keluarganya terjadi di Gunungkidul, ketika mereka termarginalkan secara sosial, tak dianggap sebagai manusia sepadan, sehingga terbelenggu oleh kemiskinan, bahkan oleh aparatur pemerintah setingkat dusun sekalipun, karena tidak mendapatkan jatah beras miskin.

Kasus kekerasan dan pengusiran pemeluk Ahmadiyah dan Syiah jelas menghilangkan hak bertempat tinggal dan hak hidup mereka, padahal di tempat itulah mereka berada sejak lahir dan tumbuh dewasa.

NU bukan hadir untuk membenarkan ajaran penghayat kepercayaan, bukan pula membangkitkan kembali PKI, apalagi menumbuhakn ajaran Ahmadiyah ataupun Syiah. Bagi NU perbedaan keyakinan setiap insan adalah keniscayaan yang dijamin oleh negara dan NU turut memperjuangkan mereka yang termarginalkan untuk memperoleh hak-hak dasarnya sebagai warga negara Indonesia. Inilah prinsip i’tidal atau keadilan untuk semua yang dijunjung oleh NU.

  1. Kasus Penistaan Agama oleh Basuki Tjahaja Purnama

Ketika sidang berlangsung, ada dua tokoh NU yang berseberangan. KH Ma’ruf Amin sebagai saksi ahli yang diajukan oleh jaksa dan Kiai Ahmad Ishomuddin sebagai saksi ahli dari pihak terdakwa. Kedua ulama tersebut mumpuni di bidang yurisprudensi Islam, sama-sama berada di Lembaga Tinggi (Syuriyah) Pengurus Besar NU, hanya berbeda senioritas. Uniknya, keduanya tidak saling mengusir dari PBNU, tidak pula kemudian bermusuhan, meskipun berlawanan pihak di persidangan. Peristiwa ini menggambarkan empat bintang dalam lambang NU yang mewakili empat Imam besar dalam yurisprudensi Islam yang diterima keberagaman pendapatnya dalam NU: beragam pendapat itu biasa dan sangat lazim, namun kerukunan adalah kunci.

 Islam ala Indonesia untuk Dunia

Terdapat kata kunci yang menyelimuti sekelumit sejarah NU sebagai organisasi Islam asli Indonesia: musyawarah dan konsensus. Dua password ini sesungguhnya merupakan sifat universal yang telah dipraktekkan sejak lama di berbagai peradaban, termasuk peradaban Nusantara pra-Islam dan maupun oleh Islam sendiri, walaupun prakteknya di dalam umat Islam masa kini belum ideal sama sekali. Timur Tengah misalnya, meskipun memiliki keragaman yang sangat sedikit dalam hal budaya, suku, bahasa, dan agama, wilayah tersebut tak pernah lepas dari konflik yang menumpahkan darah. Negeri tempat lahir dan tumbuhnya Islam hingga mencapai puncak kejayaannya, masyarakatnya tak pernah mencapai konsensus dan beralih ke senjata sebagai solusi. Sampai detik ini.

Oleh karenanya, sejak 2015 NU mengusung Islam Nusantara sebagai tagline-nya. Bukan mengusung ibadah baru, bukan pula syariat anyar, tapi memperkenalkan praktek Islam yang bermartabat, menjunjung tinggi musyawarah dan konsensus, tanpa meninggalkan pondasi dasar Islam, demi meraih kemaslahatan seluruh manusia, yang selama ini sedang dan terus diperjuangkan di Kepulauan Nusantara, Indonesia kita tercinta. Islam yang mampu menghimpun keberagaman.

Sebuah kaidah yurisprudensi Islam menyatakan, maa laa yudraku kulluhu, laa yutraku kulluhu; sesuatu yang tidak bisa dikerjakan seluruhnya, tidak ditinggalkan seluruhnya. Jika dimaknai dalam konteks salat, kaidah ini mendorong kita untuk tetap salat meskipun dalam keadaan sakit, karena sembari duduk, berbaring, bahkan hanya isyarat pun, salat bisa dikerjakan.

Sebagai generasi milenial yang sedang berproses menerima estafet kepemimpinan bangsa, kaidah tersebut memberikan peluang bagi kita untuk terus berjuang sesuai dengan kemampuan kita. Indonesia sebagai negeri berpenduduk muslim terbesar di dunia memiliki potensi untuk memperkenalkan Islam Nusantara ke penjuru dunia. Negara dan PBNU bertugas menyampaikannya kepada khalayak internasional.

Sementara kita, setiap individu bersama-sama dengan kelompok masyarakat, berperan dalam membumikannya menjadi praktek-praktek di dunia nyata, sesuai dengan jangkauan ruang dan waktu yang kita miliki, sesuai dengan bidang keahlian kita masing-masing. Semoga Tuhan memudahkan ikhtiar kita bersama menuju Indonesia yang bermaslahat. Aamiin.

Islam Nusantara dalam Konteks Konsensus Kebangsaan

~ Jika pemahaman Islam Nusantara diambil dari perspektif konsensus kebangsaan yang diperkaya dengan sejarah dan hikmah atas keadaan politik Timur Tengah dan bangsa Arab dewasa ini, insya-Allaah mau tak mau kita akan menyetujuinya. ~

Salah satu kekecewaan kepada bangsa Arab dan kawasan Timur Tengah adalah kegagalannya dalam menyelesaikan permasalahan kenegaraan dan kebangsaan di kawasan, padahal karakteristiknya relatif homogen, yakni (1) keragaman etniknya kecil, (2) agama mayoritas Islam, (3) berada di satu wilayah daratan yang luas, (4) berbahasa tunggal (Arab), dan (5) memiliki kekhasan budaya yang sangat mirip satu sama lain.

Di zaman Perang Teluk, ketika Irak menyerang Kuwait yang berbatasan dengan Saudi, ulama dari kedua negara (Irak dan Saudi), yang sama-sama Islam Ahlus-Sunnah berfatwa untuk saling menghalalkan darahnya.

Inikah cerminan Islam Rahmatan lil—’aalamiin?

Di zaman sekarang, Irak masih semrawut. Mayoritas Islam. Ada Syiah, ada Sunni, dan ada pula etnis Kurdi. Etnik Kurdi sendiri, merupakan etniknya Salahuddin al-Ayyubi yang sangat tenar itu, tersebar di mana-mana dan terkesan di anak-tirikan di berbagai negara berpenduduk muslim, seperti Irak, Suriah, dan Turki. Kesemrawutannya bukan main-main: perbedaan kepentingan dalam kekuasaan (politik) disikapi dengan pembunuhan massal lewat bom dan senjata.

Inikah cerminan Islam Rahmatan lil—’aalamiin?

Suriah yang sedang dilanda perang saudara sesama muslim. Banyak faksi politik, punya kepentingan masing-masing, semua ngaku Islam. Dan kepentingan pun ditegakkan dengan bom serta senjata.

Ulama besar Suriah, al-Maghfurlah Syaikh Ramadlan al-Buthi, sebelum konflik membesar dan hanya berupa demonstrasi, terus menerus menyuarakan rekonsiliasi nasional, tapi tak pernah didengar oleh para elit muslim yang punya kepentingan. Sampai detik ini, sekitar 6 juta penduduk terkatung-katung di dalam negeri Suriah dan 5 juta jiwa lainnya tersebar di luar Suriah. Semua yang berkepentingan mengatasnamakan penegakan agama Islam.

Inikah cerminan Islam Rahmatan lil—’aalamiin?

Saudi, Bahrain, Uni Emirat Arab, Senegal, Maroko, dan Sudan sedang berkonflik dengan Yaman sekaligus bersitegang dengan Qathar yang sebelumnya berada di koalisi Saudi namun belakangan pecah kongsi. Yaman sendiri sedang perang saudara. Alasannya perebutan kekuasaan politik. Ada Sunni, ada Syiah, ada pula al-Qaeda. Semua pihak, Saudi, Yaman dengan berbagai faksinya, dan Qathar, mayoritas muslim dan sedang berperang.

Inikah cerminan Islam Rahmatan lil—’aalamiin?

Fakta di atas adalah salah satu penyebab mengapa muncul gagasan Islam Nusantara. Bandingkan dengan kondisi kita sebagai bangsa yang masih utuh dan bersatu, meskipun beberapa spesifikasinya berbeda dg Timur Tengah: mayoritas Islam, terpisah lautan, penduduk besar dan beragam suku, bahasa, hingga budaya.

Maka Islam Nusantara diperkenalkan oleh NU, menurut saya, yang diunggulkan adalah Islam sebagai sebuah solusi kebangsaan, konsesus membentuk negara yang berorientasi kepada umat. Islam yang benar-benar rahmatan lil-‘aalamiin karena memprioritaskan musyawarah dalam menyelesaikan masalah, terutama bagaimana kepentingan politik kekuasaan dikelola oleh Indonesia yg mayoritas muslim.

Itulah kenapa NU mendeklarasikan hubungan Pancasila dengan Islam pada 1983 sebagai pedoman umat dalam berbangsa dan bernegara. PBNU juga mengantarkan 12 ulama Afghanistan ke UGM pada 2013 untuk belajar Pancasila. Kemudian Pekalongan menjadi tuan rumah Konferensi Ulama Thariqah Se-dunia dengan tema Bela Negara pada 2016. Dan pada 2018 ini ada Konferensi Ulama Indonesia, Afghanistan, dan Pakistan di Bogor, serta kehadiran ulama Indonesia ke Irak beberapa minggu yg lalu. NU, Islam Indonesia, Islam Nusantara serius berperan dalam perdamaian kebangsaan.

Hanya saja dimensi ini dikaburkan oleh mereka yang benci dengan NU. Mengapa? Karena kalau umat sadar dengan ini, terutama kalangan NU sendiri yang berbasis di pedesaan serta intelektual mudanya di perkotaan, maka habislah kepentingan politik mereka. Ora payu alias tidak laku.

NU yang berpegang pada empat prinsip (tawasuth atau pertengahan, tawazun atau keseimbangan, tasamuh atau tepa selira, dan i’tidal atau keadilan) akan memandang persoalan dengan objektif serta fokus pada fakta dan data. NU mendorong ikhtiar untuk menelaah persoalan dari beragam perspektif, sebelum memutuskan arah politiknya.

Bagaimana agar objektivitas ini kabur dan hilang? Serang dengan subjektivitas: kebencian membabi buta, kebencian pada perbedaan pendapat, kebencian pada tokoh NU, kebencian pada tokoh bangsa. Ketika berbeda, habisi dengan hujatan dan kata-kata kasar, tidak perlu melihat konteksnya atau objektivitasnya.

Agar massif, serang lewat sosial media. Tujuan lain lewat sosial-media  adalah agar masyarakat yang belum lama melek internet, termasuk kalangan NU di pedesaan yg belum kenal hoax dan objektivitas informasi, agar beralih ke subjektivitas dan keluar dari empat prinsip NU. Maka dalam hal ini, pesantren menjadi sebuah jangkar yang sangat penting bagi NU untuk terus memproduksi calon-calon pemimpin umat yang teguh pada nilai Islam dan kebangsaan.

Kalau kita tidak memahami Islam Nusantara dalam konteks konsensus kebangsaan, bahkan mengaburkan maknanya ke arah fitnah keji dan kebencian massif (misal: mengganti syariat, menjunjung tinggi budaya lokal dibandingkan Qur`an dan Sunnah, membenci Arab secara mutlak), maka bukan tidak mungkin krisis Timur Tengah akan berpindah ke Indonesia. Kita memohon perlindungan Allaah dari yang demikian.

Mari kita dinginkan suasana perebutan kepentingan di 2019 nanti dengan menghindari caci maki, mengurangi kebencian, dan diskusi cerdas berdasarkan objektivitas.

Sebagai penutup, Kanjeng Nabi SAW pernah bersabda,

Al-amnu wal-‘aafiyah ni’mataani magh-buunun fii-himaa katsiirun-minan-naas. Keamanan dan kesehatan adalah dua nikmat yg membuat banyak orang terlena.

Semoga Allaah memudahkan niat baik NU untuk terus memperdengarkan Islam Nusantara.

Blunyah Gede,
8 Juli 2018,
Ahmad Rahma Wardhana.

Lampiran Foto: dua buku yang relevan dengan maksud tulisan ini sehingga layak untuk dibaca

IMG20180708135016

IMG20180708151129

IMG20180708151146

Lumrahing Manungsa

Benar, bahwa salah satu tersangka yang viral itu pernah satu SD dengan adik kandung saya. Beberapa puluh menit yang lalu Ibu saya masih brambangi, berkaca-kaca, mengingat kepolosan yang bersangkutan dan kebaikan ibundanya, pada masa itu.

Saat adik saya bedrest 2 minggu karena DBD, dia adalah teman SD yang menjenguk untuk pertama kalinya, bersama sang ibunda. Baru beberapa hari berikutnya, teman lainnya menyusul membesuk.

Bencana pertama hadir ketika dia dibully teman sekelasnya. Dimintai uang, diadu dengan teman lain untuk berkelahi, dan pastinya kata-kata dan pisuhan khas jawa. Sekolah tahu. Orang tua dan wali murid tahu. Tapi entah kenapa, ketegasan keputusan terlalu lama. Pada akhirnya, orang tua korban berinisiatif memindah sekolah anaknya.

Sekilas ingatan saya muncul, 4 atau 5 tahun yang lalu (2013-2014, adik saya sedang duduk di kelas 4, 5, atau 6 SD) yang lalu dalam diskusi tentang peristiwa tersebut dengan adik saya, saya memprotes lambatnya respon sekolah. Dan tahukah anda bahwa sekolah tersebut adalah bekas sekolah saya juga? 4-5 tahun yang lalu saya sudah dewasa, tapi masih berlindung di balik tameng orang tua, karena protes tersebut hanya saya sampaikan dalam diskusi di rumah.

Di tingkat SMP, yang bersangkutan masih diuji lagi: satu sekolah dengan seseorang yang membully-nya ketika SD. Entah sempat dibully atau tidak, yang pasti dia kemudian pindah sekolah. Dan nampaknya dia mendapat anugerah yang tak terduga. Persahabatan yang menghilangkan nurani. Persahabatan adalah anugerah. Namun menghilangkan nurani, ini yang di luar dugaan.

Adik saya baru saja menerima nilai UANBK tingkat SMP sederajat. Nampaknya, begitu pula dengan dia yang sekarang tersangka. Usianya masih sangat muda: 16 tahun. Menyebabkan seseorang tewas. Mahasiswa UGM, universitas kebanggaan tiyang Ngayogya, kebanggaan pula bagi alumninya di penjuru nusantara dan dunia.

Saya speechless ketika salah satu guru saya di UGM ngendika:

“Ning nèk cah cilik matèni wong tanpa alasan ki ora lumrah menungsa”.

Inikah Yogyakarta kita? Inikah Indonesia kita? Inikah kehidupan sehari-hari yang kita harapkan?

Kehilangan seorang anak sungguh sakitnya tak terbayangkan. Seorang ayah dan ibu yang usianya lebih tua pasti memproyeksikan masa depan yang terang benderang bagi sang anak. Berharap pada saat keduanya tiada, anak-anaknya berada di sisinya, telah menggapai asa dan cita, penuh kebahagiaan dan berterima kasih pada ayah dan ibunya. Mimpi ini hancur dalam sekejap, ketika sang anak menghadap kehadirat-Nya, sebelum masa depan itu hadir.

Wahai sang mahasiswa, semoga Allaah melimpahkan nikmat kubur dan kelak anugerah surga. Wahai ayah dan bunda sang mahasiswa, semoga Allaah menguatkan kalian.

Sementara dia yang menjadi tersangka wajib dihukum berat sebagai ikhtiar membuatnya jera, sehingga tak lagi terulang oleh dirinya dan oleh orang lain. Perlu ketegasan luar biasa dari Kepolisian, Kejaksaan, dan Pengadilan.

Tapi perlu kita ingat, akar masalahnya, yakni perilaku bullying di sekolah, wajib diberantas. Pendampingan konseling sekolah dasar dan menengah tidak selalu menjadi solusi terbaik. Persahabatan dan solidaritas yang justru menghapus nurani ada dan masih berlangsung. Fenomena ini, terbunuhnya mahasiswa oleh seorang siswa, tewasnya seorang kakak di tangan adiknya, membuktikannya.

Belum lagi, kalau-kalau ada tambahan pengaruh alkohol dan narkoba. Sungguh, perlu ketegasan luar biasa dari Kepolisian, Kejaksaan, dan Pengadilan. Begitu pula dengan peran serius para keluarga, komunitas agama, dan masyarakat. Bersama-sama.

Pembaca yang budiman, peristiwa ini mengungkapkan pula bahwa ada banyak hal yang harus kita evaluasi dalam sistem pendidikan kita. Butuh banyak uluran tangan untuk memperbaikinya. Masing-masing dari kita, sesuai dengan jangkauan ruang dan waktu kita, mari bergerak. Semoga limpahan petunjuk dari Allaah selalu membersamai langkah kita bersama. Aamiin.

Blunyah Gede, 10 Juni 2018 (02:16 WIB),
Ahmad Rahma Wardhana.

Pemberantasan Korupsi dalam Perspektif Islam

Sepanjang tanggal 4 Juni 2018, ada beberapa peristiwa penting yang mendorong saya untuk menulis ceramah ini. Temanya tentang pemberantasan korupsi.

Peristiwa pertama adalah tentang penyerahan hadiah yang diterima pejabat pemerintahan atau negara kepada KPK. Pemberian kepada pejabat pemerintahan atau negara disebut sebagai gratifikasi yang sangat berpotensi bertujuan untuk mempengaruhi kebijakan pejabat tersebut. KPK saat ini memiliki buku petunjuk bagi para pejabat untuk memilih dan memilah mana yang gratifikasi murni (tanpa pamrih) mana yang gratifikasi sebagai suap. Namun, sebagian pejabat yang ingin menjunjung tinggi kejujuran, biasanya langsung dilaporkan kepada KPK untuk diselidiki.

Jika gratifikasi merupakan hadiah yang tidak berkaitan dengan kedudukan pejabat tersebut, maka akan dikembalikan kepada pejabat. Sebaliknya, jika cenderung bertujuan untuk mempengaruhi pejabat, maka hadiah tersebut akan menjadi milik negara. KPK sudah memiliki metode yang teruji untuk menyelidiki hal ini.

KPK menggelar jumpa pers tentang beberapa pejabat yang melaporkan gratifikasi, di antaranya berupa keris, jam tangan, dan berbagai perhiasan dengan batu mulia. Ketika ditaksir, di antara barang-barang tersebut ada yang harganya dalam rupiah mencapai 7,5 miliar, 10 miliar, 11,2 miliar, 20 miliar, dan 28 miliar rupiah. Mengapa hal ini dilaporkan oleh pejabat? Jelas karena nilainya yang ngungkuli akal jika dianggap sebagai hadiah.

Peristiwa kedua adalah ditangkapnya Bupati bersama Kepala Unit Layanan Pengadaan, ajudan Bupati, dan pihak swasta. Diduga kuat, Bupati tersebut menerima suap agar pihak swasta dapat menggarap sebuah proyek tertentu. Kejahatan model ini yang sayangnya, sering terjadi di negara kita.

Praktek korupsi lain yang sering terkuak, misalnya adalah adanya nyang-nyangan alias tawar menawar komisi antara DPRD hingga DPR kepada dinas terkait hingga menteri, dan kemudian keterlibatan swasta sebagai calon penggarap proyek. Contoh praktek berdosa tersebut:

  1. DPRD menyandera Dinas atau Kepala Daerah (atau DPR menyandera menteri tertentu), bahwa kalau tidak dapat komisi tidak akan diloloskan anggarannya. Atau tidak diloloskan jika tidak ada komitmen bahwa saat pelaksanaan proyek, pihak swasta tertentu yang akan menggarapnya. Tentu saja pihak swasta ini pasti punya hubungan mesra dengan DPRD atau DPR.
  2. Kepala Daerah menekan swasta, bahwa kalau tidak diberi komisi, pihak swasta yang paling berpotensi menggarap proyek tidak akan menang dalam seleksi. Atau sebaliknya swasta sengaja menyuap kepada pejabatnya, meskipun tidak meminta, seperti kasus guru besar salah satu perguruan tinggi terkemuka yang menjadi pejabat. Menyatakan tidak pernah meminta, tapi karena pihak swasta terus menerus menekan, akhirnya menerima juga.

Praktek-praktek korupsi oleh pejabat pemerintahan atau negara seperti ini sungguh berpotensi menimbulkan kerusakan secara besar-besaran di muka bumi, terutama bagi masyarakat yang dipimpin oleh para pejabat tersebut. Jika proyek tersebut idealnya adalah dibangun dengan dana 100% oleh pengusaha swasta, sementara dalam prosesnya pengusaha swasta harus mengeluarkan dana untuk pejabat-pejabat terkait (padahal mengesahkan proyek tersebut adalah amanah yang wajib dilakukan oleh pejabat, termasuk dari kewajiban yang harus dilakukan atas gaji yang ia peroleh), maka tinggal berapa persen dana yang digunakan untuk membangun?

Jika proyek tersebut adalah proyek fisik seperti gedung, jembatan, jalan, bendungan, di mana 100% adalah nilai ideal, dengan usia bangunan sekian tahun atau mampu menampung sekian orang, kemudian dipotong sekian puluh persen, sudah sewajarnya jika bangunan tidak 100% sempurna, rentan rusak sebelum waktunya, merugikan masyarakat, bahkan sangat berbahaya jika berkaitan dengan kehidupan kelompok masyarakat. Kerusakan yang tidak bisa diremehkan begitu saja.

Hadirin rahimakumullaah, sementara peristiwa ketiga adalah adanya surat dari KPK kepada Presiden dan DPR tentang Rancangan Undang-Undang Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (RUU-KUHP) yang rencananya disahkan di bulan Agustus nanti. Isi surat tersebut kemudian digaungkan oleh masyarakat melalui lembaga-lembaga independen seperti ICW (Indonesian Corruption Watch) agar kita mendesak melalui berbagai cara agar RUU-KUHP ditinjau ulang.

Mengapa KPK dan lembaga-lembaga pegiat anti-korupsi perlu bersuara? Karena ada dugaan kuat, RUU-KUHP ini dapat melemahkan pemberantasan korupsi oleh KPK. Beberapa hal yang dikhawatirkan setidaknya ada tiga:

  1. ancaman pidana penjara dan denda bagi koruptor dalam RUU-KUHP lebih rendah dari ketentuan yang diatur dalam UU Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi,
  2. koruptor yang diproses secara hukum dan dihukum bersalah tidak diwajibkan mengembalikan hasil korupsinya kepada negara karena RUU-KUHP tidak mengatur hal ini,
  3. pelaku korupsi memiliki pilihan untuk mengembalikan kerugian keuangan negara agar tidak diproses oleh penegak hukum.

Hadirin rahimakumullaah, tiga peristiwa tersebut mendorong saya untuk membuka buku berjudul Jihad Nahdlatul ‘Ulama Melawan Korupsi dan menceritakan kembali di forum ini tentang bagaimana Islam memandang tindak pidana korupsi.

Salah satu hal pokok dalam penyelenggaraan pemerintahan atau negara adalah adanya potensi terjadi konflik kepentingan dan penyalahgunaan kewenangan. Beberapa gambaran simpelnya telah saya sampaikan di atas tadi, bagaimana wewenang disalahgunakan untuk meminta suap, atau konflik kepentingan dengan memaksa perusahaan tertentu sebagai penggarap proyek pemerintah.

Seorang ilmuwan besar Islam di bidang sejarah, ilmu kemasyarakatan (sosiologi), ekonomi, dan kependudukan, Ibnu Khaldun, mengatakan,

 photo antikorupsi-1_zpskfbc1hsw.png

Di Indonesia, hal ini belum dapat dilakukan sepenuhnya, baik pemisahan antara jabatan pemerintahan dengan pengusaha maupun jabatan pemerintahan dengan jabatan partai politik. Padahal, karena jabatan itulah yang menyebabkan seseorang dapat tergoda untuk mementingkan usahanya, kawannya, atau kelompoknya, daripada kepentingan yang lebih luas.

Ada seorang menteri yang melepaskan semua sahamnya di sebuah perusahaan besar, meskipun dulu dirinya sendirilah yang banting tulang memulai dan mengembangkannya. Ini pilihan dari sang menteri untuk mencegah munculnya konflik kepentingan. Sementara di sisi lain, kita memiliki pejabat lain yang memilih merangkap jabatannya di luar pemerintahan. Di Amerika Serikat, Presiden Donald Trump dengan perusahaannya yang sangat kaya diperintahkan oleh Undang-Undang untuk menyerahkan seluruh pengelolaan perusahaannya kepada blind trust, pihak independen, di mana Presiden Trump sudah tidak bisa cawe-cawe sedikitpun terhadap uang dan aset perusahaannya.

Hadirin rahimakumullaah, ketika Sayyidinaa Mu’adz bin Jabal bersama Sayyidinaa Abu Musa al-Asy’ari RA dilepas oleh Rasuulullaah SAW menuju Yaman untuk menjadi penanggung jawab wilayah sekaligus guru (sekitar tahun 10 Hijrah), beberapa saat kemudian Kanjeng Nabi SAW ternyata menyuruh seseorang menyusul Sayyidinaa Mu’adz agar kembali untuk menghadap Nabi SAW. Terjadilah dialog sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi:

 photo antikorupsi-2_zpsu3bbwadv.png

Atas hadits ini kita dapat menyaksikan, Nabi SAW sejak dini sudah sangat antisipatif dalam menanggulangi masalah konflik kepentingan antara petugas dan pendakwah agama. Sebagai seorang petugas tidak dibenarkan menerima pemberian apapun selain yang telah ditetapkan dalam al-Qur`an. Dalam hal ini adalah seorang pengambil zakat, ia mendapat bagian dari harta zakat, setelah fakir dan miskin diberi terlebih dahulu. Dan yang paling mencengangkan adalah waktu penyampaian dari Rasuulullaah SAW, yang karena begitu pentingnya perintah ini, Nabi SAW tidak menyampaikannya melalui orang lain atau surat, tidak pula menundanya, tetapi Sayyidinaa Mu’adz dipanggil kembali, meskipun belum lama berangkat.

Sedangkan kalimat tanpa seizinku dari Nabi SAW menggambarkan bahwa pada saat itu pemegang otoritas tertinggi di bidang hukum dan peraturan adalah Nabi SAW. Pada masa kini, hal ini dapat disamakan sebagai larangan mengambil hak keuangan di luar ketentuan perundang-undangan.

Jika PNS sebuah Pemda misalnya, mendapatkan hak keuangan dari gaji dan tunjangan, maka ia melakukan ghulul ketika meminta pungli atau jatah persenan dari proyek atau gratifikasi atau hal lain yang berkaitan dengan jabatannya di luar peraturan.

Tentu saja PNS tersebut masih boleh melakukan jual beli atau wiraswasta lain yang tidak menyalahgunakan wewenang, kewajiban, dan haknya sbg seorang PNS.

Hadirin rahimakumullaah, di dalam khazanah hukum Islam (fikih), ada 9 jenis tindak pidana (jarimah) yang mirip dengan korupsi, yaitu: (1) ghuluul (penggelapan), (2) risywah (gratifikasi atau penyuapan), (3) ghashab (mengambil paksa hak atau harta orang lain), (4) khiyaanat, (5) maksu (pungutan liar), (6) ikhtilaas (pencopetan), (7) intihaab (perampasan), (8) sariqah (pencurian), dan (9) hiraabah (perampokan).

Tiga di antara tindak pidana tersebut, yakni ghuluul (penggelapan), sariqah (pencurian), dan hiraabah (perampokan), disebutkan secara tegas dalam al-Qur`an. Sisanya, dijelaskan oleh Rasuulullaah SAW dalam berbagai hadits.

Hadirin rahimakumullaah, ada empat peristiwa yang berkaitan dengan kejahatan korupsi di sepanjang kehidupan Rasuulullaah SAW. Pertama, tuduhan ghuluul (penggelapan) kepada Nabi SAW; kedua, kasus budak bernama Mid’am atau Kirkirah; ketiga kasus seseorang yang menggelapkan perhiasan seharga 2 dirham; dan keempat, kasus hadiah (gratifikasi) bagi petugas pemungut zakat di kampung Bani Sulaim bernama Ibnu al-Lutbiyyah.

Kisah tuduhan penggelapan kepada Nabi SAW terjadi pada saat Perang Uhud, sekitar tahun ke-2 Hijriyah. Ketika itu pasukan kaum muslim menderita kekalahan sangat tragis akibat pasukan panah yang berbondong-bondong turun dari bukit Uhud untuk ikut berebut harta rampasan perang. Padahal Rasuulullaah SAW sejak semula sudah berpesan jangan sekali-kali meninggalkan bukit Uhud agar bisa melindungi atau membentengi bala tentara yang di bawah bukit, termasuk Nabi Muhammad SAW sendiri.

Mereka yang turun dari bukit Uhud mencurigai Nabi SAW akan menggelapkan harta rampasan perang yang tampak sangat banyak oleh mereka. Menyaksikan pasukan pemanah turun, Nabi SAW bersabda,

 photo antikorupsi-3_zps9md0zyma.png

Pada saat itulah turun ayat 161 surat ‘Ali Imran,

 photo antikorupsi-4_zpsyqeyzchg.png

Kasus korupsi kedua di masa Nabi SAW menimpa seorang budak bernama Mid’am atau Kirkirah. Saat itu ia sedang diutus oleh Nabi SAW untuk membawakan sejumlah harta rampasan perang. Namun di tengah perjalanan justru menemui kematian karena sebuah anak panah tak sengaja menyambar lehernya, sehingga para sahabat Rasuulullaah SAW kaget dan serentak mendoakan Mid’am atau Kirkirah agar mencapai surga. Di luar dugaan, Nabi SAW tiba-tiba bersabda bahwa dia tidak akan masuk surga, sebagaimana diriwayatkan oleh Abu Dawud,

 photo antikorupsi-5_zpswfolxk68.png

 photo antikorupsi-6_zps5vjoohxk.png

Kasus korupsi di zaman Nabi SAW ini mengandung pelajaran betapa beratnya dosa yang harus ditanggung oleh pelaku kasus korupsi, meskipun hanya senilai seutas tali sepatu. Bagaimana jika yang dikorupsi jauh lebih besar dari nilai itu?

Hadirin rahimakumullaah, kasus korupsi ketiga terjadi sebagaimana disampaikan dalam hadits riwayat Abu Dawud,

 photo antikorupsi-7_zpsr7icueri.png

 photo antikorupsi-8_zpsc1crwkbt.png

Perintah Nabi SAW dalam hadits tersebut yang berbunyi shalluu ‘alaa shaahibikum yang bermakna shalatkanlah saudara kalian ini, mempunyai arti bahwa Rasuulullaah SAW tidak mau menyalati jenazah pelaku korupsi. Perintah Beliau SAW kepada para sahabat dilakukan untuk memenuhi kewajiban kolektif (fardlu kifayah) dalam penyelenggaraan jenazah melalui shalat, namun Beliau SAW secara pribadi enggan melakukannya. Imam an-Nawawi menjelaskan maksud kengganan salat Nabi SAW dengan berkata,

 photo antikorupsi-9_zpsqiria1gb.png

Hadirin rahimakumullaah, kasus korupsi berikutnya adalah kasus yang menimpa Abdullaah bin al-Lutbiyyah (atau Ibnu al-Lutbiyyah). Diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim, dikisahkan menurut redaksi Imam Muslim sebagai berikut,

 photo antikorupsi-10_zpsx5w3tapt.png

 photo antikorupsi-11_zpseqzpflea.png

 photo antikorupsi-12_zpsyyababuu.png

 photo antikorupsi-13_zpssjfjr5ko.png

 photo antikorupsi-14_zps0ti715fe.png

 photo antikorupsi-15_zpszr6zf5cp.png

Hadirin rahimakumullah, tindakan Nabi SAW yang berkhatbah menjelaskan kasus korupsi salah seorang yang ditunjuk oleh Beliau SAW sendiri harus kita sepadankan sebagai anjuran di masa kini untuk membentuk opini anti-korupsi melalui media massa. Hal ini dilakukan agar menjadi pembelajaran publik sehingga terus menerus turut mendukung pemberantasan korupsi, sekaligus mempermalukan koruptor sebagai bagian dari menumbuhkan sifat jera di dalam diri koruptor tersebut.

Tindak pidana korupsi di Indonesia sendiri, bahaya dan dampak negatifnya dapat dinilai lebih besar daripada pencurian atau perampokan. Sehingga sebagai hukumannya, dapat dikenai pemecatan, penjara hingga seumur hidup, bahkan bisa berupa pidana mati. Hal ini dikarenakan kejahatan korupsi yang cukup besar efeknya bagi kehidupan kebangsaan dan rakyat banyak, sehingga dapat dikategorikan sebagai tindak pidana hirabah, memerangi Allaah dan Rasul-Nya serta membuat kerusakan di muka bumi, sebagaimana Allaah SWT firmankan di dalam surat al-Maaidah ayat 33,

 photo antikorupsi-16_zpsytzur1sf.png

Sampai saat ini hukuman tertinggi pelaku korupsi ada di tangan Akil Mochtar, mantan Ketua Mahkamah Konstitusi; Adrian Waworontu, pengusaha; dan Brigjen Teddy Hernayadi, mantan Direktur Keuangan TNI AD. Akil Mochtar misalnya, divonis seumur hidup karena melakukan korupsi saat menjabat Ketua Lembaga Tinggi Negara, yakni Mahkamah Konstitusi. Jabatan tersebut menuntut penjagaan harkat dan martabat negara, namun ia cederai dengan tindak pidana korupsi.

Hadirin rahimakumullaah, menjelang akhir Ramadlan, selain meningkatkan ibadah kita kepada Allaah secara langsung dalam ibadah-ibadah yang diajarkan Nabi SAW, mari tidak lupa juga menguatkan ibadah kita dalam bentuk kemashlahatan sesama manusia, dalam konteks pembahasan kita saat ini: mendukung pemberantasan korupsi.

Banyak hal yang dapat kita lakukan, seperti misalnya, meneguhkan kejujuran pada diri sendiri sehingga mampu menjadi teladan sekaligus pantas memberi nasihat kejujuran bagi anak, cucu, saudara, kerabat, dan handai tolan; mendukung secara online pemberantasan melalui berbagai media sosial dengan berbagi berita positif atau menulis komentar-komentar dengan kata-kata sopan atau menanda-tangani petisi-petisi pemberantasan korupsi; membaca dan mempelajari bahan-bahan pemberantasan korupsi, bisa buku, video, ceramah, biografi; serta cara-cara lain yang positif untuk terus mendukung pemberantasan korupsi.

Semoga Allaah memudahkan ikhtiar kita untuk selalu menjadi pribadi yang lebih baik. Aamiin.

Sumber utama penulisan ceramah ini adalah buku Jihad Nahdlatul Ulama Melawan Korupsi, yang diterbitkan oleh kerjasama antara LAKPESDAM-PBNU (Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pengurus Besar Nahdlatul ‘Ulama), Jaringan Gusdurian, Kemitraan, dan Komisi Pemberantasan Korupsi Republik Indonesia.

Makna Komprehensif Ketakwaan dalam Ibadah Puasa

Puasa merupakan ibadah yang dilakukan oleh berbagai agama dan kepercayaan sepanjang sejarah umat manusia. Dalam konteks umat Islam, puasa “bertujuan untuk memperoleh takwa” (la-‘allakum tattaqun), di mana tujuan tersebut dapat dicapai dengan menghayati arti puasa itu sendiri. Menghayati makna dan arti puasa, membawa kita untuk memahami tentang dua hal pokok menyangkut hakikat penciptaan manusia dan kewajibannya di muka bumi. Apa dua hal pokok tersebut?

Pertama, manusia diciptakan oleh Tuhan dari tanah, kemudian dihembuskan kepadanya Ruh ciptaan-Nya, dan diberikan potensi untuk mengembangkan dirinya hingga mencapai satu tingkat yang menjadikannya wajar untuk menjadi khalifah (pengganti) Tuhan dalam memakmurkan bumi ini (al-Baqarah ayat 30).

 photo takwa komprehensif-1_zpsscmr8rpl.png

Lebih dari itu, pada ayat 31 dijelaskan bahwa Allaah Ta’aala memberikan

 photo takwa komprehensif-2_zpsqabknzoa.png

sebagai bekal untuk memakmurkan bumi. Kalimat wa ‘allama aadamal-asmaa-a kullahaa secara bahasa berarti mengajarkan nama-nama benda seluruhnya atau ditafsirkan sebagai anugerah mengenal teknologi untuk kemaslahatan manusia.

Kedua, dalam perjalanan manusia ke bumi, ia (Nabi Adam ‘AS) melewati (transit) di surga, agar pengalaman yang diperolehnya di surga tersebut dapat menjadi modal dalam menyukseskan tugas pokoknya di muka bumi. Bahasa mudahnya, peristiwa transitnya Nabi Adam ‘AS sebagai leluhur manusia di surga, berfungsi untuk mendorong umat manusia menciptakan bayangan surga di bumi. Begitu pula dengan pengalaman tergoda oleh syaithan, mendorong untuk bersikap hati-hati agar tak lagi terpedaya, sehingga tidak terulang kejadian pahit yang terasa ketika terusir dari surga.

Hadirin rahimakumullaah, berbeda dengan Tuhan, manusia memiliki banyak kebutuhan yang secara garis besar dikelompokkan menjadi lima kebutuhan pokok: (1) kebutuhan fa’ali (makan, minum, dan hubungan suami-istri), (2) kebutuhan ketenteraman dan keamanan, (3) kebutuhan keterikatan pada kelompok, (4) kebutuhan akan rasa penghormatan, dan (5) kebutuhan akan pencapaian cita-cita.

Kebutuhan yang lebih akhir tidak akan mendesak seseorang sebelum kebutuhan pertam terpenuhi. Bahkan seseorang bisa saja mengorbankan kebutuhan berikutnya bila kebutuhan sebelumnya belum terpenuhi. Dan sebaliknya, ketika seseorang mampu mengendalikan dirinya dalam memenuhi kebutuhan pertama, akan dengan mudah mengendalikan kebutuhan-kebutuhan di daftar berikutnya.

Puasa adalah bagian upaya manusia menjadi wakil Allaah di muka bumi (khalifatullaah) melalui meneladani dua sifat Tuhan:

(1) tidak makan-minum (al-An’am ayat 14):

 photo takwa komprehensif-3_zps8uafbpqn.png

(2) tidak berpasangan (al-An’am ayat 101)

 photo takwa komprehensif-4_zpsxobtm6io.png

Meneladani sifat Tuhan ini tentu saja sesuai dengan batasnya sebagai manusia dan tidak hanya terbatas pada kedua hal tersebut, tapi juga sifat Tuhan lainnya.

Sifat Allaah yang Maha-pengampun dan Maha-pemaaf, misalnya, dianjurkan untuk dibaca banyak-banyak sepanjang Ramadlan: allaahumma innaka ‘afuwwun, tuhibbul afwa fa’-fu-‘anni, Wahai Allaah sesungguuhnya Engkau Maha-pemaaf dan menyukai permintaan maaf, maka ampunilah aku. Teladan bagi manusia: sifat Allaah ini berkesan di dalam hati kita yang mengucapkan, sehingga mau memaafkan sesama manusia.

Sifat Allaah yang Maha-hidup diteladani dengan bagaimana kita meninggalkan nama baik yang selalu dikenang, sekalipun telah meninggal dunia.

Sifat Allaah ar-Rahmaan, yakni pelimpah kasih bagi seluruh makhluk dalam kehidupan dunia, mendorong manusia yang berpuasa untuk melatih memberi kasih kepada semua makhluk tanpa kecuali. Sementara ar-Rahiim, yakni pelimpah rahmat di Hari Kemudian, memotivasi kita yang berpuasa agar memberi kasih kepada saudara-saudara seiman sambil meyakini bahwa tiada kebahagiaan sejati kecuali rahmat Allaah di Hari Akhir kelak.

Sifat Allaah al-Qudduus, Yang Maha-suci, menyemangati orang yang berpuasa untuk menyucikan diri lahir dan batin, serta mengembangkan diri sehingga selalu berpenampilan indah, baik, dan benar. Sedangkan peneladanan sifat al-Kariim, Yang Maha-pemurah, mengajak manusia agar menjadi seorang dermawan.

Demikian seterusnya dengan sifat-sifat Allaah lainnya, yang harus dihayati esensinya untuk diteladani sesuai dengan kemampuan kita sebagai manusia. Alhasil, fungsi kita sebagai wakil Allaah di muka bumi dengan mencontoh sifat-sifat Allaah akan mampu mewujudkan makmurnya bumi, yakni sumber kemashlahatan manusia dan seluruh makhluk penghuninya, termasuk hewan dan tumbuhan.

Hadirin rahimakumullah.

Ilmu modern saat ini menekankan keseimbangan pada tiga jenis kecerdasan manusia: intelektual, spiritual, dan emosional. Islam memiliki konsep yang sama, sebagaimana disampaikan dalam buku Membumikan al-Qur`an Jilid Kedua.

Kecerdasan spiritual diwakili oleh iman manusia. Iman kepada wujud Tuhan Allaah SWT akan melahirkan makna hidup dan memperhalus budi pekerti bagi manusia. Tak ada lagi kesombongan karena adanya Yang Maha-tinggi dan Maha-agung. Tak akan ada lagi kecintaan pada dunia yang melekat ke dalam hati, tak  akan ada lagi keinginan berkata, berperilaku, dan berprasangka buruk, karena mengimani adanya pengadilan di Hari Akhir kelak. Dan dalam konteks ibadah puasa, iman adalah syarat utama, karena perintah puasa ditujukan kepada mereka yang beriman: yaa ayyuhalladzina aamanu.

Kecerdasan emosional dalam Islam, selain diwakili oleh banyak bagian dalam ajaran Islam, secara khusus juga diwakili oleh ibadah puasa itu sendiri. Hawa nafsu manusia di satu sisi menjadi pendorong bagi banyak aktivitas positif: bekerja mencari penghidupan untuk keluarga, membahagiakan istri, suami, anak, dan orang tua, dan seterusnya.

Sebagaimana Allaah berfirman di al-Qur`an surat Aali ‘Imraan 14:

 photo takwa komprehensif-5_zpsbji3bpiz.png

Tetapi ketika hawa nafsu tidak dikendalikan –di mana salah satu pengendaliannya adalah dilatih dengan ibadah puasa– hawa nafsu akan merusak. Seks, jika diperindah oleh syaithan akan menjadi tujuan, tidak peduli dengan siapa dilakukan. Kecintaan pada anak, jika diperindah syaithan akan muncul subjektivitas berlebihan: atas nama cinta akan membela anak sekalipun salah atau bahkan telah melanggar ketentuan hukum. Dan harta, jika diperindah syaithan, akan memperdaya kita: dengan cara apapun harus didapatkan, terus menumpuk harta hingga melupakan fungsi sosialnya. Na’udzubillaahi min dzalik.

Hadirin rahimakumullaah.

Maka, kecerdasan emosional diwakili oleh ketakwaan kita. Ketakwaan kepada Allaah dapat dimaknai sebagai usaha keras manusia untuk menjalankan setiap perintah Allaah sekaligus secara bersamaan menjauhkan diri semua yang dilarang Allaah Tabaraka wa Ta’aala. Seseorang yang berusaha untuk selalu taat secara demikian, membutuhkan kematangan emosi: kesadaran sepenuhnya akan agama dan ketuhanan.

Seorang anak dilatih berpuasa untuk tidak makan karena ia diperintah dan diberi contoh dari orang tuanya. Seiring berjalannya waktu, ketika iman telah melingkupi hati sang anak, bukan sekedar karena perintah orang tua, ia akan menyadari itu merupakan perintah Allaah melalui tuntunan agama Islam. Inilah kematangan emosi, buah dari keimanan, kecerdasan spiritual.

Ketakwaan bukan hanya meningkat dengan pelatihan-pelatihan rutin yang diwajibkan Allaah melalui puasa Ramadlan, tetapi juga dapat meningkat seiring dengan peningkatan kecerdasan intelektual seorang manusia, karena kecerdasan intelektual di antaranya adalah mengandung hikmah.

Hikmah diartikan sebagai sesuatu yang bila digunakan/ diperhatikan akan mendatangkan kemanfaatan dan kemudahan yang besar atau lebih besar, serta menghalangi terjadinya kerusakan atau kesulitan besar atau yang lebih besar. Makna ini ditarik dari kata hakamah, yang berarti kendali, karena kendali menghalangi hewan/kendaraan mengarah ke arah yang tidak diinginkan atau menjadi liar. Memilih perbuatan yang terbaik dan sesuai, atau bahkan memilihnya (terbaik dan sesuai) di antara dua hal yang buruk pun dinamai hikmah, dan pelakunya disebut hakiim (bijaksana).

Hikmah juga dimaknai sebagai (1) himpunan segala ucapan atau pengetahuan yang mengarah pada perbaikan keadaan dan kepercayaan manusia secara bersinambung, dan (2) sesuatu yang mengena kebenaran berdasar ilmu dan akal, yakni kebenaran yang tidak mengandung kelemahan dan tidak pula kekaburan.

Pengetahuan, termasuk hikmah, adalah cahaya yang Allaah limpahkan kepada siapapun yang mempersiapkan diri untuk meraihnya. Ilmu pengetahuan dan teknologi sebagai bentuk penerapannya mampu mengalami kemajuan ketika adanya kondisi yang mendorongnya untuk dikembangkan. Dalam hal ini, sesungguhnya al-Qur`an memberikan peluang bagi ilmu pengetahuan dan teknologi agar dikuasai oleh umat Islam. Sebagaimana firman pertama dari Allaah Tabaraka wa Ta’aala kepada Nabi Muhammad SAW yang turun di bulan Ramadlan: iqra bismirabbika-lladzi khalaq, bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu yang Mencipta, yang perintah membaca ini tidak terbatas pada bacaan keagamaan saja, tetapi kepada semua hal yang dapat dibaca, selama dalam koridor menyebut nama Tuhan Sang Pencipta, yakni menjaga kesinambungan makhluk hidup, atau dengan kata lain bermashlahat untuk manusia dan makhluk hidup lainnya.

Hadirin rahimakumllaah.

Pengetahuan dan hikmah akan mengungkap banyak hal yang tercakup akal di dalam perintah-perintah yang Allaah berikan, sehingga akan memantabkan perjalanan takwa kita. Tanpa cakupan akal, cukuplah spiritualitas dan keimanan yang mendorong kita untuk menjalankan perintah Allaah dan menjauhi larangan Allaah, sebagaimana imannya Sayyidinaa Abu Bakar RA terhadap peristiwa Isra’ Mi’raj. Namun Allaah pun memberikan peluang kepada kita untuk mengembangkan pengetahuan dan hikmah, untuk memperkuat iman dan takwa kita.

Demikianlah makna dari puasa di bulan Ramadlan yang mencakup pelatihan terhadap tiga kecerdasan manusia secara simultan, untuk meraih derajat tertinggi di sisi Allaah, yakni ketakwaan (inna akramakum ‘indallaahi atqakum). Dan ketakwaan yang merupakan bentuk pengabdian kepada Allaah Tabaraka wa Ta’aala akan menjadi semakin sempurna ketika difungsikan sebagai bekal kita dalam menjalani peran sebagai khalifatullaah fil ardl, wakil Allaah untuk mewujudkan kemashlahatan umat manusia dan seluruh makhluk ciptaan Allaah di muka bumi.

Sejarah Terorisme atas Nama Islam

Aksi terorisme, sebuah aksi menggunakan kekerasan yang mengatas-namakan Islam, yang terjadi di Surabaya, sebenarnya merupakan bentuk ekstrimisme dalam beragama. Sikap ekstrim atau berlebihan dalam memahami dan menjalani ajaran agama sesungguhnya bukan konsep yang dianjurkan oleh Islam maupun agama manapun.

Menurut Islam, anjuran bersikap moderat atau wasathiyah alias pertengahan, disampaikan oleh Allaah SWT di dalam al-Qur`an surat al-Baqarah ayat 143,

 photo sejarah teror-1_zpszhywk5c4.png

Allaah SWT dalam ayat ini menggunakan kata Kami menjadikan, yang bermakna adanya peran selain Allaah dalam mewujudkan ummatan wasath. Peran selain Allaah bukan berarti sekutu Allaah, karena Allaah tak membutuhkan sekutu. Peran selain Allaah yang dimaksud dalam ayat ini adalah dibutuhkannya ikhtiar untuk menjadikan umat yang wasath.

Sikap wasathiyah adalah jalan tengah atau keseimbangan antara dua hal yang berbeda atau bertentangan. Dalam prakteknya, jalan tengah di antara dua hal yang berbeda, antara A dan B misalnya, mengandung dua pengertian, yaitu:

  1. pengertian bukan A dan bukan B, sebagaimana sifat dermawan merupakan sikap pertengahan, bukan boros (menghamburkan harta di luar kebutuhan) dan bukan pula kikir (terlalu hemat dalam mengeluarkan harta atau bahkan tidak mau menggunakan harta sama sekali meskipun untuk hal-hal penting). Atau sifat pemberani yang merupakan sikap pertengahan, bukan penakut dan bukan pula sembrono atau
  2. pengertian A sekaligus B, sebagaimana Islam yang memperhatikan urusan dunia sekaligus akhirat atau jasmani sekaligus rohani.

Prinsip-prinsip pertengahan tersebut menjadi ruh utama dalam Islam, sejak awal kelahiran Islam hingga kelak datangnya hari kiamat, termasuk dalam memperjuangkan agama Islam. Perjuangan menegakkan agama Islam harus didasari pada kasih sayang, karena kemunculan agama dan ketaatan kepada Allaah, pada akhirnya bertujuan pada kemashlahatan para pemeluknya.

Terorisme dan kekerasan atas nama perjuangan Islam tidak dimulai baru-baru ini saja. Dalam sejarah, ada beberapa peristiwa penting yang menjadi penanda kehadiran kelompok sempalan dalam Islam. Sesuatu yang sempal, tentu merupakan pecahan yang tidak berguna dan bukan bagian utama dari sebuah komponen besar, yang dalam hal ini adalah Islam.

Hadirin rahimakumullaah, kemunculan Islam sempalan ini dimulai sejak zaman Sayyidinaa ‘Ali KW. Ketika Sayyidinaa ‘Ali KW dan Sayyidinaa Muawiyah RA berbeda pandangan dalam urusan kemasyarakatan Islam saat itu hingga terjadi peperangan sesama muslim. Ketika perdamaian diinisiasi, ada kelompok yang tidak suka dengan hadirnya perdamaian. Belakangan kelompok ini menuduh semua yang berseberangan dengannya adalah kafir yang berhak dibunuh. Alasannya, menurut mereka, perdamaian itu upaya manusia, bukan berdasarkan Kitabullaah. Bagi mereka, jika berdasarkan Kitabullaah adalah mereka harus menang, bukan damai, bukan kalah.

Salah satu pentholan kelompok ini bernama Abdurrahman bin Muljam, seorang penghafal Qur`an, ahli qiyamul-lail, hobi berpuasa. Abdurrahman bin Muljam pula, pernah dikirim oleh Sayyidinaa ‘Umar bin Khaththab RA untuk ke Mesir, menjadi pengajar al-Qur`an. Namun Abdurrahman bin Muljam pula yang kemudian membunuh Sayyidinaa ‘Ali bin Abi Thalib RA. Kelompok ini, kemudian dikenal dengan nama Khawarij, semakna dengan khuruj, yang artinya keluar. Kelompok yang keluar dari kelaziman Islam.

Hadirin rahimakumullaah, kelompok ini terus ada dan berkembang di dalam kepala segelintir kaum muslimin, namun sepanjang periode kerajaan Umayyah, Abbasiyah, maupun Utsmani, tidak begitu populer karena kalah dengan kelompok-kelompok lain dalam Islam.

Hingga pada tahun 1979, kelompok ini muncul kembali dengan baju baru. Berkembang dari kelompok-kelompok masyarakat yang awalnya dimanfaatkan kekejamannya dalam mendirikan Kerajaan Saudi dengan mempersatukan suku-suku di jazirah Arab, belakangan kelompok ini melihat Kerajaan Saudi tidak konsisten dalam menjalankan ajaran Islam. Radio dan televisi bagi Khawarij modern ini adalah kesesatan yang nyata.

Puncaknya terjadi pada tanggal 20 November 1979, tepat pagi hari bakda subuh, 1 Muharram 1400 H. Sekelompok bersenjata yang dipimpin oleh Juhaiman al-Uthaibi, merebut mikrofon imam Masjidil Haram, kemudian mengabarkan kehadiran Imam Mahdi. Puluhan ribu jamaah, termasuk di antaranya dari Indonesia, yang belum semua pulang dari masa ibadah haji, berhamburan, berusaha keluar dari Masjidil Haram. Ketika polisi Kerajaan Saudi berusaha merebut kembali Masjidil Haram, dari menara-menara masjid mereka ditembaki dengan senapan serbu. Darah tertumpah di Masjidil Haram, tak ada salat berjamaah dan tawaf selama beberapa hari, siaran harian ibadah Masjidil Haram televisi untuk sementara dialihkan ke Masjid Nabawi di Madinah.

Sementara karena keterbatasan tersebarnya informasi pada masa itu, berita-berita berkembang liar di luar Kerajaan Saudi dan karena baru saja terjadi Revolusi Iran di awal 1979, masyarakat Islam internasional saat itu melihat bahwa pengepungan Masjidil Haram adalah rekayasa Amerika Serikat dan Israel. Kedutaan Besar Amerika Serikat di beberapa negara didemo bahkan sampai jatuh korban nyawa.

Pengepungan Masjidil Haram berakhir pada 4 Desember 1979 dengan korban tewas sekitar 127 orang, setelah Kerajaan Saudi meminta asistensi secara rahasia saat itu, kepada beberapa personel pasukan khusus Prancis. Perlu dicatat, bahwa ulama Saudi membutuhkan 3 hari dalam mengeluarkan fatwa bolehnya pasukan Saudi memasuki Masjidil Haram dengan membawa senjata dan menembak musuh.

Beberapa hari kemudian setelah peristiwa Pengepungan Mekkah, dimulailah perang Soviet melawan Afghanistan. Perang yang berlangsung selama 9 tahun tersebut dimulai pada 24 Desember 1979 dan berakhir pada 15 Februari 1989 serta meninggalkan bekas yang sangat berpengaruh pada keadaan Islam saat ini.

Perang Soviet vs Afghanistan merupakan bagian dari perang dingin antara Amerika Serikat melawan Uni Soviet, antara dua aliran besar politik saat itu, demokrasi melawan komunisme. Amerika Serikat yang enggan mengirim pasukan langsung, namun memilih membiayai kelompok-kelompok mujahidin dari Pakistan dan Kerajaan Saudi untuk membantu Afghanistan melawan Soviet. Ya senjata, ya pelatihan militer. Uniknya, termasuk dalam kelompok pendukung Afghanistan adalah mujahidin Syiah dari Iran dan mujahidin yang didukung oleh Tiongkok, berhalauan Maoisme.

Pada akhirnya Soviet kalah, Afghanistan menang, namun sayangnya Afghanistan tak pernah damai karena kelompok-kelompok mujahidin saling bersitegang berebut pengaruh satu sama lain hingga saat ini. Salah satu mujahidin alumni perang Afghanistan adalah yang kita kenal dengan nama Usamah bin Ladin.

Hadirin rahimakumullaah, seusai perang Afghanistan melawan Soviet, pada 1990 terjadi peristiwa lain yang berkaitan dengan sejarah terorisme atas nama Islam, yakni Invasi Irak ke Kuwait. Arab Saudi yang berbatasan dengan Kuwait sekaligus Irak turut khawatir invasi itu akan menguasai wilayah Kerajaan Saudi. Pada masa itu, ulama Irak mengeluarkan fatwa halal membunuh pasukan Saudi dan hal yang sama dilakukan oleh ulama Saudi, mengeluarkan fatwa halal membunuh pasukan Irak, selama dalam konteks peperangan dan mempertahankan diri.

Usamah bin Ladin yang berkebangsaan Saudi berinisiatif mengumpulkan mujahidin alumni Afghanistan dalam berbagai penjuru, hingga mendapatkan sekitar 4.000 relawan. Pasukan tak berbayar ini Usamah tawarkan kepada pemerintah Saudi untuk menangkal serangan Irak. Sayangnya, Saudi lebih percaya dengan Amerika Serikat dan Inggris, tentu saja, menolak tawaran gratis dari Usamah bin Ladin. Lebih dari itu, pada perang teluk ini, Amerika Serikat mendirikan pangkalan militer di Arab Saudi.

Sejak saat itu, Usamah bin Ladin memusuhi pemerintah Saudi, Amerika Serikat, dan sekutu-sekutunya, serta menyerang aset-aset Pemerintah Amerika Serikat, mendirikan al-Qaeda, hingga puncaknya, serangan ke World Trade Center, 11 September 2001.

Sebagai balasan atas serangan 11 September, Amerika Serikat menyerang Afghanistan. Mengapa? Karena rezim Taliban, penguasa Afghanistan pada tahun tersebut merupakan pelindung Usamah bin Ladin, sahabat yang terikat karena Perang Afghanistan melawan Soviet pada 1979-1989.

Hadirin rahimakumullaah, kelompok sempalan Islam, dengan berbagai variasi bentuk dan alasannya, namun konsisten pada halalnya kekerasan dan kekejian terus berlanjut hingga pada pendirian ISIS, Negara Islam di Irak dan Suriah. Irak belum stabil sejak menjadi sasaran serangan Amerika Serikat pada 2003 dan ketidak-puasan oposisi pada pemerintahan Suriah, menjadi medan tempur bagi ISIS. Saya tidak perlu menceritakan ruwetnya ISIS yang melawan pemerintahan Irak maupun Suriah sekaligus melawan kelompok mujahidin yang berbeda pandangan politik sembari melawan kelompok etnik Kurdi sambil melawan pasukan atau peralatan perang dari berbagai negara seperti Turki, Amerika Serikat, Prancis, dan Rusia. Keruwetan ini berkaitan dengan kekuasaan politik (kenegaraan) namun tidak berdasar pada kebangsaan (karena mayoritas berbangsa Arab). Kurang ajarnya, masing-masing kelompok mengatasnamakan Islam, mengatasnamakan sebuah agama yang secara bahasa bermakna perdamaian atau keselamatan. Benarkah Islam mengajarkan yang demikian?

Pelajaran penting bagi kita sebagai umat Islam yang berada di Indonesia di antaranya adalah:

  1. Pentingnya rasa kebangsaan dan kenegaraan.

Pelaksanaan ajaran agama membutuhkan keamanan dan stabilitas sebuah negara. Kita wajib bersyukur dengan negara bangsa Indonesia, di mana dasar negara, pondasi bangsa telah diletakkan sejak 1945. Saat ini kewajiban kita untuk menjaganya serta membangun sebuah rumah bersama bernama Indonesia. Ibadah-ibadah utama kita kepada Allaah (rukun Islam) telah dilindungi oleh negara-bangsa, tinggal bagaimana mengembangkannya kepada ibadah muamalah kepada sesama manusia, mewujudkan kesejahteraan dan kemakmuran.

  1. Umat Islam tidak bisa menghindar dari tanggung jawab pemberantasan terorisme.

Terorisme, kekejian, dan kekerasan, adalah bukan dari ajaran Islam yang sesungguhnya. Tetapi sejarah menunjukkan bahwa kelompok yang menafsirkan sebaliknya adalah nyata adanya, hidup dan berkembang, bahkan di Indonesia!

Tanggung jawab kita adalah mengkampanyekan Islam yang lemah lembut tapi tetap tegas ketika dibutuhkan, baik melalui ceramah, diskusi, tulisan, buku, video, konten media sosial lain, dan yang paling utama adalah perilaku kita sehari-hari. Termasuk memastikan kehidupan masyarakat kita di kampung-kampung masih berjalan sebagaimana mestinya, penuh dengan ketenteraman, tepa selira, peduli satu sama lain, tanpa memandang agama, suku, bahasa, maupun faktor perbedaan lain. Cukuplah alasan sebagai sesama menungsa sebagai pendorong kita untuk berbuat baik di manapun dan kapanpun.

Benar bahwa ada faktor luar yang turut menumbuh-kembangkan kelompok sempalan ini, terutama kepentingan-kepentingan berkaitan dengan urusan duniawi seperti persenjataan, minyak bumi, maupun duit, namun sungguh, sebaik-baik koreksi dan perubahan adalah ketika dimulai dari diri sendiri, umat Islam sendiri.

Kita sebagai umat Islam wajib menjaga diri sendiri, lingkungan, dan masyarakat terdekat, dari ajaran sesat ekstrim dalam beragama. Ukurannya sederhana, jika ada orang atau kelompok mengaku Islam, tetapi ajakannya untuk membenci kelompok lain, sesama Islam maupun kelompok lain di luar Islam dengan membabi buta, bahkan hingga menghalalkan darahnya, maka kelompok semacam ini wajib kita lawan, baik dengan melaporkannya kepada yang berwajib, atau jika mampu, mengajak mereka kembali ke jalan yang benar, berpindah dari tepi (ekstrim) ke tengah (moderat).

Kita tidak boleh menghakimi seseorang atau kelompok orang hanya berdasarkan cara berpakaian atau penampilan luar. Kita tidak bisa dan tidak boleh menarik kesimpulan bahwa setiap yang bercadar, berjenggot lebat, atau bercelana di atas mata kaki, selalu berkaitan dengan ekstrimisme Islam, apalagi menuduh sebagai bagian dari terorisme. Sungguh, terorisme atas nama Islam merupakan cobaan terberat dari saudara-saudara kita yang memilih demikian (celana di atas mata kaki, berjenggot lebat, dan bercadar), karena sebuah kenyataan bahwa kelompok ekstrim ini memilih cara yang sama dengan mereka dalam berpakaian dan penampilan. Hanya cara berpakaian dan penampilan luarnya saja.

Hadirin rahimakumullaah, sebagai sebuah negara bangsa yang berdaulat dan stabilitas keamanan, kita bukan hanya mampu menghidupkan ajaran agama, tapi juga mengupayakan perdamaian kepada sesama negara muslim, seperti di Tanah Suci Yerussalem atau Afghanistan.

Indonesia kita adalah negara berpenduduk muslim terbesar di dunia, namun kekuatan ekonomi, pertahanan, dan keamanannya belum bisa mengimbangi kekuatan negara besar lain, meskipun kita sudah masuk pula dalam Kelompok G-20 (20 negara terbesar dalam anggaran pemerintahannya). Faktor-faktor tersebut membuat suara negara kita memang diperhatikan, tetapi belum cukup berpengaruh. Menariknya, realitas ini tidak membuat negara kita kemudian minder. Kaidah fikih mengatakan

 photo sejarah teror-2_zpsclaobstc.png

Ketika pengaruh Indonesia yang belum sebesar negara maju, Indonesia sangat serius berikhtiar untuk mewujudkan perdamaian di mana Indonesia memiliki pengaruh lebih kuat, seperti perdamaian Rohingnya atau Afghanistan.

Pada tahun 2013 yang lalu, ada sekitar 12 ulama dari 12 suku terbesar di Afghanistan yang datang ke Yogyakarta, belajar Pancasila di UGM. Inisiasi ini terus menerus dilanjutkan dan dikembangkan hingga pada awal tahun 2018 ini Presiden Indonesia mengunjungi Afghanistan. Walaupun dua hari sebelum kehadiran Presiden terjadi pemboman di ibukota Kabul yang menewaskan 103 orang, Presiden tetap bersikeras hadir sebagai bentuk komitmen kenegaraan dengan Afghanistan sekaligus sebagai isyarat tak gentar dengan terorisme. Alhamdulillaah Presiden selamat dalam kunjungan 6 jam tersebut, sehingga beberapa pejabat pengiring Presiden bersujud syukur ketika kembali ke pesawat.

Upaya perdamaian di Afghanistan tersebut ditindaklanjuti dengan mengadakan Konferensi Ulama Tiga Negara di Bogor, 11 Mei 2018. Hadir dalam konferensi sehari ini 19 ulama dari Afghanistan, 17 ulama dari Pakistan, dan 17 ulama dari Indonesia, untuk menyusun langkah awal perdamaian di Afghanistan. Ini merupakan tahapan permulaan yang harus dipupuk dan ditumbuh-kembangkan menjadi agenda ulama di Afghanistan dan Pakistan: mengurangi kekerasan dan menegakkan musyawarah sebagai ikhtiar mencari jalan keluar.

Sekitar 10 hari sebelumnya, pada tanggal 1-3 Mei 2018, Indonesia juga menyelenggarakan Konferensi Tingkat Tinggi Islam Washatiyah, atau Islam Pertengahan, di Bogor. Konferensi ini menghadirkan seratusan ulama dari berbagai negara berpenduduk muslim, untuk membahas pentingnya sikap pertengahan sebagai upaya melawan penyelewengan Islam oleh kelompok sempalan yang menghalalkan kekerasan dan kekejian.

Hadirin rahimakumullaah, demikianlah seharusnya yang kita lakukan, kembali kepada ulama, dimulai dari ulama, para pemegang otoritas keagamaan Islam, agar bersama-sama terus menyuarakan Islam Pertengahan, Islam Washatiyah, Islam Moderat, sekaligus sebuah bentuk tanggung jawab kita sebagai umat Islam kebanyakan yang lurus dan tidak menghendaki caci maki, kekerasan, kekejian, baik dalam kata-kata maupun perbuatan.

Di Indonesia, Muhammadiyah menggunakan slogan Islam Berkemajuan, Islam yang mampu beradaptasi dengan kemajuan zaman. Sementara Nahdlatul ‘Ulama memakai semboyan Islam Nusantara, Islam yang mampu beradaptasi dengan budaya masyarakat setempat, selama tak menyimpang dari nilai ketauhidan. Keduanya, di bawah naungan negara bangsa bernama Indonesia, bersama-sama dengan umat Islam lain dan komponen bangsa lain, berhasil membentuk kesejahteraan dan kemakmuran Indonesia, meskipun belum sepenuhnya berhasil dan masih terus diperjuangkan. Namun keindahan hubungan negara, bangsa, dan agama untuk berikhtiar bersama mencapai kemashlahatan umat, patut didengungkan ke negara berpenduduk muslim lain, terutama yang masih mengalami konflik sosial-politik.

Demikianlah uraian tentang sejarah terorisme yang mengatasnamakan Islam dan bagaimana kita sebagai negara bangsa turut berupaya untuk melawannya, dengan cara yang lebih baik. Perlu menjadi catatan penting, bahwa kekerasan atas nama Islam menjadi sorotan saat ini, karena Islam adalah agama yang berkembang paling cepat sekaligus ajarannya yang meyakini sebagai penutup kenabian, memperbaiki agama-agama besar sebelumnya, terutama Yahudi dan Nasrani. Tetapi sejarah kekerasan bukanlah milik Islam sendiri. Seorang pengamat dari Kanada dalam bukunya A World Without Islam atau dalam bahasa Indonesia diterjemahkan menjadi Apa Jadinya Dunia Tanpa Islam menyatakan dalam kesimpulan di antaranya bahwa aksi bom bunuh diri akan tetap terjadi karena bukan Islam yang pertama kali melakukannya.

Semoga Allaah memudahkan kita dalam ikhtiar bersama menebarkan Islam yang ramah, penuh kasih, dan menjadi rahmat bagi semesta alam. Aamiin.

Hikmah dalam Peristiwa Hudaibiyah

Salah satu kejadian penting di masa kehidupan Rasuulullaah Muhammad SAW adalah disepakatinya Perjanjian Hudaibiyah antara kaum muslim dengan kaum musyrik Quraisy di bulan Dzulqa’dah tahun 6 Hijriyah (sekitar 628 Masehi). Betapa penting peristiwa ini dalam sejarah perkembangan Islam, sehingga para ilmuwan pengamat Islam -yang biasnaya kebanyakan dari mereka mengkritik Islam- justru memujinya sebagai langkah diplomasi Nabi SAW yang piawai. Maka hal ini sudah sepantasnya menjadi teladan bagi kita umat Islam dalam melakukan musyawarah dan menyelesaikan masalah. Ingat, Allaah SWT berfirman dalam surat al-Ahzaab ayat 21,

 photo hudaibiyah-1_zpswwnxabqw.png

Hadirin rahimakumullaah, pada awalnya Rasuulullaah SAW berniat melakukan umrah dengan membawa 1.400 / 1.300 / 1.600 orang. Rombongan dari Madinah menampakkan dengan jelas keinginan beribadah dan bukan untuk berperang, dengan deskripsi di antaranya:

  1. tanpa membawa senjata sama sekali atau boleh jadi membawa senjata sebagai bentuk kehati-hatian dalam sebuah perjalanan, tanpa memamerkannya,
  2. membawa 70 ekor unta yang gemuk dan diberi kalung sebagai tanda binatang kurban,
  3. sesudah 10 km dari Madinah, berihram, sebagai isyarat ibadah dengan memakai pakaian tak berjahit, tanpa wewangian, dan
  4. Mengucapkan talbiyah di sepanjang perjalanan.

Ketika rombongan umrah tiba di daerah ‘Asfan, sekitar 80 km dari Mekkah, muncul kabar bahwa kaum musyrik Mekkah telah mengetahui perjalanan Rasuulullaah SAW dan berada di Kura’ al-Ghamim, sekitar 64 km dari Mekkah atau 24 km dari tempat Rasuulullaah SAW mendapat kabar tersebut, untuk menghadang rombongan. Nampaknya, beberapa pertempuran dan peperangan sejak awal hijrahnya Nabi SAW telah mendorong digunakannya jasa mata-mata atau telik sandi untuk mengintai dan memantau pergerakan musuh. Tentu saja tujuannya untuk mencegah pertempuran dan bukan sebaliknya.

Alhasil, rombongan Nabi SAW tetap melanjutkan perjalanan, dengan memilih rute yang berbeda dari biasanya untuk menghindari pertempuran (karena niatnya ibadah umrah): jalannya berliku, sempit, turun-naik, penuh batu-batu keras yang melukai.

Mendekat di daerah Hudaibiyah, unta Nabi SAW berhenti. Para sahabat berkata, al-Qashwaa` telah berhenti untuk meentap di sini. Nabi SAW menjawab perkataan para sahabat dengan bersabda,

 photo hudaibiyah-2_zpsbwgw1gwz.png

Maksud Nabi SAW, yang menghalangi unta beliau melanjutkan perjalanan adalah Allaah, sebagaimana Allaah menghalangi gajah Abrahah menyerang Makkah untuk menghancurkan Ka’bah.

Rasuulullaah SAW dan rombongan kemudian mengambil jalur yang tidak langsung ke Makkah, tetapi menuju ujung Hudaibiyah. Di sana beliau bermarkas, tetapi ternyata airnya sedikit sehingga rombongan kehausan.

Menurut riwayat Imam Bukhari, Rasuulullaah SAW mengambil anak panah dan memerintahkan untuk menusukkannya ke dalam sumur, maka serta merta airnya melimpah. Riwayat lain menyatakan bahwa beliau meminta seteguk air sumur itu, lalu beliau berkumur dengannya, kemudian air yang dikumur itu dimasukkan kembali ke sumur, maka sumur pun melimpahkan air.

Hadirin rahimakumullaah, dari Hudaibiyah inilah Rasuulullaah SAW memulai ikhtiar perdamaian, berusaha meyakinkan tokoh-tokoh Makkah, baik melalui orang-orang netral maupun utusan langsung, bahwa kedatangan rombongan Nabi SAW semata-mata ingin beribadah umrah. Di sisi lain, pihak Makkah pun berusaha meyakinkan sebaliknya, bahwa Rasuulullaah SAW tidak boleh menyentuh Makkah sedikitpun.

Salah satu utusan Rasuulullaah SAW adalah Sayyidinaa ‘Utsman bin ‘Affan RA. Diplomasi yang dilakukan oleh Sayyidinaa ‘Utsman RA ternyata berlangsung cukup lama, sehingga muncul isu bahwa beliau telah dibunuh. Kemudian berlangsunglah Bai’at ar-Ridlwan, sebuah sumpah setia kepada Rasuulullaah SAW, bahwa jika pihak Makkah mengkhianati upaya perdamaian dengan membunuh Sayyidinaa ‘Utsman, maka seluruh rombongan akan setia kepada Nabi SAW untuk menyerang Makkah sampai titik darah penghabisan. Alhamdulillaah, Sayyidinaa ‘Utsman bin Affan kembali ke Hudaibiyah dalam keadaan sehat wal ‘afiyat, sehingga pertumpahan darah dapat dicegah.

Sementara utusan pertama Makkah kepada Nabi SAW adalah Budail bin Warqa` al-Khuza’i. Budail yang melihat langsung keadaan Rasuulullaah SAW dan rombongannya, melaporkan ke Makkah bahwa hanya ibadahlah tujuan Rasuulullaah SAW. Sayangnya Makkah tidak percaya dengan Budail, dengan alasan Budail berasal dari suku Khuza’ah yang selama ini punya hubungan baik dengan keluarga besar Nabi Muhammad SAW.

Utusan kedua pihak Makkah adalah ‘Urwah bin Mas’ud, tokoh dari suku Tsaqif. Terjadi ketegangan dalam berembug namun tak ada kata sepakat. Menariknya, ‘Urwah melaporkan sesuatu yang sangat indah ketika kembali ke Makkah. Diriwayatkan, ‘Urwah berkata

Demi Allaah, aku telah berkunjung ke raja-raja. Aku telah menemui Kaisar (Romawi), Kisra (Persia), Negus (Abbesinia), sungguh aku tidak melihat seorang penguasa yang diagungkan oleh teman-temannya, sebagaimana Muhammad diagungkan.

Utusan dari Makkah berikutnya adalah al-Hullais bin ‘Alqamah. Ketika Nabi SAW melihatnya datang, beliau SAW sampaikan kepada para pendherek beliau,

Orang ini dari kaum yang memiliki rasa keagamaan yang baik. Giringlah unta-unta yang akan dikorbankan agar dia melihatnya.

Sabda Nabi SAW tentang urusan unta ini merupakan salah satu bentuk firasat. Firasat sendiri terdiri dari dua jenis. Jenis pertama, firasat adalah seni memprediksi dengan memanfaatkan pengetahuan: pengumpulan data, pengalaman, dan perkiraan ilmiah lain. Firasat jenis ini di dunia ilmu pengtahuan biasa dinamai dengan istilah seperti perkiraan, proyeksi, prediksi, atau pemodelan. Perkiraan cuaca, misalnya, dilihat dari foto udara dari satelit, suhu, kelembapan udara, arah angin, dan lain sebagainya. Ini adalah jenis firasat yang didapat atas ikhtiar manusia.

Jenis kedua adalah firasat yang langsung berasal dari Allaah SWT, kepada siapapun yang dikehendaki oleh Allaah SWT. Dalam konteks firasat ini, Nabi SAW juga bersabda

 photo hudaibiyah-3_zpsfuk5n7qf.png

Sungguh tepat firasat Nabi SAW tersebut tentang bagaimana menghadapi utusan Makkah, Hullais. Sayangnya, ketika Hullais kembali ke Makkah dan melaporkan ke kaum Quraisy, Hullais justru diejek, diremehkan, dan disepelekan. Bahkan kaum Quraisy yang mengutus Hullais dengan kasar mengatakan, duduk sajalah! Engkau tidak lain kecuali penduduk gunung yang tidak mengerti!

Tokoh-tokoh kaum Quraisy ini meremehkan Hullais, tapi di saat yang sama tidak berani menyerang Nabi SAW secara langsung, karena khawatir dikecam masyarakat luas bahwa mereka menyerang rombongan yang mau beribadah. Masyarakat Makkah penentang Nabi SAW saat itu berada dalam kondisi terjepit.

Utusan dari Makkah berikutnya adalah Mukriz bin Hafsh yang juga gagal dan utusan terakhir adalah Suhail bin ‘Amr.

Tentang Suhail bin ‘Amr tersebut, ada pelajaran penting tentang optimisme dari Nabi SAW. Ketika Nabi SAW melihat Suhail dikirim sebagai utusan, optimisme Nabi SAW meningkat. Kemunculan optimisme baru ini karena nama “Suhail” yang seakar dengan sahl, yang maknanya mudah. Nabi SAW pernah bersabda,

 photo hudaibiyah-4_zps0yldf5fb.png

Nabi Muhammad SAW seringkali menjadikan kalimat yang indah atau nama sesuatu yang baik yang Beliau SAW dengar atau temui sebagai sarana menumbuhkan optimisme. Tetapi tidak dengan sebaliknya, ketika menjumpai nama yang buruk kemudian menjadikannya sebagai sumber pesimisme. Nabi SAW juga bersabda,

 photo hudaibiyah-5_zpsa9xkwbrp.png

Demikianlah, kalimat yang indah, atau nama yang baik, dijadikan Rasuulullaah SAW sebagai penopang optimisme, yang memang sudah seharusnya selalu menghiasi jiwa seseorang, apapun yang terjadi. Perlu diperhatikan bahwa penopang optimisme tersebut diartikan sebagai sebuah peningkatan atas usaha yang sedang berlangsung, serta tidak boleh dimaknai bahwa kalimat tersebut, nama tersebut, atau apapun yang mendatangkan optimisme tersebut, secara mandiri mampu mendatangkan manfaat maupun mudlarat. Sumber segala manfaat adalah dari Allaah SWT, begitupun dengan mudlarat yang hadir atas seizin Allaah sebagai ujian. Manusia sendiri wajib untuk berikhtiar dan kemudian disempurnakan dengan kepasrahan kepada Allaah SWT perihal hasil akhirnya.

Nah, sepanjang 19 atau 20 hari di Hudaibiyah tersebut telah banyak utusan silih berganti hadir kedua belah pihak, namun belum ada titik terang. Begitu Suhail datang, bersabdalah Nabi SAW tentang optimisme tersebut.

Hadirin rahimakumullaah, setelah perundingan yang tak kalah alot dan penuh perdebatan, akhirnya disepakati sebuah perjanjian yang dalam sejarah Islam dikenal sebagai Perjanjian Hudaibiyah. Isi perjanjian tersebut secara ringkas adalah:

  1. Gencatan senjata selama 10 tahun. Tak boleh permusuhan dan tindakan buruk satu sama lain selama periode tersebut.
  2. Siapapun dari kaum musyrik yang datang ke Nabi SAW (menjadi muslim) tanpa izin keluarga, harus dikembalikan ke Makkah. Tetapi jika sebaliknya (dari muslim kembali ke kaum musyrik), maka tidak akan dikembalikan ke Nabi SAW.
  3. Diperkenankan siapa saja dari suku-suku Arab untuk mengikat perjanjian damai dan menggabungkan diri kepada salah satu pihak (Makkah atau Nabi SAW).
  4. Tahun ini belum boleh memasuki Makkah. Tahun depan boleh masuk Mekkah dengan syarat hanya mukim tiga hari dan tanpa senjata kecuali pedang yang disarungkan.
  5. Perjanjian diikat atas dasar ketulusan dan kesediaan penuh untuk melaksanakannya, tanpa penipuan atau penyelewengan.

Meskipun Perjanjian Hudaibiyah secara sekilas nampak seperti kegagalan umat Islam, bahkan sempat muncul suara ketidak-puasan dari para sahabat, di mana salah satunya adalah dialog antara Rasuulullaah SAW dengan Sayyidinaa ‘Umar bin Khaththab, sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Bukhari,

Sayyidinaa ‘Umar RA : Bukankah engkau benar-benar Rasuulullaah?

Rasuulullaah SAW      : Benar aku adalah Rasuulullaah SAW.

Sayyidinaa ‘Umar RA : Bukankah kita dalam kebenaran dan musuh kita dalam kebatilan?

Rasuulullaah SAW      : Benar. Kita dalam kebenaran.

Sayyidinaa ‘Umar RA : Kalau demikian, mengapa kita menerima sesuatu yang rendah menyangkut agama kita?

Rasuulullaah SAW      : Aku adalah Rasul Allaah. Aku tidak akan mendurhakai-Nya. Dia adalah Penolong/Pembelaku.

Sayyidinaa ‘Umar RA : Bukankah engkau pernah menyampaikan kepada kami bahwa kita akan melakukan thawaf di Ka’bah?

Rasuulullaah SAW      : Benar! Tapi, apakah aku menyatakan bahwa itu tahun ini?

Sayyidinaa ‘Umar RA : Memang engkau tidak menyatakan bahwa itu tahun ini.

Rasuulullaah SAW      : Sungguh, yakinlah bahwa engkau akan berkunjung dan thawaf di sana.

Dialog ini wajar terjadi karena suasana psikologis 1.400-an orang yang sangat optimis dapat umrah, namun tertunda. Mempertanyakan adalah logis, walaupun akhirnya ketaatan kepada Rasuulullaah SAW adalah pilihan terbaik. Pada akhirnya, demikian pula yang dilaksanakan oleh ribuan umat Islam dalam rombongan yang dipimpin oleh Nabi SAW.

Mengapa para sejarawan internasional justru memandang perjanjian ini sebagai langkah diplomasi Nabi SAW yang piawai? Karena berhasil memaksa orang Quraisy yang selama ini memandang rendah umat Islam untuk duduk setara, sama tinggi dan sejajar, mengadakan sebuah perjanjian.

Hadirin rahimakumullaah, ada beberapa pelajaran penting sepanjang peristiwa Hudaibiyah ini. Di antaranya adalah pentingnya mendahulukan musyawarah, mengutamakan perdamaian, melancarkan berbagai strategi, dalam melawan musuh. Lebih dari itu, jika kepada musuh yang mengancam secara fisik saja musyawarah dan perdamaian mencari solusi didahulukan, maka sudah seharusnya, perbedaan-perbedaan dengan sesama anak bangsa atau sesama umat Islam diselesaikan dengan sebaik-baiknya, tanpa caci maki, fokus pada jalan keluar, tanpa pertentangan dan permusuhan.

Semoga Allaah berkenan meneguhkan hati kita, untuk selalu menjadi umat Islam yang penuh perdamaian dalam upaya-upaya mewujudkan kemashlahatan umat manusia. Aamiin.

Menjalin Persaudaraan Antar-manusia

Disampaikan dalam Khatbah Idul Fitri 25 Juni 2017 di Dusun Pragak-Bendorejo, Semanu, Gunungkidul. Teks lengkap dalam format pdf (termasuk muqaddimah dan doa penutup beserta maknanya dalam bahasa Indonesia) dapat diunduh di sini.

Jamaah Shalat ‘Idul Fitri yang dimuliakan Allaah SWT, alhamdulillaah, segala puji hanya pantas dimiliki oleh Allaah Ta’aala, yang masih berkenan memberikan kepada kita kenikmatan agung untuk bertemu kembali dengan Ramadlan, menyelesaikan Ramadlan, dan bertemu di Hari Raya Kemenangan yang penuh dengan keberkahan ini. Shalawat serta salam semoga tetap dan terus tercurahkan kepada Nabi Muhammad SAW, beserta keluarga, sahabat, serta, pengikut beliau, insya-Allaah termasuk kita semua. Aamiin, allaahumma aamiin.

Hadirin rahimakumullaah.

Nikmat pertemuan dengan Ramadlan harus benar-benar kita syukuri, agar Allaah Ta’aala melipat-gandakan nikmat tersebut, yakni semoga memberikan kesempatan kepada kita untuk bertemu dengan Ramadlan-Ramadlan di tahun berikutnya. Sesuai dengan firman Allaah Ta’aala yang masyhur tentang bersyukur (QS Ibrahim ayat 7),

Sama halnya dengan dua nikmat lain, yang kita kebanyakan lupa dan terlena, karena kehadiran nikmat tersebut yang berlangsung hampir setiap saat. Kanjeng Nabi SAW bersabda (HR at-Thabrani dari Ibnu ‘Abbas),

Dalam berbagai kesempatan, di setiap Ramadlan dan sesudahnya, saya selalu mengingatkan betapa aman dan nyamannya kita beribadah sebagai umat Islam di Indonesia. Kadang nikmat ini, yakni termasuk nikmat keamanan sebagaimana Nabi SAW sampaikan, lupa untuk kita syukuri.

Munculnya peledakan di Kampung Melayu yang diklaim didalangi oleh ISIS sudah sepantasnya meningkatkan kewaspadaan kita terhadap nikmat keamanan, yang jangan-jangan kita lupa mensyukurinya. Mari kita bercermin pula pada munculnya ISIS di Filipina, negara yang sangat dekat dengan Indonesia. Pun dengan berbagai persitiwa yang diklaim didalangi oleh ISIS lainnya di berbagai belahan dunia: peledakan bom di Baghdad (Irak) dan Kabul (Afghanistan), serangan mematikan di London (Inggris).

ISIS adalah ancaman nyata bagi umat Islam, karena pada nyatanya korban terbesar kekejian mereka selama ini adalah umat Islam sendiri. Irak dan Afghanistan adalah negeri kaum muslimin. Sementara di London, serangan yang secara kurang ajar mengatas-namakan Islam tersebut berakibat pada dilecehkannya beberapa saudara kita sesama muslim di sana, yang dianggap sama dengan ISIS.

Ketika mereka terdesak di Timur Tengah, ISIS mencari cara lain untuk menyebarkan ajaran sesatnya: melalui kelompok-kelompok radikal di luar Timur Tengah. Sayangnya, ada sebagian putra bangsa Indonesia yang justru menganggapnya ancaman nyata ini sebagai rekayasa semata.

Hadirin sekalian, yang insya-Allaah penuh dengan curahan rahmat Allaah SWT, pada pagi hari ini kita akan bersama-sama sedikit membahas apa perbedaan Islam yang sesungguhnya dengan ajaran sesat semacam ISIS. Kalau ISIS membunuh setiap yang berbeda dengan mereka, bahkan sesama muslim pun mereka bunuh karena berbeda pandangan, maka Islam yang sesungguhnya tidak demikian. Islam yang sesungguhnya justru mewujudkan persaudaraan antar-sesama manusia, bukan hanya sesama muslim saja.

Salah satu faktor penunjang utama dalam menegakkan persaudaraan di antara umat manusia adalah adanya persamaan. Persamaan rasa dan cita –cita merupakan faktor dominan yang mendahului lahirnya persaudaraan hakiki, dan pada akhirnya menjadikan seseorang merasakan derita saudaranya, mengulurkan tangan sebelum diminta, serta memperlakukan saudaranya bukan atas dasar take and give (memberi dan menerima), bukan atas dasar aku memberi orang lain apa, dapat imbal balik apa, sebagaimana orang berdagang, tetapi justru

Keberadaan manusia sebagai makhluk sosial, perasaan tenang dan nyaman pada saat berada di antara sesamanya, dan dorongan kebutuhan ekonomi merupakan faktor-faktor penunjang yang akan melahirkan rasa persaudaraan.

Hadirin rahimakumullaah.

Untuk memantapkan persaudaraan, Al-Quran menggarisbawahi bahwa perbedaan adalah hukum yang berlaku dalam kehidupan ini. Selain perbedaan tersebut merupakan kehendak Ilahi, juga demi kelestarian hidup, sekaligus demi mencapai tujuan kehidupan makhluk di pentas bumi.

Seandainya Tuhan menghendaki kesatuan pendapat, niscaya diciptakan-Nya manusia tanpa akal budi seperti binatang atau benda-benda tak bernyawa yang tidak memiliki kemampuan memilah dan memilih, karena hanya dengan demikian seluruhnya akan menjadi satu pendapat.

Dari sini, seorang Muslim dapat memahami adanya pandangan atau bahkan pendapat yang berbeda dengan pandangan agamanya, karena semua itu tidak mungkin berada di luar kehendak Ilahi. Allaah berfirman,

Sungguh, tidak pantas bagi kita untuk memaksakan kehendak agar semua manusia mau menjadi orang yang beriman. Karena demikianlah Allaah yang gariskan bagi kita, untuk menjadi pelajaran dan pembeda, mana yang taat dan mana yang tidak taat.

Lebih dari itu, untuk menjamin terciptanya persaudaraan dimaksud, Allah SWT memberikan beberapa petunjuk sesuai dengan jenis persaudaraan yang diperintahkan, baik kaitannya dengan persaudaraan secara umum maupun persaudaraan seagama Islam.

  1. Untuk memantapkan persaudaraan pada arti yang umum, Islam memperkenalkan konsep khalifah. Manusia diangkat oleh Allah sebagai khalifah (wakil Allaah di muka bumi). Kekhalifahan menuntut manusia untuk memelihara, membimbing, dan mengarahkan segala sesuatu agar
    mencapai maksud dan tujuan penciptaannya. Karena itu, Nabi Muhammad SAW melarang memetik buah sebelum siap untuk dimanfaatkan, memetik kembang sebelum mekar, atau menyembelih binatang yang terlalu kecil. Nabi Muhammad SAW Juga mengajarkan agar selalu bersikap bersahabat dengan segala sesuatu sekalipun terhadap benda tak bernyawa.

Kaitannya dengan tugas sebagai wakil Allaah di muka  bumi, Allaah Ta’aala mengajarkan kita nama-nama benda semuanya atau dapat ditafsirkan sebagai penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi, Allaah berfirman di dalam surat al-Baqarah ayat 31,

Al-Quran menggunakan istilah pengajaran dari Allaah, dan tidak mengenal istilah “penaklukan alam”, karena secara tegas Al-Quran menyatakan bahwa yang menaklukkan alam untuk manusia adalah Allah (QS 45: 13). Secara tegas pula seorang Muslim diajarkan untuk mengakui bahwa ia tidak mempunyai kekuasaan untuk menundukkan sesuatu kecuali atas penundukan Ilahi. Sehingga, termasuk saat berkendaraan seorang Muslim dianjurkan membaca,
 photo menjalin-7_zps9jsvs4gn.png
Hadirin rahimakumullaah.

  1. Untuk persaudaraan antarpemeluk agama, Islam mengajarkan ajaran,

 photo menjalin-8_zpsucfj2lzr.png
Al-Qur`an juga menganjurkan agar kita mencari titik singgung dan titik temu antar-pemeluk agama, serta apabila tidak ditemukan persamaan hendaknya masing-masing mengakui keberadaan pihak lain, tidak perlu saling menyalahkan.
menjalin-9
Ayat tersebut mendorong adanya titik temu dan titik singgung di antara agama-agama, yakni keimanan kepada Allaah yang murni atau ketauhidan. Ketika ketauhidan tak tercapai menjadi kesepakatan bersama, maka kembali ke ajaran agama masing-masing, dengan tetap saling menghormati satu sama lain.

Selain itu, ada titik temu dan titik singgung lain di antara semua agama dan peradaban, yang sering kita sebut dengan kebaikan universal.

Semua agama menganggap perbuatan mencuri sebagai keburukan, maka bersama-sama antar-pemeluk agama memberantas korupsi adalah bentuk nyata persaudaraan antar-umat beragama.

Semua agama menganggap perbuatan berbagi harta kepada yang orang miskin sebagai kebaikan, maka bersama-sama antar-pemeluk agama, berikhtiar membantu mengentaskan kemiskinan adalah bentuk nyata persaudaraan antar-umat beragama.

Alangkah indahnya, jika persaudaraan antar-manusia, antar-pemeluk beragama mampu mewujudkan kemuliaan tersebut, setidaknya dalam memberantas kejahatan korupsi dan pengentasan kemiskinan di Indonesia kita tercinta.

Hadirin rahimakumullaah.

Persaudaraan antara Muslim dengan non-Muslim sama sekali tidak dilarang oleh Islam, selama pihak lain menghormati hak-hak kaum Muslim. Allaah Ta’aala berfirman di dalam surat al Mumtahanah [60] ayat 8:
menjalin-10
Ayat ini turun berkenaan dengan Asma’ binti Sayyidinaa Abu Bakar RA yang tidak mau menerima hadiah dari ibunya karena saat itu ibunya belum memeluk Islam. Allaah Ta’aala ingatkan perbuatan tersebut dengan ayat ini: kepada yang tidak seagama, tak ada larangan berbuat baik, berbuat adil, termasuk memberikan sebagian harta, selama tidak memusuhi karena agama atau mengusir dari tanah air/kampung halaman.

Begitu pula ketika salah seorang sahabat Nabi SAW yang pada mulanya telah terbiasa memberikan bantuan kepada non-Muslim, bermaksud menghentikan bantuan tersebut. Alasannya, dengan dihentikannya bantuan, dia yang biasa diberi akan membutuhkannya, mencari dirinya, dan kemudian mau memeluk Islam.

Maksud para sahabat ini dengan tegas dilarang, melalui al-Qur`an surat al-Baqarah ayat 272,
menjalin-11
Dengan kata lain, ayat ini adalah tamparan bagi kita semua, karena seolah Allaah mengingatkan kita semua: Janganlah mengaitkan hadiah atau bantuan dengan keimanan dan kekufuran, tetapi pemberian itu semata demi persaudaraan atau kemanusiaan.

Hadirin rahimakumullaah.

  1. Untuk memantapkan persaudaraan antar-sesama Muslim, al-Qur`an pertama kali menggarisbawahi perlunya menghindari segala macam sikap lahir dan batin yang dapat mengeruhkan hubungan di antara sesama muslim.

Setelah menyatakan bahwa orang-orang Mukmin bersaudara, dan memerintahkan untuk melakukan ishlah (perbaikan hubungan) jika seandainya terjadi kesalahpahaman di antara dua orang (kelompok) kaum Muslim, Al-Quran memberikan contoh-contoh penyebab keretakan hubungan sekaligus melarang setiap Muslim melakukannya,
menjalin-12
Ayat berikutnya di surat yang sama, al-Hujurat 12, memerintahkan orang Mukmin untuk menghindari prasangka buruk, tidak mencari-cari kesalahan orang lain, serta melarang menggunjing, yang diibaratkan oleh al-Quran bagaikan memakan daging saudaranya sendiri yang telah meninggal dunia. Pada umumnya contoh-contoh tersebut berkaitan dengan sikap kejiwaan, atau tercermin misalnya dalam hadis Nabi SAW yang diriwayatkan oleh keenam ulama hadis, kecuali An-Nasa’i, melalui Abu Hurairah,
menjalin-13
Mengapa Allaah Ta’aala perintahkan sikap-sikap yang berkaitan dengan kondisi kejiwaan? Karena sikap batiniahlah yang melahirkan
sikap lahiriah. Lisan yang suka berkata kotor, muncul karena di dalam hatinya tersimpan kumpulan kekotoran. Tangan, wajah, dan kaki yang diarahkan kepada aktivitas keji dan kejam, sungguh karena di dalam hatinya terkumpul tumpukan kekejian dan kekejaman yang sama. Maka Islam menegaskan: perbaiki sikap kejiwaanmu, maka kesungguhanmu memperbaiki hati, akan tercermin di lisan dan perbuatanmu.

Hadirin rahimakumullaah.

Demikianlah uraian persaudaraan yang dianjurkan dalam Islam menurut al-Qur`an, baik persaudaraan secara umum, persaudaraan kepada non-Muslim, serta persaudaraan dengan sesama Muslim. Sebagai penutup, akan kami sampaikan beberapa hadits Nabi SAW yang mendorong persaudaraan antarmanusia.

Nabi SAW menekankan pentingnya misi kemanusiaan dalam Islam, melalui sabda beliau (HR ath-Thabrani),
menjalin-14
Di sabda Nabi SAW yang lain, terdapat sebuah hadits yang bermakna sama, bahkan ditambah dengan perintah lain yang lebih indah. Beliau SAW bersabda (HR Baihaqi),
menjalin-15
Inilah indahnya Islam yang sesungguhnya, bahwa sesudah iman kepada Allaah, maka wujud nyata keimanan harus ditujukan kepada sesama makhluk, terutama manusia, yang bahkan kepada mereka yang durjana pun, kita diperintahkan untuk berbuat baik.

Hadirin rahimakumullaah.

Mengapa berbuat buruk kepada pendosa dilarang? Mengapa mencaci seseorang yang berbuat dosa dilarang? Sebagaimana dikisahkan sebuah hadis (HR al-Bukhari dari Abu Hurairah RA), bahwa seorang laki-laki yang menenggak minuman keras dihadapkan kepada Nabi Muhammad SAW, Abu Hurairah berkata,
menjalin-16
Menghukum seseorang sesuai dengan norma yang berlaku itu harus. Tetapi mencaci-maki sang pelanggar atau mengutuk hingga melaknatnya, sungguh dilarang oleh Nabi Muhammad SAW. Bahkan oleh Nabi SAW disamakan dengan memberikan pertolongan kepada setan!

Mengapa demikian? Karena tujuan syaithan menggoda manusia adalah untuk menjerumuskan kita kepada neraka; sehingga ketika kita sebagai manusia melakukan laknat kepada sesama manusia, mengutuk sesama manusia agar Allaah membenci, bahkan berharap para pendosa masuk ke neraka, apa bedanya kita dengan syaithan? Inilah maksud Nabi Muhammad SAW dengan memberikan pertolongan kepada syaithan.

Hadirin rahimakumullaah.

Nabi Muhammad SAW bersabda (HR ad-Dailami dari ‘Aisyah),

menjalin-17

Inilah tugas kita dalam ikhtiar bersama menjadi wakil Allaah Tabaraka wa Ta’aala di muka bumi: mengajak manusia ke arah yang lebih baik dengan kata-kata, teladan, dan doa, dengan penuh kelembutan sebagai bentuk implementasi rasa cinta kepada sesama manusia. Bahkan kelembutan pada manusia sama fardlunya dengan kewajiban-kewajiban lain di dalam agama.

Tentu saja, tidak ada paksaan dari kita, apakah yang kita ajak mau ikut atau tidak. Bagaimanapun juga, datangnya hidayah, hadirnya petunjuk ke dalam hati seorang manusia bukan di tangan kita, tapi sepenuhnya merupakan kuasa Allaah SWT. Bahkan Nabi Muhammad SAW-pun tidak berhasil membuat pamannya Abu Thalib mengucapkan dua kalimat persaksian hingga akhir hayatnya.

Dengan demikian, bertemunya rasa cinta kepada sesama manusia dan kelembutan dakwah di dalam Islam, hendaknya akan menghindarkan kita dari siksa Allaah Ta’aala di dunia maupun akhirat, sebagaimana Allaah ingatkan (QS an-Nuur ayat 19),

menjalin-18

Semoga Allaah memberikan kekuatan kepada kita untuk istiqamah berada di jalan cinta dan kelembutan dalam menjalankan Islam, Islam yang rahmatan lil-‘aalamiin, sehingga terwujudlah kondisi sosial masyarakat yang aman, damai, tenteram, dan penuh dengan keberkahan dari Allaah SWT.

Khatbah Kedua

Di khotbah kedua ini, mari kita tutup bersama rangkaian ibadah pada pagi hari ini dengan berdoa kehadirat Allaah Tabaraka wa Ta’aala. Memohon agar Allaah berkenan menerima segenap amal ibadah kita di Ramadlan tahun ini dan mempetemukan kita kembali dengan Ramadlan berikutnya. Memohon agar Allaah memudahkan setiap langkah kita untuk menjadi pribadi yang lebih baik dan khususnya dalam mendidik keluarga kita. Memohon agar Allaah selalu meneguhkan hati kita untuk berada di jalan yang lurus.

Dan tidak lupa, semoga Allaah Ta’aala melindungi negeri muslim terbesar di dunia, Indonesia kita tercinta, dari berbagai bencana alam dan konflik sosial, terutama ancaman-ancaman global yang mencoba mengusik kenyamanan bangsa kita sebagai negeri muslim yang penuh kedamaian.

Menteri Pertahanan RI menyatakan ada 29 kelompok di Indonesia yang merupakan bagian dari ISIS. Sementara Panglima TNI menyatakan, sel-sel ISIS berada di 16 lokasi di Indonesia. Kelompok-kelompok ini, sekarang belum bisa ditindak, karena belum melakukan kejahatan nyata, karena memang tidak memiliki sumber daya yang cukup untuk melakukannya. Tetapi mereka selalu standby, selalu siaga, jika ada perintah untuk bertindak.

Ikhtiar kita adalah menolak ajaran mereka, yakni senantiasa menggalang persaudaraan, menjauhi prasangka dan melakukan tabayyun terhadap berbagai informasi yang berseliweran, serta waspada apabila ada ajaran atas nama Islam yang menggunakan ekspresi kebencian dan kekejian dalam menyikapi perbedaan. Selebihnya, pada saat ini, mari kita berdoa, mohon perlindungan dari Allaah SWT.

DOA PENUTUP

Rektor UGM: Ketakwaan dan Pendidikan untuk Kesejahteraan NKRI

“Korea yang kemerdekaannya hanya selisih beberapa hari dengan Indonesia, yang kemiskinannya saat itu hampir sama dengan Indonesia, yang kekayaan alamnya lebih sedikit dari Indonesia, saat ini lebih maju daripada Indonesia. Begitu pula dengan Singapura atau Finlandia atau Jepang. Mengapa demikian? Karena Korea, selain memiliki semangat luar biasa, juga mempunyai sistem pendidikan yang bagus dan etos kerja yang tinggi.”

Demikian sambutan Rektor Universitas Gadjah Mada (UGM), Prof. Ir. Panut Mulyono, M. Eng., D. Eng. dalam acara Buka Bersama Forum Komunikasi Dosen dan Mahasiswa Nahdlatul Ulama (NU) UGM yang diselenggarakan hari ini, 26 Mei 2018, di Masjid al-Ihsan Fakultas Kehutanan UGM.

IMG_9346

IMG20180526165612

Acara ini dihadiri pula oleh Wakil Ketua Umum Pengurus Besar NU yang juga Guru Besar Fakultas Teknologi Pertanian UGM, Prof. Dr. Ir. Mochammad Maksum Machfoedz, M. Sc., dosen, dan mahasiswa UGM, termasuk dari organisasi mahasiswa NU UGM tingkat D3 dan S1 (Keluarga Mahasiswa NU UGM atau KMNU UGM) serta tingkat S2 dan S3 (Forum Silaturahmi Mahasiswa Pasca NU UGM).

Selanjutnya Prof. Panut juga mengajak agar mahasiswa NU UGM terus menempuh pendidikan setinggi-tingginya sesuai dengan kemampuan masing-masing sekaligus memiliki determinasi, seperti konsep “PBNU” (Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, NKRI, dan UUD 1945). “PBNU” sendiri, menurut Prof. Panut, merupakan modal terbesar bagi bangsa Indonesia, sehingga masyarakat dan warga negara tinggal menjalankannya.

“Kekayaan alam bukan segalanya, tetapi pendidikanlah yang memajukan sebuah bangsa. Pendidikan sungguh bisa mengubah dunia. Ajak adik, saudara, dan teman dari pesantren untuk mendaftar ke UGM. Kita sepakat bahwa “PBNU” sudah final, walaupun masih belum sempurna pelaksanaannya. Maka menjadi tugas kalian semua di masa mendatang untuk menjalankan negara Indonesia dengan benar, agar lebih maju dan sejahtera”, kata Prof. Panut.

IMG_0020

IMG_0002

Sementara berkaitan dengan hikmah puasa, Rektor UGM mengingatkan kembali bahwa ketakwaan yang dituju dapat menyempurnakan ilmu dan pendidikan, karena ketakwaan dapat mencegah dari berbagai perbuatan tidak baik.

“Sayangnya, kita semua, kadang menilai takwa hanya sekedar dengan timbangan. Merasa berbuat baik cukup banyak, kemudian berani berbuat kurang baik dengan alasan masih berat perbuatan baiknya. Ini evaluasi kita bersama tentang kualitas ketakwaan kita.”

Sebagai penutup sambutannya, Rektor UGM yang merupakan Guru Besar Fakultas Teknik UGM juga menekankan optimismenya terhadap masa depan Indonesia.

Prof. Panut berpesan, “Saya yakin seyakin-yakinnya, masa depan Indonesia itu sangat cerah. Saya menyaksikan kebaikan, cita-cita, dan rasa persatuan yang tinggi di mata para mahasiswa. Tinggal bagaimana sikap ini menjadi dominan”.

Acara kemudian ditutup dengan doa bersama, buka puasa, dan salat Maghrib berjamaah.

IMG20180526180759

IMG_9426

Menggapai Bahagia Akhirat dengan Rahmat Allaah

(Disampaikan dalam beberapa majelis tarawih, subuh, buka bersama, khatbah jumat, dan syawalan di tahun 2017)

Allaah Tabaraka wa Ta’aala berfirman di dalam QS al-Bayyinah ayat 7,

Sesungguhnya orang-orang yang beriman (secara benar) dan (membuktikan kebenaran iman mereka) dengan mengerjakan amal-amal shaleh, mereka itulah sebaik-baik makhluk.

Allaah Tabaraka wa Ta’aala dengan kemurahannya, memberikan kesempatan kepada kita untuk berbuat kebaikan, sebagai bekal di akhirat. Sesudah menjelaskan keutamaan orang beriman yang membuktikan keimanannya dengan beramal salih, beramal kebajikan, sebagai khoyrul bariyyah, sebaik-baik makhluk, di dalam al-Bayyinah ayat 7, Allaah berjanji akan mengganjarnya, membalasnya dengan surga pada ayat 8,

Balasan mereka di sisi Tuhan Pemelihara mereka ialah surga-surga ‘Adn yang di bawahnya mengalir sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allaah ridla kepada mereka dan mereka pun ridla kepada-Nya. Yang demikian itu adalah (ganjaran) bagi orang yang takut kepada Tuhan Pemeliharanya.

Frase ridla Allaah kepada mereka (radliyallaahu ‘anhum) tercermin dalam keberadaan hamba itu di tempat dan situasi yang dikehendaki Allaah, yakni di surga. Sedangkan mereka pun ridla kepada-Nya (wa radlu-‘anhu) bermakna bahwa hati mereka, hamba Allaah, yang tidak merasa keruh atau tidak enak menerima ketetapan Allaah, apapun bentuknya.

Ada beberapa hal kunci di dalam kedua ayat tersebut, kaitannya dengan kehidupan akhirat, yakni iman, amal shaleh, ridla Tuhan, dan rasa takut kepada Tuhan. Kita akan membahas sedikit saja tentang amal shaleh, ridla Tuhan, dan rasa takut kepada Tuhan.

Hadirin rahimakumullaah.

Kanjeng Nabi Muhammad SAW menyampaikan firman Allaah dalam sebuah Hadits Qudsi. Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim, dengan perbedaan dalam beberapa redaksi atau pilihan kata. Menurut riwayat Imam Bukhari, hadits tersebut berbunyi,

Dari Ibnu ‘Abbas RA, dari Nabi SAW, yang meriwayatkan dari Tuhannya ‘Azza wa Jalla, beliau SAW bersabda, Sesungguhnya Allaah SWT telah menetapkan semua kebaikan dan keburukan,

Kemudian menjelaskannya sebagai berikut, barangsiapa ingin berbuat (merencanakan) kebaikan tetapi tidak jadi (dapat) melakukannya, Allaah akan mencatat (menetapkan pahala) untuknya satu kebaikan yang sempurna; apabila seseorang ingin berbuat kebaikan lalu dapat melaksanakannya, Allaah mencatat (membalas) kebaikan tersebut dengan sepuluh kebaikan di sisi-Nya, (dan melipatkannya) sampai 700 kali lipat hingga kelipatan yang sangat banyak,

Dan barangsiapa yang ingin berbuat keburukan (dosa), tetapi tidak jadi melakukannya, Allaah akan mencatat baginya satu kebaikan yang sempurna di sisi-Nya; apabila seseorang ingin berbuat keburukan (dosa) lalu benar-benar melakukannya, Allaah akan mencatatnya sebagai satu keburukan untuknya.

Di dalam hadits tersebut, perbuatan yang akan dilakukan oleh seorang manusia dibahasakan dengan menggunakan hamma, yang artinya kurang lebih adalah ingin berbuat atau berhasrat. Di dalam hadits yang bersumber dari Abu Hurairah RA, digunakan kata araada, yang maknanya kehendak. Keduanya, hamma maupun araada, merupakan tahap yang sama sebelum terwujudnya suatu perbuatan. Para ulama seperti Imam Ahmad, Imam Nawawi, dan al-Qaadlii ‘Iyaadl, menyatakan tentang al-hamm atau hasrat yang tidak dinilai dosa adalah lintasan pikiran yang belum menetap di dalam jiwa, serta belum disertai ikatan, niat, dan ‘azam atau tekad.

Dari hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu ‘Abbas dan Abu Hurairah di atas, disimpulkan ada lima hukum yang muncul,

  1. Orang yang berkeinginan / berkehendak berbuat baik, tetapi urung melakukannya,
  2. Orang yang berkeinginan / berkehendak berbuat baik, lalu melakukannya,
  3. Orang yang berkeinginan / berkehendak berbuat buruk (dosa), tetapi urung melakukannya karena takut kepada Allaah SWT,
  4. Orang yang berkeinginan / berkehendak berbuat buruk (dosa) tetapi urung melakukannya karena tidak memiliki potensi untuk mewujudkannya,
  5. Orang yang berkeinginan / berkehendak berbuat buruk (dosa), lalu melakukannya.

Hadirin rahimakumullah.

Bagi sebuah niat yang teriring dengannya tekad dalam sebuah perbuatan baik, tetapi urung karena satu dan lain hal, Allaah Ta’aala dengan kemurahan dan rahmat-Nya, menghitungnya sebagai sebuah perbuatan baik yang terjadi dengan sempurna (hasanatan-kaamilah).

Kemudian, apabila niat baik tersebut dibarengi dengan tekad dan ikhtiar nyata sehingga terwujud, Allaah lipat-gandakan kebaikan tersebut. Bisa 10 kali lipat (‘asyra hasanat), bisa 700 kali lipat (sab’i mi-ati dli’-fin), hingga tak terbatas (adl-‘aafin katsiirah). Berkaitan dengan hadits lain yang serupa, yakni tentang pelipat-gandaan pahala, Al-Hafizh Ibnu Hajar di dalam Fathul-Baari menyampaikan bahwa,

Hal ini mengisyaratkan bahwa kelipatan pahala amal baik itu sampai sepuluh. Inilah yang menjadi patokan. Adapun kelipatan melebihi sepuluh dimungkinkan sesuai dengan kualitas keikhlasan, kebenaran niat, penghayatan dalam hati, dan terwujudnya manfaat, seperti sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, keteladanan yang baik, kemuliaan amal kebajikan, dan lain sebagainya.

Itulah kemurahan Allaah Ta’aala bagi kita yang mau membiasakan diri untuk berniat baik sekaligus berikhtiar terus menerus untuk mewujudkannya. Bagaimana dengan niat untuk berbuat buruk?

Urung melakukan perbuatan buruk yang sempat terbersit di dalam benak boleh jadi disebabkan karena dua hal, (1) emosi sesaat tapi kemudian ingat dan takut kepada Allaah, atau (2) sudah menjadi tekad yang bulat, namun tidak ada potensi di sekelilingnya yang mendukung perbuatan buruk tersebut.

Jika perbuatan buruk urung terwujud karena ingat dan takut kepada Allaah Ta’aala, boleh jadi akan terhitung sebagai sedekah. Hal ini sesuai dengan hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim dari Abu Musa al-Asy’ari,

Nabi SAW bersabda, “Setiap Muslim wajib bersedekah”.

Para sahabat bertanya, “Bagaimana menurut Baginda, apabila dia tidak memiliki sesuatu (untuk disedekahkan)?

Nabi SAW menjawab, “Hendaknya dia menahan diri dari perbuatan buruk, hal itu dicatat sebagai sedekah untuknya”.

Bagaimana tentang perbuatan buruk yang urung terjadi selain karena takut kepada Allaah? Ulama hadits Syaikh Muhammad ‘Awwamah menjelaskan,

Bagi orang yang mengurungkan keinginan jahatnya karena faktor selain takut kepada Allaah, pahalanya lebih sedikit dibandingkan oleh perasaan takut kepada Allaah. Sebab, dalil yang sahih menunjukkan keutamaan bagi hamba yang memiliki rasa takut kepada Allaah ketika mengurungkan niat jahatnya.

Namun demikian perlu pula diingat ulasan al-Qaadlii ‘Iyaadl dan Imam Nawawi tentang perbuatan buruk yang urung dilakukan, bahwa,

Orang yang ingin berbuat maksiat dan bertekad mewujudkannya dapat dikenai dosa dalam keyakinan dan tekadnya; ia mendapatkan satu keburukan, tetapi keburukannya tidak sebesar orang lain yang telah melakukan dan mewujudkannya.

Hal yang mirip disampaikan Imam Nawawi ketika membahas hadits dari Imam Muslim yang berbunyi,

Apabila dua orang Islam bertengkar dengan pedangnya, maka orang yang membunuh dan terbunuh sama-sama berada di dalam neraka.

Saya bertanya (Abu Bakrah Nufa’i periwayat hadits), “Wahai Rasulullaah, sudah wajar yang membunuh masuk neraka. Lantas bagaimana gerangan yang terbunuh?”

Beliau menjawab, “Karena ia juga sangat berambisi untuk membunuh sahabatnya”.

Tentang hadits ini, Imam Nawawi mengatakan,

Seseorang yang bertekad bulat untuk melakukan maksiat serta terus-menerus merencanakannya, ia dinilai telah berdosa, meskipun belum sempat melakukannya atau mengucapkannya.

Itulah pembahasan tentang amal-amal kebaikan yang harus terus menerus kita biasakan memunculkannya di benak sekaligus kemudian berikhtiar mewujudkannya. Dan tak kalah pentingnya, bagaimana kita juga mampu membendung terbersitnya niat untuk berbuat dosa. Kalaupun dalam kondisi emosional dan terlanjur timbul di benak kita, segera saja kita ingat kepada Allaah agar niat tersebut tidak menguat menjadi tekad dan kesungguhan.

Hadirin rahimakumullaah.

Namun demikian, berkaitan dengan amal-amal kebaikan kita yang akan menjadi bekal di akhirat, sebagai pembuktian iman kita, perlu kita kembali ke al-Bayyinah ayat 8, ketika Allaah menyampaikan balasan atas amal shaleh kita, bahwa balasan surga mengandung deskripsi, radliyallaahu ‘anhum, Allaah ridla kepada mereka.

Perlu kita semua ingat, bahwa amal-amal shalih kita sama sekali tidak mampu mendatangkan apapun, kecuali atas amal-amal kebaikan tersebut kita mintakan ridla Allaah SWT. Terkadang kita menyangka, bahwa segenap amal shalih kita akan cukup untuk menyelamatkan kita dari neraka atau cukup untuk memasukkan kita ke dalam surga.

Atau yang lebih buruk, jika ada sebagian dari kita dengan santai berbuat buruk, dengan harapan, setelahnya cukup menggantinya dengan amal baik untuk menutupi dosanya. Semoga kita terhindar dari perbuatan yang demikian.

Kanjeng Nabi Muhammad SAW bersabda diriwayatkan oleh Imam Muslim, Imam Bukhari, dan an-Nasaa-i,

Berlaku luruslah kalian, dekatkanlah diri kalian (yakni kepada Allaah), dan bergembiralah kalian (yakni dengan pahala dan ganjaran dari Allaah), dan ketahuilah oleh kalian bahwa amal perbuatan salah seorang dari kalian tidak akan bisa memasukkannya ke surga.

(Mereka para sahabat Nabi SAW) bertanya, Juga termasuk engkau sendiri, ya Rasuulullaah?

(Nabi SAW) menjawab, (Ya,) termasuk aku sendiri, kecuali bila Allaah melimpahkan ampunan dan rahmat-Nya kepadaku. Dan sungguh, amal perbuatan yang dicintai oleh Allaah adalah yang dilakukan terus menerus, sekalipun sedikit.

Hadirin rahimakumullah.

Demikianlah peringatan Rasuulullaah SAW agar kita tidak mengandalkan amal kebaikan kita, kecuali amal tersebut harus kita konversi untuk memohon rahmat Allaah SWT. Bahkan seorang Nabi SAW pun menyatakan, bukan amal perbuatan baik Beliau SAW yang menjadikan beliau ke surga, tapi rahmat Allaah Ta’aala. Benar Beliau SAW adalah Nabi dan Rasul yang maksum, terjaga dari dosa, namun kemaksuman beliau pun berkat rahmat dari Allaah SWT.

Ada banyak sekali hadits berkualitas shahih yang menceritakan bagaimana rahmat Allaah tidak selalu sama dengan amal baik yang banyak. Misal, seorang pembunuh 100 orang yang bertaubat dan mendapatkan rahmat Allaah, diampuni dosanya; atau sebuah hadits tentang perempuan pendosa dan hadits lain tentang seorang lelaki yang mendapatkan ampunan karena memberi minum anjing kehausan; dan kisah-kisah pertaubatan lain yang menghadirkan rahmat Allaah SWT di masa akhir kehidupan.

Jangan sampai kita salah konsep salah pemahaman, bahwa amal kebaikan adalah segala-galanya, dan melupakan rahmat Allaah, sehingga muncul anggapan di dalam benak kita, seolah hanya amal baik saja yang mendatangkan manfaat.

Amal kebaikan adalah sarana kita meraih ridla Allaah, wasilah kita mendapatkan rahmat Allaah Tabaraka wa Ta’aala. Sungguh bahwa perbuatan baik membuat kita menjadi semakin dekat kepada Allaah Tabaraka wa Ta’aala dan kedekatan dengan Allaah-lah yang menghadirkan rahmat-Nya, bukan semata-mata hanya karena amal tersebut.

Bagaimana agar amalan baik kita mendatangkan rahmat Allaah? Sebelumnya telah kita bahas: Adapun kelipatan (balasan kebaikan) melebihi sepuluh dimungkinkan sesuai dengan kualitas keikhlasan, kebenaran niat, penghayatan dalam hati, dan terwujudnya manfaat, seperti sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, keteladanan yang baik, kemuliaan amal kebajikan, dan lain sebagainya. Dan balasan kebaikan tertinggi adalah jika kelipatannya tak terhingga, yakni ridla dan rahmat Allaah SWT.

Demikianlah penyampaian dari saya, semoga mampu menguatkan kita semua, terutama diri saya sendiri, agar bukan sekedar berusaha untuk berbuat kebaikan sebanyak-banyaknya, tapi juga berusaha untuk memperbaiki kualitas hati kita dalam segenap perbuatan baik kita tersebut, agar berbalas rahmat Allaah SWT. Serta agar kita tidak lagi menggantungkan diri pada amal kebaikan, tanpa melibatkan permintaan ridla Allaah dan rahmat Allah.